Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 6. Hidup bergelimang harta.


__ADS_3

Baru saja Zelea dan Radit pergi meninggalkan ruang makan, dan saat ini tinggallah Nofal sendirian. Pria itu sedang meneguk air minum, setelah meletakkan gelasnya, sorot matanya tampak sedang berpikir.


"Hah, terserahlah. Daddy menikah dengan wanita itu, bukan urusan aku lagi," ucap Nofal ahirnya pada diri sendiri, lebih milih tidak peduli, karena memang sejak dulu tidak pernah mencintai Zelea, gadis itu hanya dijadikan pelampiasannya.


Jika sekarang menikah dengan ayahnya tentu tidak akan mengusik hatinya.


Pagi ini Nofal juga ada acara, dan ikut pergi meninggalkan mansion.


Di dalam mobil yang sedang melaju, tampak dua orang yang usianya beda jauh sedang duduk di kursi belakang.


Mereka berdua adalah Zelea dan Radit yang saat ini masih dalam perjalanan menuju kantor.


Zelea menoleh ke arah Radit disertai tatapan mohon maaf. "Tuan, maafkan saya karena tadi menyebut panggilan Mas untuk Tuan."


Radit menoleh, menatap Zelea yang saat ini sedang gugup. "Tidak masalah, kamu boleh memanggil aku dengan sebutan seperti itu."


"Sungguh Tuan tidak marah padaku?" Zelea memastikan lagi, matanya berbinar disertai senyum.


Sungguh ekspresi Zelea saat ini terlihat seperti kucing yang menggemaskan, Radit terkekeh, merasa seperti sedang bicara dengan anak gadisnya. Namun sayang dua anaknya semua laki-laki.


Zelea bingung saat mendapati Radit yang malah terkekeh, Zelea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Apa kamu lupa bahwa kamu adalah istriku, tentu kamu boleh memanggilku dengan sebutan Mas," jelas Radit setelah tawanya mereda.


Asisten Mip yang duduk di kemudi juga ikutan tersenyum.


Sepertinya Tuan bahagia dengan pernikahan ini, batin Asisten Mip seraya menyalip mobil yang ada di depannya.


Setelah pembicaraan itu suasana jadi hening, semua orang di dalam mobil fokus dengan pikiran masing-masing.


Setelah tiga puluh menit perjalanan, mobil sampai di tempat tujuan.


Gedung Alexa Group.


Zelea dan Radit berjalan bersama memasuki perusahaan, yang di susul Asisten Mip di belakang mereka.


Para karyawan yang sudah datang menunduk hormat saat pemimpin perusahaan telah datang.


Belum ada yang tahu bahwa Zelea saat ini adalah istri pimpinan perusahaan, para karyawan hanya tahu bahwa Zelea sekertaris Radit.


Mereka bertiga memasuki lift khusus untuk para petinggi perusahaan, sehingga di dalam lift ini tidak harus desak-desakan.


Setelah sampai di ruang kerja, Zelea segera menyiapkan berkas laporan yang hari ini digunakan untuk meeting.

__ADS_1


Saat Zelea sedang fokus menyiapkan berkas laporan, tiba-tiba suara Radit mengagetkan.


"Ze?"


Zelea langsung menghentikan kegiatannya dan menatap pria yang baru menyapanya itu.


"Iya, Tuan."


Radit mendekat dan tampak mengambil sesuatu dari dalam dompetnya.


"Pakailah ini untuk kamu belanja apa pun yang ingin kamu beli," ucapnya seraya memberikan kartu warna hitam ke tangan Zelea.


Ini kan kartu tanpa batas, wahh aku bisa belanja sepuas hati dengan kartu ini, batin Zelea tersenyum melihat kartu tersebut.


Tapi Zelea tidak mau terlihat tampak senang, Zelea berakting lagi.


"Tuan, saya rasa ini terlalu berlebihan. Bagaimana jika nanti uang Tuan habis karena buat saya belanja."


Radit tertawa mendengar ucapan Zelea tersebut. Terdengar lucu di telinganya, karena hartanya yang berlimpah tidak mungkin habis sampai tuju turunan, tapi Zelea meragukan.


Radit mengusap rambut Zelea. Dan sentuhan itu membuat Zelea membeku.


