
Di rumah sakit, Nofal hari ini meminta untuk pulang, sudah tidak perlu di rawat lagi, karena sudah merasa lebih baik, apa lagi saat mendengar suara Milli yang barusan menelpon, Nofal langsung semangat.
Dengan dibantu Bagas, Nofal pergi meninggalkan rumah sakit.
"Sekarang kita mau kemana, Bos?"
Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil yang sedang melaju.
"Ke toko perhiasan lah, kan aku belum beli cincin," jawab Nofal sembari menatap jalanan.
Bagas langsung mengarahkan Mobilnya menuju pusat perbelanjaan, apa bila Bagas fokus menyetir.
Nofal fokus memikirkan Milli, menunggu satu hari lagi rasanya lama sekali, ingin segera esok pagi tiba dan menikah dengan Milli.
Dalam pikiran Nofal sedang menyusun rencana-rencana setelah menikah nanti.
Zeon kemarin sudah menceritakan ke Nofal, bahwa setelah Milli menikah dengan Nofal, akan tinggal terpisah dengan orang tua Milli.
Berarti Nofal harus membeli rumah, namun untuk mendapat rumah yang nyaman, Nofal harus mesti teliti dalam mencari.
Ia mau memberikan rumah yang nyaman untuk Milli, tidak mau membuat Milli tidak betah tinggal di rumah baru.
"Gas, nanti kamu mulai survei rumah ya? Jika ada yang bagus dan nyaman segera kabari aku nanti kita cek bersama-sama."
Bagas mengangguk. "Baik, Bos."
"Jangan lama-lama, Gas," imbuhnya lagi.
"Siap, Bos."
Ya, Nofal tidak mau sampai Bagas lama-lama, karena kasihan kepada Milli jika terlalu lama tinggal di apartemennya.
Sementara setelah menikah akan tinggal di apartemen, setelah menemukan rumah yang pas, baru akan pindah.
Lamunan Nofal terbuyarkan ketika mobil sudah sampai di pusat perbelanjaan.
Nofal memakai masker, karena tidak mau wajahnya yang masih ada bekas lebam dilihat banyak orang.
Nofal dan Galang bersama-sama memasuki pusat perbelanjaan tersebut, masuk ke dalam sana, seketika menjumpai banyak orang pengunjung pusat perbelanjaan tersebut.
Nofal dan Bagas ke lantai dua, menuju tempat toko perhiasan emas.
Sampainya di sana, Nofal melihat-lihat cincin di etalase toko perhiasan, ada banyak variasi bentuk cincin, dan semua bagus.
"Gas, bagusan yang mana ya?" tanya Nofal meminta pendapat Bagas.
__ADS_1
Bagas yang ditanya jadi bingung, pasalnya semua cincin sama bagusnya.
"Semua bagus, Bos."
Nofal mendengus. "Hah, kalau itu jawaban kamu kenapa aku harus bertanya."
Bagas tertawa.
"Maaf, ada yang dapat kami bantu?" tanya seorang penjual mas.
"Saya mau beli cincin untuk menikah," ucap Nofal.
"Cincin untuk menikah ya?" ulang orang tersebut, kini membantu mencari yang saat ini lagi trend. "Yang model seperti ini, banyak pasangan membeli untuk pernikahan." Orang tersebut menunjukkan cincin ke Nofal.
Nofal memegang cincin itu, ia bolak-balikkan, Nofal nampak sedang berpikir. "Apa bentuknya cuma ada seperti ini? Apa masih ada pilihan?"
"Masih ada," jawab orang itu, kemudian mengambil dua cincin lagi untuk pilihan, dan menunjukan ke Nofal.
Nofal menyenggol lengan Bagas, seolah meminta pendapat bagusan yang mana?
"Yang ini, Bos," jawab Bagas.
Nofal memperhatikan cincin yang menurut Bagas bagus, tapi Nofal merasa kurang suka, Nofal milih cincin yang nomor tiga.
Hah! Bos kalau ahirnya bisa milih sendiri kenapa harus meminta pendapat aku, batin Bagas.
Setelah melakukan pembayaran transaksi, dan cincin sudah Nofal dapat, mereka berdua langsung pergi dari sana.
Mereka berdua nampaknya berjalan menuju lantai satu dan tidak melanjutkan belanja lagi, Nofal dan Bagas langsung pergi dari pusat perbelanjaan tersebut.
