
Keesokan harinya.
Tin Group.
Rendi menghentikan kerjaannya yang sedang menandatangani berkas di tangannya, ketika asistennya masuk ke ruang kerjanya memberitahu sesuatu.
"Tuan ada yang ingin bertemu Anda," ucapnya sopan.
"Siapa?" tanya Rendi seraya melipat berkas yang barusan sempat ia baca.
"Nona Zelea dan Tuan Zeon," jawabnya cepat.
"Suruh dia masuk."
Setelah mendapat ijin atasannya, asisten tersebut langsung mempersilahkan Zelea dan Zeon masuk ke dalam.
"Selamat datang, aku pikir kalian akan langsung lupa dengan aku," seloroh Rendi ketika melihat Zelea dan Zeon memasuki ruang kerjanya.
Zelea dan Zeon hanya tersenyum menanggapi ucapan Rendi.
"Silahkan duduk," ucap Rendi selanjutnya.
Asisten tadi masuk kembali kini membawa tiga botol air mineral untuk diletakkan di atas meja, kemudian ijin undur diri lagi.
Setelah asisten tersebut keluar, Zeon angkat bicara, tidak mau mengulur waktu, karena setelah ini akan ada perjalanan pulang ke tanah air.
"Sebelum kami pamit pulang, kami ingin mengucapkan terimakasih atas bantuan Anda," ucap Zeon membuka pembicaraan.
"Tidak perlu terimakasih." Rendi mengangkat botol air mineral. "Dan tidak ada yang berucap terimakasih." Rendi tersenyum.
"Maaf jika aku-," ucapan Zelea terhenti.
"Aku tahu kau berhak bahagia," potong cepat Rendi seraya tersenyum.
Zelea membalas tersenyum. "Kamu begitu baik ... Pasti secepatnya akan mendapat pengganti yang lebih baik."
"Semoga," jawab Rendi. "Oh ya, jangan lupa undangannya ... Undangan pernikahan."
Zelea tersipu malu. "Nanti dikabarin."
"Zeon." Rendi berganti menatap Zeon. "Bahagiakan Zelea." Ucapan Rendi terdengar begitu dalam.
"Akan aku penuhi." Zeon tersenyum kecil.
Rendi berdiri dan mendekati Zeon. Rendi memeluk Zeon seraya menepuk punggung Zeon. "Sampai jumpa lagi."
"Jaga diri baik-baik."
Rendi tergelak tawa mendengar ucapan Zeon. "Tidak kamu suruh juga aku pasti jaga diri baik-baik.
Dan kalimat itu berhasil mengundang tawa bersama.
Setelah mendatangi perusahaan Rendi, Zeon dan Zelea mampir dulu ke suatu tempat.
Sementara itu Rendi setelah kepergian Zelea dari ruang kerjanya, langsung bersedih tidak lagi semangat untuk melanjutkan kerja.
Rendi bersandar di kursi, menatap langit-langit ruangan, merasakan bagian hidupnya yang hilang.
__ADS_1
Lima tahun termasuk kebersamaan yang lama, tapi harus berakhir dalam waktu sesingkat ini.
Kini air matanya jatuh di pipi, sebagai seorang pria yang jarang menangis, bahkan bisa dibilang tidak pernah menangis.
Kali ini Rendi harus menangis karena cintanya telah benar-benar pupus tidak ada harapan.
Hanya senyum getir menertawakan diri sendiri, hatinya begitu terasa kosong seolah ikut pergi dibawa Zelea.
"Zelea ..." teriak Rendi seraya menjatuhkan semua berkas yang ada di atas meja, berhamburan di lantai.
Arghhhh!
Asistennya masuk begitu terkejut melihat ke adaan ruang kerja bosnya yang berantakan, dan juga keadaan bosnya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" Asisten tersebut khawatir, kini sudah berdiri di dekat Rendi.
"Pergi," usir Rendi.
"Tuan."
"Pergi ..." bentak Rendi dengan suara menggelegar.
"Ba-baik Tuan." Asisten tersebut langsung berlari keluar.
Rendi terus melanjutkan untuk melampiaskan rasa kesal, supaya sakit hatinya berkurang. Membuat ruang kerjanya makin berantakan.
Sementara di tempat lain. Zeon dan Zelea saat ini tengah lagi berjalan-jalan di bazar, banyak sekali ragam hias yang dijual.
Mulai dari hiasan kecil sampai yang sedikit besar, semua terlihat unik. Ada juga pakaian dengan desain unik, terkesan sederhana tidak terlalu mewah tapi bagus di lihat.
