
Di kota B.
Zeon bersama Galang baru saja keluar dari tempat meeting bersama klien, mereka baru saja membicarakan soal proyek pembangunan pusat perbelanjaan.
Dan setelah ini, mereka berdua akan bertemu klien lagi, tapi jadwalnya baru sehabis makan siang, saat ini mereka putuskan untuk makan siang lebih dulu.
Zeon dan Galang kini sudah duduk di restoran, Galang sedang memesan makanan dan minuman ke pelayan restoran.
Zeon mengambil ponselnya yang tersimpan di saku jasnya, ingin menelpon Zelea mumpung lagi istirahat.
Tapi entah kebetulan atau memang sudah waktunya, sebelum Zeon menelpon sang istri, tapi lebih dulu mendapat telepon masuk dari Zelea.
Zeon tersenyum dan penuh semangat menggeser simbol warna hijau itu.
"Halo sayang," ucap Zeon. Namun suara di seberang sana bukan suara wanita yang dicintainya selama ini, melainkan suara pelayan yang selalu bersama istrinya.
Namun yang membuat Zeon makin terkejut, informasi yang orang itu ucapkan mengenai keadaan istrinya saat ini.
"Tuan, Nyonya masuk ke rumah sakit!"
"Bagaimana bisa!!" suara tinggi Zeon karena panik begitu mendengar wanitanya masuk rumah sakit, di saat dirinya tengah jauh.
"Perut, Nyonya sakit, Tuan."
Zeon memejamkan matanya menguasai diri untuk tetap tenang. "Baiklah saya akan pulang sekarang juga, tapi tolong awasi terus ke adaan istriku, kabari terus padaku!"
"Baik, Tuan," jawab Cika di sambungan telepon sebelum ahirnya panggilan terputus.
Di rumah sakit.
Cika yang baru saja menghubungi sang tuan menggunakan ponsel milik Zelea, bukan tidak ada alasan, sebelum Zelea masuk ke ruang UGD yang harus ditangani oleh dokter pertama, Zelea menelpon Zeon dan langsung menyerahkan hp nya ke Cika, jadilah Cika yang bicara, karena Zelea sudah masuk ke ruang UGD.
Cika duduk di kursi tunggu bersama sopir yang tadi mengantar ke rumah sakit.
Cika merasakan telapak tangannya sudah dingin, karena takut, apa lagi tadi suara Zeon terdengar tinggi di sambungan telepon. Cika takut disalahkan kemudian di pecat, di kira tidak pecus menjaga sang Nyonya.
"Kenapa kamu gemetaran gitu?" tanya sopir yang duduk di sebelah Cika, sedang memperhatikan Cika.
Cika menoleh, dan bicara penuh berapi-api. "Bagaimana bisa aku tidak gemetaran! sedangkan yang masuk ke rumah sakit adalah Nyonya orang yang selalu aku layani!"
__ADS_1
"Nyonya kan memang sudah waktunya melahirkan, apa yang kamu takutkan?" Sopir itu masih belum paham pembicaraan Cika.
"Belum!" Cika menggeleng keras. "Nyonya belum mau melahirkan, jadwal melahirkannya bukan sekarang!" Cika makin emosi bicara dengan sopir itu.
"Hei, tenangkan nada suara kamu, ini di rumah sakit," ucap sopir yang malah bicara hal lain.
"Ah! Sudahlah!" Cika frustasi bicara dengan sopir itu. Wajahnya melengos tidak mau melihat wajah sopir itu lagi.
Sopir itu hanya tertawa melihat tingkah Cika.
Sementara di dalam ruang UGD.
Dokter kandungan yang biasa selama ini menangani Zelea sedang berbicara dengan Zelea.
"Apa sekarang masih sakit?" tanya dokter itu ramah dan lembut.
"Masih dokter, bentar-bentar sakit, bentar-bentar hilang," jelas Zelea, memang seperti ini yang ia rasakan sekarang, dan makin kesini malah semakin sering.
"Coba saya lihat dulu ya?" ucap dokter itu ramah, sembari menutup selimut dari perut Zelea sampai kakinya.
"Kakinya tolong di tekuk ... Iya seperti ini, tahan ya?"
"Kakinya boleh lurus lagi, Nyonya."
Zelea kembali meluruskan kakinya. Memperhatikan wajah dokter yang selalu tersenyum menenangkan. Padahal Zelea saat ini sudah merasa takut, apa lagi Zeon tidak ada di sampingnya.
"Nyonya, saya lihat tadi sudah bukaan lima."
