Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 19. Perjalanan bisnis dan liburan.


__ADS_3

Satu Minggu berlalu. Dan selama itu Zeon dan Zelea terus saja berantem sudah seperti di film kartun Tom dan Jerry.


Radit kadang merasa pusing dengan tingkah mereka berdua, namun mau bagaimana lagi, diantara mereka tidak ada yang mau mengalah, karena masih sama-sama mudanya. Ego tinggi masih memenuhi mereka.


Radit yang sudah tua hanya bisa menjadi penengah di saat Zeon dan Zelea berantem. dimana pun tempat selalu saja beda argumen, dan tanpa melihat tempat apa bila mau berantem pasti mereka akan berantem.


Radit juga pernah menasehati Zeon saat Zelea mengadu padanya bahwa Zeon meliburkan semua pelayan dan menyuruh Zelea untuk menggantikan tugas pelayan.


Tapi jawaban Zeon membuat Radit menggelengkan kepala.


"Aku akan terus mengerjai wanita itu sampai aku puas, Daddy tidak bisa menghentikan aku!"


Sejak mendengar jawaban Zeon kala itu, Radit sudah tidak mau lagi ikut campur, ia hanya akan melindungi Zelea semampunya saja.


Meski setiap hari hampir setiap Zelea dan Zeon bertemu selalu membuat Radit pusing, tapi Radit tidak bisa memarahi keduanya.


Merasa sudah tua tidak mau buang-buang tenaga hanya untuk memarahi mereka.


Dan pagi ini Radit bersama Zelea juga Zeon sedang bersiap-siap untuk bepergian ke negara D.


Radit ada perjalanan bisnis ke negara D, sekalian bekerja di sana, Radit mau mengajak Zelea juga Zeon untuk berlibur di negara D.


Koper milik Zelea dan Radit sudah dimasukkan ke dalam mobil yang akan mengantarkan ke bandara nanti.


Saat ini mereka masih mau sarapan pagi, tapi mendapati Zeon belum turun ke lantai satu.


"Aku panggil Zeon dulu," ucap Radit pada Zelea sebelum bangkit dari duduknya.


Zelea menyantap sarapannya lebih dulu, dan Radit mendatangi kamar Zeon di lantai tiga.


Setelah pintu kamar terbuka, mata Radit langsung terbelalak lebar melihat ruang kamar yang masih gelap, bertanda gorden belum dibuka.


Jelas itu artinya pemilik kamar belum bangun dari tidurnya.


"Zeon! Kau mau membuat Daddy telat sampai di negara D!" Radit mendekati jendela dan membuka gorden, seketika cahaya matahari masuk menyilaukan mata Zeon yang seketika terbangun.


Radit berbalik mendekati ranjang, membangunkan Zeon dengan kasar.


"Cepat bangun! Kalau tidak akan Daddy tinggal kamu!"


Seketika Zeon teringat bahwa pagi ini akan pergi ke negara D.


"Daddy aku bangun kesiangan," ucap Zeon panik. Tapi Radit sudah tidak mendengar ucapan Zeon, karena sudah keluar dari kamar itu.


Zeon segera membersihkan diri. Sementara itu Radit terus ngedumel dalam hati, harusnya sudah sarapan pagi malah Zeon baru bangun.


*


*

__ADS_1


*


Pukul sembilan pagi, mereka bertiga sudah sampai di bandara.


Zelea tertawa terus dalam hati, sesekali tertawa kecil dan mampu Zeon dengar. Bukan tanpa alasan Zelea tertawa, karena merasa senang melihat Zeon diomeli Radit.


Seperti saat ini Radit masih saja mengomentari penampilan Zeon.


"Bagaimana bisa kamu mau pergi ke luar negeri tapi memakai sandal jepit," ucap Radit seraya melihat ke arah kaki Zeon.


"Dad, tadi kan buru-buru! Sudahlah tidak akan yang melihat!" protes Zeon membela diri.


"Cih, memalukan." Radit bergumam kecil tapi Zeon masih mampu mendengar.


"Yang penting wajah Zeon masih tetap ganteng, Dad. Mau pakai sendal jepit pun."


Radit hanya mendengus mendengar ucapan narsis Zeon.


Sementara Zelea meragakan seperti orang mau muntah mendengar ucapan Zeon yang narsis.


