Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 39. Aku mencintaimu 2


__ADS_3

Entah sejak kapan rasa itu mulai ada, pastinya kapan Zeon tidak mengingat, namun saat ini perasaan itu terasa begitu besar dan tidak mau melepas begitu saja.


Sampai-sampai membuat Zeon tidak fokus dalam bekerja, dan hanya melamun sepanjang meeting di kantor.


"Tuan Zeon bagaimana pendapat Anda?" tanya staf manager.


Semua orang di dalam ruang meeting hanya saling pandang melihat Zeon yang hanya diam, bisa dipastikan tuannya itu sedang tidak fokus.


"Tuan Zeon bagaimana pendapat Anda?" Sekali lagi staf manager bertanya.


Zeon masih bergeming.


Ahirnya Galang sang sekertaris menepuk bahu Zeon. "Tuan."


Zeon langsung terperanjat kaget dan sedikit gusar. "Ada apa!" Tanpa sadar suaranya meninggi.


"Maaf." Galang tidak enak hati. "Pak Bambang berbicara dengan Anda?" Menunjuk staf manager.


Staf manager tersenyum dan mengangguk.


"Maaf, bisa diulang tadi bertanya apa?" ucap Zeon.


Ahirnya staf manager memberikan pertanyaan lagi, namun karena Zeon sedari tadi hanya melamun, membuat staf manager harus menjelaskan ulang dari awal, barulah Zeon memberikan keputusan. Dan ahirnya meeting pun selesai.


"Hari ini CEO terlihat aneh." Karyawan wanita bergumam seraya berjalan keluar dari ruang meeting.


"Iya, seperti sedang ada masalah besar dan dibawa-bawa dalam pekerjaan." Teman sebelahnya ikut menimpali, mereka berjalan beriringan.


"Untung Presdir tidak ikut dalam meeting, bisa panjang masalahnya tadi." Karyawan satunya menggelengkan kepala memikirkan hal buruk.


Dan tidak hanya mereka berdua yang bicarakan Zeon, tapi hampir semua orang yang ikut meeting tadi membicarakan keanehan Zeon yang tidak fokus kerja.


*


*


*


Zelea mengemasi baju-bajunya, satu per satu ia masukkan ke dalam koper, hanya baju-baju yang masih bagus saja, sebagian yang sudah agak jelek Zelea tinggal.


Setelah baju sudah Zelea kemasi, saat ini Zelea berjalan ke arah meja rias, duduk di sana mengambil kertas juga pena.

__ADS_1


Beberapa saat Zelea menulis di atas kertas itu, kemudian membawa selembar kertas itu keluar kamar.


Zelea masuk ke dalam kamar Zeon yang tidak pernah dikunci itu.


Zelea kemudian berjalan mendekati meja, ia membuka laci dan menyimpan kertas yang ada tulisannya itu ke dalam laci dan kembali ia kunci.


Zelea tersenyum getir.


Terlalu penakut, tapi ini lebih baik, setidaknya dia tahu. Batinnya.


Zelea kembali ke dalam kamar melanjutkan mengemasi barang-barangnya, ada beberapa aksesoris miliknya yang belum ia masukkan ke dalam koper.


Setelah tiga jam tangan merek rolex ia masukan ke dalam koper, Zelea mengingat-ingat yang belum dimasukkan.


"Ah, sepertinya sudah masuk semua," bicaranya yakin seraya balik badan.


Deg!


Berasa jantung mau copot dengan mata terkejut, melihat siapa yang saat ini berdiri diambang pintu kamarnya.


Bibirnya terbungkam, tidak tahu mau bicara apa? Dan saat orang itu berjalan lebih masuk, Zelea mundur sampai tubuhnya kini nempel dinding tidak bisa lari kemana-mana.


Masih dengan kondisi gugup, Zelea berusaha menguasai diri untuk tenang. Meski jantungnya tidak bisa diajak kompromi terus berdetak kencang seiring langkah orang itu yang melangkah mendekatinya.


Nada suaranya begitu lembut, Zelea sampai tidak yakin bahwa yang saat ini bicara itu adalah Zeon.


Dia mau apa? Jangan sampai dia menahan aku lagi, bisa berabe masalah ini, batin Zelea khawatir.


"Pu-pukil empat sore." Sangking gugupnya, Zelea sampai terbata saat menjawab.


