
"Maaf, Dad. Aku tidak ada maksud-,"
"Sudahlah tidak usah di bahas," sarkas cepat Radit memotong ucapan Zeon.
Suasana menjadi tidak nyaman, untunglah pelayan datang mengantar pesanan makanan.
Setelah pelayan pergi, semua fokus untuk makan siang, tidak ada yang buka suara sampai makan siang selesai.
Zelea mengusap bibirnya dengan tisu. "Mas, apa kita langsung pulang?" Menatap Radit.
"Hem, kita akan langsung berkemas dan langsung ke bandara," jawab Radit, menatap Zelea sekilas lalu lanjut minum jus.
"Secepat ini, Dad. Apa ada masalah di perusahaan?" Zeon penasaran mendadak pulang.
"Tidak, hanya saja liburan kita sudah cukup. Nanti kalau ada libur panjang lagi Daddy janji akan ajak kalian liburan lagi," terang Radit seraya menatap Zeon dan Zelea.
Zeon mengangguk paham, kemudian mereka bertiga pergi dari sana, langsung menuju mobil sewanya yang sudah menunggu. Setelah semua masuk ke dalam mobil, sang sopir melajukan mobilnya.
Zelea menatap ke arah luar melalui jendela kaca mobil.
Hah hari ini menjadi hari terakhir aku di sini, aku masih betah tinggal di sini, tapi harus pulang, good bye negara D, aku pasti akan berlibur kemari lagi, batin Zelea.
Radit tersenyum kecil melihat wajah Zelea yang menoleh ke arah jalanan terlihat sedih. "Kamu sedih karena harus pulang?" Tangan Radit mengusap puncak kepala Zelea.
Zelea menoleh dan tersenyum.
"Jangan sedih, saat hari libur panjang tiba nanti kita akan sama-sama liburan lagi," jelas Radit, Zelea mengangguk kecil, bibirnya masih setia tersenyum.
Hem. Hem.
Dehheman keras Zeon yang duduk di sebelah Radit, membayarkan interaksi Radit dan Zelea.
Radit menjauhkan tangannya yang tadi mengusap puncak kepala Zelea.
Kayak gak ada tempat saja mereka bermesraan, batin Zeon, wajahnya melengos ke arah luar menatap jalanan.
*
*
*
Masing-masing mulai mengemasi barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam koper, tanpa dibantu Radit sudah melakukannya sendiri, ternyata pria itu lebih rapi ketimbang Zeon.
__ADS_1
Baju milik Zeon tanpa dilipat langsung dimasukkan ke dalam koper, Radit yang melirik cara Zeon mengemasi baju-bajunya hanya geleng-geleng kepala.
"Bila caramu seperti itu kasihan Bi Jum nanti menyetrikanya dia kesulitan."
Zeon menoleh sekilas menatap ayahnya, dan kembali fokus memasukkan baju ke dalam koper. "Biarin, kan Bi Jum sudah di bayar sudah jadi tugasnya juga, kan." Zeon menjawab ketus.
"Aku sudah selesai."
Suara riang Zelea, wanita itu baru datang, saat ini berdiri di ambang pintu dengan bibir tersenyum manis.
"Mas Radit mau dibantu?" Zelea berjalan masuk, menghampiri Radit. Ternyata Radit sudah selesai mengemasi barang-barangnya, kopernya sudah ditutup.
"Tidak usah Ze, semua sudah siap." Radit menghentikan ucapannya, menoleh ke arah Zeon. "Mungkin Zeon butuh bantuan."
Zelea juga ikutan menatap Zeon, pria muda itu masih sibuk memasukkan baju ke dalam koper.
"Tidak usah ini sudah selesai," jawab Zeon seraya berdiri.
"Mau berangkat sekarang apa nanti?" bertanya tapi sedikit meninggi suaranya. Entahlah Zeon hanya ingin marah-marah, padahal tidak ada yang berbuat salah.
Zelea dan Radit saling pandang.
"Ayo berangkat sekarang," ajak Radit, berjalan lebih dulu, yang kemudian di susul Zelea dan Zeon di belakangnya.
Saat menuju lift, Zeon dan Zelea tanpa sengaja sama-sama menoleh hingga pandangan mereka bertemu, namun secepat mungkin wajah mereka berpaling dengan bibir sama-sama cemberut.
