Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB. 74. Semakin mencintaimu.


__ADS_3

Di sebuah panti asuhan anak, tepatnya di ruang tamu, seorang ibu paruh baya yang dikenal sebagai ibu ketua pengurus panti asuhan, sedang mengobrol dengan kedua tamu seorang pasangan muda, yang datang kemari untuk syukuran kehamilan Istinya yang sudah menginjak tujuh bulan.


"Terimakasih ya, Nyonya?" Ibu Hilwa tersenyum ke arah Zelea. "Terimakasih ya, Tuan." Ibu Hilwa tersenyum ke arah Zeon.


"Semoga bayi dan ibunya sehat, dan nanti saat lahiran lancar."


"Amin." Zeon dan Zelea mengaminkan doa Ibu Hilwa.


"Kami di sini tidak bisa membalas kebaikan hati, Nyonya dan Tuan." Ibu Hilwa menatap bergantian ke arah Zelea dan Zeon.


"Tidak apa-apa, Ibu. Ini hanya sedikit rezeki saja," jawab Zeon.


"Yang pasti kami banyak berterimakasih pada, Tuan," ucap Ibu Hilwa dengan kesungguhan hati.


"Sama-sama, Bu." Zelea menjawab.


Tiba-tiba ada anak perempuan masuk usia lima tahun. "Bunda-Bunda ... Boneka Frozen nya bagus." Anak kecil itu mendekati Ibu Hilwa seraya memamerkan boneka Frozen di tangan mungilnya ke Ibu Hilwa.


Ibu Hilwa tersenyum seraya mengusap rambut panjang anak kecil itu. "Ayo ucapkan terimakasih ke Tante dan Om, yang sudah memberi boneka Frozen," tutur Ibu Hilwa.


"Iya, Bunda," jawab anak kecil itu antusias.


Zeon dan Zelea tersenyum melihat anak kecil itu. Yang kini berjalan mendekati Zeon dan Zelea.


"Om ... Tante, terimakasih aku suka bonekanya," ucapnya dengan mata berbinar sembari mengangkat boneka Frozen tinggi-tinggi, menunjukan antusiasnya.


"Sama-sama, Sayang," ucap Zelea tersenyum.


Anak kecil itu kembali mendekati Ibu Hilwa, kemudian Ibu Hilwa membisikkan sesuatu, anak kecil itu pergi dari ruangan tersebut.


"Silahkan diminum selagi masih hangat teh nya, Tuan ... Nyonya," ucap Ibu Hilwa setelah anak kecil itu pergi.


"Iya, baik Bu," jawab Zelea.


Zelea minum teh hangat itu, begitu juga Zeon. Setelah menyeruput secangkir teh hangat, Zeon melihat jam tangannya.


Kemudian menatap Zelea, berbicara melalui pandangan mata, ayo pulang. Begitu maksudnya.

__ADS_1


"Bu, kami pamit. Terimakasih atas kesediaan waktu Ibu," ucap Zeon pada Ibu Hilwa.


Ibu Hilwa tersenyum. "Harusnya kami yang berucap terimakasih, Tuan."


Zeon dan Zelea bangkit, bersalaman dengan Ibu Hilwa sebelum pergi, Ibu Hilwa mengantar mereka berdua sampai di depan pintu.


"Terimakasih, Tuan. Nyonya atas kunjungannya," ucap Ibu Hilwa lagi sebelum Zeon dan Zelea masuk ke dalam mobil.


Zeon dan Zelea mengangguk, kemudian masuk ke dalam mobil.


Anak-anak panti asuhan juga Ibu Hilwa sempat melambaikan tangan ke arah mobil Zeon sampai ahirnya tidak terlihat lagi.


Kini mobil Zeon sudah berjalan di jalan raya, menuju pulang.


Zelea senyum-senyum sendiri mengingat anak kecil yang membawa boneka Frozen.


Zelea menoleh ke arah Zeon. "Sayang, anak perempuan tadi lucu yah?"


Zeon manggut-manggut, fokusnya saat ini mengemudi.


"Kalau anak kita perempuan bagaimana, Sayang. Habisnya anak perempuan tadi gemesin." Zelea bicara antusias.


"Terus nanti rambutnya di kucir-kucir, gemes tahu, Sayang." Zelea menggenggam tangannya menunjukan kegemasannya.


Zeon tersenyum ke arah Zelea. Mobil terus melaju hingga ahirnya tiba di mansion.


Baru saja Zeon dan Zelea keluar dari dalam mobil, di teras mansion sudah melihat seseorang yang berdiri di sana.


Dia adalah Nofal, yang membuat Zeon dan Zelea sama-sama mengernyit heran, pasalnya Nofal tidak pernah datang kemari. Dan hari ini tiba-tiba pria itu menunggunya datang.


Mereka berdua berjalan menuju teras dengan perasaan penuh tanda tanya.


"Sudah lama nunggu, Kak," sapaan Zeon.


Nofal melihat jam tangannya, sudah lima belas menit yang lalu. "Lumayan."


Mereka bertiga masuk ke dalam mansion.

__ADS_1


"Kenapa tidak menunggu di dalam, Kak?" Zeon bertanya lagi.


"Di luar supaya bisa langsung ketemu kamu."


"Ah, kangen apa sama aku," seloroh Zeon.


Nofal terkekeh. "Mungkin," jawabnya asal, saat ini Nofal lagi tidak ingin banyak bicara, pikirannya sedang penuh mikirin Milli.


Dan tujuannya datang kemari untuk minta bantuan sang adik.


"Duduk dulu, Kak." Zeon mempersilahkan.


Nofal kemudian duduk di sofa ruang tengah. Zelea berjalan menuju ruang makan, bicara sama pelayan untuk membuatkan minuman.


Zelea kemudian kembali ke ruang tengah, namun baru saja Zelea tiba di sana, Zeon berdiri mengajak Zelea ke kamar.


Zelea tidak menolak, mungkin obrolan mereka tidak harus Zelea ketahui, jadi Zelea lebih nurut saja di ajak Zeon ke kamar.


Lagian ia merasa capek juga mau istirahat, setelahnya sampai di dalam kamar, Zeon mengajak Zelea duduk di pinggir ranjang.


"Kamu di kamar aja ya? tidak apa-apa, kan?" tanya Zeon, kini menenggelamkan wajahnya di leher Zelea.


"Geli, Sayang," ucap Zelea saat merasakan bibir Zeon mengecup lehernya, sudah dapat dipastikan bahwa saat ini bekas kecupan Zeon pasti bewarna merah.


Zeon terkekeh sembari menjauhkan wajahnya. "Habis, tiap di dekat kamu aku maunya gini terus."


Zelea menyebik.


Zeon mencium kening Zelea dalam-dalam. "Bobok ya? Biar fresh," ucapnya setelah mencium.


"Sudah sana keluar, sudah ditungguin ituh," ucap Zelea mengingatkan.


"Ih, kamu ngusir aku," canda Zeon, yang langsung mengundang tawa renyah keduanya.


"Dah, istirahat. Aku keluar." Zeon mencium bibir Zelea sekilas, kemudian bangkit berjalan meninggalkan kamar.


Zelea tersenyum hangat melihat Zeon yang selalu berprilaku hangat padanya.

__ADS_1


"Aku semkin mencintaimu," gumamnya.


__ADS_2