
"Eh, dia sangat tampan," ucap wanita muda duduk di restoran.
"Eh, manisnya saat tersenyum kecil." Temannya ikut menimpali."
"Ya, untung dia tampan. lihatlah." Salah satu temannya lagi bicara seraya menunjuk ke arah kaki pria itu.
Hahahaha!
Suara tawa mereka bertiga karena melihat pria tampan itu memakai sendal jepit, padahal pakaian yang digunakan pria itu sudah cukup mewah.
Pria itu adalah Zeon, yang saat ini sedang berdiri karena sedang menerima telepon dari seseorang, beberapa detik lalu Zeon tersenyum kecil, entah apa yang sedang pria itu bicarakan.
Diam-diam banyak mata gadis yang memuji ketampanannya, tapi harus berakhir tawa karena melihat Zeon menggunakan sendal jepit.
"Sepertinya dia pelanggan pertama yang datang ke restoran mewah ini menggunakan sendal jepit."
Hahahah!
Wanita-wanita tadi kembali tertawa.
Zeon kembali ke tempat duduk setelah selesai teleponan.
Makanan yang mereka pesan sudah habis, dan malam semakin tambah larut, ahirnya mereka bertiga putuskan untuk kembali ke hotel.
Setelah berada di dalam kamar masing-masing. Zelea segera tidur karena merasa lelah. Berbeda dengan Zeon, pria itu malah sibuk sendiri sedang memikirkan caranya untuk mengerjai Zelea lagi.
Saat sedang asyik melamun, tiba-tiba mendengar suara ayahnya bicara. ternyata Radit belum tidur juga.
"Besok Daddy akan bertemu klien dari pagi sampai sore, Daddy tidak mengajak Zelea. Kamu jagain dia ya? Daddy takut dia hilang kalau harus keluar sendiri."
Mendengar ucapan ayahnya, Zeon malas sekali, tapi sejenak ia berpikir.
Bukankah di saat Daddy pergi aku bisa mengerjai wanita itu, hah itu benar, pikir Zeon seraya tersenyum.
"Hemm."
Setelah pembicaraan itu mereka ahirnya tidur.
*
*
*
Pagi ini Radit benar-benar pergi menemui kolega bisnisnya, bahkan tidak sempat sarapan pagi bersama Zeon dan Zelea.
__ADS_1
Radit pergi di saat Zeon masih tidur, dan Zelea juga masih terlelap di kamarnya sendiri.
Setelah waktu menunjuk pukul delapan pagi, Zelea bangun dari tidurnya, wanita itu duduk di ranjang seraya meregangkan otot-ototnya.
Zelea turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Pagi ini aku akan jalan-jalan, mengambil banyak foto untuk aku abadikan, batin Zelea. Saat ini sedang menguyur tubuhnya di bawah air shower.
Setelah selesai mandi, Zelea segera menggunakan pakaian. Sebuah baju yang semalam sudah ia pilih untuk digunakan pagi ini.
Baju yang menurut Zelea paling bagus, dan benar saja wanita itu makin terpancar aura cantiknya setelah memakai baju itu.
Duduk di meja rias, Zelea memoles wajahnya dengan make-up. Setelah kegiatannya selesai, Zelea meraih tasnya untuk menyimpan hp dan uang.
Saat sudah mengunci pintu kamarnya, Zelea berdiri mematung saat mau melangkah pergi dari sana.
Zelea teringat pesan Radit melalu pesan masuk di ponselnya, bahwa harus mengatakan pada Zeon kemana pun Zelea ingin pergi.
Ahirnya dengan malas, Zelea mengetuk kamar Radit, tidak ada sahutan dari dalam, Zelea memilih membuka pintu saja yang ternyata tidak di kunci.
Zelea membuang nafas berat setelah pintu kamar terbuka dan menampakkan sosok di dalam sana, yang saat ini duduk di atas ranjang bermain ponsel, hanya menatap Zelea sekilas dan kembali fokus ke ponselnya.
Sudah aku ketuk pintunya tapi tidak dia jawab! Benar-benar niat dia membuat aku kesal, batin Zelea menahan amarah.
