
Semua orang kembali beraktivitas setiap pagi datang. Menyelesaikan pekerjaannya sampai tiba waktu selesai, demi menyambung hidup. Begitulah ucap para setiap orang pekerja, apa bila ada sisa boleh lah belanja untuk menyenangkan diri.
Zelea membuka pintu mobil, kakinya melangkah keluar dan seketika menginjak rerumputan basah, sepertinya semalam hujan deras, sampai membuat rumput di halaman rumah masih basah banyak embun. Padahal waktu sudah pukul sembilan pagi.
"Ze, ayo?"
Suara Radit menyadarkan lamunan Zelea, yang tadi sempat mematung memperhatikan sepatu pantofel miliknya basah menginjak rumput.
Radit tersenyum melihat Zelea yang hanya diam saja. "Ayo, kenapa malah diam disitu," ajak Radit lagi.
Zelea membalas tersenyum dan mulai berjalan, mereka bersama-sama berjalan menuju rumah tempat amal.
Radit sudah biasa setiap bulan akan memberikan sumbangan untuk panti amal ini.
Sebagai salah satu donatur di panti amal ini, tentu wajah Radit sudah sangat dikenali, Radit selalu datang sendiri untuk memberikan sumbangan, tidak pernah menyuruh bawahannya.
Apa bila harus mengajak Asisten Mip, pasti untuk menemaninya saja, tidak pernah walau hanya sekali pun Radit menyuruh orang.
"Tuan, Radit. Silahkan masuk," ucap wanita muda, yang biasa dipanggil Susan. Pekerja di panti amal ini.
Radit dan Zelea menanggapi dengan tersenyum, mereka mengikuti Susan berjalan menuju ruang tamu.
Setelah duduk di sana, tidak lama kemudian datanglah wanita yang sudah tidak muda, berbadan sedikit gemuk, menghampiri mereka dengan senyum anggun.
"Tuan, Radit maaf lama menunggu," ucapnya seraya menjabat tangan Radit, sebelum ahirnya ikutan duduk di sana.
"Tidak masalah Bu Ani, kami baru sampai juga," ucap Radit.
Semua jadi tersenyum.
Interaksi mas Radit dengan semua orang di sini terlihat begitu akrab, batin Zelea. sejak tadi diam-diam memperhatikan.
Radit merogoh tasnya kemudian mengeluarkan map coklat berisi uang, meletakkan di atas meja. "Bu Ani, maaf saya hanya bisa membantu dengan jumlah sedikit, karena mampu saya saat ini baru bisa segini. Kemarin perusahaan mengalami kegoncangan."
"Tuan Radit, tidak perlu seperti itu. Segini saja kami sudah bersyukur, karena namanya sedekah itu tidak harus ditentukan jumlahnya. Dan semoga sedekah Tuan Radit menjadi berkah dan perusahaan bisa kembali lancar."
"Amin," ucap semua orang.
Setelah Bu Ani mencatat nama Radit di bukunya, Radit dan Zelea langsung pamit pulang, karena masih banyak urusan.
Kini Zelea dan Radit sudah berada di dalam mobil yang sedang melaju.
Setelah keluar dari panti amal tadi, Zelea merasa penasaran dan ingin tahu sejak kapan Radit mulai menjadi donatur di panti amal itu.
"Mas, apa aku boleh bertanya?" tanya Zelea memulai pembicaraan.
__ADS_1
Radit menoleh. "Mau bertanya apa?" suaranya lembut.
"Aku lihat Mas begitu akrab dengan ibu Ani, Mas sudah lama menjadi donatur di panti amal itu?"
Melihat reaksi Radit yang terkekeh. Eh, Zelea langsung menutup mulutnya, berpikir apa kah ia salah bertanya.
"Sebenarnya pertanyaan kamu tidak perlu di jawab, so sudah pasti kami terlihat akrab karena kami sudah sering bertemu."
Hehehe.
Kali ini Zelea yang tertawa.
Mereka kembali diam seraya menikmati waktu di dalam mobil yang terus berjalan.
*
*
*
"Daddy." Zeon membuka pintu ruang kerja ayahnya. Tapi tidak mendapati siapa pun di sana.
Kemana Daddy pikirnya terus berjalan menuju meja kerja ayahnya.
Di meja itu Zeon masih melihat bingkai foto ibu dan ayahnya, hati Zeon menghangat melihat foto itu.
