Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB. 58. Love forever.


__ADS_3

Satu Minggu kemudian.


Di dalam butik ternama, seorang wanita cantik sedang melakukan fitting gaun pengantin.


"Aduh Zelea, kenapa calon suami kamu itu gak ikut kesini ... Kan lebih enak milihnya kalau ada dia, takut dia gak suka sama pilihan kita," ucap khawatir Retno.


Zelea tersenyum. "Tenang saja dia nanti datang, hanya saja masih di jalan sekarang."


"Yang ini dipakai nyaman tidak, Nona?" tanya pelayan butik yang membantu Zelea.


Zelea tampak sedang berpikir, mencoba merasakan gaun pengantin yang lagi ia coba.


"Kalau menurut aku bagus itu Ze, hanya saja belahan dadanya terlalu rendah." Retno tertawa kecil.


"Hemm benar juga kata kamu." Zelea memperhatikan bagian dadanya. "Kak, ganti lagi ya?"


"Baik, Nona. Saya bantu."


Retno menggelengkan kepala, melihat Zelea yang sudah ganti gaun pengantin sebanyak tiga kali mau ke empat kali ini.


Hah memang susah sih kalau calon pengantin pria nya gak ikut, gak ada yang bisa dimintain pendapat, batin Retno.


Sembari menunggu Zelea yang masih berada di ruang ganti, Retno duduk di sofa sembari memainkan ponsel.


Membuka akun sosial media, gak ada yang menarik dimatanya, hanya ia scroll ke bawah terus menerus layar ponselnya, dan tidak ada yang menarik sama sekali.


Ahirnya Retno milih membuat untuk mengabdikan momen, ia memfoto sekitar dalam butik kemudian ia unggah dengan caption. Ke butik ternama fitting gaun pengantin bersama teman.Kemudian ia tutup dengan emoticon smile.


Baru saja Retno unggah langsung mendapat komentar dari teman-temannya, yang ternyata mereka salah paham, mengira Retno yang mau menikah.


"Retno elu mau nikah?" Eka


"Mau nikah kenapa gak undang-undang, sombong banget sekarang!" Tama.


"Wah Retno mau nikah tapi kagak undang-undang ini, dah lupa teman dia." Anggel.


"Retno ... Jahat benar sama aku mau nikah gak kabar-kabar! Dulu kita pernah mandi bareng sekarang lupa sama temen!" pesan dari Santi.


Dan Retno Retno pesan masuk berisi protes yang tidak berkesudahan, Retno masih terus membacanya sembari tertawa kencang.


"Eh, Retno kamu kenapa ketawa-ketawa?"


Suara Zelea menghentikan tawa Retno, dan menatap Zelea yang saat ini menggunakan gaun pengantin yang terlihat lebih cocok dan pastinya lebih cantik.


"Idih malah diam saja, kenapa? Aku cantik kamu sampai liatin aku seperti itu." Zelea menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Wah calon pengantin sudah bisa bergaya ini," seloroh Retno, yang langsung mengundang tawa bersama.


"Apa aku ambil yang ini ya?" tanya Zelea pada Retno meminta pendapat.


Retno mengitari tubuh Zelea, memperhatikan gaun pengantin itu yang di gunakan Zelea saat ini.


"Luar biasa, kamu sangat cocok pakai ini." Retno mengangkat dua ibu jarinya. "Tapi apa calon suami kamu suka?"


"Itu dia, kenapa dia lama banget ya?" Zelea mulai cemas.


"Memang tadi bilangnya mau kesini pukul berapa?" Retno penasaran ingin tahu. Kini merasa kasihan melihat mata Zelea yang cemas.


Zelea menatap pintu masuk butik dengan tatapan khawatir. "Tidak bilang, hanya mengatakan akan menyusul dan nanti akan pergi bersama."


Retno manggut-manggut. "Ya udah di tunggu saja kalau memang dia mau menjemput," saran Retno.


Zelea mengangguk dengan pandangan masih menatap pintu masuk.


"Maaf, Nona. Apa kah jadi memilih gaun pengantin yang ini?" tanya pelayan butik yang membantu Zelea.


"Sebentar ya, kak. Calon suami saya belum datang, nanti kalau sudah datang akan saya putuskan pilih gaun yang mana," ucap Zelea mohon pengertian.


"Baik, Nona. Kami tunggu." Pelayan tersebut kemudian berjalan pergi.