"Sekarang kita mau kemana lagi, Bos?" tanya Bagas, setelah mereka berada di dalam mobil.
Bagas melajukan mobilnya membawa keluar dari parkiran yang terdapat di pusat perbelanjaan tersebut.
Nofal yang ditanya hanya diam saja, bukan ia tidak punya uang untuk sekedar membelikan gaun pengantin yang mewah serta pesta pernikahan yang megah.
Tapi dari pihak keluarga Milli meminta pernikahan yang biasa saja, bahkan hanya akan dihadiri kerabat terdekat saja.
Padahal Nofal ingin menghadiahi Milli gaun pengantin yang bagus, mengingat pernikahan ini hanya sekali dalam seumur hidup.
Harapan Nofal saat bersama Milli sampai tua sampai maut memisahkan.
Meski saat ini Nofal belum tahu apa kah Milli mencintainya atau mau menikah dengannya hanya karena anak.
Bagi Nofal itu poin kedua, yang pertama yang penting Milli sudah menjadi istrinya, ia akan berusaha membuat Milli nyaman, hatinya berjanji.
__ADS_1
"Bos."
Suara Bagas kembali menghampiri telinganya, Nofal yang barusan sempat melamun langsung tersadar dan mendengus kesal, lagi-lagi Bagas ngagetin.
Bagas menoleh bertepatan Nofal menatap tajam ke arahnya, diam! Begitu Bagas mengartikan tatapan mengerikan Nofal.
"Maaf, Bos," ucapnya bersamaan Nofal menghela nafas panjang sembari menatap lurus ke depan.
Mobil terus melaju, di depan sana ada dua mobil yang lajunya lambat, Bagas langsung menyalip dua mobil tersebut.
Nofal pandangannya masih lurus melihat lalu lintas di depan sana, dengan pikiran jauh menerawang.
Bagas ahirnya milih diam dan milih fokus mengemudi saja, meski sedikit heran dengan sikap Nofal yang terlihat banyak melamun.
Mau bertanya takut nanti malah marah, diam lebih baik baginya sekarang.
Bagas mau menyalakan musik dari pada di dalam mobil sepi, namun niatnya urung saat mendengar suara.
"Apa aku tidak apa-apa jika membelikan gaun pengantin untuk Milli?"
Eh, apa dia bertanya sama aku, batin Bagas.
Bagas menoleh, hanya tersenyum kikuk, mau menjawab tapi takut ngasih jawaban.
"Tidak apa-apa, Bos. Kan dia calon istrinya, Bos." Ahirnya Bagas menjawab seperti itu, melirik sekilas wajah Nofal, jantungnya langsung berdegup kencang saat melihat wajah Nofal semakin berwajah masam.
Oh, tidak! apa kah aku salah bicara, batin Bagas.
Nofal memang berwajah semakin masam, karena takut nanti akan ditolak jika ia memberi gaun pengantin yang mewah untuk Milli.
"Aku takut dia malah tidak mau menerima, karena ini hanya pernikahan biasa tidak ada kemewahan di dalamnya." Zeon membuang nafas berat setelah bicara, sembari membenahi duduknya untuk bersandar lebih nyaman.
Bagas menoleh menatap Nofal yang lesu, sebelum ahirnya kembali fokus menatap ke depan.
"Gak apa-apa, Bos. Soal dia tidak mau menerima yang bagus atau malah menerima yang biasa saja ... terlepas dari itu semua yang penting Bos sudah kasih gaun pengantin." Setelah bicara Bagas menghela nafas panjang.
Huh, semoga aku tidak salah bicara lagi, batinnya.
"Kau benar, kita sekarang langsung ke butik."
Hah, Bagas bernafas lega, cukup menegangkan tiap kali bos nya itu minta pendapat, jika tidak bisa memberi pendapat yang baik yang bisa membuat Nofal senang, akan berakhir bahaya untuk nya. Bisa-bisa potong gaji kalau salah mulu.
Sekarang Nofal sudah sangat yakin untuk membelikan Milli gaun pengantin, dan berharap Milli mau menerima pemberiannya nanti.
Nofal tersenyum getir saat mengingat persiapan pernikahannya tidak ada acara fitting baju pengantin bersama pasangan.
__ADS_1