
Pria berkaca mata hitam berdiri di hadapan Zelea, dari balik kaca mata hitamnya, pria itu menelisik penampilan Zelea dari bawah sampai atas, dahinya berkerut karena tidak mengenali wanita itu.
Setelah menguasai diri dan karena tidak mengenal pria dihadapannya itu, Zelea memutuskan langsung berjalan melewati pria itu.
Namun baru dua langkah, Zelea berhenti saat merasa lengannya di pegang seseorang. Zelea belum berbalik badan, Zelea masih berdiri di tempat dengan menatap lurus ke depan, mengatur nafas supaya tidak terlihat panik.
Pria itu menarik Zelea dengan kasar hingga kini mereka kembali saling berhadapan. Zelea merasakan lengannya begitu kuat dicengkeram oleh pria itu.
"Lepaskan aku! Apa urusanmu menahan aku!" sentak Zelea, menatap tajam pria itu.
"Kau mau kabur setelah Daddy ku membayar kamu ... Dasar pelayan!" Pria itu melepas kaca mata hitamnya.
Deg!
Selain kata kasar yang diucapkan pria itu membuat Zelea terkejut, kini melihat wajah tampan pria itu makin membuat Zelea terkejut.
Mata itu, bibir itu, aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana? Hah Nyonya istri mas Radit yang sudah meninggal, iya pria ini mirip sekali dengan Nyonya. Hah apa dia mau menahan aku ya? Tidak! ini tidak bisa, aku harus pergi sekarang, aku harus cari cara, batin Zelea panik.
"Jangan coba-coba mau kabur, aku yakin kau mau kabur. Dan itu-." Pria itu tidak melanjutkan ucapannya saat melihat koper milik Zelea.
Zelea memang mau kabur, tapi dirinya bukan pelayan, dan dari sorot mata pria itu yang melihat koper miliknya, Zelea paham pasti pria itu mengira dirinya mencuri sesuatu.
"Masuk ke dalam!"
Pria itu menarik Zelea masuk ke dalam mansion kembali, pegangan kuat di tangan Zelea membuat Zelea meringis kesakitan.
"Lepaskan aku! Aku bukan pelayan!" Zelea memukul-mukul tangan pria itu supaya mau melepaskan tangannya.
"Lakukan terus menerus aku tidak akan melepaskan kamu!" Pria itu menantang Zelea seraya membawa wanita itu terus berjalan masuk.
Saat semakin merasakan sakit dipergelangan tangannya, Zelea memukul kuat tangan pria itu, dan seketika pria itu menghentikan langkahnya, namun bukan karena pukulan Zelea tapi karena mendengar ucapan Zelea.
"Aku bukan pelayan! Aku istri mas Radit!"
Pria itu menoleh dan menatap tajam wanita yang menurutnya sangat kurang ajar.
Daddy, batinnya langsung kepikiran ayahnya.
Tidak mungkin Daddy menikah lagi, karena Daddy sudah berjanji padaku untuk tidak menikah lagi. Ini pasti akal-akalannya wanita ini supaya bisa kabur dari Mansion, ya aku yakin seperti itu. Hah jangan harap kau bisa kabur, batin pria itu seraya tersenyum menyeringai.
"Ayolah lepaskan aku! apa kau mengira seorang pelayan berpenampilan mewah seperti ini? lihatlah aku sangat cantik dan pakaian yang aku pakai itu bagus!" ucap Zelea lagi, masih berusaha meyakinkan karena pria itu belum melepaskan tangannya.
__ADS_1
Saat pria itu membuka mulutnya mau bicara, namun terhenti saat Bi Jum datang.
"Tuan Muda Zeon? Anda sudah pulang, Tuan Radit pasti sangat senang melihat Anda sudah kembali Tuan Muda." Bi Jum mendekat, kini jadi penengah untuk dua orang yanga masih bersitegang.
Bi Jum tadi melihat keributan mereka berdua, dan langsung menghampiri supaya anak majikannya tidak menyakiti Nyonya barunya.
Bi Jum melihat wajah Zeon yang terlihat mengerikan.
Haduh Tuan Muda sepertinya sedang marah, bagaimana Andai tahu Tuan Radit menikah lagi? Aku harus bagaimana ini, batin Bi Jum.
Niat hati mau menjadi penengah, tapi saat ini malah diserang kepanikan.