Zeon tersenyum kecil, menoleh ke samping dan kemudian mendudukkan diri di pinggir ranjang.


"Tidak usah gugup seperti itu, duduklah aku mau bicara sebentar,"titahnya seraya memperhatikan Zelea yang masih terlihat gugup.


Tanpa banyak tanya, Zelea menurut dan duduk di pinggir ranjang sebelah Zeon.


Menurut saja supaya masalah segera selesai, begitu pikir Zelea.


Namun sampai beberapa saat ternyata Zeon masih diam, membuat Zelea mengernyit heran, padahal saat ini ia masih sibuk tapi Zeon malah datang mengganggunya.


"Kamu sudah pulang? Kan, masih siang." Ahirnya Zelea yang lebih dulu buka suara. Namun begitu terkejut mendengar jawaban Zeon.

__ADS_1


"Tidak fokus kerja."


"Hah! Bagaimana bisa!" Zelea terkejut sampai suaranya meninggi, sesaat setelah sadar Zelea menutup mulutnya. "Maaf."


Zeon tidak mengomentari yang Zelea lakukan barusan, tapi Zelea hanya mendengar suara helaan nafas berat selanjutnya.


Batinnya jadi bertanya-tanya? Apa Zeon ada masalah? Lalu apa masalahnya? Apa kah masalah itu berat?


Tapi semua pertanyaan itu hanya mampu tersimpan di dalam pikirannya tidak mampu Zelea lontarkan langsung, meski rasanya ingin.


Plis, tetaplah jadi Zeon yang seperti saat pertama kali aku melihatmu, jangan menjadi Zeon yang lemah, aku mau pergi bagaimana bisa aku tenang, batin Zelea.


Saat Zelea sedang memandangi Zeon dan membatin pria itu, tiba-tiba Zeon menoleh dan mata mereka seketika bertemu, namun baru saja Zelea berpaling karena tidak mau saling tatap, tiba-tiba merasakan tubuhnya direngkuh dan peluk.


Oh tidak! Apa yang terjadi, batin Zelea terkejut saat Zeon memeluknya, kini wajah Zeon tenggelam di ceruk lehernya.


Sensasi nyaman yang ada tidak mampu Zelea rasakan karena takut campur panik, dan apa lagi di ruang kamar ini ada CCTV. Kepala Zelea mendadak pening takut Radit akan melihat.


Zelea terpaksa menjauhkan kepala Zeon dari ceruk lehernya, meski Zelea sendiri menyukai posisi seperti ini, tapi ia tidak mau dalam masalah besar.


"Zeon ... Di sini ada CC-,"


Zelea tidak mampu melanjutkan ucapannya saat daging lembut lebih dulu menempel di bibirnya dan memainkannya begitu lembut.


Tubuh Zelea seketika terasa lemas, tidak menyangka Zeon akan seberani ini, tidak mungkin pria itu tidak tahu apa bila di kamar ini ada CCTV.


Namun bisikan Zeon yang baru saja Zelea dengar, membuatnya langsung ingin pingsan.


"Aku mencintaimu ... Aku mencintaimu."


Zeon kembali memeluk Zelea erat-erat, tanpa terasa air matanya menetes, menyadari akan ditinggal pergi oleh wanita yang dicintainya, dan tidak tahu harus melakukan apa setelah ini. Sampai-sampai CCTV di kamar ini tidak lagi Zeon pikirkan.


Zelea membalas pelukan Zeon. "Semua orang berhak mencintai siapa pun ... tidak ada larangan sama sekali, namun ... Cinta kadang tidak harus memiliki."


Zelea tidak mendengar jawaban Zeon, Zelea hanya merasakan pria itu menggeleng.


Aku senang rasa cintaku terbalas, tapi aku juga sedih karena kami tidak akan bisa bersatu, batin Zelea. Air matanya semakin deras berlinang.


"Harus bisa merelakan ... Jangan sampai kamu membuat Daddy kecewa," lanjut ucap Zelea dengan lidah kelu terasa sulit untuk berucap.


Dan tanpa mereka sadari, saat ini ada seseorang yang berdiri di ambang pintu menyaksikan adegan tersebut.

__ADS_1


Tangannya terkepal, kecewa? itulah yang ia rasakan, merasa seperti sedang mimpi buruk melihat pemandangan dua insan yang sedang berpelukan.


__ADS_2