Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB. 97. Baby Enzo.


__ADS_3

Sekarang Zelea sudah di pindahkan ke ruang rawat kamar eklusif, yang tersedia ranjang pasien berukuran besar, nyaman sekeluarga.


Tidak lama setelah Zelea dipindahkan ke ruang eklusif, baby nya diantar oleh dokter yang tadi membersihkan baby.


Setelah mandi dan di bedong, bayi berkulit merah itu terlihat tampan, sekarang lagi bobok.


"Halo, Mommy aku datang ..." seloroh dokter tersebut, begitu masuk ke ruangan Zelea.


"Ini bayinya, Nyonya." Dokter tersebut menyerahkan bayi kecil itu ke tangan Zelea, untuk digendong sang ibu.


"Saya ijin permisi, Nyonya. Jika butuh sesuatu silahkan panggil saya atau suster yang berjaga di sini," ucap dokter tersebut ketika bayi sudah beralih di gendong Zelea.


"Terimakasih, Dok." Zelea tersenyum ramah.


Sang dokter mengangguk, kemudian berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut.


Cika yang sedari tadi berdiri di di ruangan ini menemani Zelea, begitu terpesona melihat ketampanan bayi kecil itu.


Zelea sedang memandangi lekat-lekat wajah sang putra, yang saat ini lagi tudur, kadang bibir mungilnya gerak-gerak seperti sedang nen, jari telunjuk Zelea menyusuri kulit lembut pipi sang bayi.


"Nyonya, baby nya mirip Tuan, ya?" celetuk Cika bicara.


Zelea langsung menghentikan gerakan jari telunjuk yang menyusuri kulit lembut pipi bayi nya, menoleh dan menatap tidak suka ke Cika.


"Tidak boleh mirip suami aku, kan aku ibunya yang melahirkan." Bibir Zelea mayun-mayun saat bicara.


Ih lucunya, Cika tertawa. "Maaf, Nyonya."


"Tapi meski harus diakui hidung dan bibirnya mirip suami aku," gumam Zelea, yang kini kembali memperhatikan dalam-dalam wajah sang bayi.


"Tapi mukanya mirip aku," lanjut ucapnya dengan riang.


Cika sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah Zelea, hah jadi pengen punya anak juga pikir Cika.


Tapi seketika Cika langsung galau saat mengingat dirinya jomblo.


Klek!


"Sayang."


Terdengar suara pintu terbuka berikut disusul suara Zeon yang datang, kini wajahnya tampak terlihat fresh, karena baru saja habis mandi.


Zeon ikutan naik di atas ranjang ukuran luas itu, duduk tepat disebelah Zelea yang duduk bersandar sembari menggendong bayinya.


Zeon tersenyum menatap lekat-lekat wajah putranya, ia masih bingung mau dibilang mirip siapa, tapi itu bukan masalah, toh nanti kalau sudah besar akan terlihat lebih mirip ke siapa.


"Mau coba gendong?"


Suara Zelea tiba-tiba menawarinya, Zeon menggelengkan kepalanya. "Aku takut, dia masih terlalu kecil."

__ADS_1


Belum sempat Zelea menjawab ucapan Zeon, keburu bayi itu menangis kencang.


"Mungkin, adek mau nyusu Nyonya." Cika menyerahkan botol susu ke Zelea.


Dan benar saja, setelah dikasih susu, bayi itu diam menangisinya. Untuk saat ini dibantu susu formula, karena asi yang Zelea keluarkan belum banyak.


Zeon mengusap rambut tebal bayinya, yang belum dicukur, sembari matanya melihat takjub ke arah bayinya yang sangat cepat minum su-sunya.


"Halo, Baby boy ..." seloroh Milli yang baru datang bersama Nofal.


Kefokusan semua orang langsung berganti ke sumber suara, Milli dan Nofal berjalan masuk ke dalam, Milli membawa parsel untuk baby boy.


Tadi sebelum sampai di rumah sakit, Milli mengajak Nofal mampir ke sebuah toko, untuk membeli parsel untuk dikasihkan ke baby boy.


Ya, mereka sudah tahu jika bayi yang Zelea lahiran adalah laki-laki, karena Zeon sudah memberi kabar Nofal.


