Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 81. Ingin berontak tapi tidak bisa.


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar yang luas, dengan warna cat putih tulang, seorang wanita menangis tersedu-sedu di atas ranjang ukuran king size.


Wanita itu begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya dan didengar hari ini, seolah tidak mau percaya, tapi ini kenyataannya.


Kini wanita itu mengingat kejadian beberapa bulan lalu, saat ia baru mengetahui bahwa sedang hamil.


Saat itu Milli dalam satu Minggu bolak-balik masuk dan keluar rumah sakit, awalnya saat diperiksa hanya sakit mag nya kambuh.


Namun saat diperiksa lagi di hari yang berikutnya, karena Milli masuk rumah sakit lagi, dan saat itu lah Milli diketahui sedang hamil muda dua bulan.


Ayah Milli dan Ibunya tentu langsung terkejut, mendengar kabar anak semata wayangnya hamil, karena Milli belum menikah dan ini bisa menjadi aib di keluarganya.


Saat itu Milli ditanya oleh kedua orang tuanya, siapa yang sudah menghamili? orang tua Milli mengira Milli hamil dengan pacarnya, karena putrinya itu sudah dewasa hal wajar jika Milli sudah pacaran.


Namun jawaban Milli lagi-lagi membuat kedua orang tuanya terkejut.


"Milli tidak tahu, malam itu Milli pergi bersama Sem, Milli tidak punya pacar."


Begitu jawaban Milli saat itu, dengan berderai air mata, kepalanya menunduk tanpa berani melihat wajah kedua orang tuanya, ibu Milli langsung memeluk putrinya. Berbeda dengan ayah Milli yang langsung marah dan mencari Sem.


Tidak sulit untuk mencari anak muda itu, karena sudah cukup baik mengenal keluarga Sem.


Namun lagi-lagi jawaban Sem membuat ayah Milli semakin marah, dan bingung karena jawaban Sem tidak seperti ucapan Milli.


"Bukan saya, Om. Tapi saya tahu orangnya." Jawaban Sem saat itu, karena kartu nama yang ditinggalkan Nofal saat itu diambil oleh Sem.


Sem datang lagi ke sana pagi hari setelah Nofal pergi dan sebelum Milli bangun.


Sem menunjukan kartu nama milik Nofal ke ayah Milli.


Begitu membaca nama di kartu nama itu, ayah Milli langsung terkejut.


Siapa yang tidak kenal Nofal Alexa, seorang mantan selebriti lima tahun lalu yang karirnya hancur karena terseret sebuah kasus.


Namun ayah Milli tetap marah sama Sem, karena ulah Sem lah membuat Milli berakhir dengan Nofal, dan saat itu ayah Milli langsung memberi perhitungan pada keluarga Sem, dan sejak saat itu pula hubungan mereka tidak lagi baik-baik saja.

__ADS_1


Ayah Milli ahirnya milih merahasiakan semua yang diketahuinya, karena tidak mau memiliki menantu seperti Nofal.


Meski Nofal putra orang berada, ayah Milli tetap tidak mau menjadikan Nofal menantunya, dan menganggap ini sebuah kesalahan.


Ayah Milli kemudian mengatakan ke istrinya, setelah bayi Milli lahir nanti akan di berikan ke adiknya yang sudah menikah sepuluh tahun tapi belum diberi momongan.


Dan Milli saat mendengar ibunya akan menyerahkan bayinya ke adik ayahnya, tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Biar dia ada yang merawat, dan kamu bisa lanjut kuliah lagi, tidak apa-apa sekarang berhenti kuliah dulu," ucap ibu Milli sembari memeluk putrinya.


"Maafkan Papa dan Mama, karena kamu harus merelakan bayimu diurus oleh Tante."


Milli hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa? Karena tidak bisa melawan kedua orang tuanya.


Jika mereka berdua ingin bayi Milli di berikan ke tantenya, tentu harus terjadi, tidak bisa lagi dihalangi.


Tapi saat itu Milli tiba-tiba bertanya, ia sendiri juga tidak sadar kenapa bisa bertanya seperti itu.


