Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB. 91. Sisi lain dari Zelea.


__ADS_3

Kebetulan hari ini adalah hari Minggu, akhir pekan yang banyak dinantikan oleh semua orang, baik dari yang bekerja atau pun yang masih belajar di sekolah dan di kampus.


Karena Ahir pekan waktu untuk berkumpul bersama keluarga, atau melakukan aktivitas bersama keluarga, seperti salah satunya lari pagi bersama keluarga.


Di hari Minggu ini di taman tempat biasa para orang-orang melakukan lari pagi terlihat sangat ramai.


Zelea dan Zeon juga melakukan lari pagi saat ini, tapi Zelea hanya berjalan saja, dan Zeon lari kecil-kecil karena sembari menemani Zelea yang berjalan.


Karena masih pagi baru pukul setengah tujuh, jadi udara di taman ini terasa sejuk, sembari berjalan dan menggerak-gerakkan tangannya Zelea menghirup udara pagi dalam-dalam.


Tiba-tiba dari arah belakang ada suara teriakan anak kecil.


"Awas ..." Anak kecil itu berlari cepat, Zelea yang kaget langsung menyingkir.


Anak kecil langsung berlari cepat melewati Zelea dan Zeon.


Ibu dari anak kecil itu menghampiri Zelea dan Zeon. "Maaf ya anak saya terlalu semangat," ucapnya merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Bu. Biasa anak kecil," jawab ramah Zelea.


Ibu itu menunduk hormat ke Zeon dan Zelea, sebelum ahirnya mengejar anaknya tadi.


"Waduh sudah jauh banget lagi anak itu berlari."


Ucapan ibu itu yang masih sempat Zelea dengar.


Zelea menggelengkan kepalanya, sembari berjalan lagi dengan Zeon.


Pikirannya membayangkan nanti kalau punya anak laki-laki apa kah juga seperti anak kecil tadi, yang begitu aktif lari-lari.


Mereka berjalan menyusuri jalan setiap orang akan lewat untuk joging, kanan kiri jalanan ini adalah sebuah taman yang dirawat.


Zelea yang berjalan sudah rumayan jauh, minta istirahat, kini duduk di sebuah bebatuan sembari meminum air dalam botol yang ia bawa.


"Haus gak?" tanya Zelea ke Zeon sembari menyodorkan botol air minum.


Zeon mengambil alih botol air minum itu dan langsung meneguknya.


Zelea melihat pandangan di sekitar, masih banyak orang yang ikut joging, dari dewasa juga anak-anak.


"Mau langsung pulang?"


Pertanyaan Zeon membuat Zelea mengalihkan pandangannya dari orang-orang yang joging berganti menatap Zeon.


"Iya, pulang aja."

__ADS_1


Zeon membantu Zelea untuk berdiri, semenjak perut Zelea semakin besar, Zelea jadi sedikit kesusahan kalau mau berdiri jika habis duduk.


Zeon merangkul pundak Zelea, mereka berjalan bersama-sama menuju tempat mobilnya terparkir.


"Nasi uduk ... Nasi uduk!" teriak-teriak ibu penjual nasi uduk, saat Zelea sudah sampai di tempat parkiran mobilnya.


Zelea memperhatikan ibu itu, melihat dagangan ibu itu yang sepi, nasi uduk yang dijualnya masih banyak, bisa dibilang masih utuh.


Zelea jadi merasa kasihan sama ibu itu.


"Ayo masuk."


Suara Zeon menyadarkan lamunannya, Zelea menatap Zeon yang kini sudah membuka pintu mobil lebar-lebar, tapi Zelea enggan mau masuk sekarang, matanya kembali melihat ibu penjual nasi uduk.


"Kamu mau apa? Mau nasi uduk?" tanya Zeon saat melihat Zelea belum mau masuk ke dalam mobil dan malah melihat ke arah ibu penjual nasi uduk.


"Nasi uduk ... Nasi uduk!" terik-terik ibu penjual nasi uduk lagi.


"Aku mau beli semua nasi uduk itu, habis aku kasihan melihat ibu itu."


Jawaban Zelea langsung membuat Zeon terkejut, membeli semua itu artinya Zelea mau memborong semua nasi uduk itu, sebanyak itu. Bukan masalah uangnya yang menjadi masalah, tapi apa kah Zelea mampu menghabiskan sebanyak nasi uduk itu?