Milli menatap lekat-lekat wajah bayi yang sedang menyusu itu. "Wah ganteng banget ... Lucunya ... Ih aku mau gendong ..." Milli kegirangan.


"Boleh, sebentar ya? Dia lagi nyusu," ucap Zelea.


Milli mengangguk patuh dan akan bersedia menunggu.


Tapi Nofal yang malah merasa cemas, karena bayi itu begitu kecil, takut nanti akan jatuh kalau Milli gendong, Nofal belum tahu aja keahlian Milli gendong bayi.


"Tidak usah di gendong, di lihatin saja nanti takut jatuh," ucap Nofal mengingatkan.


"Siapa bilang akan jatuh, aku bisa gendong!" Milli berkata sengit tanpa menatap wajah Nofal.


Zeon dan Zelea hanya bisa senyum-senyum melihat pasangan suami istri itu berantem kecil.


Ya, Zeon dan Zelea juga sudah tahu bahwa selama ini Milli tidak mau melihat wajah Nofal, bahkan Nofal harus memakai topeng Spongebob, juga tahu.


"Sudah kamu kasih nama belum?" Nofal bertanya ke Zeon.


"Oh, iya. Namanya siapa nih si adek ganteng." Milli ikutan menimpali.


Zelea menoleh ke arah Zeon, sedari tadi suaminya itu terus mengusap rambut putranya.


"Hem? Siapa namanya?" Kini gantian Zelea yang bertanya.


Zeon masih setia menatap wajah putranya, belum mau beralih menatap ke sekeliling.


"Apa kamu akan selalu setuju jika aku memberi nama apa pun itu?" Zeon malah balik tanya.


"Ya," jawab Zelea disertai anggukan kepala.


"Yah ... Belum punya nama ya?" suara Milli terdengar menyayangkan, membuat semua orang jadi tertawa.


Zeon mencium kening baby nya dalam-dalam, yang kini sudah selesai minum susu. "Enzo Alexa." Zeon menatap Zelea.

__ADS_1


"Nama yang bagus," ucap Zelea dengan mata berbinar.


"Kamu suka?" tanya Zeon. Yang langsung mendapat anggukan kepala Zelea.


"Waah nama yang bagus ... Baby Enzo sini ikut Mama Milli."


Suara riang Milli memutus pandangan mata Zeon dan Zelea.


Zelea mengijinkan Milli untuk menggendong bayinya.


"Hati-hati, awas jatuh," suara Nofal mengingatkan begitu baby Enzo berpindah di gendongan Milli.


Milli tidak mendengarkan ucapan Nofal, ia kini sudah begitu asyik mengendong baby Enzo.


"Aku sudah biasa gendong ponakan, jadi tidak usah khawatir," ucap Milli pada Nofal.


Milli kembali asyik menggendong baby Enzo.


"Cika, kamu kalau capek boleh pulang."


"Baik, Nyonya. Nanti saya kembali ke sini lagi," ucap Cika.


"Iya, sopir masih nunggu, kan?"


Cika mengangguk. "Permisi, Nyonya Tuan."


Begitu Cika pergi dari ruangan tersebut, Nofal tiduran di sofa, sementara Zeon malah memeluk Zelea yang saat ini masih duduk bersandar. Milli asyik gendong baby Enzo.


"Aku ngantuk," gumam Zeon di telinga Zelea. "Capek juga."


"Tidurlah yang bener, jangan memeluk aku seperti ini, malu lah dilihatin banyak orang," ucap Zelea.


Zeon mendongakkan kepalanya. "Banyak siapa? cuma Nofal sama Milli," keluhnya.


Namun saat Zelea baru mau menjawab protes Zeon, keburu mendengar suara Milli.


"Kemarin hasil USG baby aku itu perempuan, nanti bisa jadi teman," ucap Milli yang ternyata sedang bicara sendiri.


"Ya, nanti berteman sama anak Mama Milli ya?" suara Milli kembali terdengar, yang seolah baby Enzo bisa menjawab.


Baby Enzo menggerak-gerakkan matanya, terlihat lucu di mata Milli.


"Awas, baby Enzo nangis," suara Nofal kembali mengingatkan Milli.


"Baby Enzo, kan pintar tidak nangis ya? ... Iya."


Baby Enzo merespon ucapan Mama Milli dengan ngulet.


"emm."

__ADS_1


__ADS_2