Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 31. Merindukan Mommy.


__ADS_3

Alam berganti gelap, bertanda malam sudah tiba, membuat seorang pria muda yang saat ini sedang bermain game di dalam kamar menghentikan kegiatannya.


Hari ini Zeon tidak ada lembur, sore tadi pria itu langsung pulang setelah jam kerja di kantor selesai.


Zeon keluar kamarnya, meninggalkan permainan game nya yang masih menyala. Berjalan tergesa untuk segera tiba di lantai satu.


Sepi, tidak ada siapa pun, biasanya jam segini banyak pelayan yang masih beraktifitas, sebelum istirahat malam tiba.


Tibanya di dapur, Zeon membuka lemari pendingin.


Banyak sekali buah segar di dalam sana yang sepertinya baru tadi pagi Bi Jum belanja, terlihat masih banyak buah di dalam kulkas.


Zeon mengambil dua buah apel warna merah, bibirnya tersenyum lalu membawanya menuju wastafel untuk Zeon cuci. Padahal biasanya sebelum dimasukkan ke dalam kulkas pasti selalu sudah Bi Jum cuci lebih dulu.


Setelah Zeon cuci bersih mengunakan sabun khusus buah, Zeon mengambil pisau khusus untuk mengupas buah.


Di dapur tidak ada siapa-siapa, Zeon tidak bisa meminta bantuan pelayan, ahirnya Zeon melakukannya sendiri.


Penuh hati-hati saat Zeon mengupas buah, namun tiba-tiba mendengar suara bunyi ponselnya di dalam saku celana.


Zeon menoleh melihat saku celananya, dan hal itu membuat Zeon tidak fokus dengan kegiatannya yang sedang mengupas buah, alhasil ...


"AW!" pekik Zeon saat merasakan perih.


Pisau tajam itu mengenai tangan Zeon hingga membuatnya berdarah.


Zeon mengabaikan bunyi hp nya yang masih berdering di dalam saku celana, memilih mencuci tangannya di wastafel supaya darah yang keluar di tangannya hilang.


Namun ternyata darah itu tidak kunjung berhenti, Zeon berdecak kesal.


Karena tidak kunjung berhenti, ahirnya Zeon mengisap darah itu dan memuntahkannya ke wastafel lagi.


Zeon kembali mencuci tangannya.


Zelea yang saat ini baru sampai di ruang makan langsung berjalan menuju arah sumber suara seseorang yang terdengar sedang memaki.


Ternyata Zeon sedang berdiri di wastafel, setelah mendekat, Zelea melihat darah segar terus keluar dari tangan Zeon yang saat ini pria itu cuci.


"Hentikan, darahmu bisa habis apa bila terus begini." Zelea berjalan segera mengambil obat, Zelea kembali lagi sudah membawa obat, mengajak Zeon duduk, dan Zelea mengobati luka di tangan Zeon.


Zeon hanya pasrah saat Zelea menarik tangannya mengajak duduk di kursi yang ada di dapur.


"Kenapa tangan kamu berdarah?" tanya Zelea di tengah-tengah sedang memasang hansaplas.


"Tadi mengupas apel."

__ADS_1


Zelea menghela nafas panjang. "lain kali jika tidak bisa mengupas tidak usah dilakukan."


"Tapi aku ingin dan tidak tahu harus minta tolong siapa? Semua pelayan tidak terlihat batang hidungnya," jawab Zeon, tidak mau kalah dengan omelan Zelea.


Zelea meletakkan tangan Zeon dengan kasar di atas meja, matanya menatap tajam Zeon karena sudah berani membangkang ucapannya.


"Hari ini masih mending tangan kamu cuma terkena goresan pisau! Besok-besok jika kamu tidak hati-hati lagi bisa-bisa tangan kamu yang terpotong!"


His serem, begitulah di mata Zeon. Karena Zelea menjelaskan seraya membuat gerakan tangan terpotong.


*


*


*


Saat ini mereka tengah duduk di ruang makan, Zeon sedang makan buah apel yang di kupaskan oleh Zelea.


Sementara Zelea memakan salad buah, mereka berdua sama-sama makan tanpa ada yang bicara.


Namun Zeon mencuri pandang ke arah Zelea, memperhatikan wanita itu saat makan salad buah dengan lahap.


