
Dua bulan kemudian.
"Sayang ... sayang ... kenapa menangis?" Zelea kembali menggendong baby Enzo, yang tadi sudah ia tudurkan di atas ranjang sehabis menyusui, namun baby Enzo malah terbangun dan menangis kencang.
Tangis baby Enzo yang melengking membuat Zelea harus menenangkan baby kecil itu, yang sekarang sudah mulai Endut, pipinya chubby.
"Sudah ya, nangisnya ya, kan sekarang sudah siang hari, Enzo harus bobok sayang." Zelea bicara dengan baby Enzo, seolah baby Enzo bisa menjawab.
Namun karena Baby Enzo juga tidak mau diam, ahirnya Zelea menelpon Zeon, yang saat ini ada di perusahaan.
Biasanya Baby Enzo akan berhenti menangis setiap kali Zeon yang menenangkan.
Sementara itu, Zeon yang baru saja mendapat telepon dari Zelea, yang mengatakan Baby Enzo menangis terus sedari tadi.
Zeon langsung pulang, hatinya begitu khawatir mendengar kabar baby Enzo nangis terus.
Siang ini yang harusnya ada rapat penting di perusahaan, Zeon milih membatalkan rapat hanya demi pulang untuk bertemu putra kecilnya.
Dan benar saja, setibanya Zeon tiba di mansion, telinganya langsung mendengar suara tangis baby Enzo yang terdengar melengking sampai lantai bawah.
"Ada apa ini dengan Enzo," gumam Zeon sembari berlari menaiki tangga menuju lantai tiga tempat kamarnya berada.
__ADS_1
Di dalam kamar, Zelea kesulitan menenangkan baby Enzo yang terus menangis, padahal sudah dibantu oleh suster yang ditugaskan untuk menjaga Enzo.
Karena ruang kamar tidak di tutup, Zeon langsung masuk begitu saja.
"Sayang! kenapa dengan Enzo!" Terdengar suara Zeon yang tegas bersamaan masuknya pria itu ke dalam kamar.
Zelea menoleh, kini melihat suaminya itu mendekatinya.
"Aku tidak tahu, aku sudah mencoba menenangkan tapi masih tetap menangis seperti ini." Zelea bicara setelah Zeon berdiri tepat di depannya.
Zeon mau mengambil alih Enzo dari gendongan Zelea.
Saat mendengar suara Daddy-nya dan begitu Zelea memutar tubuh Enzo kini bisa melihat wajah Zeon.
Baby Enzo mau menerima uluran tangan Zeon yang mau menggendongnya.
Dan baru saja berpindah di gendongan Dady nya, Enzo tangisnya langsung mereda.
Hah! Zelea membuang nafas sembari menggelengkan kepalanya melihat pemandangan ini, tidak habis pikir bahwa Enzo dan Zeon begitu dekat.
seperti biasa-biasanya, Enzo pasti diam menangisinya kalau sudah Zeon yang yang menggendong bayi kecil itu.
__ADS_1
"Lia, kamu boleh bersihkan kamar Enzo sekarang, nanti kalau dia mau tidur lagi, akan aku tudurkan langsung di kamarnya."
Lia yang mendapat perintah dari Zelea, langsung patuh. "Baik, Nyonya. Saya permisi."
Setelah Lia berjalan keluar kamar, Zelea berjalan mendekati sang suami yang masih menggendong baby mereka.
Enzo sudah tenang di gendongan Zeon, mata bayi itu sudah mulai mengantuk-ngantuk, seolah dalam gendongan Daddy nya membawa hipnotis yang langsung membuat baby kecil itu mengantuk.
Zelea mengusap rambut putranya dengan sayang. "Pekerjaan kantor masih banyak ya? Kamu boleh kembali setelah Enzo tidur." Zelea tersenyum menatap Zeon, tangannya terus mengusap rambut Enzo.
"Aku tidak kembali, mau di mansion saja," ucapnya dengan tersenyum ke arah Zelea.
"Ya sudah jika begitu," putus Zelea.
Zelea kembali berjalan ia seperti mengambil sesuatu di atas meja, kemudian berjalan mendekati Zeon lagi.
"Sayang, aku ingin liburan." Zelea menunjukan tempat wisata di dalam majalah ke Zeon.
Zeon memperhatikan tempat wisata yang mau Zelea datangi. "Boleh, tapi baru satu Minggu lagi kita bisa berangkat, aku harus selesaikan kerjaan dulu."
"Tidak masalah." Zelea menyahut cepat. "Aku mencintaimu." Zelea memeluk Zeon. Yang di balas dengan kecupan di pipi Zelea.
__ADS_1