
"Ma-Mas ma-maaf ma-maaf ...."
Radit rasanya ingin marah lebih dari ini, tapi tangis Zelea dan juga suara terbata-bata Zelea yang terus mengatakan maaf seolah mencegahnya untuk tidak berlebihan.
"Menyingkir lah!"
"Ah!" suara Zelea terdorong, saat Radit melepaskan Zelea dari tangan yang terus memeluk kakinya.
"Mas Radit!" teriak Zelea ingin menggapai Radit kembali, namun suara pintu di tutup dengan keras lebih dulu ia dapatkan.
Brakk!
Pintu dikunci dari luar.
Setelah sepeninggalan Radit, Zelea langsung menangis sejadi-jadinya, dadanya terasa sesak, membawa tubuhnya bersandar di pinggiran ranjang.
Matanya terus menangis dan lidahnya kelu tidak tahu harus berbuat apa, pikirannya mendadak buntu.
"Aku rela diusir, tapi plis jangan marah sama aku seperti ini," ucapnya lirih.
Dikata egois biarlah, meski sudah menorehkan kekecewaan tapi masih berani berharap tidak dibenci.
"Selepas kita bukan suami istri lagi, aku ingin kita tetap baikan, bukan seperti ini yang aku mau ... Maaf." Zelea semakin menangis mengingat semua.
Memeluk lututnya sendiri dengan suhu badan yang kini mulai menghangat, perasaannya masih diselimuti rasa gugup. Yang entah sampai kapan akan tetap dirasakan.
Disela-sela tangisnya, Zelea tersenyum getir. hubungan asmaranya selalu saja rumit, impiannya dulu ingin bahagia, namun kenyataannya selalu tak seindah harapannya.
*
*
*
"Maaf, Dad."
Radit menghela nafas berat seraya mengusap wajahnya kasar. "Bagaimana ini bisa terjadi Zeon!"
"Maaf, Dad." Lagi-lagi jawab Zeon hanya kata maaf.
Radit menghela nafas panjang seraya memijit pangkal hidungnya. "Sejak kapan kamu jatuh cinta sama dia, Zeon!"
Zeon hanya menundukkan kepala, kedua tangannya saling mengepal erat memberi kekuatan, namun lagi-lagi ia tidak bisa menjelaskan karena bingung sejak kapan dirinya mulai jatuh cinta.
"Cinta datang setiap waktu, Dad. Zeon lupa kapan waktunya itu."
Bukan Zeon yang menjawab tapi Nofal, pria itu tersenyum miring menatap Zeon yang seperti orang terdakwa tersangka mencuri.
Radit menatap tajam ke arah Nofal seolah berkata, aku tidak ada urusan dengan kamu kenapa kamu yang bicara.
__ADS_1
"Tenang, Dad. Aku tidak berpihak padanya, aku hanya membantu menjelaskan." Nofal mengangkat dua tangannya seperti orang yang menyerah.
"Tadi juga aku sudah memukulnya, mewakili Daddy." Tunjuknya pada pipi Zeon yang terlihat merah.
Arah mata Radit ikut memperhatikan merah lebam di pipi Zeon, sejak tadi sebenarnya sudah melihat, tapi karena marah tidak sempat bertanya.
"Jadi lebam merah itu hasil karyamu." Menatap Nofal.
Nofal mengangguk bangga. Namun sesat berganti tersenyum kecut.
"Siapa yang menyuruh kamu memukul Zeon!"
"Eh, Dad-," Nofal tidak melanjutkan ucapannya saat Radit lanjut bicara.
"Daddy memang marah, sangat marah. Sangking marahnya Daddy tidak bisa menyakiti putra Daddy sendiri."
"Daddy kecewa kenapa harus Zelea? Kenapa!"
Hawa mencengkam semakin berlipat-lipat di ruang kerja Radit.
"Jawab Zeon! Kenapa diam saja!" bentaknya lagi karena sudah kehilangan kesabaran melihat aksi Zeon yang diam saja.
"Seperti yang dikatakan Kak Nofal, Dad." Zeon semakin menundukkan kepala. Tidak berani menatap wajah ayahnya. Sampai telinganya mendengar suara tawa Nofal yang sangat menyebalkan baginya.
Hahah. "Kompak kan, Dad. Zeon hanya berkata maaf dan Zelea juga pun begitu."
"Nofal diam!" bentak Radit kerahnya.
Radit menarik nafas buang nafas begitu untuk beberapa menit, seperti sedang meredakan amarah.
Setelah cukup lama hanya suara nafas yang terdengar di ruangan tersebut, kini Radit kembali bicara.
"Daddy tidak bisa merestui hubungan kalian, meskipun terlepas dia bukan istri Daddy lagi nantinya." Radit bicara penuh penekanan.
