
Keesokan harinya di sebuah rumah mewah.
"Pak, di luar ada yang ingin bertemu Anda. Namanya Zeon Alexa."
Ayah Milli langsung tersentak kaget mendengar nama Zeon di sebut oleh satpam yang datang menghampirinya.
"Buka gerbangnya suruh dia masuk."
Setelah mendapat perintah dari seorang pemilik rumah, satpam itu langsung beranjak pergi dari hadapan ayah Milli.
"Mau apa dia kesini? Apa dia mau mengurus masalah Nofal," gumam ayah Milli, kini berjalan menuju ruang tamu untuk menunggu Zeon datang.
"Bibi, tolong buatkan dua minuman saya lagi ada tamu," ucapnya pada pelayan yang kebetulan lewat.
"Bai, Pak," ucap pelayan itu.
Ayah Milli duduk dengan tenang, menunggu Zeon datang, dan tidak berselang lama kini yang ditunggu sudah tiba.
"Permisi." Zeon tersenyum.
Ayah Milli berdiri. "Silahkan masuk dan silahkan duduk."
Zeon mengikuti sesuai perintah ayah Milli, Zeon duduk tepat di hadapan ayah Milli dengan meja sebagai pembatas.
Zeon langsung mau bicara, tapi urung saat melihat pelayan datang mengantar dua gelas minuman.
Setelah pelayan pergi, baru Zeon angkat bicara.
"Saya datang kemari mewakili kakak saya." Zeon bicara ramah, bibirnya tersenyum.
Sudah aku duga, batin ayah Milli benar-benar tidak suka dengan tujuan Zeon datang kemari.
"Semuanya sepertinya sudah jelas, saya tidak bisa merestui mereka berdua," ucap ayah Milli.
"Jika boleh tahu apa alasannya? Karena niat kakak saya baik dia mau tanggung jawab." Zeon ingin tahu.
"Bagi saya mereka tidak perlu menikah, toh putri saya tidak cinta dengan kakak Anda."
"Jika begitu Anda membiarkan cucu Anda tidak memiliki seorang ayah," sindir Zeon.
__ADS_1
"Dia akan tetap punya ayah, setelah lahir akan saya berikan ke adik saya yang sudah menikah."
Damned! umpat Zeon, ia tidak menyangka ada seseorang yang akan tega membuang cucunya sendiri, meski itu diberikan ke adiknya sekali pun.
Zeon menggelengkan kepalanya. "Anda sungguh tega, padahal ayah dari bayi itu mau tanggung jawab, tapi Anda malah mau memberikan ke adik Anda." Kini suara Zeon terdengar tegas tidak ramah seperti tadi.
"Bagi saya hanya cucu haram, tidak pantas menjadi cucu saya. lagian putri saya masih muda dan nantinya masih bisa menikah lagi dan memberikan cucu lagi ke saya," ucap ayah Milli tanpa berperasaan.
Milli yang mendengar ucapan ayahnya barusan langsung menangis, berpikir ayahnya sungguh tega terhadapnya, dan tidak miliki perasaan sama sekali.
Zeon melihat wanita muda yang menguping pembicaraannya dengan ayah Milli, Zeon pikir itu adalah Milli.
"Harusnya Anda tidak boleh egois, Anda harusnya bertanya lebih dulu pada putri Anda, apa kah dia mau berpisah dengan anaknya nanti," ucap Zeon kembali.
Milli yang mendengar kalimat ucapan Zeon barusan, dalam hatinya berharap pria itu bisa meluluhkan hati ayahnya.
"Putri saya pasti akan menurut dengan saya, Anda tidak perlu khawatir."
Air mata Milli langsung mengalir deras mendengar jawaban ayahnya yang masih kekeh aja.
"Benarkah? Boleh saya bertemu dengan putri Anda? Saya mau berbicara langsung."
Milli memejamkan matanya saat mendengar kalimat Zeon barusan, dalam hatinya berharap ayahnya mengijinkan ia bertemu, ini akan menjadi kesempatannya untuk menolak permintaan ayahnya.
Deg! Milli terkejut mendengar ucapan ayahnya, dadanya semkin terasa sesak, hatinya semakin sakit. Benar-benar tidak tahu apa motif ayahnya ini.