Tanpa menunggu jawaban Zeon, Zelea pergi begitu saja, membuat Zeon turun dari ranjang berjalan mengejar wanita itu.
"Tunggu!"
Zelea yang hanya menoleh saat mendengar suara teriakan Zeon, pria itu berjalan di belakangnya.
Zelea kembali berjalan tidak pedulikan Zeon lagi. Zeon menahan geram saat Zelea sok tidak butuh dirinya.
Apa bila tidak teringat pesan ayahnya untuk menjaga wanita itu, rasanya Zeon milih bersantai di kamarnya, dari pada harus menemani Zelea yang entah mau pergi kemana.
Setelah sampai di luar gedung hotel, Zelea masuk ke dalam taksi, tiba-tiba mendengar suara pintu mobil sebelah ditutup, Zelea menoleh ternyata Zeon yang masuk dan saat ini duduk di sebelahnya.
Mobil taksi berjalan sesuai instruksi yang Zelea berikan.
Beberapa saat hening tidak ada yang bicara, Zelea menoleh melihat Zeon yang asyik memainkan ponselnya.
"Aku tidak memintamu untuk menemani lalu mengapa kau ikut? Aku tahu kau tidak suka," ucap Zelea tanpa melihat wajah Zeon, wanita itu memandang ke arah luar jendela.
"Dan aku tidak memintamu untuk bicara." Zeon menjawab ketus tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel.
Zelea melirik Zeon dengan malas setelah mendengar ucapan pria itu. Akhirnya di dalam mobil kembali hening, karena penghuninya tidak bersahabat, sampai ahirnya mobil sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
Zelea keluar dari dalam mobil dengan semangat, terus berjalan cepat menuju tempat wisata indah yang berada di negara D ini.
Zelea sudah tidak menghiraukan Zeon yang berjalan jauh tertinggal darinya.
Sampainya di tempat pemandangan yang indah, Zelea berfoto ria di sana. Zeon hanya berdiri sedikit agak jauh, untuk mengawasi wanita itu.
Puas foto sendiri, Zelea meminta tolong pada orang untuk memfotokannya. Zelea terus bergaya dengan gaya unik yang membuat Zeon tersenyum kecil menghina tingkah Zelea yang terlihat alai.
"Terimakasih," ucap Zelea pada pria itu. Dan kembali berjalan lagi mencari tempat paling indah untuk berfoto lagi.
Mata Zelea berbinar mengedar ke seluruh tempat wisata itu.
Hah di tempat ini semua pemandangan sangat indah, aku sampai sulit untuk memilih foto dimana? Karena semuanya indah, batin Zelea.
Zeon terus mengekor di belakang Zelea, meski sudah lelah sedari tadi hanya terus berjalan tanpa istirahat, tapi Zeon tetap harus lakukan, karena teringat pesan ayahnya.
*
*
*
Zelea dan Zeon duduk di salah satu kursi pengunjung restoran. Tempanya masih di wisata yang tadi Zelea datangi.
Namun saat ini sudah malam hari, baru saja matahari terbenam, Zelea senang bukan main melihat matahari terbenam tadi.
Aku rasa dia lebih cocok menjadi fotografer dari pada menjadi sekertaris Daddy, batin Zeon.
Dan benar saja, baru saja Zeon batin. Zelea sudah bangkit dari duduknya berjalan ke arah timur, untuk kembali foto. Lampu malam hari begitu indah.
Zeon hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Zelea yang terlalu alai baginya.
"Hai cantik kamu sendirian," goda seorang pria, mendatangi Zelea yang lagi sendiri di sana.
"Pergi!" bentak Zelea dengan lantang.
Dan suara bentakan itu mampu Zeon dengar, Zeon terkejut saat melihat ada pria yang mau berbuat buruk pada Zelea.
Zeon bangkit dari duduknya untuk menolong Zelea.
Sementara pria asing itu mencoba meraih tangan Zelea, tapi langsung wanita itu tepis. Geram dengan penolakan Zelea, pria asing itu langsung mau menarik tangan Zelea.
"Lepas!"
Kembali Zeon mendengar Zelea berteriak. Langkahnya semakin Zeon percepat.
__ADS_1