Ahirnya membuat Zeon memiliki rasa ingin tahu.


"Kamu menyukai salad buah?"


Dan ternyata Zelea merespon, Zeon pikir wanita itu akan acuh, Zeon terbelalak mengingat hubungan keduanya tidak baik, selalu berseteru.


"Tidak hanya suka, favorit malah." Tersenyum sumbang dan kembali lanjut makan salad buah.


Dua buah apel yang di potong kecil di atas piring tidak terasa sudah habis Zeon makan semua.


Matanya yang sedari tadi melihat ke arah Zelea sampai tidak menyadari potongan buah apel di piring sudah habis.


Saat tangannya meraba-raba piring mau menyuap lagi, tidak merasakan ada potongan buah lagi, Zeon melihat piring dan seketika terkejut.


"Hah, sudah habis," gumamnya kecil, namun Zelea masih mampu mendengar, Zelea hanya menatap sekilas dan kembali lanjut menghabiskan salad buah.


Bi Jum melewati ruang makan dan menyapa mereka berdua.


"Bi Jum, tolong kupas buah apel untuk Tuan Muda," perintah Zelea.


"Baik Nyonya-,"


"Tidak usah aku sudah tidak mau," potong cepat Zeon. Pria itu mengibaskan tangannya memberi isyarat Bi Jum boleh pergi.

__ADS_1


Zelea menghabiskan air kelapa dalam kemasan botol, rasanya menyegarkan tenggorokannya.


"Kenapa kamu selalu baik padaku? Padahal aku selalu jahat padamu?" tanya Zeon, ahirnya kalimat itu terucap juga dari mulutnya, Zeon penasaran dan ingin tahu alasan wanita di depannya itu, mengapa selalu menolongnya?


Zelea terkekeh kecil. "Aku tidak baik padamu, suatu saat aku akan minta kau membayar semua ini, apa kau lupa kau punya hutang hidup padaku."


Aku pikir dia tulus, batin Zeon.


"Hahah, jangan pikir aku baik padamu. Terlalu besar kepala."


Eh, dia benar-benar keterlaluan! Tangan Zeon mengepal.


Zelea masih terus tertawa, menertawai pertanyaan Zeon.


"Kenapa? Kamu berharap aku baik padamu itu tulus, hahah."


Makin kesal wajah Zeon saat melihat wajah meledek Zelea, wanita itu benar-benar berani bicara seperti itu terhadapnya.


"Aku cuma bertanya! Aku tidak besar kepala."


Bohong, itulah yang Zeon ucapkan, karena sebenarnya tadinya hatinya sedikit terenyuh dengan kebaikan Zelea padanya yang selalu datang menolongnya. Tapi demi gengsinya, Zeon harus berbohong.


Setelah berkata seperti itu, Zeon pergi lebih dulu dari ruang makan. Zeon berjalan menuju kamarnya.


"Hah, pria aneh." Zelea ikutan bangkit dari duduknya, berjalan ke ruang tengah. Tempat bersantai dirinya, untuk menonton televisi sebelum mata mengantuk.


*


*


*


"Mommy, apa Mommy akan membenciku apa bila aku sudah tidak benci lagi sama wanita itu?"


"Ayolah katakan Mommy." Zeon memeluk foto ibunya.


Rasanya sudah gila bicara dengan foto yang jelas tidak bisa berbicara, tapi hanya ini yang bisa Zeon lakukan.


Perasaan yang sulit Zeon jelaskan saat berdekatan dengan Zelea, menambah rasa bersalahnya pada sang ibu.


Merasa dirinya sudah gagal menjalankan tugas ibunya untuk membuat istri baru ayahnya menyesal.


Zeon terlalu berpikir jauh bahwa ibunya akan membenci Zelea dan ayahnya. Padahal itu hanya perasannya karena terlalu mencintai sang ibu, yang telah meninggalkannya sejak kecil, saat masih duduk dibangku kls empat SD.


Zeon semakin erat memeluk foto ibunya. "Zeon merindukan Mommy."

__ADS_1


Tidak ada wanita yang bisa membuat dirinya nyaman selain ibunya, Zeon sangat merindukan pelukan ibunya.


__ADS_2