
Di salah satu kamar hotel.
"Tuan, saya sudah menemukan dokter terbaik untuk menangani amnesia," ucap Galang yang baru masuk kamarnya.
Zeon yang semula berdiri membelakangi Galang, kini membalikkan badan dan menatap Galang.
"Tapi saya masih bingung siapa yang amnesia?"
Zeon menghela nafas panjang mendengar pertanyaan Galang. Zeon menoleh ke arah lain. "Apa kamu ingat gadis yang bersama Rendi malam itu."
"Ingat Tuan," jawab Galang, keningnya berkerut.
"Dia benarlah Zelea-ku ... Zelea- ku yang aku cintai, Zelea-ku yang aku cari selama ini."
"Apa!" Galang begitu terkejut. "Lalu apa Nona saat ini sakit, Tuan?"
Zeon mengangguk. "Saat ini dia amnesia."
"Ha! Bagaimana bisa!" Galang makin tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
Zeon kembali membuang nafas panjang, yang kani makin terasa terdengar berat.
"Pagi tadi aku menemui Rendi, dan dia mengatakan Zelea amnesia sejak mengalami kecelakaan-," Zeon mengambil nafas sebelum melanjutkan ucapannya, "Setelah bertunangan dengan Rendi."
"Bertunangan!"
"Nona Zelea bertunangan dengan Rendi!" Galang makin terkejut mendengar kalimat ini.
"Ya, dan aku akan berusaha mengembalikan ingatan Zelea supaya ingat kembali denganku," ucap Zeon penuh yakin.
"Harus Tuan." Galang mendukung Zeon. "Kalau bisa sampai Nona Zelea bisa kembali dengan Anda."
"Thank." Zeon tersenyum.
Setelah pembicaraan itu, Galang langsung pergi lagi, karena ada urusan dari Zeon yang harus Galang segera selesaikan.
Dan saat ini Zeon merasa lapar, tapi tidak mau makan menu makanan, Zeon lebih ingin nyemil roti.
Entah tiba-tiba kepengen makan roti, dan tanpa menunggu lama Zeon segera keluar dari hotel, kini tujuannya mencari toko roti.
Mungkin jika di negara T akan mudah mencari toko roti, tapi saat ini sedang berada di negara A, jadi Zeon sedikit merasa kesulitan.
Setelah mobil berjalan di jalan raya hampir lima belas menit, ahirnya Zeon menemukan toko roti.
Zeon segera memarkirkan mobilnya, dan segera masuk ke dalam toko roti tersebut.
Ruangan ini cukup besar dan luas, banyak sekali jenis roti di etalase yang terdapat di ruangan tersebut.
Zeon memasukan beberapa jenis roti dengan beraneka ragam rasa, sekalian untuk Galang pikirnya.
__ADS_1
Setelah merasa cukup, Zeon berjalan menuju kasir untuk membayar totalnya.
Namun Zeon langsung terkejut setibanya di depan kasir, saat melihat wanita yang tidak asing, saat ini sama seperti dirinya sedang membayar tagihan belanjaan.
Saat wanita itu keluar lebih dulu, Zeon langsung memberikan dua lembar uang merah ada kasir tanpa meminta uang kembali dan langsung keluar begitu saja membawa kantong belanjaan.
Zeon berjalan cepat mengejar wanita itu sampai ahirnya ia bisa meraih pergelangan tangannya.
Wanita itu langsung menghentikan langkah dan berbalik badan untuk melihat seseorang yang saat ini sudah berani memegang tangannya.
Namun sebelum sempat wanita itu berucap, Zeon lebih dulu memeluknya. Membuat wanita itu membeku, dan tanpa Zeon ketahui, dari balik punggungnya wanita itu meneteskan air mata.
"Ahirnya aku menemukanmu, aku sangat merindukanmu, aku sangat mencintaimu," ucap Zeon masih memeluk Zelea.
Zelea hanya diam.
"Maaf aku harus pergi."
Zeon melerai pelukannya, kini berganti memegang bahu Zelea seraya menatapnya dalam-dalam.
"Kamu tidak ingat sama aku?" tanya Zeon, air matanya tanpa diminta sudah menetes.
Zelea menggeleng.
"Jika kamu tidak ingat maka aku kan membantu kamu untuk bisa mengingat semua," ucap Zeon lagi.
