
Keesokan harinya.
Zelea mengernyit heran saat keluar dari lift begitu matanya melihat Zeon yang berjalan setengah berlari menuju keluar gedung.
Saat ini memang saatnya jam makan siang, tapi Zelea heran saja melihat Zeon yang tampak berjalan buru-buru itu.
Seperti ingin ada sesuatu yang segera ingin ditemui.
Lamunan Zelea terbuyarkan saat mendengar suara wanita yang sepertinya sedang berbicara dengannya.
"Ibu Zelea, ini berkas yang tadi Ibu minta." Wanita itu memberikan map warna kuning ke hadapan Zelea.
Zelea tersenyum. "Terimakasih."
Setelah wanita itu kembali ke meja kerjanya, Zelea kembali menatap keluar sebelum ahirnya kembali masuk ke lift menuju ruang kerjanya berada.
*
*
*
Di sebuah restoran ternama, tepatnya di dalam ruang VVIP.
"Haha halo bro ... Lama ya nungguin aku, biasalah jalanan sedikit macet." Mereka berdua ber-tos.
Zeon mempersilahkan temannya itu untuk duduk.
"Tumben banget kamu ngajak ketemuan," ucap Robby setelah duduk di kursi.
Zeon belum menjawab pertanyaan Robby, karena pelayan datang menanyakan pesanan.
"Kamu mau makan apa, Rob?" Zeon membuka lembaran menu makanan.
"Samain aja sama kamu."
Zeon mengangguk.
Ahirnya Zeon memesan ayam goreng beserta nasi dan es teh manis untuk dirinya dan Robby.
"Jadi bagaimana tadi, pertanyaan aku belum kamu jawab?" tanya ulang Robby setelah pelayan pergi untuk menyiapkan pesanan.
Zeon menarik nafas panjang, otaknya sedang menyusun kata-kata yang pas untuk dikatakannya pada Robby.
"Kamu sudah menikah kan?"
Robby mengangguk, belum paham sama pertanyaan Zeon yang tiba-tiba malah menanyakan dirinya sudah menikah.
"Apa yang kamu rasain saat kamu dekat dengan istrimu Yunita, sebelum kalian menikah?"
Dikata bego atau bodoh biarlah oleh Robby, memang dirinya belum tahu masalah hal ini, dan ini baru pertama kalinya ia rasakan, dan harapan apa yang Zeon rasakan itu salah tidak benar.
Yakin, bahwa bukan satu kata yaitu cinta, Zeon bergidik ngeri membayangkan kata itu.
__ADS_1
Hahahah!
Robby bukannya langsung menjawab malah tertawa keras, membuat Zeon memaki dalam hati, hah sialan!
"Jadi maksudnya ... Maksudnya gimana ini?" Robby bertanya masih sedikit tertawa.
Zeon menghela nafas berat, namun sebelum mau menjelaskan lagi, pesanan makanan tiba, membuat obrolan mereka berdua terhenti.
Semua makanan sudah tersaji di atas meja, masih hangat dan tentu sangat enak untuk disantap dari pada saat sudah dingin.
"Kita makan dulu nanti disambung lagi," ucap Zeon, kini sudah mulai bersiap untuk makan.
"Ok ok." Robby menganggukkan kepala.
Tidak sampai lima belas menit makanan di piring mereka sudah habis, pelayan sudah membawa pergi piring kotor itu.
Kini Zeon menatap ke arah jendela, seperti sedang berpikir dengan pandangan begitu dalam.
"Kamu ada masalah?" Robby berusaha bertanya lagi. "Mau lamar cewe?"
Zeon langsung menoleh ke arah Robby disertai tatapan tak suka. "Siapa juga yang mau lamar cewe," jawabnya sewot, membuat Robby tersenyum geli.
"Terus yang mau kamu bahas apa? Sejak tadi belum bicara sama seka-,"
"Kamu tu yang tidak paham pertanyaan aku tadi," sela cepat Zeon sembari bersungut.
"Oh, pertanyaan tadi," ulang Robby. "Berarti benar kan kamu ada cewe?" Tuding Robby. "Karena kalau gax, ngapain kamu bahas hal remeh begini, jelas bukan selera kamu dan tentu hanya buang-buang waktu berharga mu."
Robby tertawa geli dalam hati mengingat Zeon, tentu tahu lah siap Zeon, yang tidak pernah sama sekali dekat dengan seorang wanita, dan sudah dapat Robby yakini bahwa yang Zeon bicarakan ini adalah wanita pertama.
