Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 65. Bintang di langit bertebaran.


__ADS_3

"Ha-hamil," ulang Zelea, hampir tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


Zeon mengeratkan genggaman tangannya. "Iya, kata dokter." Zeon tersenyum. "Nanti kita periksakan ke dokter kandungan."


"Kamu gak bohong, kan?" Zelea meneteskan air mata haru.


"Justru aku merasa ini seperti mimpi," jawab Zeon.


"Aku takut kamu hanya menghiburku saja," ucap Zelea seraya menghapus air matanya.


"Aku gak bohong, sayang." Zeon mengecup punggung tangan Zelea.


Obrolan mereka berdua terhenti, saat suster datang membawa makanan untuk Zelea, sedari tadi Zelea belum makan, dan saat ini saatnya makan dan minum obat serta vitamin.


"Silahkan dinikmati, Nyonya," ucap suster tersebut dengan tersenyum.


"Terimakasih, Sus," jawab Zeon dan Zelea bersamaan.


Suster tersebut pergi dari sana.


"Mau aku suapin?" tanya Zeon.


"Boleh." Zelea tersenyum dengan senang hati.


"A ..." Zeon meragakan mulut terbuka, dan Zelea menurut, satu suapan berhasil masuk ke mulut Zelea.


Zelea mengunyah dengan tersenyum.


"Ini harus habis supaya kamu cepat sembuh." Zeon menyuapi lagi yang kedua.


Zelea mengangguk seraya menerima suapan yang kedua itu.


"Sementara tidak usah urusin tanaman dulu ya?"


"Kenapa?" kening Zelea berkerut.


"Kamu biar sehat lebih dulu, jangan dipaksakan aku takut terjadi sesuatu ... David saja yang mengurus." Zeon bicara selembut mungkin supaya Zelea tidak marah.


"Tapi pak David lagi banyak urusan, tadi aja tidak bisa datang." Zelea mengerucutkan bibirnya, tidak suka dengan larangan Zeon.


"Nanti gajinya aku tambahin, pasti dia mau."


"ish." Zelea mencebik benar-benar kesal, karena kan pasti akan merasa bosan.


"Suapan terakhir," ucap Zeon.


Dan Zelea menurut menerima suapan terakhir.


Zeon membereskan piring ia letakkan di meja, kemudian membantu Zelea untuk minum air putih, dan membantu Zelea untuk minum obat dan vitamin.


Setelah semua selesai, Zeon meminta Zelea untuk istirahat, Zeon juga masih duduk di sana, keduanya saling melempar senyum.


Di tempat lain.

__ADS_1


Satu jam yang lalu, Nofal mengirim pesan ke Zeon, dan saat ini ketika membuka hp nya ada pesan masuk dari Zeon.


Lagi di rumah sakit, Zelea lagi sakit tadi pagi sempat pingsan.


Nofal langsung terkejut membaca pesan masuk dari Zeon. Dan langsung menghubungi Zeon saat ini pula.


"Zelea sakit? Gimana keadaannya sekarang?" tanya Nofal setelah sambungan telepon terhubung ke Zeon.


"Keadaannya baik-baik saja," jawab Zeon di seberang sana.


"Aku datang ke sana." Setelah berucap Nofal langsung mematikan sambungan telepon.


Sebelum langsung keluar dari ruang kerjanya, Nofal mengambil jaketnya, kemudian menemui Bagas sang asisten.


"Aku pergi, aku tidak ke restoran lagi, nanti bisa kamu langsung tutup saja," perintah Nofal, dan langsung Bagas iyakan.


Nofal segera pergi dari sana, mengendarai mobilnya sendiri menuju rumah sakit.


*


*


*


"Kenapa tidak tidur?" tanya Zeon, ketika melihat Zelea tetap terjaga, belum tidur juga.


Zelea mengubah posisi menjadi miring, kini bisa lebih leluasa menata wajah Zeon. "Aku tidak bisa tidur."


Zeon tampak sedang berpikir, Zelea harus tidur karena biar supaya cepat sembuh, Zeon memikirkan ide.


"Cerita apa?" tanya Zelea.


"Cerita rakyat-,"


"Wah sedang asyik mengobrol nih," seloroh Nofal tiba-tiba masuk ke dalam ruang rawat Zelea.


Zeon bangkit dari duduknya untuk menyambut Nofal datang.


"Kamu sakit apa?" tanya Nofal ke Zelea.


"Hanya kecapean." Zeon yang menjawab.


"Cepat sembuh ya?"