Zeon manggut-manggut. "Sebenarnya saya tidak mau ikut campur masalah ini." Zeon berhenti sebentar, menatap serius ayah Milli. "Tapi istri saya saat ini juga sedang hamil, dan masalah ini mengingatkan saya dengan istri dan calon anak saya."
"Istri saya susah tidur bila tidak ada saya ... Anak dalam kandungan istri saya selalu minta dielus tangan saya," imbuh Zeon.
Kalimat yang Zeon ucapkan terdengar begitu dalam bagi Milli, ia benar-benar merasakan kesedihan yang luar biasa, tentu ia ingin bisa memberikan ayah untuk anaknya, tapi ayahnya selalu ingin anaknya di kasih ke tantenya.
Milli yang sudah tidak kuasa menahan sesak bahwa ayahnya akan menolak lagi, milih pergi dari tempat persembunyiannya, namun karena Milli buru-buru saat berjalan tanpa sengaja menabrak pelayan.
Bugh!
"Nona Milli maaf," ucap pelayan itu merasa bersalah.
Milli tidak menjawab ucapan pelayan dan langsung berjalan pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
Milli, gumam ayah Milli, ia merasa gusar tapi berusaha tenang, karena tidak mau sampai Zeon mencurigainya.
Di dapur.
Pelayan yang tadi menabrak Milli, menyampaikan ke ibu Milli, jika saat ini sang Nona sedang menangis.
Ibu Milli langsung merasa khawatir dengan keadaan putrinya, beberapa bulan ini putrinya selalu tertekan dengan masalah yang ada.
Ahirnya ibunya Milli meminta pelayan itu untuk melanjutkan masakannya, ibu Milli mau menemui Milli, mau memastikan putrinya baik-baik saja.
Sampainya di dalam kamar Milli, semua yang dikatakan pelayan adalah benar, saat ini Milli sedang menangis, bahkan tangisanya terdengar pilu di telinga ibu Milli.
Ibu Milli mendekat, duduk di pinggiran ranjang, tangannya mengusap lengan Milli yang saat ini sedang tiduran miring di atas ranjang.
Ibunya masih diam belum buka suara, setiap kali melihat putrinya menangis, hati ibu Milli bagai teriris sembilu, sakit juga rasanya.
Tapi suaminya itu sangat keras kepala, apa yang sudah menjadi keputusannya harus terjadi, tidak bisa diubah lagi.
Dan kini ibu Milli ikutan menangis juga, hal yang sama juga yang akan ikutan menangis jika Milli menangis.
"Duduk, Nak? Jangan banyak menangis nanti perutnya sakit lagi."
Mendengar nasehat ibunya, Milli seketika sadar bahwa ia harus berhenti menangis, tidak mau sampai anaknya merasa tidak nyaman.
Ahirnya Milli duduk, dan langsung di peluk oleh ibunya, kini Milli yang sudah bisa mengontrol emosi tidak menangis lagi, tapi mendengar ibunya yang menangis tergugu.
"Maaf kan Mama tidak bisa berbuat apa-apa?"
"Maaf kan Mama yang tidak bisa merubah rencana, Papa kamu."
"Maaf kan, Mama. Nak."
Milli membalas pelukan ibunya, ini bukan salah ibunya, Milli tidak akan marah pada ibunya. Milli hanya sedih atas sikap ayahnya.
Setelah melerai pelukannya, ibu Milli berganti menatap wajah Milli, wajah putrinya yang terlihat pucat, hati sebagai ibu sangat bersedih melihat hal ini.
"Mama, tidak salah. Mama tidak perlu minta maaf," ucap Milli berusaha tersenyum.
Bagi Milli ibunya adalah sosok yang selama ini memberikannya ketenangan, yang menyemangati Milli sampai bisa bertahan sejauh ini, mengatakan pada Milli pasti akan baik-baik saja.
__ADS_1
Ya, Milli tahu pasti ibunya tidak akan meninggalkan Milli sendirian, seandainya nanti anaknya jadi diberikan ke tantenya, pasti ibunya akan ada untuknya melewati hari-hari.
Kini dua wanita beda usia itu kembali saling memeluk, ibunya mengusap rambut panjang Milli dengan sayang, matanya terpejam seolah ikut merasakan perih yang putrinya rasakan.