Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 46. Sekedar mirip atau sungguhan.


__ADS_3

Dua Tahun kemudian.


Seorang pria tengah duduk di balkon, tempat kamar hotel penginapan, bersama asistennya yang juga duduk di sana.


Mereka berdua baru saja tiba di negara A sore tadi, dan rencana akan berada di negara A untuk tiga hari ke depan.


Karena ada urusan bisnis yang harus mereka selesaikan di sini.


Dan sejak tadi diantara mereka berdua belum ada yang bicara, masih asik diam dengan dunianya sendiri, sementara sesekali kepulan asap menguar ke udara, bertanda dua pria itu sedang merokok.


Mungkin bagi Asistennya hal merokok sudah dilakukannya sejak dulu, tapi tidak dengan pria yang berstatus bos nya itu, yang mulai mau merokok sejak dua tahun yang lalu.


Katanya untuk menghilangkan stres, banyaknya beban hidup yang dialaminya, serta untuk mengalihkan rasa hampa di bagian hatinya yang sampai saat ini belum ditemukan keberadaannya.


Hanya merokok tidak lebih , begitu jawabnya setiap kali temannya berkata, sekarang sudah mulai bandel ya? Tidak menjaga kesehatan lagi.


Dan entah sudah berapa banyak batang rokok yang sudah habis kini berada di dalam asbak, karena sejak sore tadi setelah sampai di kamar hotel, langsung duduk di balkon sembari merokok.


"Tuan, saya permisi mau mandi," ucap Galang, yang kemudian langsung berdiri dan mau beranjak pergi, namun pertanyaan Zeon mengurungkan niatnya.


"Besok jadwal bertemu tuan Be, pukul berapa?"


"Pukul delapan pagi, Tuan," jawabnya yakin.


Namun Zeon malah membuang nafas berat. "Aku pikir siang hari, rasanya malas pagi-pagi mau keluar."


Galang hanya tersenyum kecil tidak menanggapi gumaman kecil Zeon yang menurutnya aneh tidak seperti menunjukan sosok pengusaha.


Tapi ya begitulah Zeon yang Galang ketahui sejak dua tahun ini, sedikit malas dalam bekerja, namun tetap dilakukannya.


Setelah Galang pergi mandi, kini tinggal Zeon sendiri yang duduk di sana, matanya melihat ke arah depan, yang terlihat begitu indah kota di negara A ini.


Hembusan angin malam terasa menyejukkan wajahnya, membuatnya terasa nyaman dan betah berada di luar.


Setelah menghabiskan batang terakhir rokok, Zeon berhenti, kini berdiri tepat di pinggiran balkon.


Hanya diam dengan tatapan jauh menerawang, namun sorot matanya jelas menggambarkan rasa luka begitu dalam.


"Tuan, silahkan Anda yang mandi, saya sudah selesai."


Ucapan Galang berhasil membuyarkan lamunannya, namun tidak langsung beranjak pergi dari sana, lima menit kemudian barulah Zeon masuk ke dalam kamar, dan mengunci jendela balkon.

__ADS_1


Galang sudah ambil posisi tidur, sepertinya Galang sudah sangat lelah, ya mereka hanya menyewa satu kamar.


Setelah Zeon mandi, kini sudah melihat Galang tertidur pulas di sebelahnya, sementara Zeon belum bisa tidur juga.


Tiba-tiba hatinya ingat seseorang.


Zelea.


Cukup lama Zeon terjaga dan hanya mengingat satu nama itu, hingga ahirnya rasa kantuk datang.


*


*


*


Seharian ini semua agenda pertemuannya dengan klien di negara A, telah lancar. Dan saat ini Zeon dan Galang sedang berada di salah satu butik terkenal di kota ini.


Mereka sedang membeli setelan jas baru untuk menghadiri acara ulang tahun perusahaan Tin Group.


Mereka memang tidak pulang ke penginapan, karena akan memakan waktu tempuh, saat ini sudah pukul enam sore, dan acara akan dimulai pukul tujuh malam.


Setelah keluar dari butik terkenal sudah menggunakan stelan jas baru, Zeon dan Galang menujukan mobilnya ke tempat acara.