"Sebentar lagi kamu punya keponakan." Zeon yang menjawab, seraya tersenyum ke arah Nofal.


"Keponakan? Maksudnya dia ..." Nofal menggantung ucapannya.


"Iya, dia sedang hamil."


"Wuahh, selamat- selamat." Nofal memeluk Zeon seraya menepuk punggung Zeon.


Mereka berdua tergelak tawa bersama.

__ADS_1


Saat ini Zelea sudah tidur, dan kini Zeon dan Nofal tengah duduk di sofa, mereka sama-sama melihat ke arah ranjang pasien tempat Zelea tidur.


Nofal ikut merasa bahagia dengan kabar ini, dan berpikir pasti ayahnya dan ibunya akan bahagia andai masih hidup mendengar kabar ini.


Zeon dan Nofal saling diam keduanya sama-sama menyelami pikiran masing-masing.


Zeon juga berpikir sama seperti Nofal, bahwa ayahnya dan ibunya pasti akan bahagia mendengar kabar calon cuci pertamanya.


Namun sayang, cucu pertamanya tidak bisa disambut oleh kedua orang tuanya, mengingat itu Zeon menghela nafas panjang.


"Kamu mesti harus jagain dia lebih dari sebelumnya," ucapan Nofal memecah keheningan.


"Itu pasti," sahut Zeon.


"Gak nyangka bentar lagi akan jadi paman, aku." Nofal tersenyum kecil. "Tapi calon istri belum ada." Kini Nofal tertawa.


Zeon merangkul pundak Nofal. "Carilah, Kak. Jangan melajang lama-lama nanti keburu tua malah susah cari cewe, pada gak mau." Zeon tersenyum.


"Ada sih pandangan, hanya saja masih abu-abu." Tanpa sadar Nofal menjawab.


"Serius!"


"Hah! Apanya?" Nofal terkejut mendadak lupa dengan yang barusan ia ucapkan.


Zeon seketika memukul Nofal, dan ahirnya mereka tertawa bersama. Namun sesat kemudian langsung diam saat menyadari Zelea sedang tudur, dan berganti terkikik.


"Nanti lah setelah aku sama dia sudah akrab aku kenalin sama kamu," jawab Nofal, setelah duduk dengan tenang.


"Sekarang sudah malam banget, aku pulang kamu juga harus segera tidur." Nofal beralih melihat Zelea. "Jangan lupa peluk dia." Nofal mengerling ke arah Zeon.


"Pasti dong," jawab Zeon dengan semangat, kemudian ikut berdiri dan mengantar Nofal sampai pintu.


"Adik jahanam, aku di usir," seloroh Nofal setelah keluar dari sana, dan Zeon hanya bisa tertawa.


Nofal berjalan menyusuri koridor rumah sakit, suasana malam sudah rumayan sepi, pengunjung sudah banyak yang pulang, yang mau datang sudah di larang.


Namun tiba-tiba Nofal menghentikan langkahnya, melihat wanita yang baru saja keluar dari dalam ruangan.


"Itu kan," gumam Nofal dan langsung berjalan cepat mengikuti langkah gadis itu.


Gadis yang beberapa hari ini mampu memporak-porandakan hatinya, Nofal mengejar langkah gadis itu.


Namun harus terhenti saat gadis itu masuk ke dalam mobil, yang kemudian melaju pergi.


Nofal tetap diam mematung, menghela nafas panjang, semua harus ekstra sabar, apa lagi tidak tahu bagaimana cara memulai untuk berkenalan dengan gadis itu.


Jiwa Playboy nya yang pandai merayu dimasa lalu tak berarti untuk sekarang ini, entahlah karena apa, padahal sama-sama wanita mereka, seolah gadis itu memiliki tempat istimewa padahal belum menjadi siapa-siapanya.


Nofal melanjutkan langkahnya menuju mobilnya yang terparkir di sana.


Setelah masuk ke dalam mobil, Nofal tidak langsung menyalakan mesin mobil, wajah gadis itu masih terbayang, membuat Nofal menggelengkan kepala untuk mengusir bayang gadis itu.


Nofal segera menjalankan mobilnya pergi dari sana. Sembari menyalakan musik untuk mengusir kesepian.

__ADS_1


Ternyata cukup membantu mengusir gundah yang Nofal rasakan, sepanjang jalan mengendarai mobilnya malam ini, Nofal ikut bernyanyi.


Suasana malam yang cerah, tanpa ada hujan, bintang di langit bertebaran.


__ADS_2