Zelea dan Retno menunggu sembari duduk di sofa, namun baru saja mendaratkan pantatnya ke sofa, mendengar langkah kaki cepat menghampirinya.


"Sudah tidak apa-apa," jawab Zelea, kini sudah berdiri di hadapan Zeon, merapikan jas yang Zeon pakai karena sedikit berantakan.


"Tadi banyak kerjaan dan di jalan macet." Zeon masih berusaha menjelaskan, kini nafasnya sudah stabil.


"Oh ya, bagaimana? bagus tidak aku aku pilih yang ini?" Zelea memutar tubuhnya hingga gaun pengantin itu terlihat indah saat dibawa tubuh Zelea yang sedang berputar.


Zeon menghentikan gerakan Zelea berputar, kini mereka saling pandang dan melempar senyum yang manis, Zeon langsung menarik Zelea dalam pelukannya. "Cantik," bisiknya.


Huff jiwa jomblo gue meronta-ronta tauk lihat kalian bermesraan, batin Retno seraya menundukkan kepala.


"Retno, kamu tidak apa-apa, kan. pulang sendiri, makasih ya sudah menemani."


Suara Zelea membuat Retno tergagap dan langsung mendongakkan kepalanya, kini melihat Zelea dan Zeon sudah berdiri biasa tidak saling berpelukan.


"No problem." Retno tersenyum.


Setelah memutuskan pemilihan gaun pengantin, mereka bertiga pergi meninggalkan butik, menuju tempat masing-masing, Retno lanjut pergi entah kemana, sedangkan Zelea dan Zeon menuju suatu tempat.


*

__ADS_1


*


*


Malam hari.


"Awas hati-hati," ucap Zeon, saat ini sedang menuntun Zelea yang matanya sedang ditutup kain hingga tidak bisa melihat.


"Di depan ada tangga, kakinya melangkah," ucap Zeon memberi instruksi.


Zelea menurut dan melangkah penuh kehati-hatian, tangannya mencengkram kuat lengan Zeon, takut jatuh dan takut nabrak.


Zeon terus menuntun langkah Zelea, berjalan dianak tangga langkah demi langkah.


Setelah sampai di penghujung, terasa udara langsung menerpa wajah terasa dingin, dan suara alunan musik indah menyambut kedatangannya.


Zelea sempat bertanya sebelum Zeon membimbing Zelea duduk, namun Zeon milih diam.


"Sekarang aku buka, kamu sudah siap?" tanya Zeon, sedikit menggoda Zelea.


"Ih buruan aku sudah penasaran," gerutu Zelea yang sudah tidak sabar lagi ingin tahu ini dimana.


"Tapi janji dulu." Ternyata Zeon belum berhenti menggoda


"Ok janjii," ucap Zelea, padahal Zeon belum bicara janji untuk apa?


Dengan disertai senyum penuh arti, Zeon membuka kain yang menutup mata Zelea. Alunan musik biola yang indah masih di dengar, ini benar-benar membuat Zelea penasaran.


"Tara ..." teriak Zeon.


Mata Zelea awalnya mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan cahaya terang di depan matanya, namun sesaat kemudian langsung membola matanya melihat surprise indah yang Zeon berikan.


"Sekarang lihat kebelakang kamu," bisik Zeon, kemudian menuntun bahu Zelea untuk menoleh ke belakang.


Dimana ada sebua kolam renang yang ditaburi kelopak bunga mawar, serta lilin-lilin yang indah di pinggiran kolam dan di atas air kolam.


Dan apa itu? Mata Zelea memandang takjub saat melihat sesuatu yang paling indah dan yang paling terang di tengah kolam, Zelea berdiri lalu berjalan mendekati.


Mulut Zelea menggangga melihat sebuah lilin yang berada di tengah-tengah kelopak bunga mawar yang berbentuk hati 💖dan di sana ada sebuah kalung emas yang ikut berkilau di bawah lampu.


Zelea memandang takjub dan kesadarannya langsung kembali ketika Zeon tiba-tiba memeluk dari belakang. "Aku sangat mencintaimu."


Hembusan nafas Zeon menerpa hangat di lehernya.


Masih dalam posisi Zeon memeluk dari belakang, tangan mereka saling menggenggam, dengan mata sama-sama melihat ke arah kolam renang, suara musik menambah kesan romantis.

__ADS_1


Zelea hatinya menghangat saat membaca lilin di atas air kolam di susun menjadi nama Zelea dan Zeon love forever.


__ADS_2