Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 75. Nama yang tidak asing.


__ADS_3

Begitu Zeon duduk di ruang tengah, setelah mengantar Zelea masuk ke dalam kamar, Nofal langsung bicara, dan ucapan Nofal tersebut langsung membuat Zeon terkejut bukan main.


"Wanitaku hamil," ucap Nofal.


"Hamil!" ulang Zeon dengan wajah terkejut.


Ah sialan! Umpat Nofal, bahkan ia bingung harus menyebut siapa sosok Milli, di panggil wanitanya nyatanya mereka tidak ada hubungan apa-apa.


"Pacar kamu hamil!" ulang Zeon lagi dengan suara lebih tinggi.


Nofal tersadar dari lamunannya, menatap Zeon dengan menggelengkan kepala. "Bukan pacar."


Zeon memposisikan duduk lebih tegap dan sedikit condong ke depan. "Terus apa? Apa maksudnya hamil."


Nofal menatap Zeon serius. "Ceritanya panjang, dan aku butuh bantuan kamu."


"akan aku bantu, ceritakan dahulu seperti apa kejadiannya." Zeon menyandarkan punggungnya ke sofa.


Zeon tahu seperti apa masa lalu Nofal dulu, ia pikir Nofal sudah berubah, gak tahunya sekarang datang membawa berita wanitanya hamil.


Terkejutlah masa enggak?


Zeon memijit pelipisnya yang rasanya seketika berdenyut mendengar cerita dari Nofal.


Nofal mulai menceritakan ke Zeon, tanpa ada kecuali, menceritakan dari awal mula Nofal bertemu Milli, yang beberapa kali datang ke restorannya bersama dua temannya.


Kemudian Nofal jatuh hati sama Milli, hingga suatu malam Nofal datang klub malam bertemu sahabatnya, dan di malam itulah Nofal pertama kali mengetahui nama Milli.


Milli yang malam itu di jebak oleh temannya sendiri, Nofal mau menolong Milli, namun kejadian nas harus Nofal tanggung, karena nyatanya ia malah tidak bisa menahan diri saat itu.


Nofal yang terpaksa pergi saat pagi hari, karena mendapat telepon dari Bagas yang mengatakan ada masalah di restoran.


Membuat Nofal tidak bisa mengatakan apa pun pada Milli, dan meninggalkan gadis itu dalam keadaan masih tertidur pulas.


Nofal juga menceritakan bahwa sebelum pergi meninggalkan kartu namanya, berharap supaya Milli menghubunginya.


Namun hari itu setelah urusannya selesai, Nofal kembali ke hotel, dan mendapati Milli sudah tidak ada di sana, begitu juga kartu namanya, tapi hingga sekarang tidak ada Milli yang menghubunginya.


Nofal yang terus mencari sampai sekarang ini, tapi juga belum menemukannya, hingga kemarin mendengar ucapan dua teman Milli yang mengatakan Milli hamil.

__ADS_1


"Sudah berapa lama." Tanya Zeon dengan suaranya yang begitu dingin.


"Enam bulan."


Zeon tersenyum sinis mendengar ucapan Nofal, enam bulan waktu sudah sangat lama, Zeon tidak habis pikir jika Nofal akan melakukan hal seperti ini.


"Untuk niat kamu yang mau nolong itu gadis, ok itu bagus. Tentang kamu yang tidak bisa nahan, ya itu terserah kamu." Zeon membuang nafas berat. "Tapi kan kamu pemain, kenapa kamu keluarkan di dalam!" bentak Zeon begitu frustasi.


Nofal tersentak dengan ucapan Zeon, menyadari semua ini emang salahnya, harusnya saat itu ia keluarkan di luar, pasti kejadian ini tidak kan terjadi, Nofal hanya bisa merenungi kebodohannya.


Zeon tersenyum sinis lagi. "Atau memang kamu ingin mendapatkan dia dengan cara seperti itu? Hem." Selidik Zeon.


Nofal diam tidak menjawab, entahlah ia sendiri juga tidak tahu, nyatanya yang harusnya ia keluarkan di luar tapi malah di dalam.


"Sekarang kamu maunya aku berbuat apa?" Zeon mulai serius.


"Aku mau bertemu dia, tolong kerahkan semua orang-orang mu untuk mencari dia," mohon Nofal dengan sungguh-sungguh.