Radit yang berdiri di tengah-tengah mereka melihat Zelea dan Zeon bergantian, setelahnya menggelengkan kepala.
Setelah pintu lift terbuka, mereka segera keluar dari sana menuju halaman depan, di sana sudah ada mobil yang menunggu, dan mereka segera masuk ke dalam mobil. Tidak lama kemudian mobil melaju tujuan bandara.
Hanya menempuh waktu tiga puluh menit, mobil sudah sampai di bandara. Radit bersama Zeon juga Zelea segera berjalan masuk dan segera melakukan pembelian tiket penerbangan ke negara T.
Untunglah tidak perlu lama menunggu, hanya lima belas menit sudah ada pengumuman bahwa pesawat yang mau ditumpangi sudah mau ada penerbangan.
Radit bersama Zelea juga Zeon segera masuk ke dalam pesawat, dan tidak lama kemudian pesawat lepas landas.
*
*
*
Mereka tiba di Mansion sudah pukul setengah sebelas malam, setelah menempuh perjalanan kurang lebih sembilan jam di udara, negara D - negara T.
__ADS_1
Zelea baru keluar dari dalam kamar mandi, tampak lebih segar setelah mandi.
Radit berdiri di depan cermin, tangannya memegang handuk. "Ze, tolong bangunkan Bi Jum, aku lapar," ucapnya masih fokus melihat cermin.
"Mas, lapar? aku aja yang masak, kasihan Bi Jum pasti sekarang sudah tidur," ucap Zelea seraya mengambil baju di dalam lemari.
"Terserah, aku mau mandi dulu," ucap Radit seraya berlalu menuju kamar mandi.
Sebenarnya Zelea merasa lelah karena habis perjalanan jauh, tapi ini sudah kewajibannya sebagai istri.
Zelea tersenyum melihat pantulan dirinya di depan cermin yang sudah memakai baju, setelah itu keluar kamar menuju dapur.
Mansion ini nampak sepi karena sudah malam, saat Zelea menuruni tangga hanya ada terdengar suara langkah kakinya yang menggunakan sendal.
Sampainya di dapur, Zelea membuka kulkas, di sana tidak ada bahan makanan sama sekali.
Bi Jum sepertinya belum belanja, masak apa ya kira-kira, batin Zelea.
Matanya terus mencari makanan yang bisa dimasak, namun tetap tidak ada, di wadah telur hanya tersisa dua telur saja.
Zelea membuka lemari lainnya yang biasa untuk menyimpan makanan kering seperti mie.
Zelea bernafas lega masih ada sisa tiga mie di sana, Zelea mengambil ketiga mie instan tersebut.
Zelea membuka rice cooker, untung di sana masih ada nasi. Zelea berjalan menuju kompor untuk memulai memasak.
Zelea menatap dua telur dan tiga mie di depannya.
Mas Radit tidak suka mie, apa aku buatkan omlet saja ya, batin Zelea.
Karena memang sudah tidak ada bahan makanan, ahirnya Zelea masak omlet telur malam ini.
Tidak perlu lama omlet telur sudah jadi, aromanya yang harum, Zeon yang saat ini lagi menuruni anak tangga mencium masakan Zelea. Langkahnya semakin dipercepat karena mau ikut makan juga.
Zelea menyusun piring ke atas meja makan, beserta nasi juga omlet yang dibuatnya tadi.
"Kenapa bukan Bi Jum yang masak?" tanya Zeon saat baru tiba di ruang makan.
"Bi Jum tidur," jawab Zelea tanpa mengalihkan dari kegiatannya yang masih menuang air ke dalam gelas.
Zeon duduk di kursi biasnya, Radit datang dan langsung duduk. Keningnya berkerut saat melihat yang di masak Zelea hanya satu macam.
"Bahan masakan sudah habis Mas, maaf aku hanya masak ini saja," ucap Zelea, seolah paham maksud kerutan kening Radit.
__ADS_1
Radit tidak menjawab, baginya tidak masalah makan hanya dengan lauk omlet saja. Mereka semua makan bersama.
Zeon makan dengan lahap, awalnya mengunyah dengan cepat namun perlahan berganti pelan, matanya berkaca-kaca. Zeon makan omlet telur buatan Zelea hatinya merasa sedih, saat merasakan enaknya omlet telur buatan Zelea yang sama persis enaknya dengan buatan Mommy nya dulu.