Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB. 59. Kesibukan menjelang pernikahan.


__ADS_3

Makan malam yang romantis yang baru keduanya rasakan, diselingi dengan saling melempar senyum, dan suara alunan musik biola.


Zelea tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipi karena sangking merasa bahagia, dan setelah suapan terakhir selesai ia kunyah dengan benar, Zelea segera minum.


Zelea meletakkan gelas di atas meja, matanya memperhatikan Zeon yang masih menyuap makanan, yang sesekali tersenyum ke arahnya.


Zelea terkekeh malu, pasti saat ini Zeon sudah menangkap semburat merah di pipinya.


Zelea berdehhem tiga kali untuk menialisir rasa gugup.


"Terimakasih," ucapnya dengan kepala menunduk.


Zeon menautkan kedua alisnya.


"Aku suka, surprise malam ini aku suka." Masih dengan kepala menunduk.


Deg!


Zelea terkejut saat tiba-tiba tangan Zeon menggenggam tangannya, perlahan Zelea menatap mata Zeon, namun sesaat kemudian ia menunduk lagi.


"Kenapa harus berterimakasih ... Ini semua untuk kamu." Zeon tersenyum.


"Aku terharu ... A-aku miliki banyak kekurangan dan belum bisa membalas semua hal yang sudah kamu lakukan untuk aku." Zelea mengangkat wajahnya menatap Zeon sebentar, kemudian menunduk lagi.


Zeon tersenyum penuh arti. "Membalasnya gampang." Zeon menghentikan ucapannya, dan Zelea langsung mengangkat kepalanya ingin tahu lanjutan ucapan Zeon.


"Siapkan pelayanan eklusif di malam pertama." Zeon tersenyum menggoda.


Pipi Zelea kembali merah merona, dan langsung menarik tangannya yang sedari tadi di genggam Zeon, tidak menyangka kalau Zeon akan bicara hal fulgar.


Zeon melanjutkan makan kue dan minuman yang belum habis.


Sementara Zelea pura-pura asyik mainkan ponsel, padahal cuma scroll saja.


Zelea melihat piring di depan Zeon sudah habis semua, serta minuman yang baru Zeon habiskan.


"Pulang yuk, aku sudah ngantuk."


Zeon melihat jam tangannya, yang sudah menunjukan pukul setengah sepuluh, sudah cukup malam.


"Baiklah ayo pulang." Zeon berdiri, kemudian meraih tangan Zelea, mereka berjalan saling bergandengan tangan.


*


*


*


Nofal sedang duduk di ruang kerjanya, jam segini restorannya belum tutup, di luar masih ada beberapa pengunjung yang belum pulang.


Nofal menggoyang-goyangkan kursinya ke kiri ke kanan, dengan mata lurus tanpa kedip. "Bagas, menurut kamu aku harus kasih hadiah apa?"


Hadiah? Bos punya pacar? Pikir Bagas.

__ADS_1


"Gampang, Bos. Dibelikan baju bagus yang harganya mahal, pasti cewek langsung suka." Bagas menjawab penuh yakin disertai anggukan kepala.


Namun siapa sangka malah mendapat lemparan pena tempat mengenai kepalnya.


"Aduh, kenapa Bos, kepala saya dilempar pena?" Bagas mengusap kepalanya yang terasa sakit.


Haduh gimana sih Bos ini, di kasih ide salah tidak di kasih ide makin salah, batin Bagas.


Apes jadi orang bawahan, batinnya lagi.


"Kalau gak tahu nanya hadiah untuk siapa? jangan asal yakin ngasih jawaban, ini hadiah untuk adikku yang mau nikah, tahu kan?" Nofal memberi tatapan tajam.


"Mas Zeon, Bos. Yang mau nikah?"


Hemm.


"Kenapa bukan Bos dulu yang nikah? Kenapa malah -,"


Buug!


Kali ini majalah yang mendarat di kepala Bagas.


"Ampun, Bos. Ampun." Bagas masih sanggup tertawa.


Sialan lu! Umpat Nofal.


Bagas menghela nafas berat, sudah terkena lemparan pena sekarang terkana lemparan majalah, haduh apes batinnya.


"Tiket Honeymoon aja, Bos!" seru Bagas, asal ucap sebenarnya tidak mikirin benar atau salah.


Bagas benar-benar tidak menyangka, ide asalnya itu bisa diterima oleh bosnya.


Bagas geleng-geleng kepala.