"Atau jangan-jangan dulu kamu memaksa Yunita untuk diajak menikah, sampai-sampai bingung menjawab pertanyaan aku," tuduh Zeon, tapi Robby langsung tidak terima.
"Eh, tidak ya? Kami saling mencintai!"
Zeon hanya tersenyum sinis.
"Kamu sering teringat dia?"
Zeon mengangguk.
"Kamu sering merasa jantung berdebar saat di dekat dia?"
Zeon mengangguk.
"Fix kamu jatuh cinta," ucap Robby mantap penuh yakin namun langsung mendapat plototan mata tajam Zeon.
"Wah, gak benar ini, aku yakin kamu salah mengartikan," protes Zeon.
"Zeon ..." panggilnya dengan sedikit mengunakan suara tinggi.
"Aku lebih tahu masalah kayak gini ... Kamu tahu lah dahulu siapa aku? Banyak mantan aku." Robby menepuk dadanya bangga. "Jadi aku tahu jatuh cinta itu seperti apa?"
Zeon menggelengkan kepalanya masih tidak terima dengan penjelasan Robby.
__ADS_1
Ahirnya Zeon milih menyudahi obrolan dari pada berakhir debat, dan mereka berpisah harus kembali ke perusahaan masing-masing.
Untungnya pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak, setelah tiba di perusahaan, Zeon segera menyelesaikan pekerjaannya.
Dan hari ini pun tidak perlu lembur seperti biasanya lagi, setelah jam kerja selesai Zeon juga ikutan pulang.
Mobilnya dijalankan setelah melihat mobil ayahnya keluar dari halaman perusahaan lebih dulu.
Mobil yang Zeon kendarai berada tidak jauh di belakang mobil ayahnya. Saat tiba di toko buah mobil ayahnya berhenti, Zeon juga menghentikan mobilnya.
Matanya melihat Zelea keluar mobil sendirian berjalan ke toko buah, setelah sepuluh menit, Zelea keluar dari toko buah seraya membawa kantong yang mungkin isinya buah yang baru saja dibelinya.
Mobil pun kembali berjalan.
Zeon menjalankan kembali mobilnya.
Tidak sampai tiga puluh menit, mobil sudah sampai di mansion, tidak lama mobil ayahnya masuk, mobil Zeon tiba.
Membuat Radit yang baru saja keluar dari dalam mobil mengurungkan niatnya untuk segera masuk mansion, lebih milih menunggu Zeon.
Zeon keluar dari dalam mobilnya dan langsung menghampiri ayahnya.
"Zeon nanti malam kita diundang untuk acara makan malam sama Om Rian," ucap Radit.
Zeon mengangguk. "Jam berapa, Dad?"
"Biasalah pukul tujuh malam kita berangkat." Radit merangkul bahu Zeon untuk diajaknya berjalan bersama.
*
*
*
Sungguh demi apa! malam ini Zelea terlihat sangat cantik, entah karena memang aslinya cantik atau pengaruh matanya yang salah hingga wajah Zelea terlihat makin cantik.
Padahal Zeon jelas tahu bahwa saat ini Zelea hanya berias tipis, tidak sampai menor.
Zelea yang merasa terus diperhatikan oleh Zeon jadi salah tingkah, tiba-tiba gugup dan tanpa sengaja menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga.
Dan gerakan kecil itu mampu membuat Zeon terkesima.
Lamunan Zeon terbuyarkan saat Rian datang bersama istrinya Joana.
"Zelea, kenalkan ini adik saya Rian dan ini istrinya Rian, Joana." Radit memperkenalkan pada Zelea.
"Zelea," ucap Zelea memperkenalkan diri pada Rian dan Joana.
Mereka semua saling mengobrol diselingi canda tawa, dan saat semua asyik mengobrol, Zeon mengirim pesan ke Robby.
Membuat Robby di seberang sana menggelengkan kepalanya seraya tersenyum geli saat membaca pesan masuk dari Zeon.
Joana menatap Zelea. "Zelea, kapan main ke rumah aku." Joana beralih menatap Zeon. "Zeon, ajak Mommy kamu main ke rumah Tante."
__ADS_1
Sesaat Zeon terbengong namun sedetik kemudian tersenyum seraya mengangguk kecil.