Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 43. Membicarakannya tak pernah bosan.


__ADS_3

Pukul sebelas malam sebuah restoran yang bangunannya masih baru, sekitar dua tahun yang lalu mulai open, kini telah ditutup karena sudah mulai larut malam dan pengunjung sudah tidak ada.


"Bagas kamu bisa langsung pulang saja ya, malam ini juga aku tidak lagi sibuk," ucap pria yang menjadi atasan Bagas itu.


"Baik bos, terimakasih sudah memberi saya waktu istirahat cepat," ucap Bagas begitu senang.


Hemm.


Bagas adalah orang tangan kanannya, apa pun pasti akan meminta bantuan Bagas, Bagas juga bukan sebagai sef, bagian sef juga pelayan sudah ada sendiri.


Namun sebelum Bagas benar-benar keluar dari ruang kerjanya, Bagas kembali berbalik dan menatap bosnya itu yang masih sibuk merapikan kertas hasil pendapatan hari ini di restoran.


"Bos Nofal, besok saya berangkat kerja sedikit terlambat karena mau mengantar ibu saya ke rumah sakit untuk periksa."


"Hanya sebentar," lanjut Bagas ingin semakin meyakinkan Nofal.


"Terserah kamu saja yang penting tetap berangkat," ucap Nofal tanpa melihat wajah lawan bicara, tetap fokus merapikan meja kerjanya dari banyaknya kertas di atas meja.


"Terimakasih, Bos. Saya pulang." Bagas tersenyum.


Hemm.


Setelah Bagas pulang, Nofal hanya sendiri di ruangan ini, bahkan sendiri di tempat restoran ini.


Karena semua karyawannya sudah pada pulang, biasanya ia selalu pulang bersama Bagas, tapi malam ini karena ingin bertemu seseorang yang dirindukan, membuat Nofal memutuskan untuk pulang sendiri.


Seseorang yang Nofal rindukan yang tidak lain adalah Zeon, adiknya sendiri. Semenjak mengurus usaha restoran sejak dua tahun yang lalu.


Membuat Nofal dan Zeon jarang bertemu, tidak meski satu bulan sekali, karena keduanya memang saling sama-sama sibuk.


Apa lagi sekarang tidak tinggal satu tempat lagi, Nofal tetap tinggal di mansion, tapi tidak dengan Zeon yang saat ini tinggal di apartemen.


Dan Nofal juga tahu sejak kapan Zeon tinggal di sana, namun masalah yang Nofal dapat selama tiga tahun ini, mampu mendewasakan dirinya.


Hingga restoran yang terbilang masih baru itu kini sudah sukses ramai pengunjung dibawah naungannya.


Dan Nofal senang karena bisa membanggakan ayahnya.


Sebelum keluar dari ruang kerjanya, Nofal menyambar jaket favoritnya, kemudian berjalan keluar, dan tidak lupa mengunci restoran.


Deretan ruko sebelah restorannya malam ini sudah tutup semua, area ini menjadi sepi, Nofal segera masuk ke dalam mobil dan menjalankannya.


Setelah mobil masuk ke jalan raya, Nofal membunyikan musik, sambil mendengarkan musik barat Nofal mengemudikan mobil.


*


*

__ADS_1


*


Setelah jarak tempuh sekitar tiga puluh menit, Nofal sudah sampai di apartemen tempat Zeon tinggal.


Kini sedang berdiri di dalam lift yang membawanya naik menuju lantai tempat kamar apartemen Zeon berada.


Ting.


Pintu lift terbuka, Nofal segera berjalan keluar dan mencari nomor kamar 39 tempat kamar Zeon.


Setelah berada di depan pintu kamar 39, Nofal menekan bel. Tidak lama kemudian pintu dibuka dan seketika munculah sosok tinggi berparas tampan.


Sesaat mereka berdua terdiam namun sejurus kemudian mereka tertawa bersama sembari saling memeluk.


Hahaha.


"Kau kurusan sekarang membuat aku terbengong," ucap Nofal seraya menepuk punggung Zeon, yang langsung mendapat anggukan kepala Zeon.


"Biasalah banyak pikiran," jawab asal Zeon.


Setelah saling berpelukan karena lama tidak bertemu, Zeon mengajak Nofal masuk ke dalam.