Setelah Zeon menjejakkan kakinya keluar dari dalam mobil, Zeon melihat gedung megah di depannya itu.


Banyak sekali orang yang berdatangan dan kebanyakan menggunakan pakaian ber jas seperti dirinya.


"Mari Tuan," ajakan Galang membuyarkan lamunannya.


Kini mereka berdua bersama-sama berjalan untuk menuju pintu masuk ballroom hotel.


Sangat megah dan indah, begitu kekaguman semua orang yang akan melihat ruang di dalamnya.


Mereka masih terus berjalan tanpa tahu mau duduk di mana, namun suara Zeon yang iba-tiba itu menghentikan langkah Galang.


"Kita temui Rendi, barulah kita cari tempat duduk."


Rendi Tom's, namanya pemilik pesta megah ini, salah satu kolega bisnis Zeon yang akan Zeon temui di negara A.


Mereka terus berjalan untuk mencari Rendi, dan setelah berputar-putar mencari keberadaan Rendi di ruang seluas ini ahirnya menemukan si empunya juga, yang ternyata saat ini berdiri sedang mengobrol dengan pria di balik bunga hias paling besar di ruangan ini.

__ADS_1


"Rendi."


"Zeon."


Begitu ucap mereka saling menyapa, dan di detik kemudian saling berpelukan.


"Ahirnya kamu sampai juga di negara aku," ucap Rendi, kini mereka saling berhadapan dan saling melempar senyum.


"Nanti gantian kamu juga harus datang di negara aku, " jawab Zeon, dan Rendi langsung menganggukkan kepala.


"Pasti-pasti, tunggu aku datang ke sana, ok." Rendi menepuk bahu Zeon.


Sebenarnya selama Zeon bertukar sapa dengan Rendi, ada sosok yang menggelitik hatinya, Zeon yakin wanita yang berdiri di sebelah Rendi adalah wanita yang Zeon cari selama bertahun-tahun ini.


Meski pun penampilan wanita itu berubah, yang kini lebih tampak glamor.


Tapi Zeon masih mampu mengenali wanita itu dari garis wajahnya yang cantik.


Tapi yang menjadi pertanyaan hati Zeon, wanita itu seperti tidak mengenali dirinya, bahkan sikap wanita itu biasa saja.


Padahal Zeon sudah memimpikan andai suatu hari nanti bertemu akan langsung berpelukan seperti adegan di film-film romantis.


Tapi ternyata saat ini hal itu tidak terjadi, hatinya masih terus meyakinkan bahwa Zeon tidak salah orang.


"Galang, siapa wanita yang bersama Rendi tadi?" tanya Zeon, setelah Rendi dan wanita yang bersamanya itu pergi, menyambut tamu yang lainnya juga.


"Aku kira Tuan sudah tahu lebih dulu." Galang menghentikan ucapnya sedikit berpikir. "Mirip nona Zelea."


"Tapi itu benarkah Zelea atau hanya orang yang sekedar mirip?" tanya Zeon lagi.


Kali ini Galang tampak bingung dalam memberi pendapat, takut salah ucap dan malah menimbulkan masalah.


"Mungkin sekedar mirip Tuan." Ahirnya kalimat itu yang Galang pilih untuk menjawab.


"Kamu salah, dia benar Zelea." Zeon kali ini yakin karena barusan matanya sempat bertemu dengan mata Zelea sebelum wanita itu menundukkan kepala.


"Sekarang kita pulang, besok baru kita cari tahu alasan apa yang membuat dia menghindar," ucap Zeon lagi dan langsung melangkah ke pintu keluar, di susul Galang di belakangnya.


Galang kembali menjalankan mobilnya, di negara ini mereka harus menyewa mobil yang digunakan untuk aktifitas selama berada di negara ini.


Zeon menopang dagu menatap ke arah luar jendela, memperhatikan indahnya jalan malam di kota ini.

__ADS_1


Apa kamu masih ragu dengan cintaku padamu waktu itu? Hingga tadi kau pura-pura tidak mengenali aku.


Andai kau tahu, aku menahan luka dan rindu selama ini untukmu, batin Zeon.


__ADS_2