
"Eh! Eh!" Zelea begitu kaget saat tangan Zeon tiba-tiba melingkar di pinggang rampingnya seraya menenggelamkan wajahnya di leher Zelea.
Acara pesta pernikahan sudah usai sejak tiga puluh menit yang lalu, saat ini mereka sedang berada di dalam kamar presiden suit yang Zeon sewa untuk kamar pengantin.
Hembusan nafas Zeon terasa hangat di kulit lehernya, ditambah dekapan mesra Zeon membuat Zelea merasakan gejolak aneh.
"Euhh," lenguh Zelea saat sepertinya Zeon berhasil membuat karya di lehernya.
"Sa-sayang harus mandi dulu," ucap Zelea dengan suara terbata.
Zeon mengecup pipi Zelea sekilas. "Jangan lama-lama," ucapnya sambil menyeringai, sebelum ahirnya ambruk di ranjang.
"Apa an sih." Zelea tersenyum malu seraya menggelengkan kepala.
Gaun pengantin yang ia pakai tadi sudah terlepas resletingnya, jadi kini ia tinggal melepas dari tubuhnya, dan segera menutup tubuhnya dengan handuk, Zelea berjalan cepat menuju kamar mandi.
Menit demi menit Zeon menunggu, namun rasanya terasa lama Zelea di dalam kamar mandi.
Zeon melepas jas dan kemeja putihnya, kini hanya meninggalkan kaos dalaman di tubuh Zeon yang berotot.
Tiba-tiba mendengar suara hp nya, yang ternyata lupa belum di mode off.
Hah untung belum dimulai malam indahnya, coba kalau udah dimulai bisa menganggu ini, batin Zeon.
Tangannya segera menggeser simbol hijau, kemudian berjalan ke arah balkon dan berbicara dengan seseorang di seberang sana.
Sementara itu Zelea yang berada di dalam kamar mandi, tengah memastikan bahwa rambutnya saat ini benar-benar wangi, dan juga tubuhnya yang wangi.
Tadi sudah memberi shampoo yang banyak ke rambut panjangnya supaya aroma harum menyeruak, begitu juga ke tubuhnya, Zelea memberi sabun yang banyak.
Dan sepertinya saat ini Zelea sudah puas, karena menghirup aroma harum di rambutnya dan tubuhnya.
Jantungku berdegup kencang, batin Zelea seraya memegangi dadanya saat mau membuka pintu kamar mandi.
Tenang Zelea tenang, ini bersama suami kamu jadi kamu harus tenang, batin Zelea menenangkan diri sendiri.
Zelea menghirup udara dan menghembuskannya perlahan, begitu untuk beberapa saat, setelah merasa lebih tenang tidak setegang tadi, Zelea membuka pintu kamar mandi.
__ADS_1
Klek!
Tidak ada siapa-siapa, seseorang yang tadi berbaring di ranjang saat ia masuk ke kamar mandi, kini tidak ada di sana.
Zelea berjalan lebih mendekat, tidak menemukan Zeon di dalam kamar, namun samar-samar mendengar suara seseorang dari arah balkon.
Zelea mencoba mengintip ternyata Zeon sedang menerima telepon.
Setelah merasa lega Zeon tidak kemana-mana, Zelea ahirnya menuju koper kecil miliknya.
Saat mengambil baju berkain tipis, sangking tipisnya jika dipakai seperti tidak memakai baju, Zelea tertawa kecil melihatnya.
Kemudian segera memakainya, namun karena malu Zelea langsung meringkuk di atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
Belum apa-apa tapi Zelea merasa pipinya sudah panas, malu sekali membayangkan yang akan terjadi sebentar lagi.
Saat mendengar pintu balkon tertutup dan suara langkah kaki mendekat kemudian merasakan ranjang bergoyang, Zelea semakin memejamkan matanya, tapi bibirnya tersenyum.
Rasanya tubuhnya menjadi kaku seperti baru, saat tiba-tiba tangan Zeon melingkar di pinggangnya, namun bisikan Zeon di telinganya setelah mencium pipinya, membuat ia bernafas lega.
"Aku mandi dulu."
Hah! Rasanya Zelea ingin Zeon di dalam kamar mandi lebih lama, entah kenapa rasanya malau sekali, namun hal itu tidak mungkin.
