
Bagaikan angin yang ditiup, Vidio mesum Nofal bersama para wanita langsung menyebar luas dan menjadi perbincangan hangat di sosial media. Tak sedikit pula mendapat cibir dari netizen.
Tentu para penggemar Nofal banyak yang kecewa, setelah tahu perbuatan aktor idolanya memiliki perilaku tercela.
"Aku tidak menyangka dia ternyata pemain adegan dewasa."
"Sangat disayangkan semua harus terungkap di saat dia naik daun, lagi hits-nya dan setelah ini pasti karirnya akan menurun."
"Sangat menjijikkan! Wajah saja yang tampan ternyata prilakunya buruk!"
"Apa akah dia akan bebas dari jerat hukum? Sungguh kasihan, tapi dia pantas membayar perbuatannya itu."
Begitulah suara-suara para penggemar Nofal, ada yang merasa kasihan ada juga yang langsung tidak suka.
Sementara itu Nofal saat ini sudah dibawa polisi, dengan kepala menunduk Nofal berjalan mengikuti langkah polisi menuju mobil patroli.
Sebagai selebriti terkenal, tentu langkah Nofal di halangi para wartawan, kamera berlomba-lomba mengambil wajah Nofal, pria itu hanya mampu menundukkan kepalanya.
"Tuan Nofal bisa berikan penjelasan?"
"Tuan Nofal apa benar seorang dalam Vidio tersebut adalah Anda?"
Sebagian wartawan masih berusaha melayangkan pertanyaan pada Nofal, namun pria itu tidak menanggapi terus berjalan hingga masuk dan duduk di dalam mobil patroli.
Bima sang asisten hanya bisa menatap mobil yang membawa pergi Nofal dengan tatapan iba.
Maafkan aku Tuan saat ini tidak bisa membantu Anda, karena sebelumnya saya sudah peringatkan Anda. Batin Bima.
Setelah mobil yang membawa Nofal pergi, saat ini giliran Bima yang mendapatkan serbuan pertanyaan dari para wartawan.
"Tuan Bima bisa minta tolong jelaskan."
"Tuan Bima benarkan dalam Vidio itu asli tuan Nofal?"
Tidak ada yang Bima jawab pria itu langsung kabur saja, saat ini tujuannya menyusul Nofal memberikan dudukan pria itu.
"Tuan Bima ... Tuan Bima ..." teriak para wartawan.
Ternyata mereka semua mengejar mobil Bima, ikut menyusul ke kantor polisi, dan seketika hari ini depan kantor polisi ramai dengan banyaknya wartawan, untuk mendapat informasi terbaru dari Nofal. Mereka semua berebutan.
Saat tiba-tiba ada mobil mewah berhenti di depan kantor polisi, beberapa wartawan menoleh, dan seketika melihat pria yang sudah tidak muda keluar dari sana.
Meski begitu tapi terlihat wibawa dan masih tampan di usianya yang sudah tidak lagi muda.
Radit berjalan masuk di temani Asisten Mip. ini adalah kali pertamanya Radit memasang wajah marah dan dingin saat mau bertemu putranya.
Para wartawan tadi hanya menduga-duga bahwa pria yang baru datang tadi adalah keluarga Nofal karena wajahnya sangat mirip.
Di ruang interogasi, Nofal terus mengelak tidak mau jujur.
__ADS_1
"Pak itu bukan saya, itu fitnah!" bela Nofal pada diri sendiri.
"Tapi di Vidio tersebut wajah Anda sangat jelas, dan setelah kami selidiki itu benarlah memang Anda," jelas Pak polisi.
Radit yang baru sampai dan masih berdiri di belakang sana seketika hatinya nyeri mendengar ucapan Pak polisi bahwa Nofal benar tersangka.
"Pak percayalah bahwa itu bukan saya, sekarang jamannya sudah canggih pasti itu wajah editan saya." Nofal membela diri lagi, tapi kali ini sedikit frustasi karena Pak polisi tidak percaya ucapannya.
"Anda mengakui saja atau hukuman Anda akan lebih berat!"
Deg!
Nofal mengepalkan tangannya.
Siapa? Siapa yang sudah berani menyebarkan Vidio itu! Hah sialan aku tidak akan memaafkan dia andai aku tahu pelakunya, batin Nofal.