"Boleh ya?" Zelea menatapnya dengan memohon.


"Ye! Terimakasih, sayang." Zelea langsung bahagia bagai mendapat harta Karun, Zelea langsung mencium pipi Zeon.


Zeon sampai terpaku melihat Zelea seantusias itu, sesimpel itu kah kebahagiaan seorang wanita, yang penting dituruti apa maunya.


Zelea menarik tangan Zeon untuk mendekati ibu penjual nasi uduk.


"Permisi, Bu. Mau beli nasi uduk," ucap Zelea begitu sampai di depan ibu itu.


"Mau berapa, Neng? Ini mumpung masih hangat, mau pake lauk apa, Neng? Mau pake sambelnya juga apa tidak?"


Zelea langsung diberondong pertanyaan dari ibu penjual nasi uduk.


Zelea yang bingung hanya bisa menjawab dengan tersenyum.


"Saya mau beli semua nasi uduk ini, Bu." Zelea menjelaskan.


"Serius, Neng? Alhamdulillah," ucap syukur ibu itu.


"Jadi semua berapa, Bu. Totalnya." Zeon yang bertanya.


"Saya bungkus dulu ya, Pak. Biar mudah menghitungnya," ucap ibu itu.

__ADS_1


Zeon mengangguk tanda setuju.


Setelah tiga puluh menit, kini semua nasi uduk sudah selesai dibungkus semua, Zeon dan Zelea sampai duduk lesehan di atas rumput, karena menunggu begitu lama.


"Ini semuanya ada lima puluh bungkus ya, Pak. Satu bungkusnya harga delapan ribu, jadi semuanya ada total empat ratus ribu, Pak."


Zelea melirik Zeon, Zeon langsung mengambil dompet di saku celana, kemudian membukanya dan mengambil beberapa lembar uang warna merah.


"Ini, Bu. Pembayarannya." Zeon menyerahkan lembaran uang warna merah itu ke tangan ibu penjual nasi uduk.


"Terimakasih, saya terima ya, Pak." Ibu itu tersenyum bahagia, dalam hatinya tidak henti-henti mengucap syukur, dagangan pagi ini habis diborong.


Zeon membawa ke mobilnya nasi uduk yang ada di dalam beberapa keresek itu.


Setelah semua masuk ke dalam bagasi mobil, Zelea dan Zeon masuk ke dalam mobil, dan tidak lama kemudian mobil pun melaju meninggalkan area tersebut.


Setelah mobil Zeon pergi, ibu penjual nasi uduk tadi langsung menengadahkan tangan dan kepalanya ke atas menatap langit, berdoa sebanyak-banyaknya.


*


*


*


Setelah mobil melaju beberapa meter, Zeon yang sedang mengemudi menoleh menatap Zelea.


"Nasi uduknya mau di gimana'in? Itu banyak lho."


"Kita bagi-bagikan." Mata Zelea menatap ke arah jalanan.


Setiap melihat orang penyapu jalan mobil berhenti. Zelea mendekati orang penyapu jalan memberikan dua bungkus nasi uduk setiap satu orang, untuk sarapan pagi.


Saat melihat pemulung, mobil yang Zeon kendarai berhenti lagi. Zelea memberikan dua bungkus nasi uduk juga.


Mobil jalan lagi, baru lima meter melihat orang sudah tua mendorong gerobak rongsokan. Mobil kembali berhenti, Zelea memberikan dua bungkus nasi uduk.


Mereka yang di kasih dua bungkus nasi uduk oleh Zelea, wajahnya tersenyum bahagia, bahkan ucapan terimakasih mengalir terus.


Mobil jalan lagi, setiap kali melihat orang-orang di jalan selalu Zelea kasih dua bungkus nasi uduk.


Kini masih ada dua keresek lagi berisi nasi uduk, Zelea bawa pulang untuk dikasihkan ke para pelayannya.


Begitu sampai di mansion, para pelayan senang mendapat hadiah nasi uduk dari majikannya.


Zeon dan Zelea masuk ke dalam kamar, Zeon senang melihat sisi lain dari Zelea, yang ternyata miliki sikap peduli.

__ADS_1


__ADS_2