"Mau bertanggung jawab?" tanya Zeon dengan tatapan serius.


"Aku mencintai dia, aku pasti akan bertanggung jawab, diijinkan atau tidak sama keluarganya," ucap Nofal sungguh-sungguh.


"Milli," gumam Zeon seraya berpikir, nama itu seperti tidak asing bagi Zeon. Ia seperti pernah dengar nama itu sebelumnya, hanya lupa dimana.


"Tolong segera kabari," pinta Nofal, ia sudah tidak sabar untuk bisa bertemu Milli.


"Pasti akan langsung aku kabari, tidak ada gunanya juga aku simpan sendiri." Zeon tersenyum sinis.


Nofal bernafas lega. "Maaf sudah merepotkan kamu," ucapnya penuh penyesalan.


"Minta maaf sama Daddy dan Mommy." Zeon menatap tajam. "Kelakuan kamu sangat buruk."


Nofal menundukkan kepalanya, padahal dahulu ia sudah pernah berjanji untuk tidak berbuat hal buruk seperti itu lagi, tapi kali ini malah terulang sampai wanitanya hamil.


Rasanya Nofal juga menyesal, tapi mau bagaimana lagi semua tidak bisa ia putar kembali.


"Kalau tahu kamu menghamili anak orang, Daddy dan Mommy pasti bangkit dari kuburan," ucap Zeon lagi, yang terus menyudutkan Nofal, sampai Nofal menelan ludah kasar.


Ya mungkin Daddy dan Mommy-nya akan sangat kecewa dengan kelakuannya andai mereka berdua masih hidup.

__ADS_1


Maafkan Nofal, Dad ... Mom, batin Nofal.


"Dah kamu pulang saja, aku mau ke kamar mau meluk istriku," ucap Zeon sembari bangkit dari duduknya.


Bugh.


Nofal melempar bantal sofa ke Zeon.


Sialan! Maki Nofal.


Hahah! Tawa Zeon dan berjalan cepat menuju kamar.


Nofal menghela nafas panjang, kini hanya ia sendiri di ruangan ini.


Nofal meraih gelas jus yang dibuatkan oleh pelayan tadi, setelah meminumnya hingga habis, Nofal meninggalkan ruang tersebut.


"Hati-hati di jalan Tuan," ucap sekuriti saat mobil Nofal keluar gerbang.


Nofal tersenyum dan mengangguk, kemudian membawa mobilnya pergi dari wilayah kawasan mansion tersebut.


Sekarang perasaan Nofal lebih tenang, tidak penuh seperti sebelumnya, setelah berbagi dengan Zeon, kini bebannya seolah berkurang.


Tidak seberat beberapa jam yang lalu, saat sebelum cerita dengan Zeon.


Nofal bernafas lega, dan berharap akan segera bertemu Milli.


Nofal melajukan mobilnya tidak ke restoran juga tidak ke apartemen.


Nofal melajukan mobilnya menuju makam kedua orang tuanya.


Hanya tiga puluh menit sudah sampai di sana, Nofal keluar dari dalam mobil, berjalan dengan langkah penuh berat menuju pusara ayah dan ibunya.


Kebetulan pusara ayah dan ibunya di buat bersanding, kini Nofal melihat pusara kedua orang tuanya, dengan perasaan sesak.


Nofal berjongkok, tangannya mengusap batu nisan, membersihkan dari debu. "Daddy, maafkan Nofal. Maaf sudah menodai nama baik keluarga kita." Nofal menangis. "Dari dulu Nofal selalu bikin malu ... Maafkan Nofal, Dad."


Nofal menenangkan diri lebih dulu, sebelum bicara dengan batu nisan ibunya, mengingat kesalahannya, membuat Nofal malu untuk bicara dengan ayah dan ibunya.


Malu sekali, tapi Nofal ingin minta maaf. Mungkin benar apa kata Zeon tadi, andai bisa bangkit, pasti Daddy dan Mommy akan bangkit dari kuburan.

__ADS_1


Rasanya lebih baik di tampar Daddy langsung dari pada merasa bersalah dan hanya merasa sesak.


Nofal beralih membersihkan batu nisan Mommy-nya. "Mom, maafkan Nofal. Maaf Mom." Nofal tidak bisa melanjutkan ucapannya, pasalnya saat ini semakin terasa Kelu lindahnya, susah untuk bicara.


__ADS_2