Setelah jam terbang pesawat yang mau mereka tumpangi sudah waktunya, mereka bersama-sama masuk ke dalam pesawat.


Saat Radit menggenggam tangan Zelea, Zeon yang melihat hal itu langsung menepisnya, kini berganti Zeon yang menarik tangan Radit untuk segera masuk ke dalam pesawat.


Zelea ahirnya tertinggal di belakang berjalan bersama penumpang yang lain.


Zeon dan Radit sudah duduk di kursi sesuai nomor. Radit melihat ke belakang, matanya melihat Zelea yang masih berjalan.


Setelah para penumpang sudah duduk di masing-masing tempat, tidak lama kemudian pesawat pun lepas landas.


*


*


*


Setelah menempuh perjalanan di udara selama sembilan jam. Kini mereka sudah tiba di negara D.


Zelea yang paling terlihat begitu antusias setelah sampai di negara D, karena di negara ini terkenal memiliki wisata indah dan bangunan megah di atas air laut.


Wah aku sudah tidak sabar akan banyak foto di negara ini, batin Zelea.


Zeon hanya menatap sinis ke arah Zelea saat menangkap wanita itu senyum-senyum sendiri.


Mereka saat ini langsung menuju penginapan, menempuh perjalanan dua puluh menit, mobil yang mengantar mereka tiba di sebuah hotel ternama.


Mereka bertiga masuk ke dalam hotel, menuju receptionist untuk pemesanan kamar.


Zeon mengernyitkan dahi saat melihat ayahnya cuma pesan kamar dua.

__ADS_1


"Kenapa cuma dua, Dad. Tiga lah harusnya, kan kita bertiga, Dad?"


Radit menghela nafas panjang mendengar protes Zeon. "Zeon ... Daddy dan Zelea satu kamar, apa kamu lupa kita sudah menikah?"


Zelea yang berdiri di belakang mereka hanya melihat perdebatan mereka tanpa mau ikut campur .


Setelah mendapat kunci kamar, mereka segera mencari kamar penginapan. Sesuai nomor yang diterima yaitu 1006 dan 1009.


"Mas, ini dia kamarnya," ucap Zelea menunjuk nomor kamar 1009.


Radit mengangguk dan segera membuka pintu kamar itu dengan kunci yang ia bawa, setelah pintu kamar terbuka, Radit masuk lebih dulu yang kemudian mau di susul Zelea.


Namun Zelea merasakan tangannya di tarik kebelakang oleh seseorang.


"Yang tidur di dalam aku bukan kamu!" bentak Zeon seraya memberikan kunci ke telapak tangan Zelea.


Tanpa mau mendengar protes Zelea, Zeon lebih dulu meninggalkan wanita itu dan masuk ke dalam kamar ayahnya.


"Zeon ... Kenapa kamu disini?" tanya Radit saat tiba-tiba melihat Zeon menjatuhkan tubuhnya di ranjang.


"Aku akan tidur bersama Daddy, wanita itu akan tidur sendiri."


Astaga Zeon, sampai segitunya kamu, batin Radit.


Radit melihat ke pintu, koper miliknya ada di sana, Radit mengambil kopernya seraya melihat pintu kamar di didepannya.


Di dalam kamar itu Zelea sendiri, Radit menggelengkan kepalanya mengingat tingkah Zeon.


*


*


*


Malam harinya mereka bertiga mau makan di restoran, yang berada di bawah hotel itu.


Dan seperti yang dilakukan Zeon tadi, ia tidak mau melihat ayahnya berdekatan dengan Zelea.


Saat ini Zeon berjalan bersama ayahnya, dan Zelea dibelakang mereka berdua.


Sesekali Radit menoleh ke belakang untuk melihat Zelea, takut wanita itu hilang, karena ini kali pertamanya Zelea datang ke negara ini.


Ahirnya mereka sampai di tempat duduk, memesan menu makanan favorit di restoran tersebut.


Restoran ini sangat indah, lampu-lampu di tempat tersebut menambah kesan keindahan.


Sembari menunggu pesanan makanan datang, Zelea tampak mengambil gambar foto melalui kamera hp nya.


Zelea mengajak Radit foto bersama masih duduk di sana.

__ADS_1


Melihat hal itu Zeon mendengus kesal, dan saat tatapan mata mereka bertemu, Zelea menjulurkan lidah ke Zeon.


__ADS_2