Kalimat yang diucapkannya persis yang pernah Zeon ucapkan sendiri dikala itu.
Zeon berdiri dari duduknya, berjalan mendekati Radit, bersimpuh di depan Radit dengan kedua kaki menekuk di lantai.
"Dad, maafkan aku." Zeon menenggelamkan wajahnya di depan kaki Radit. "Zeon tahu salah, tapi jujur Zeon tidak bisa jauh dari dia, Dad. "Zeon menatap Radit. "Zeon akan hidup lebih pedih dari pada saat ditinggal Mommy," lirihnya dengan kepala kembali tertunduk di depan kaki Radit.
"Tidak bisa Zeon, kali ini Daddy tidak akan mewujudkan keinginanmu." Radit mendorong Zeon kebelakang, kemudian berdiri dan keluar dari ruang tersebut.
Zeon hanya bisa tertunduk, tangannya terkepal sembari memikirkan apa yang akan dilakukan ayahnya.
Sampai tiba-tiba merasakan tepukan di bahunya. "Kayaknya kamu harus kerja keras untuk dapetin dia," ucap menyebalkan Nofal. Kemudian berlalu dari ruang itu.
Kini tinggallah Zeon sendirian, saat pikirannya sedang ruet tidak tahu harus berbuat apa untuk mempertahankan Zelea supaya tidak pergi.
Tiba-tiba teringat Zelea yang masih di dalam kamar, Zeon bangkit dan keluar untuk menuju kamar ayahnya.
__ADS_1
Namun sampainya di depan pintu kamar ayahnya, pintu itu terkunci tidak bisa dibuka.
"Ze ... Zelea!" panggilnya sembari gedor-gedor pintu.
"Zelea!" teriaknya lagi, namun tidak dibuka juga.
Ahirnya Zeon memutuskan untuk mencari ayahnya guna memohon ingin bertemu Zelea lagi.
Orang yang dicarinya ternyata saat ini sedang duduk di ruang tengah.
Zeon langsung mendekat dan duduk disebelah Radit. "Dad, mohon Dad. Ijinkan Zeon bertemu Zelea sekali lagi." Zeon merengek seperti anak kecil minta mainan.
Namun apa lah daya, Radit tetap diam tidak mau merespon apa pun yang Zeon ucapkan.
*
*
*
"Ingat, negara yang akan kamu datangi berbeda dari negara yang ingin kamu datangi kemarin." Radit menghentikan ucapannya dan menghela nafas berat. "Ini adalah konsekuensinya," lanjutnya lagi dengan suara terdengar lelah.
"Baik mas," jawab Zelea.
Kini Radit membantu Zelea untuk membawa turun koper yang Zelea bawa, ada dua koper yang Zelea bawa saat ini.
Satu dibawa Radit dan yang satunya lagi dibawa Zelea.
Zelea masih merasa bersyukur karena Radit masih mau membantunya, mereka turun ke bawah bersama-sama sampai kini tiba dilantai satu.
Asisten Mip langsung datang mendekati Zelea dan Radit, meraih dua koper sekaligus lalu di bawa ke halaman untuk di masukkan ke dalam mobil.
Malam ini cuaca buruk, sedang turun hujan deras.
Pukul delapan malam tepatnya, tibanya di teras Zelea masih berpamitan dan tidak lupa mengucap kata maaf.
Radit tidak keberatan, dan segera berjalan ke arah mobil seraya membawa payung, masuk ke dalam mobil, namun sebelum benar-benar masuk tubuhnya ke dalam mobi, tiba-tiba ada yang meraih tangannya.
Zelea seketika terkejut mendapat sentuhan dadakan, dan saat melihat siapa orangnya ternyata Zeon.
Namun kembali terkejut saat Zeon tiba-tiba memeluknya. "Aku ikut kamu pergi ... Aku ikut kamu pergi," bisiknya di telinga Zelea.
Pelukan semakin erat tanpa peduli hujan deras membasahi tubuh mereka.
Zelea menggelengkan kepala masih dalam pelukan Zeon. "Jangan ... jangan pernah perjuangan cinta tanpa restu orang tua ... Karena nanti kita yang akan merugi."
Dengan berat hati Zelea melepas pelukannya. "Aku pergi, selalu baik-baik, ya?" Menangkup wajah Zeon.
"Zelea." Zeon masih memegangi tangan Zelea saat wanita itu mulai memasuki mobil. Sampai tangan Zelea benar-benar terlepas dari genggaman tangannya kemudian pintu mobil tertutup.
__ADS_1
Zeon masih berusaha mengejar saat mobil keluar dari pintu gerbang.
"Zelea ...." teriaknya di tengah hujan deras mengguyur tubuhnya, matanya terus menatap mobil yang dilajukan oleh Asisten Mip yang berjalan semakin menjauh.