"Kamu mau beli yang apa?" tanya Zeon, kini berjalan bersama Zelea seraya merangkul pundaknya. "Ada banyak, kamu mau pilih-pilih dulu?"
"Baik, dengan senang hati." Zeon mengeratkan rengkuhan di pundak Zelea, membuat si empunya berdecak, tapi Zeon malah tersenyum.
Mereka terus lanjut berjalan, memutari tempat tersebut, yang rumayan luas.
"Kamu tahu?" tanya Zeon, mereka berdua terus berjalan.
"Apa?"
Zeon berbisik di telinga Zelea, "Ini kencan pertama kita." Zeon tergelak tawa saat bicara.
Zelea menunduk menyembunyikan rona merah di pipi.
"Dulu setelah mengungkapkan cinta belum sempat ajak kamu kencan malah di tinggal pergi lebih dulu." Zeon menghela nafas panjang.
Zelea hanya diam, mendengar kalimat yang Zeon ucapkan tersirat rasa luka.
"Eh, itu lucu," ucapan Zeon membuat Zelea tersadar dari lamunan sesaat.
Kini mereka berhenti tepat di depan toko jepit rambut, yang cocok digunakan untuk wanita dewasa.
Zelea diam merasakan tangan Zeon menempel di kepalanya sedang menyematkan sesuatu di rambutnya tepat di atas telinga.
"Cantik," gumam Zeon tepat setelah selesai menyematkan jepit ke rambut Zelea.
Zelea tersenyum, Zeon kembali menggandeng tangan Zelea dan mereka kembali berkeliling tempat tersebut.
__ADS_1
*
*
*
Di apartemen Zeon.
"Kamu makan yang banyak, nanti di dalam pesawat kamu lapar." Zeon membukakan makanan untuk Zelea. "Harus dihabisin."
"Iya, kamu juga." Zelea menarik piringnya kemudian mulai menyantap makanan.
Zeon duduk di sebelah Zelea, memakan makanan sama punya milik Zelea. Sementara di depan mereka ada Galang.
"Tiketnya sudah siap kan, Galang?" tanya Zeon seraya menyuap makanan.
"Beres, Tuan." Galang mengangkat ibu jarinya.
"Jangan lupa nanti dicek kembali semua barang pentingnya sebelum berangkat, takut ada yang ketinggalan," saran Zeon.
"Pasti, Tuan."
"Kalian lagi makan diam Napa, nanti bisa kesedak," cibir Zelea.
"Siap Bu negara." Zeon memberi tanda hormat dengan gerakan tangan.
"Ih" Zelea mencibir. "Gak lucu." Tapi tersenyum.
Setelah makan siang selesai, mereka mengecek kembali barang yang mau dibawa, ternyata tidak ada yang ketinggalan.
Setelah itu mereka keluar bersama dari apartemen untuk menuju bandara.
Mereka menggunakan taksi online, saat masih berada di dalam taksi, Zelea melamun seraya melihat ke arah luar jendela mobil.
Hatinya mendadak sedih pergi meninggalkan negara ini, karena mau bagaimana pun tetap banyak kisah yang Zelea dapat di negara ini setelah tinggal selama lima tahun.
Kenangan di masa sulit saat pertama kali menginjak kaki di negara ini, kembali terlintas di pikiran Zelea.
Tidak terasa mengundang setetes air bening jatuh di pipi mulusnya.
"Jangan menangis, kamu harus bahagia." Tiba-tiba tangan Zeon mengusap pipinya yang basah.
Zeon tersenyum. "Lupakan sesuatu yang membuat hatimu sedih."
Zelea memeluk Zeon. "Terimakasih sudah hadir," gumam Zelea.
Zeon mengusap rambut Zelea. "Aku untukmu."
Tidak lama kemudian mobil taksi sudah sampai di bandara.
Zeon dan Zelea bersama Galang juga langsung masuk ke bandara, mereka perlu menunggu beberapa saat pesawat penerbangan.
Zeon memasangkan jaket ke tubuh Zelea. "Supaya kamu gak dingin," ucapnya, bersamaan itu Zelea menoleh, kini mata mereka saling bertemu.
Tiba-tiba mendengar suara panggilan pesawat akan memulai penerbangan. Tatapan mata mereka langsung terputus, sekarang saatnya masuk ke dalam pesawat.
Mereka bertiga mendapat tempat duduk dalam satu baris, tidak ada yang berjauhan.
__ADS_1
Setelah pesawat lepas landas, Zelea tersenyum ke arah Zeon sebelum ahirnya ia tertidur sepanjang perjalanan.