"Sudahlah tidak perlu pikirkan hal itu, uang aku habis tidak masalah toh yang memakai istri sendiri." Radit tersenyum kecil sebelum ahirnya pergi dari hadapan Zelea.


Zelea tersenyum, kemudian melanjutkan pekerjaannya.


*


*


Di dalam sebuah bangunan tinggi pencakar langit, tepatnya di lantai dua puluh lima, Nofal bersama manajernya sedang bertemu dengan pimpinan perusahaan yang ingin memakai jasa Nofal sebagai bintang iklan produk peluncuran di perusahaan.


Pimpinan perusahaan tersebut menjelaskan bahwa Nofal sebagai model iklan untuk mengiklankan sepeda motor merek Honda keluaran terbaru. Karena perusahaan bergerak di bidang transportasi, ada beberapa dealer miliknya.


"Tapi menurut saya bajetnya kurang, Anda tahu lah bahwa saya model terkenal, jika perusahaan Anda tidak mau menaikan bajetnya maka saya akan menolak, karena masih banyak yang mau memakai saya sebagai bintang iklan," ucap Nofal bernegosiasi dengan sombongnya.


Ya wajar Nofal sombong dengan dirinya, karena fisiknya masuk kategori pria sempurna, wajah tampan serta postur tubuh tinggi dan ideal.


Belum lama masuk ke dunia entertainment tapi sudah banyak yang mengenalnya, bahkan menjadi seorang artis yang baru naik daun baru-baru ini.


Pemilik perusahaan tersebut menghela nafas panjang, tidak ada pilihan selain menuruti kemauan Nofal, karena sangat berharap dengan model iklan yang pas akan menarik banyak konsumen di pasaran nanti.


"Baiklah saya setuju," ucap pemimpin perusahaan tersebut mantap.

__ADS_1


Nofal tersenyum.


Manajer Nofal meraih kertas putih untuk Nofal tanda tangani sebagai kontrak kerja, dengan kontrak kerja ini Nofal tidak bisa membatalkan, dan apa bila membatalkan Nofal akan mendapat uang pinalti yang harus mengganti rugi empat kali lipat.


Tidak tanggung-tanggung, karena perusahan tersebut membayar Nofal dengan jumlah tinggi.


"Senang bekerja sama dengan Anda Tuan, sampai bertemu besok di lokasi syuting," ucap Nofal seraya menjabat tangan pimpinan perusahaan tersebut.


Setelah semua deal sesuai kesepakatan, Nofal bersama manajernya pergi meninggalkan tempat tersebut.


*


*


Siang hari di sebuah restoran.


Zelea dan Radit baru saja selesai meeting bersama klien, belum lama klien mereka pergi dari sana.


Karena saat ini sudah waktunya makan siang, Radit mengajak Zelea makan siang di restoran tersebut.


Pesanan makanan yang Zelea pesan telah tiba, menu makanan ayam geprek yang level pedasnya paling tinggi.


Radit melihat menu makan Zelea ayam geprek yang pedas menelan ludah kasar, merinding melihatnya.


Berbeda dengan Zelea yang langsung lahap saat makan.


"Kamu suka pedas Ze?" tanya Radit, matanya memicing seolah menahan pedas.


Zelea menanggapi dengan tersenyum, tidak bisa menjawab karena mulutnya penuh makanan.


Radit menggelengkan kepala dan ikut menyantap makan siangnya.


Setelah makan siang selesai, Radit dan Zelea segera kembali ke perusahaan. Saat ini masih berada di dalam mobil yang sedang melaju.


Zelea menyentuh ujung rambutnya, tiba-tiba terbesit ide dalam hatinya.


Bagaimana jika aku ke salon mempercantik diri, aku ingin meluruskan rambutku serta perawatan, sekarangkan aku sudah memegang black card, batin Zelea tersenyum.


Dahulu aku di buang Nofal karena dekil, dan sekarang aku ingin membalasnya dengan perubahanku, batin Zelea tersenyum miring.


Zelea menghela nafas bahagia, sekarang hidupnya berada di awan hidup bergelimang harta.


Zelea menoleh ke arah Radit. "Tuan Ahir pekan besok saya meminta ijin untuk pergi ke salon."

__ADS_1


Radit mengangguk-angguk. " Besok aku temani." Menoleh ke arah Zelea, tersenyum kecil.


__ADS_2