"Apa kah putra saya benar-benar salah Pak?" Radit berjalan mendekat sampai berdiri di depan Pak polisi.
Intonasi suaranya tidak terdengar marah, dan Nofal bahagia mendapati kedatangan ayahnya.
Saat tangan Radit memegang bahu Nofal, pria itu masih bisa tersenyum seraya menatap wajah ayahnya, namun saat merasakan cengkraman kuat di bahunya, Nofal langsung ketakutan, karena ternyata saat ini ayahnya sedang menahan amarah.
Nofal menatap dengan sorot mata permohonan.
Daddy tolong aku, batin Nofal.
Kali ini amarah Radit nambah berkali-kali lipat.
Plak!
Satu tamparan keras di pipi kanan.
Plak!
Satu tamparan keras di pipi kiri.
"Daddy kecewa! Daddy kecewa sama kamu Nofal!"
Plak!
Sekali lagi tamparan keras di pipi kanan.
"Akui perbuatanmu ... Atau Daddy sama sekali tidak akan membantu kamu!"
Plak!
Tamparan keras lagi di pipi kiri.
Nofal langsung memeluk kaki Radit, tidak merasakan sakit di pipinya, karena rasa takutnya akan dipenjara lebih besar.
__ADS_1
"Dad, mohon Dad ... Tolong bantu aku Dad, Nofal tidak mau dipenjara Dad ..."
Brukk!
Radit menendang Nofal sampai pria itu terjungkal ke belakang.
"Penjarakan dia saja Pak!" ucap tegas Radit pada Pak polisi.
Setelah bicara Radit langsung mau melangkah pergi, namun Nofal kembali memeluk kaki Radit.
"Dad mohon Dad jangan penjarakan aku Dad ...."
Radit menggerakkan kakinya ingin Nofal melepaskan kakinya, tapi Nofal semakin kuat memeluk kaki Radit.
Radit menatap Asisten Mip, mengisyaratkan melalui sorot matanya untuk melepaskan tangan Nofal.
Asisten Mip berjongkok mensejajari Nofal yang terus memeluk kaki ayahnya.
"Tuan Muda, tolong lepaskan tangan Anda."
Nofal menggeleng. "Paman tolong aku Paman, tolong bicara sama Daddy aku tidak mau dipenjara."
Asisten Mip tidak merespon ucapan Nofal, dan ahirnya dengan sekuat tenaga Asisten Mip berhasil melepas tangan Nofal yang memeluk kaki Radit.
"Daddy ..." teriak Nofal, setelah Radit dan Asisten Mip berjalan pergi.
Nofal terus memberontak saat polisi membawa Nofal ke ruang tahanan.
"Lepaskan aku ... lepaskan aku!"
Sekuat apa pun memberontak nyatanya tidak akan bisa merubah keputusan polisi, dan sekarang Nofal harus berada di tahanan.
Sementara itu Radit yang saat ini sudah berada di luar, ternyata tertahan saat wartawan menghalangi langkahnya untuk menuju mobil.
"Kami lihat Tuan ada kemiripan dengan Tuan Nofal, apakah Anda masih keluarga?"
Radit masih diam, tapi kamera sudah banyak mengambil gambarnya, wajahnya memang sangat mirip dengan Nofal, tentu semua orang pasti langsung mengira sebagai keluarganya.
"Saya daddy-nya ... Dan saya minta maaf atas perlakukan putra saya, dampak dari perbuatan putra saya. Saya minta maaf."
Selesai menjawab Radit langsung memaksa pergi dari sana meski masih ada wartawan yang berusaha menahannya.
Menurut Radit sudah cukup penjelasannya itu, meski singkat tapi Radit tetap mengakui Nofal sebagai putranya di publik.
Walau tahu yang Nofal perbuat ini akan berdampak jelek juga pada nama baiknya, tapi yang namanya anak meski sudah berbuat salah akan tetap ia akui bahwa dia adalah anaknya.
Radit menghapus bulir bening yang keluar dari sudut matanya. Sedih sekali rasanya.
Asisten Mip yang saat ini sedang mengemudikan mobil, juga merasa sedih melihat masalah yang di dapat sang Tuan.
__ADS_1