Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 76. Malam ini cukup melihat dari kejauhan.


__ADS_3

Siang berganti malam, malam berganti siang, begitu seterusnya hingga tidak terasa sudah lima hari berlalu.


Setiap harinya Nofal selalu menunggu adanya kabar baik tentang Milli dan keberadaan gadis itu.


Kecemasan serta kegundahan tergambar jelas di wajah tampannya, dan semua itu tidak lepas dari pengamatan Bagas sang asisten.


Bagas sudah tahu masalah yang sedang di hadapi Bosnya itu, tidak jarang Bagas mengajak Nofal untuk bermain game atau olahraga gym, hanya untuk mengalihkan kesedihan pria itu.


Begitu terus setiap harinya selama lima hari ini. Dan khusus malam ini Nofal tidak datang ke restoran.


Biasanya Nofal pasti ada di restoran, hanya untuk melihat para pekerjanya kerja dengan benar, melayani konsumen dengan baik.


Tapi di malam Minggu ini, Nofal rasanya malas untuk keluar dari apartemen.


Meski hanya berdiam saja di dalam apartemen, bosan juga iya, tapi mau keluar malas.


Ternyata semakin dewasa hidupnya semakin terasa sepi.


Banyak masalah iya? Mikirin kerjaan iya? Dan sekarang hatinya sedang dilanda kesedihan.


Nofal yang saat ini berdiri di balkon, melihat pekatnya malam yang menjadi background alam, lampu-lampu berpijar di setiap gedung tinggi, menjadikan suana kalbu penuh temaram, sesak dan menyedihkan. Jika dilihat dari pandangan mata Nofal.


Berbeda apa bila dilihat oleh pandangan mata seseorang yang lagi bahagia, mungkin malam Minggu ini akan terlihat indah dan menyenangkan. Langit pun cerah tanpa hujan.


Nofal mengetuk-ngetukkan jemari di pagar balkon, seperti sedang berpikir. Tidak berselang lama, Nofal mengambil ponsel di atas meja yang terletak di balkon.


Nofal duduk sembari menelpon nomor seseorang yang selalu bisa diandalkan.


"Gas, datang ke apartemen sekarang."


Begitu ucapan Nofal setelah sambungan telepon diangkat, dan memutus panggilan telepon sepihak tanpa mendengar jawaban seseorang di seberang sana.


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di sebuah Mall, pasangan muda harus menerima kencan malam Minggu ini gagal.


"Bos, kamu resek ah! Masa malam Minggu kamu di minta datang ke apartemen." Wanita itu cemberut.


Bagas menyimpan ponselnya ke saku celana, kemudian meraih tangan pacarnya. "Sabar ya? Beginilah pekerjaan aku ... Janji Minggu depan aku temani jalan-jalan."


Tangan Bagas langsung ditepis. "Sudahlah! Pulang saja," ucapnya ketus sembari berjalan menuju pintu keluar.


"Abel ... Tunggu!" teriak Bagas, berjalan cepat untuk mensejajari langkah Abel.


"Aku anterin kamu pulang," ucapnya setelah berhasil menggenggam tangan Abel.


Meski Abel terus memberontak minta dilepaskan, tapi Bagas tidak akan melepaskan.

__ADS_1


Sampai ahirnya mobil mereka melaju ke jalan raya menuju rumah Abel.


Setelah sampai di rumah Abel, gadis itu langsung keluar dari mobil Bagas tanpa mengucap salam, langsung pergi menuju rumahnya, meski begitu masih mampu mendengar teriakan Bagas.


"Aku mencintaimu, Abel...."


Abel seger menutup pintu, namun saat mendengar suara deru mobil yang berjalan menjauh, Abel mengintip dari jendela.


"Bagas nyeselin! Lebih utamakan Bosnya dari pada aku!" ucapnya kesal penuh amarah, menghentakkan kaki kuat-kuat dengan perasaan sangat kesal.


*


*


*


Begitu sampai di apartemen sang Bos, Bagas langsung menekan tombol password.


Ya, Bagas tahu tombol password apartemen Nofal, hanya Bagas seorang yang Nofal kasih tahu.


"Bos," panggilnya begitu langkahnya masuk ke dalam.


Suara panggilan dan suara berisik kantong keresek, mengusik Nofal yang saat ini di dapur sedang menyedu kopi.


Nofal menuju ruang tamu dengan membawa dua kopi yang masih mengepulkan asap. "Udah sampai," sapanya begitu melihat Bagas. "Duduk," pintanya.


