Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB. 70. Tidak menghubunginya.


__ADS_3

Keesokan harinya di sebuah restoran, pagi-pagi sudah ada keributan di luar jam buka restoran.


"Saya tidak terima! Saya beli dengan uang tapi apa makanan yang kalian kirim ke rumah saya ada binatang kecoa!" teriak marah ibu-ibu.


"Maaf, Bu. Tolong sabar kami pasti akan ganti kerugian, Ibu." Bagas mencoba meminta pengertian.


"Tidak bisa!" ibu-ibu itu menunjuk wajah Bagas. "Saya mau bertemu bos kalian, saya akan adukan kalian ke bos kalian! Supaya kalian tahu rasa!" bentak ibu itu marah.


"Bu, kita selesaikan sekarang ya? Tidak perlu menunggu bos kami." Bagas meminta pengertian lagi.


"Tidak bisa!" teriak ibu-ibu itu lagi. Kali ini semakin marah, bahkan nada suara ibu itu lebih tinggi dari sebelumnya.


Apabila dibiarkan seperti ini akan mengundang perhatian banyak orang.


Bagas memijit pelipisnya, yang tiba-tiba terasa pusing, pagi-pagi sudah ada yang mendemo restorannya, mengeluh makanan yang di kirim ada binatang kecoa.


"Baik, Bu. Tunggu bos kami datang, kerena saat ini Bos kami lagi tidak ada di tempat, Ibu bisa menunggu sebentar di dalam," bujuk Bagas, tidak ada pilihan lain selain menuruti kemauan ibu tersebut.


Pukul tujuh pagi restoran tentu belum buka, karena tidak mau mengundang perhatian banyak orang, Bagas mengajak ibu tersebut untuk masuk ke dalam restoran.


Dan untung saja ibu tersebut menurut, mau duduk di dalam.


Bagas mengabari Nofal bahwa saat ini sedang ada masalah di restoran.


Bagas sempat mendengar ucapan Nofal yang saat ini di hotel, dan mengatakan akan sedikit lama tibanya di restoran.


Bagas mengernyit heran, berpikir mengapa bos nya itu ada di hotel, tidak seperti biasanya, namun Bagas tidak mau memikirkan hal-hal aneh. Mengantongi hp nya lagi kemudian duduk di depan menemani ibu-ibu tadi.


"Dimana bos kamu kenapa lama sekali!" Ibu itu menatap tajam ke arah Bagas yang baru duduk di depannya.


"Sabar, Bu. Bos kami lagi dalam perjalanan menuju kemari." Dengan sabar dan lembut Bagas menjelaskan.


Sungguh andai saat ini tidak ingat bahwa ibu di depannya ini adalah konsumen, sudah Bagas maki-maki juga.

__ADS_1


Tapi mengingat bahwa ibu di depannya adalah konsumen, tentu Bagas menghormati, karena pembeli adalah raja.


"Restoran semewah ini kok jualan makanan ada kecoa nya!" Ibu itu mencibir, seraya mengedarkan pandangannya. "Jelas para pekerja di sini tidak profesional," imbuhnya dengan sengit.


Bagas hanya tersenyum mendengar cibiran ibu di depannya itu, tidak ada niat untuk menyela sama sekali.


Meski malas duduk di sini, tapi terpaksa Bagas lakukan, karena tidak mau ada masalah baru andai ia tinggal.


Hah! Biarlah beginilah untuk sementara waktu sampai bos datang.


"Apa Ibu mau minum? Ibu pasti haus," tawar Bagas, supaya ibu di depannya itu bisa lebih tenang, takut akan meledak-ledak emosinya apa bila nanti bertemu bos nya, tentu Bagas tidak mau hal itu terjadi.


Tidak mau apa bila sang Bos sampai dimarahin orang, meski itu adalah konsumen sekali pun, jangan sampai terjadi.


"Berikan saya jus jeruk dua gelas!" pintanya tegas tanpa mau terbantahkan.


Waduh langsung dua gelas, batin Bagas begitu mendengar ucapan ibu tersebut. Bagas menggelengkan kepalanya.


Bagas segera bangkit dari duduknya berjalan menuju tempat dapur, tidak lama kemudian Bagas sudah kembali lagi dengan membawa dua gelas jus jeruk.