"Lima, dokter?" tanya ulang Zelea dengan terkejut, Zelea bukan tidak tahu arti bukaan lima, itu artinya ia mau melahirkan hari ini. Hah bagaimana bisa melahirkan di saat tidak ada Zeon.
Dokter tersebut memegang tangan Zelea, tahu jika saat ini sang pasien sedang dilanda kepanikan, senyumnya semakin teduh. "Tenang ya, Nyonya. Semua tidak semengkhawatirkan yang, Nyonya pikirkan."
"Tapi, Dok. Suami saya masih di luar kota."
"Tenang, Nyonya cukup tenang, nanti kalau Nyonya panik, adek juga ikutan panik ... Tenang ya, Nyonya." Dokter kembali menenangkan Zelea. Dan kali ini Zelea mau menurut.
Kemudian dokter meminta para suster untuk memindahkan Zelea ke ruang persalinan, supaya bisa istirahat di sana.
Cika yang mengetahui sekarang sang Nyonya masuk ke ruang persalinan, langsung lemas tubuhnya, duduk sembari bersandar, pikirnya membayangkan Zelea harus melahirkan tanpa ditemani suaminya.
__ADS_1
Padahal selama ini mereka berdua selalu kompak, pasangan yang mesra, tapi sayangnya di saat Zelea mau melahirkan, suaminya pas lagi ada kerjaan di luar kota.
"Aku mau temani, Nyonya di dalam ruangan, kamu tunggu di luar, siapa tahu Tuan Zeon datang," ucap Cika yang kini berjalan menuju ruang persalinan Zelea.
Seperti perintah Cika, sopir tadi langsung duduk di depan ruang persalinan, begitu sampai.
"Nyonya," sapa Cika, ia mendekati ranjang pasien, dimana di sana sedang ada Zelea yang tiduran miring, sembari meringis.
"Nyonya, mana yang sakit? Biar saya bantu usap," ucap Cika begitu sampai di samping ranjang pasien, sungguh merasa iba melihat Zelea seperti ini.
Zelea tidak menjawab, hanya menyibak baju bagian punggung, Cika yang mengerti langsung mengusap-usap punggung Zelea.
Semoga Tuan segera sampai biar bisa menemani Nyonya, kasihan Nyonya mau melahirkan, harusnya di saat-saat seperti ini Tuan ada di samping Nyonya, batin Cika.
Ssss, desis Zelea lagi.
Cika tidak bisa melihat persis seperti apa wajah Zelea saat ini, pucat kah? Atau tidak? karena Zelea tiduran miring memunggunginya.
"Kasihan, Nyonya. Sabar ya, Nyonya tahan." Cika benar-benar merasa kasihan ke Zelea.
Zelea tidak mengeluh sama sekali, atau hanya sekedar berkata sakit juga tidak, paling hanya mendesis yang Cika dengar.
Cika tertegun dengan sikap keibuan yang Zelea perlihatkan, sudah mengerti bahwa yang dirasakannya saat ini adalah bagian proses menuju menjadi ibu, demi sang buah hati.
Sekitar hampir satu jam, Dokter kandungan yang menangani Zelea kembali datang, kembali memeriksa Zelea, dan mengecek kembali jalan la-hir.
"Dokter?"
"Iya?" dokter itu tersenyum.
"Saya benar akan melahirkan sekarang?" tanya Zelea lagi, jujur ia ingin ada Zeon disisinya. Tidak apa-apa misal jadwal melahirkan lebih cepat.
Dokter tersebut tersenyum mendengar pertanyaan Zelea lagi. "Benar, Nyonya ... Seperti yang saya katakan tadi ... Nyonya harus tenang jangan panik."
Zelea mengangguk mengerti, kini mulai memperhatikan dokter dan suster yang mulai sibuk mempersiapkan semuanya, untuk persalinan, seperti salah satunya memasang kain di bawah pantat Zelea, supaya darah tidak mengenai seprai.
Cika yang menjadi penenang Zelea, detik demi detik, hingga tepat sore hari pukul lima sore dan begitu tiba waktunya, Zelea berlaku profesional, mengikuti setiap instruksi yang diucapkan dokter.
"Ambil nafas ... Buang nafas ... Waktu mendorong pantatnya jangan diangkat ya, Nyonya. Ya begitu ... Ambil nafas lagi ... Buang perlahan ... Dorong sekali lagi, Nyonya."
__ADS_1
Hah, rasanya lega setelah mendengar suara tangis bayi yang begitu nyaring.