Buruan nikah sana Bos biar tidak nyusahin orang, batin Bagas.


Karena setiap hari ia harus pulang larut malam, hanya karena nemenin Nofal yang katanya sendiri tidak ada teman bicara, kalau Bagas pulang udah larut malam, seusai Bagas pergi ia akan langsung tidur, begitu alasan Nofal.


Hem, menyusahkan, Bagas membatin.


Dan keesokan harinya menjadi hari paling sibuk untuk Zelea, menjelang sebentar lagi hari pernikahannya dengan Zeon.


Pagi-pagi Retno sudah muncul di apartemen, tempat Zelea tinggal.


Awal tiba di apartemen, Retno terkejut melihat ada Zeon, tadi pria itu baru sarapan, dan sepanjang Retno duduk di kursi sofa ruang tamu, hatinya di selimuti banyak pertanyaan.


Dan setelah Zeon berangkat kerja, karena ternyata Zeon masih menyelesaikan pekerjaannya meski hari esok adalah hari pernikahannya. Benar-benar pemimpin yang bertanggung jawab.


Retno langsung menarik Zelea untuk duduk di sebelahnya. Retno memberi tatapan menyelidik, dan Zelea hanya tersenyum-senyum.


"Kalian tinggal satu atap, belum menikah, bagaimana bisa?"


Zelea tertawa seraya menutup mulutnya.

__ADS_1


Retno memukul lengan Zelea gemas. "Aku serius kenapa kamu malah tertawa!"


Zelea menuntaskan tertawanya baru setelah itu ia bicara,"Aman."


Aman dalam arti mereka tidak melakukan hal lebih meski tinggal satu atap.


"Kamu serius?" Retno masih belum yakin.


Dan Zelea menjawab dengan anggukan kepala penuh yakin.


Retno langsung memeluk Zelea. "Aku takut kejadian di masa lalu terulang." Retno menangis. "Semoga dia memang yang terbaik untukmu."


"Semoga." Zelea mengusap punggung Retno.


Setelah keduanya bersiap, kini mereka pergi ke salah satu tempat perawatan kecantikan, Zelea akan mengikuti SPA, dari kuku, tubuh, hingga rambut.


Saat memasuki ruang SPA, aroma harum khas wangi, langsung tercium, tidak hanya Zelea, Retno juga ikutan mumpung ada yang bayarin pikir Retno.


Sampai perawan selesai, rumayan memakan waktu yang cukup lama, hampir empat jam mereka di sana dan baru keluar siang hari saat jam makan siang sudah lewat.


Setelah dari sana, mereka berdua menuju mall, selain makan siang, ada yang mereka beli.


Tepat pukul dua siang setelah habis makan, mereka mutuskan untuk mencari sesuatu, kini mereka berhenti di depan toko baju dalaman wanita.


"Lingerie nya bagus yang mana," bisik Zelea di telinga Retno.


Hahaha. Retno tertawa.


"Ih, serius aku nanya." Zelea kesal.


"Masih yakin mau pakai lingerie." Retno memberi tatapan menggoda. "Aku lihat dia pasti lebih suka lihat kamu gak-."


Zelea membekap mulut Retno.


"Nyeselin ah Retno."


Hahaha.


Setelah dari toko yang berjualan baju dalaman wanita, mereka berjalan lagi menuju toko perhiasan.


Retno mengernyit heran saat melihat Zelea memilih cincin, apa lagi saat Zelea sampai mencoba cincin ke jari manisnya.


"Apa dia belum beli cincin pernikahan?" Ahirnya Retno bertanya karena begitu penasaran.


"Aku tidak tahu," jawab Zelea masih mencoba beberapa cincin di masukkan ke jari manisnya.


"Terus kamu beli untuk apa?" tanya Retno lagi.


"Untuk aku," jawabnya santai. "Kak aku mau yang ini." Zelea menyerahkan cincin yang ia pilih.


Zelea melakukan pembayaran administrasi.


"Kamu aneh, padahal sebentar lagi dapet cincin, eh malah beli cincin," bisik Retno di telinganya.

__ADS_1


"Emang," jawab santai Zelea.


Setelah dari toko perhiasan, mereka putuskan untuk pulang, karena sudah lelah. namun sebelum itu membeli beberapa cemilan untuk dimakan di apartemen. Retno masih ikut bersama Zelea. Mereka terus bercengkrama sampai malam, dan untuk malam ini Retno menginap di apartemen.


__ADS_2