"Aman, Bu. Jangan khawatir. Sudah steril." Bagas menggelengkan kepala melihat tingkah ibu satu ini.


Ibu tersebut tersenyum mengejek kemudian meminum salah satu jur jeruk dalam gelas itu.


Bersamaan Nofal datang menghampiri, Bagas langsung berdiri menunduk hormat pada Nofal, dan melalui gerakan matanya, Bagas memberi tahu Nofal, bahwa ibu yang sedang minum jus itu lah yang sedang menunggunya saat ini.


"Maaf." Nofal menyapa.


Ibu tersebut meletakkan gelas ke atas meja, masih ada sisa sedikit air jus di dalam gelas itu, Ibu tersebut menoleh melihat Nofal.


"Saya pemilik restoran ini, Anda mencari saya?" Nofal duduk di kursi yang Bagas siapkan.


Kini Bagas dan Nofal menghadapi ibu tersebut, yang terlihat terkejut setelah melihat kehadiran Nofal.

__ADS_1


"Bisa jelaskan masalah yang membuat Ibu ingin bicara dengan saya?" nada suara Nofal terdengar sangat lembut, sampai membuat hati amarah ibu itu seperti tersiram air, kini mulai meredup.


"Kemarin saya pesan makanan dari restoran ini, tapi saya kecewa saat membukanya mau saya makan, ternyata di dalamnya ada kecoa." Ibu itu menghela nafas panjang.


Nofal juga menghela nafas panjang, tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi di restorannya.


Masalah ini sungguh bisa mencemari nama baik restorannya, Nofal tidak mau sampai restorannya terkena masalah besar, tentu ini sangat berbahaya.


Setelah ini Nofal akan mengumpulkan semua karyawannya, untuk lebih hati-hati dalam bekerja.


"Bu, saya akan bertanggung jawab. Uang ibu yang sudah ibu keluarkan, akan saya kembalikan tiga kali lipat," ucap Nofal tegas dan sungguhan.


Mendengar ucapan Nofal barusan, ibu tersebut merasa terkagum, bukan karena kebaikan hati Nofal yang mau mengganti tiga kali lipat uangnya.


Tapi ternyata wajah tampan Nofal membuat hati ibu itu luluh, yang tadinya berniat mau marah-marah, tapi setelah melihat wajah tampan Nofal, langsung tidak bisa marah-marah lagi.


Alis tebal dan pahatan wajah yang sempurna itu ternyata memanjakan mata ibu tersebut.


Ganteng banget pria ini, masih muda lagi, aku pikir pemilik restoran pria tua berperut buncit, ternyata masih muda dan tampan. Ah! Andai aku masih muda pasti aku deketin aku ajakin pacaran, batin Ibu itu, bibirnya senyum-senyum sendiri.


Dengan kesepakatan yang Nofal berikan, ahirnya ibu itu mau menerima, dan pergi dari sana dengan segera.


Nofal duduk bersandar di kursi kebesarannya yang berada di ruang kerjanya, Nofal mengingat kejadian pagi tadi sebelum ia pergi dari hotel dan meninggalkan Milli seorang diri di sana.


Milli tentu belum bangun, dan Nofal meninggalkan kartu nama diatas meja yang ada di kamar hotel, berharap Milli akan menghubunginya setelah bangun tidur nanti.


Namun ternyata setelah satu Minggu Nofal menanti dan menunggu, tidak ada nomor ponsel baru yang menghubunginya.


Padahal selama satu Minggu ini Nofal selalu melihat dan mengecek ponselnya, andai ada nomor baru yang menelponnya atau mengirim pesan.


Namun nihil hasilnya.


Nofal yang saat ini berdiri di balkon kamarnya, menatap gedung tinggi di depannya, dengan ditemani sebatang rokok untuk menghilangkan rasa cemas di hatinya.

__ADS_1


Nofal mengingat kejadian hari itu, setelah urusannya usai dengan ibu yang datang demo, Nofal kembali ke hotel, namun tidak menemukan Milli di sana.


Dan kartu nama yang ia tinggal sudah tidak ada di atas meja, tapi kenapa sampai sekarang Milli tidak menghubunginya.


__ADS_2