
Setelah sampai di bandara mereka langsung menuju apartemen tempat tinggal Zeon selama ini.
"Terimakasih, Galang sudah membantu. sekarang kamu boleh pulang," ucap Zeon yang kini sudah berdiri di depan pintu apartemennya.
"Baik, Tuan. saya pamit." Galang langsung melesat pergi dari hadapan Zeon.
Kini tinggallah Zeon dan Zelea di sana, Zelea menatap bingung ke arah Zeon karena mereka pulang ke apartemen bukan di mansion yang dulu pernah ia tinggali.
"Kenapa kesini?" tanya Zelea. Ia harus tahu apa alasan Zeon.
Zeon yang sudah menekan tombol password jadi terhenti, menoleh ke arah Zelea. "Selama ini aku tinggal di sini."
Pintu terbuka, dan Zeon melangkah masuk. Zelea mengikutinya. "Sejak kapan?"
Zeon meletakkan koper di pinggir sofa, kemudian ia duduk di sofa. "Sejak kamu pergi ninggalin aku." Tersenyum ke arah Zelea.
Zelea terkejut mendengar pengakuan Zeon. Berjalan mendekat dan duduk di sebelah Zeon. "Sejak itu apa kamu berantem sama Daddy?"
Kini suara Zelea terdengar iba dan merasa bersalah.
"Ya, salah satunya itu juga." Zeon menatap lekat wajah Zelea. "Tapi ada yang lebih dari itu."
Kening Zelea berkerut menunggu kalimat lanjutan Zeon.
Zeon meraih tangan Zelea lalu digenggamnya. "Di sana aku terus merasa terhantui oleh bayang-bayangmu dan itu membuat aku makin terpuruk ... Karena terpisah jauh denganmu dan tidak tahu kau dimana."
Zelea tidak bisa menahan bulir bening untuk tidak jatuh ke pipinya, mendengar ungkapan Zeon yang menyayat hatinya. "Maaf," ucapnya Hannya mampu lirih seperti gumanan kecil.
Zeon langsung menarik Zelea masuk ke dalam pelukannya, tangannya mengusap-usap punggung wanitanya yang bergetar, bertanda saat ini sedang terisak-isak.
"Semua itu sudah berlalu." Zeon mencium puncak kepala Zelea. "Sekarang aku sudah menemukanmu dan ini cukup membahagiakan bagiku." Zeon mencium puncak kepala Zelea lagi, saat ini lebih lama.
Keduanya saling diam, masih dalam posisi saling memeluk, merasakan aroma wangi tubuh masing-masing yang begitu saling menenangkan.
Sudah lama hal seperti ini ingin dilakukan, namun baru saja kesampaian, karena cintanya langsung diuji dengan perpisahan setelah diungkapkan.
"Secepatnya aku akan mengurus pernikahan kita," ucap Zeon memecah keheningan.
Zelea melepas pelukannya dan kembali duduk tegap, menatap Zeon penuh keseriusan. "Menikah?" ulang Zelea. Ia sedikit terkejut, saat tiba-tiba Zeon membahas pernikahan.
__ADS_1
Zeon mengangguk mantap. "Iya, lebih cepat lebih baik, bukankah niat baik jangan sampai lama-lama."
Zelea menunduk terlihat nampak gelisah. "Tapi -." Zelea tidak melanjutkan ucapannya.
Zeon memegang bahu Zelea. "Jangan khawatir semua akan baik-baik saja, dan semua orang akan mendukung kita bersama, kita tidak salah." Zeon menenangkan Zelea, seolah tahu arti kegelisahan Zelea.
Zelea mengangguk dan sedikit tersenyum kearahnya.
Saat sudah di kamar masing-masing, bersiap untuk tidur, namun Zelea matanya tetap terjaga, padahal jam di dinding sudah menunjukan pukul dua belas malam.
Entah kenapa matanya tidak mau di pejamkan, sudah mengubah posisi tidur dari miring menjadi telentang kemudian tengkurap dan kembali telentang lagi kemudian miring lagi, dan sekarang telentang lagi.
Tapi tetap saja tidak bisa tidur. Belum mendapatkan posisi ternyaman.
Sejak tadi pikirannya terus teringat Radit, rasa bersalah dalam hatinya menggunung, jika tidak ingat sekarang malam hari, panti Zelea akan mendatangi makam Radit.