"Aku pria yang mencintaimu." Zeon menatap dalam bola mata Zelea, sampai bisa melihat pantulan gambar dirinya di dalam bola mata Zelea.
"Aku harus pergi, maaf." Zelea berusaha melepaskan tangan Zeon yang memegang bahunya.
"Aku antar kamu pulang," tawar Zeon saat melihat Zelea sudah berjalan beberapa langkah.
"Tidak perlu terimakasih," tolak Zelea, namun tetap terus berjalan.
"Tunggu." Zeon kembali meraih tangan Zelea, membuat langkah wanita itu berhenti.
"Aku temani mencari saksi," ucap Zeon, kemudian berjalan sembari mengandeng tangan Zelea.
Setelah mendapat taksi, Zelea masuk ke dalam mobil tersebut.
Zeon segera berbalik setelah mobil taksi berjalan, kemudian masuk ke dalam mobilnya dan segera menjalankan.
Ternyata Zeon mengikuti mobil taksi tersebut, karena tidak mau kehilangan jejak dimana Zelea tinggal selama ini.
"Aku tidak akan pulang ke negara T sebelum aku membuat ingatanmu kembali." Zeon bicara pada diri sendiri, sembari terus menatap ke depan, mengawasi mobil taksi supaya tidak kehilangan jejak.
Sampai ahirnya mobil taksi masuk ke dalam salah satu perumahan elit, Zeon juga mengikutinya sampai melihat mobil taksi tersebut berhenti tepat di depan rumah yang besar dan megah.
"Jadi dia tinggal di sini," gumamnya, seraya terus memperhatikan Zelea yang kini sudah masuk ke dalam.
__ADS_1
Zeon membawa mobilnya lebih maju lagi, kini ia menghafal nomor rumah tersebut.
"Aku akan kembali ke sini, tunggu aku." Zeon memperhatikan rumah bangunan megah itu sesat, kemudian menjalankan mobilnya menjauh dari sana.
*
*
*
"Non, dari mana aja dari tadi Bibi nyariin?" tanya pelayan saat melihat Zelea masuk ke dalam rumah.
"Hanya beli makanan di luar, Bi?" jawab Zelea seraya mengangkat kantung isi roti di dalamnya.
"Aduh, Non. kenapa gax minta tolong sama Bibi, kan. Bibi bisa beliin."
Zelea tersenyum seraya mengeluarkan isi roti dari dalam kantung tersebut. "Tidak apa-apa Bi, Zelea ingin keluar sebentar tadi."
"Ya sudah Non kalau gitu, lain kali minta tolong sama Bibi aja ya Non, ini sudah tugas Bibi, Non." Pelayan tersebut masih berusaha membujuk Zelea.
Zelea sudah selesai mengeluarkan semua roti, kini tersenyum menatap pelayannya. "Iya, Bibi."
"Ya sudah Bibi ambilkan piring dulu untuk Non Zelea."
Zelea mengangguk.
Pelayan tersebut langsung berlalu mengambil piring ke dapur, dan tidak lama kemudian sudah kembali ke ruang makan menyerahkan piring untuk Zelea.
"Bibi ikut makan saja sekalian ambil piring satu lagi," ucap Zelea kini sudah duduk dan mulai memakan roti.
"Ah, tidak usah Non, Bibi masih kenyang."
"Gak apa-apa Bibi, seriusan ini sekalian temani aku makan," ucap Zelea masih terus menjelaskan.
"Ya sudah jika Non mau nya seperti itu." Pelayan tersebut menerima pasrah.
Lagian sejak tadi sudah pengen makan rotinya yang terlihat lezat, tapi pura-pura malu.
Zelea mengangguk senang.
Setelah makan roti selesai, Zelea masuk ke dalam kamarnya, saat ini sudah malam hari, Zelea menyalakan lampu di balkon, kemudian berjalan menuju meja rias, Zelea merapihkan alat-alatnya untuk melukis, kemudian ia simpan di dalam laci.
Mulai saat ini sudah tidak memerlukan alat lukis itu lagi, karena semua sudah selesai.
Zelea menghela nafas panjang sebelum ahirnya menutup laci itu.
Kemudian berjalan menuju ranjang, dan menjatuhkan tubuhnya di sana.
"Semoga kau selalu baik-baik saja," gumamnya lirih.
__ADS_1