"Jika Milli tahu siapa pelakunya dan dia mau tanggung jawab, apa kah Milli masih bisa mengurus bayi ini, Ma?" Milli mengigit bibir bawahnya, merasa takut pada sang ibu karena sudah bicara lancang seperti itu.


"Milli ... Waktunya kamu minum vitamin?"


Suara ibunya menyadarkan dari lamunan Milli, wanita itu langsung mengusap pipinya yang basah akan air mata.


Ibunya Milli tersenyum saat melihat Milli baru menangis, kemudian membuka bungkus vitamin di berikan ke Milli berikut air putih.


Ibu Milli duduk di pinggiran ranjang sebelah Milli, mengusap rambut panjang Milli. "Jangan bersedih sayang, semua pasti akan baik-baik saja," ucap ibunya dengan lembut.


Milli meletakkan kembali gelas berisi air putih itu di atas meja samping tempat tidurnya.


Milli menoleh ke arah ibunya, tatapan wanita itu sendu, matanya juga terlihat lelah, seperti terlalu lama menangis.


"Berdoa saja semua pasti akan baik-baik saja," nasehat ibunya lagi, kini langsung memeluk putrinya itu.


Namun tiba-tiba mereka berdua terkejut saat pintu kamar Milli dibuka dengan kasar, dan orang itu menunjukan wajah marah.

__ADS_1


"Ingat Milli ... Kamu tidak akan menikah dengan pria tadi! Dan anak kamu akan tetap Papa kasih ke Tante Yuli!"


Suara ayahnya begitu menggelegar ke seluruh ruangan. Ayahnya benar-benar marah.


Milli semakin memeluk ibunya karena ketakutan melihat wajah ayahnya yang marah.


"Papa tetap tidak sudi menganggap anakmu sebagai cucu Papa! Dan laki-laki tadi sudah Papa hajar sampai dia masuk rumah sakit!" ucap ayah Milli sebelum pergi dari kamar Milli.


Milli semakin berderai air mata mendengar ucapan jahat ayahnya sendiri, rasanya sakit hatinya mendengar ayahnya tidak mau menganggap anaknya cucu.


Selepas bukan ia yang nantinya akan mengurusnya, harusnya ayahnya tetap menganggap cucunya bukan malah seperti itu.


Padahal Milli semakin hari semakin merasakan sayang sama calon anaknya, dan hati kecilnya tidak bisa bohong bahwa ia ingin merawatnya.


"Sekarang istirahat lah, jangan banyak menangis sayang, nanti kamu lelah," ucap ibunya Milli, merapikan rambut Milli, kemudian mencium kening Milli.


Milli berbaring di atas ranjang, Ibunya menyelimuti Milli sampai batas leher. Mencium kening Milli sekali lagi sebelum ahirnya keluar dari dalam kamar Milli.


Setelah kepergian ibunya, Milli menangis sejadi-jadinya, ia ingin marah tapi tidak bisa, ingin berontak juga tidak bisa.


Ingin mempertahankan miliknya tidak boleh diambil orang lain, juga tidak bisa ia lakukan. Milli hanya bisa menangis dan menangis.


Andai ia bisa memberontak seperti anak yang lainnya, pasti sudah Milli lakukan, tapi berpikir lagi setelah itu hidupnya akan seperti apa?


Andai berhasil kabur dan mengurus bayinya kemudian jika tidak punya uang bagaimana bayinya nanti.


Semua menjadi pertimbangan Milli, tidak ada jalan keluar selain menuruti kemauan ayahnya. Dan itu artinya ia harus kehilangan bayinya.


Aaaaa! Milli menjerit rasanya tidak sanggup menghadapi semua ini.


Dan bersamaan pikirannya yang sedang kacau, kini Milli merasakan perutnya kram.


Milli meringis menahan sakit, perlahan membawa tubuhnya duduk, Milli mengambil vitamin lagi dan kemudian meminumnya.


"Maaf kan Mama ... Maafkan Mama," ucapnya sembari mengusap perutnya, Milli mengatur nafasnya, menenangkan pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2