Benar-benar membuatnya gelisah. Dan jarum jam terus berputar, Zelea menoleh pukul satu, belum bisa tidur juga, satu jam berlalu, menoleh lagi pukul dua.
Dan entah pukul dua lebih berapa, Zelea ahirnya bisa tertidur setelah benar-benar merasa lelah.
*
*
*
Zelea berdecak, bahkan tidak hanya hitam di bawah kelopak matanya, tapi kepalanya juga terasa pusing karena kekurangan tidur.
Entah semalam hanya tudur berapa jam, yang pasti pukul setengah tujuh tadi ia sudah bangun, dan semalam tidak ingat bisa tertidur pukul berapa.
Setelah memakai baju, dan Zelea duduk di depan meja rias, Zelea sedikit memberi make up tebal di bawah kelopak matanya supaya warna hitam bisa tertutup.
"Perfect," gumamnya seraya tersenyum, melihat wajahnya yang kini lebih terlihat fresh tidak pucat lagi seperti tadi.
Setelah selesai, Zelea keluar dari kamar berjalan menuju dapur, tapi saat ia berdiri di ambang pintu antara dapur dan ruang makan.
Matanya melihat seseorang yang sedang berkutat di dapur.
Dia adalah Zeon yang sedang memasak, masih mengunakan kaos rumahan dan celana pendek, tampaknya belum mandi.
__ADS_1
"Nona salju sudah bangun?" Zeon menoleh ke arahnya, mengedipkan sebelah mata. kemudian fokus lagi dengan telur dadar yang di masak.
"Nona salju," ulang Zelea, suaranya terdengar tidak terima dibilang nona salju.
Zeon terkekeh dan hanya menoleh sekilas ke arah Zelea karena telur dadar harus segera diangkat.
Zelea mendekat karena Zeon diam saja tidak menjawab pertanyaannya. "Ayo jawab! Jangan seenaknya mengubah nama," protes Zelea kesal.
Tuh kan, Zeon makin ngeselin, bukannya langsung menjawab tapi malah berjalan menuju meja makan meletakkan piring berisi telur dadar.
Sampai di sana, Zelea baru menyadari kalau di atas meja makan sudah tersaji nasi goreng yang masih mengepulkan asap bertanda masih hangat, dan juga salad sayur ada tomat juga dan mentimun. Dan kini ada telur dadar.
Sepertinya enak, Zelea membayangkan.Tapi sebelum duduk Zelea kembali teringat bahwa Zeon belum menjawab.
Zelea memukul lengan Zeon, gemas karena Zeon abaikan dirinya malah sudah ambil posisi untuk segera sarapan pagi.
Saat melihat mata Zelea melotot kearahnya, Zeon tertawa seraya mengangkat tangan seperti tersangka. "Ok aku jawab, duduklah dulu dengan tenang." Zeon membantu menarik kursi dan meminta Zelea untuk duduk lebih dulu.
Tapi Zeon bukannya langsung menjawab malah merangkul pundaknya.
"Zeon lepas ah! kamu nyeselin." Zelea memberontak tapi Zeon malah terkekeh-kekeh dan makin mengeratkan rengkuhan di pundaknya.
"Karena kamu suka ngambek dan marah-marah sama aku selama ini," bisik Zeon di telinganya.
Zelea langsung tidak terima, karena selama ini dari awal ketemu dengan pria bernama Zeon, jelas Zeon yang sikapnya lebih angkuh dan galak.
Dan apa pula itu saat Zeon menyiram dirinya pakai air satu ember, jelas Zelea masih ingat kelakukan Zeon dulu, sebelum sekarang berubah menjadi kucing yang manis.
"Ih! Lepas ... Lepas!" Zelea memberontak, dan ahirnya Zeon melepaskan disertai tawa puas karena berhasil ngerjain Zelea.
"Ayo makan? setelah ini kita datang ke makam, Daddy."
Zeon mulai menyantap sarapan nasi goreng lauk telur dadar dan salad, masakan sendiri.
Zelea mulai makan seperti Zeon, setelah mengunyah-ngunyah makanannya, Zelea manggut-manggut, masakan Zeon rumayan enak untuk ukuran seorang pria yang masak.
"Sejak kapan bisa masak?" tanya Zelea sambil menyuap ke dalam mulut.
"Setelah kamu tinggalin aku."
__ADS_1
"Aku muluk," protes Zelea.
Zeon tersenyum lebar, tangannya mengacak rambut Zelea.