Zelea meminta pertolongan Bi Jum melalui sorot matanya.
Zeon menatap tajam Bi Jum tanpa melepas tangan Zelea, tidak peduli bahwa saat ini pergelangan tangan Zelea sudah memerah.
"Wanita ini pelayan, kan?"
Suara Zeon pelan tapi meminta jawaban, dan jawaban itulah yang membuat Bi Jum takut untuk mengatakannya.
"Nyonya Zelea istri Tuan Radit, Tuan Muda."
Bagaikan hatinya tertusuk belati, sakit sekali rasanya mendengar jawaban Bi Jum. Kali ini Zeon percaya karena Bi Jum adalah pelayan kepercayaan keluarganya, Bi Jum tidak pernah bohong.
Kenapa Daddy menikah lagi? Kenapa Dad, batin Zeon.
Zeon kembali menatap tajam Zelea, karena rasa kesal dalam hatinya, Zeon kembali menarik tangan Zelea dibawanya menuju gudang, tidak peduli Zelea yang terus memberontak, karena hatinya sudah terlanjur kecewa mendengar kabar ayahnya menikah lagi.
Brukk!
Zelea didorong hingga jatuh kelantai.
"Diam di situ, jangan pernah mencoba kabur!" ancam Zeon lengkap dengan tatapan membunuh.
Zeon mengunci pintu gudang, pergi dari sana menuju kamarnya berada di lantai tiga.
Setelah masuk di dalam kamar, Zeon menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, saat ini tujuannya menelpon sang ayah, untuk membicarakan perihal ayahnya yang menikah lagi.
Setelah sambungan telepon diangkat, Zeon langsung bicara.
"Dad, aku sudah sampai di mansion. Segeralah pulang!"
__ADS_1
Sambungan telepon langsung Zeon matikan, tidak memberikan waktu ayahnya untuk menjawab.
*
*
"Dimana Zeon?" tanya Radit pada salah satu pelayannya tanpa menghentikan langkahnya. Setelah sampai di mansion.
"Tuan Muda, ada di kamarnya. Tuan."
Radit berjalan menuju lantai tiga, dengan perasaan bahagia, karena sudah lama tidak bertemu dengan putra keduanya, karena selama ini tinggal di luar negeri menyelesaikan pendidikannya.
Klek!
"Zeon ..." teriak Radit dengan suara bahagia, berjalan mendekati ranjang dimana Zeon sedang istirahat di sana.
Mendengar suara sang ayah datang, Zeon langsung turun dari ranjang.
Dua pria beda usia itu saling berpelukan melepas rindu.
Setelah melepas pelukannya, Zeon mengajak sang ayah duduk di kursi sofa.
Meski kamar ini sudah lama tidak pakai, tapi tetap bersih, karena Bi Jum selalu membersihkan.
Kini mereka sudah duduk, dari sorot mata Zeon yang menatapnya, Radit tahu bahwa ada yang ingin putranya tanyakan.
"Ada apa? Kamu ingin tahu hal apa?" Radit tersenyum, setiap kali melihat wajah putra keduanya, Radit seperti melihat istrinya yang sudah meninggal, mata itu? Radit menyukai mata itu.
"Benarkah Daddy menikah lagi?" Zeon berhenti bicara, mengambil nafas panjang. "Zeon ingin mendengar jawaban Daddy yang mengatakan tidak."
Radit menghela nafas panjang, sepertinya itu tidak mungkin Radit lakukan, karena faktanya memang dirinya menikah lagi.
Dan mendapati sang ayah hanya diam, Zeon mengartikan bahwa semua ini benar. Zeon terkekeh masam.
"Daddy sudah menyakiti Mommy, Daddy sudah mengkhianati Mommy!"
"Zeon dengar penjelasan Daddy, pernikahan ini tidak seperti yang kamu bayangkan," ucap Radit mencoba menjelaskan.
Radit menghela nafas panjang. "Zelea menolong Daddy saat Daddy kecelakaan, saat itu Zelea mendonorkan darah untuk Daddy, dan sebagai balas budinya, Daddy harus menikahi Zelea karena saat itu Zelea sedang di desak keluarganya. Daddy melindunginya dan kami miliki kesepakatan pernikahan kontrak selama tiga bulan."
"Maafkan Daddy," lanjut ucap Radit seraya memegang bahu Zeon.
__ADS_1