Tapi kenapa Daddy harus menikah, harusnya apa pun alasannya Daddy tidak menikah lagi, batin Zeon, mulai kesal lagi.
Karena yang dicari tidak ada di dalam ruang kerjanya, ahirnya Zeon pergi dari sana. Namun baru saja menutup pintu, Zeon bertemu Asisten Mip yang mau masuk ke dalam ruang kerja ayahnya.
"Paman," sapa Zeon.
"Iya, Tuan Muda." Menunduk hormat.
"Tahu kemana Daddy pergi?"
"Tuan Radit pergi ke panti amal, Tuan Muda."
Zeon membuang nafas berat, pantas saja tidak ada di ruang kerja, begitulah arti hembusan nafas kasarnya.
Zeon tidak bicara lagi dan langsung pergi dari hadapan Asisten Mip. Pria yang tuanya seusia ayahnya itu masuk ke ruang kerja Presdir dan meletakkan berkas penting di atas meja sang Tuan. Kemudian kembali keluar.
Zeon yang sudah tiba di ruang kerjanya, entah kenapa tiba-tiba merasa bersalah bercampur cemas.
Bersalah sama ibunya, karena tidak bisa jahat lagi sama Zelea.
__ADS_1
Cemas, karena bingung dengan perasaan yang dialaminya. Perasaan aneh yang baru dirasakannya.
"Kenapa aku selalu terbayang wajahnya, aku seperti orang yang lagi jatuh cinta." Zeon segera menggelengkan kepalanya cepat selesai bicara.
Berusaha mengalihkan pikirannya dengan menyelesaikan setumpuk pekerjaan di atas meja kerjanya.
Namun usahanya untuk mengalihkan pikiran mengenai bayang-bayang Zelea ternyata sia-sia.
Zeon menjadi tidak fokus dalam bekerja.
Meletakkan kembali pena yang Zeon pegang, punggungnya bersandar di sandaran kursi, kepalanya menengadah ke atas melihat langit-langit ruangan.
Zeon menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Lagi-lagi hanya terdengar helaan nafas berat Zeon, sampai ahirnya entah apa yang pria sedang galau itu pikirkan, tiba-tiba Zeon keluar dari ruang kerjanya.
*
*
*
Pukul dua sore, Zelea dan Radit tiba di perusahaan, mereka setelah keluar dari panti amal langsung bertemu klien, dan kini baru saja sampai.
Saat masuk ke dalam perusahaan, semua normal sampai masuk ke dalam lift keadaan juga normal, hingga Zelea dan Radit masuk ke ruang kerjanya, semua masih terlihat normal. Sampai ahirnya Zelea berdiri di depan meja kerjanya, matanya menangkap sesuatu di sana.
Apa itu? Seperti wadah makanan, tapi aku sedang tidak lagi memesan makanan, lalu milik siapa itu? Batin Zelea penuh tanya-tanya.
Kakinya mendekat, tangannya meraih sesuatu yang mengusik matanya sebuah wadah makanan di atas meja.
Untuk Zelea 💖
Zelea kembali kaget membaca tulisan di atas tutup wadah makanan itu.
"Serius ini buat aku? Tapi siapa yang ngasih, baik banget dia," bicara sendiri, tangannya sudah tidak sabar untuk melihat isinya apa? Dan ...
Mata Zelea sampai terbelalak lebar melihat isi dalam wadah makanan itu.
"Salad buah, ah ini seger banget untuk aku makan di siang gini," ucapnya penuh semangat, Zelea mengambil posisi duduk dan memakan salad buah itu.
Zelea yang memang menyukai salad buah sampai tidak ingat lagi harus mencari tahu siapa pemberinya.
Dan setelah salad buah sudah habis, Zelea kembali berpikir siapa pemberi salad buah yang sudah dihabiskannya itu.
"Tadi aku dan Mas Radit pergi bersama, dan yang bisa keluar masuk ke ruang kerja ini hanya Asisten Mip dan pria-," Zelea tidak melanjutkan ucapannya saat mau menyebut nama Zeon.
__ADS_1
Zelea menggelengkan kepalanya.
Tidak mungkin Zeon, juga tidak mungkin Asisten Mip, apa mungkin setan? Batin Zelea yang malah merinding dengan pemikiran yang salah itu.