Atau malam ini ingin tidur lebih dulu, tapi itu juga rasanya mustahil, Zelea menunggu Zeon dengan perasaan penuh kegelisahan.
Dan saat pintu kamar mandi terbuka, menampakkan sosok tinggi tegap bertubuh kekar, hanya mengunakan handuk yang melilit di pinggang.
Bahkan rambutnya masih basah, Zeon sibak ke belakang, membuat tetes air dari rambut berjatuhan ke lantai seperti hujan.
Zelea hanya mampu melongo dengan tangan menutup mulutnya, ini kali pertamanya melihat Zeon bertelanjang dada, menampakkan otot perut yang membuat mata wanita terkagum.
"Hei, jangan ngiler," canda Zeon, seraya meletakkan telapak tangannya di pipi Zelea.
Bahkan Zelea baru menyadari Zeon sudah berada di hadapannya, yang kini tengah mengusap pipinya.
Pipinya yang tiba-tiba terasa panas langsung merasa dingin merasakan telapak tangan Zeon yang terasa dingin.
__ADS_1
Dan entah sejak kapan Zeon bergerak yang kini sudah duduk di hadapannya dan menyatukan wajahnya.
Daging lembut itu terasa melenakan saat dengan lembut bermain di bibirnya.
Setelah tautan itu lepas, Zelea mengambil nafas, barusan sempat hampir kehabisan nafas, dan Zeon malah berbisik di telinganya yang membuat pipi Zelea makin merah merona.
"Sekarang aku minta boleh?"
Begitu bisikan Zeon dengan suara parau, menahan gejolak sedari tadi. Meski sudah menjadi istrinya, Zeon tetap ingin meminta ijin, tidak mau memaksa apa lagi Zelea sampai terpaksa.
Dan anggukan kepala Zelea membuat hati Zeon merasa senang, melebihi menang tender.
Perlahan namun pasti, Zeon mulai membimbing Zelea, menenggelamkan wajahnya di leher Zelea, menyapu seluruh inci kulit Zelea tanpa ada yang tertinggal.
Setiap sesapannya selalu meninggalkan jejak kemerahan, disertai de -sa-han dan le-ngu-han dari keduanya. Seolah menjadi irama yang semakin membuat tubuh terbakar gelora.
Dan cukup satu kali tarikan kini kain tipis di tubuh Zelea sudah terlepas, dua buah gundukan yang terlihat begitu menantang, Zeon langsung mengulum salah satunya, dan tangan kanannya memainkan yang sebelahnya.
Le-ngu-han Zelea kembali Zeon dengar, dan seperti stamina berkali-kali lipat.
Puas bermain di atasnya, kini Zeon mengangkat satu kaki Zelea.
Dan saat Zeon memainkan di bawah sana, Zelea berasa ada ribuan kupu-kupu di perutnya, Zelea berasa terbang ke nirwana dengan ribuan sayap.
Dan kepuasan yang ia dapat setelah sesuatu yang sejak tadi ingin mendorong keluar kini telah tertuntaskan.
Tapi kini saatnya perang dimulai, Zeon mulai mengambil posisi, awalnya masih terasa susah, namun setelah terus di coba ahirnya milik Zeon masuk dengan sempurna.
Zeon tahu Zelea sudah tidak gadis lagi, tapi milik Zelea masih terasa sempit, mungkin Zelea rajin perawatan begitu pikirnya.
Zeon mulai menggerakkan permainannya, dari awal ritme pelan lambat laut mulai menambah ritmenya menjadi lebih cepat.
Sembari matanya melihat dua buah daging yang terombang-ambing dengan hebatnya sesuai ritme cepat yang dilakukannya.
De-sa-han Zelea bagai alunan musik yang semakin menambah kecepatannya ia dalam bermain, mencari hal yang paling menyenangkan.
Saat Zeon membimbing tangannya untuk melingkar di leher Zeon, Zelea hanya pasrah, apa lagi bersamaan dengan de-sa-han nya yang semakin hebat dan Zeon mengecup-ngecup lehernya, dan semakin kuat dan cepatnya ritme di bawah sana.
__ADS_1
Kini mereka mendapatkan penghujung yang mereka cari, membawa keduanya bersama seolah terbang ke nirwana. Sebelum ahirnya Zeon berguling di samping Zelea.