Nofal menggeser gelas kopi ke arah Bagas. "Di minum," titahnya. "Buka kereseknya keluarkan semua isi di dalamnya."


"Terimakasih, Bos," ucap Bagas menerima gelas kopi yang masih mengepulkan asap, aroma wangi khas kopi.


Bagas membuka dua kantong keresek itu, mengeluarkan isi di dalamnya, ada makanan ringan sejenis kacang, keripik singkong, chitato, juga yang rasa jagung.


Ada beberapa jenis minuman, seperti sprite, minuman rasa lemon, C 1000.


"Bos," ucap Bagas bertanya pada Nofal mau makan yang mana, Nofal menunjuk bungkus keripik singkong.


Bagas dengan segera membuka bungkus keripik singkong dengan merek ketela, kemudian ia serahkan ke Nofal.


Suara kriuk-kriuk mulai bersahut-sahutan, tidak ada yang bicara diantar mereka berdua.


Keduanya sibuk nyemil makanan masing-masing, ya seperti ini, cukup Bagas menemani Nofal, tanpa harus bicara atau banyak bicara.


Nofal dengan cepat menghabiskan isi keripik singkong dalam bungkus itu, merasa haus, Nofal menyeruput kopi yang kini sudah mulai hangat.


Nofal menunjuk bungkus yang berisi kacang, Bagas membuka bungkusannya kemudian menyerahkan ke Nofal.

__ADS_1


Baru saja Nofal mengunyah satu kacang, tiba-tiba ponselnya bunyi, dilihatnya Zeon yang menelpon.


Nofal langsung menggeser simbol hijau dan mendekatkan hp ke telinga. "Halo?"


"Segera datang ke perumahan xx no 45 jln Anggrek," suara Zeon di sambungan telepon.


"Milli, di sana." Terdengar lagi suara Zeon di sambungan telepon berucap.


"Gas, kamu ikut aku."


Begitu ucapan Nofal pada Bagas setelah sambungan telepon ia matikan.


Nofal segera berjalan cepat, dan Bagas mengikutinya dengan tergesa-gesa.


Sampainya di dalam mobil, Nofal segera melajukan mobilnya dengan cepat menuju alamat perumahan yang Zeon bicarakan tadi.


Sungguh, saat ini hati Nofal merasa berbunga-bunga, bahagia sekali. Ahirnya mendapat informasi juga tentang Milli dan keberadaan Milli.


Harusnya dari dulu ia meminta bantuan Zeon, mungkin tidak akan selama ini hingga harus menunggu enam bulan baru mendapat kabar Milli.


Tidak penting baginya gimana caranya Zeon mendapat informasi tentang Milli, padahal dirinya sudah mencari sendiri selama enam bulan ini. Bahkan juga sudah minta bantuan orang-orang, tapi tidak bisa menemukan.


Sementara Zeon baru lima hari sudah mendapat informasi.


Nofal tidak mau mikirin hal itu, saat ini ia cukup bahagia, sebentar lagi akan bertemu Milli.


Mobil sudah memasuki perumahan alamat rumah Milli.


begitu sampai tepat di depan nomor rumah yang Zeon sebutkan, Nofal menghentikan mobilnya.


Nofal keluar dari dalam mobil, mendongak ke atas melihat megahnya rumah di dalam sana.


Bahkan Bagas sampai kagum melihat rumah megah itu, dan berpikir pantas saja selama ini bosnya itu susah mendapatkan informasi tentang gadis pujaan hatinya.


Karena bukan putri sembarang orang.


Dari gerbang yang menjulang tinggi, Nofal masih bisa melihat megahnya rumah Milli, dan tanpa sengaja matanya melihat ke arah balkon.


Yang dimana di sana ada Milli yang sedang mencari udara malam.


Nofal tersenyum melihat pujaan hatinya itu. Sudah cukup malam ini hanya sekedar melihat Milli dari kejauhan.


"Ayo pulang." Nofal berbalik mau masuk ke dalam mobil.


"Loh, Bos. Gak jadi masuk?" tanya Bagas heran, ikut masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Besok pagi aku akan datang lagi kemari." Nofal menatap Bagas. "Untuk menemui ayahnya," ucapnya penuh yakin.


Bagas manggut-manggut setuju. Mobil kemudian melaju meninggalkan kawasan perumahan elit tersebut.


__ADS_2