"Apartemen kamu bersih dan wangi," ucap Nofal sembari melihat sekeliling ruang tamu.


"Iya lah kan dibersihkan terus." Zeon duduk di sofa.


"Pembantu kamu menginap juga?" Nofal ikut duduk di sebelah Zeon.


Hahah. "kali aja."


"Aku buatin kopi mau?" tawar Nofal.


Zeon melihat ke arah kantong yang Nofal bawa. "Boleh, tapa harus enak. Kalau gak enak aku gak mau," jawab Zeon namun langsung dapat pukulan di bahu dari Nofal.


"Lu ngremehin rasa enak kopi di restauran gue," jawab tak terima Nofal yang diikuti tatapan sinis.


Hahahah. Zeon langsung tertawa.


Nofal berjalan menuju dapur, dan segera membuat kopi di sana menggunakan mesin, dan setelah jadi aroma lezat kopi menguar membuat hidup betah untuk menghirupnya.


Nofal kembali duduk di sebelah Zeon, kini di meja depan mereka berdua sudah ada kopi rasa enak.


Kepulan asap yang bertanda kopi masih panas, membuat Zeon ingin segera mencicipi, sepertinya mantap begitu pikirnya.


"Yakin nih enak," seloroh Zeon seraya mau mengambil cangkir berisi kopi tersebut.


Lagi-lagi mendapat tonjokan di bahu dari Nofal. Namun Zeon hanya terkekeh menanggapi Nofal.

__ADS_1


"Ah, mantap," gumamnya setelah menyeruput kopi buatan Nofal yang rasanya memang mantap.


Zeon meletakkan kembali cangkir kopi ke meja. "Kayaknya mesti datang ke restoran kamu nih untuk cicip-cicip menu makanan di sana."


"Di buka dua puluh empat jam untuk kamu, kapan datang?" tanya Nofal.


Zeon terkekeh. "Entar lah masih malas sekarang."


Nofal mencibir.


Kemudian keadaan jadi hening tidak ada suara pembicaraan lagi. Hingga ahirnya membuat Nofal bertanya yang ada diisi kepalanya.


"Aku dengar Daddy menjodohkan kamu?"


"Iya," jawab Zeon, terdengar sekali suaranya malas membalas hal ini.


"Kenapa kamu tidak semangat? Bukankah wanitanya sangat cantik." Goda Nofal, ingin tahu seperti apa reaksi Zeon.


"Tidak ada yang lebih cantik selain mantan ibu tiriku."


Nofal tertawa, jawaban Zeon sangat lucu baginya. Bagaimana tidak lucu karena keduanya pernah mencintai wanita yang sama.


Kasihan dia, tapi aku tidak bisa bantu apa-apa lagi, Zelea seandainya aku bertemu denganmu aku akan minta maaf untuk kesalahan aku dan memohon padamu agar mau kembali dengan Zeon. batin Nofal.


Aku semakin melihat cinta tulus Zeon pada Zelea, batin Nofal.


"Aku juga belum menemukan dia, entah dia ada di benua mana." Saat bicara mata Zeon tampak kosong, terlihat begitu sangat terluka dengan takdirnya.


"Yang sabar kamu pasti bisa menemukan dia." Nofal mensupport Zeon, tangannya mengusap bahu Zeon.


Zeon menghabiskan kopi yang tinggal sedikit itu, kemudian meletakkan kembali cangkir di atas meja. "Tapi apa aku masih punya harapan untuk bersama dia, sedangkan aku dijodohkan."


Miris gumamnya dalam hati.


"Aku akan bantu kamu untuk mencari supaya segera ditemukan." Nofal memberi usul.


Zeon tergelak kecil. "Hanya Daddy kuncinya, tapi tetap bungkam tidak mau bicara." Zeon menghela nafas panjang.


Mereka berdua terus bicara mengenai Zelea, seolah tidak ada kata bosan untuk membahas Zelea.


*


*


*


Di dalam kamar, Radit terus saja batuk-batuk sampai keluar darah, batuk yang sudah Radit derita satu bulan ini tapi anak-anaknya belum ada yang tahu.

__ADS_1


Sampai-sampai dadanya merasa sesak, di depan wastafel Radit terus batuk-batuk.


Keringat dingin sampai keluar di dahinya, Radit mencengkam pinggiran wastafel dengan kuat selama terbatuk-batuk.


__ADS_2