
Sebagai pemilik restoran, Nofal pasti selalu mengunjungi restorannya, Milli pun tidak masalah jika harus ditinggal Nofal pergi bekerja, karena di apartemen sudah ada dua pelayan yang menemani Milli.
Dan seharian ini Nofal mendatangi restoran, tidak pandang hari Minggu, ia tetap bekerja, mengawasi semua pekerjanya, meski di sana sudah ada asistennya juga sudah ada manager yang membantu mengurus restoran.
Pukul sembilan malam, Nofal baru sampai di apartemen, Nofal langsung menuju kamarnya untuk menemui Milli, karena Nofal membawa martabak yang dibeli untuk Milli.
Tok. Tok.
Nofal mengetuk pintu kamar itu, meski ini adalah kamarnya tapi sekarang ada istrinya juga di dalam sana, Nofal pikir Milli butuh privasi, jadi ia milih mengetuk pintu dulu.
Klek!
Pintu kamar terbuka, tapi Milli langsung berbalik kembali duduk di ranjang, Nofal melangkah masuk.
"Nih, aku bawakan martabak." Nofal menjinjing keresek isi martabak untuk ditunjukan ke Milli.
"Aku tidak mau martabak!" suara Milli membentak.
"Apa mau dibelikan makanan yang lain?" Nofal masih berusaha menawari.
"Tidak perlu!" wajahnya melengos ke arah lain.
Nofal mendekati Milli. "Ada apa? Aku minta maaf jika aku ada salah?"
"Pergi!" Milli menatap tajam Nofal.
Sabar Nofal sabar, dia wajar marah sama kamu, kamu harus sabar Nofal, batin Nofal.
Nofal tidak mau membuat Milli makin kesal, Nofal ahirnya keluar dari dalam kamar.
Setelah kepergian Nofal, Milli menangis, tidak tahu dengan perubahan yang terjadi pada dirinya.
Sebelum menikah ingin sekali menikah dengan Nofal, supaya bisa memberikan keluarga untuk anaknya.
Tapi setelah menikah, tiap kali melihat wajah Nofal selalu merasa sebal dan benci.
"Kenapa aku seperti ini?" bertanya pada diri sendiri.
Tapi sekarang Milli merasa bersalah sudah berkata kasar dengan Nofal, hah! Milli membuang nafas berat, benar-benar bingung.
Milli jadi teringat omongan orang, yang katanya bawaan bayi itu suka aneh-aneh dan macam-macam.
__ADS_1
"Apa yang aku rasakan ini juga termasuk bawaan bayi?" Milli kembali bertanya pada diri sendiri.
Sungguh Milli tidak tahu apa arti yang dirasakannya saat ini, karena sejujurnya Milli juga tidak mau bersikap kasar ke Nofal, tapi saat melihat wajah Nofal, Milli rasanya mau marah, bahkan ingin memaki-maki Nofal.
Milli benar-benar tidak tahu semua ini, yang tengah terjadi padanya.
Milli melirik martabak yang Nofal letakkan di atas meja.
Milli masih ingat tadi ia menolak martabak itu dengan kasar, tapi sekarang aroma lezat martabak itu tercium hidungnya.
Milli mengambil martabak itu, membuka bungkusnya, dan seketika aroma lezat martabak makin tercium hidungnya. Milli sampai memejamkan matanya untuk menikmati aroma lezat martabak itu.
Martabak kacang coklat, rasa manis dan gurih menjadi satu, Milli memakan potongan kecil martabak.
Awalnya satu potong kemudian dua potong, tidak terasa Milli habis empat potong martabak.
Sementara itu di luar kamar.
Nofal terpaksa mengunakan kamar tamu untuknya mandi dan istirahat malam ini.
Untungnya di kamar tamu ada lemari yang tersimpan beberapa bajunya walau tidak banyak. Jadi Nofal tidak perlu masuk lagi ke kamarnya dan membuat Milli kesal.
Nofal tidak marah sama sekali mendapati sikap Milli yang seperti itu, baginya ini adalah sebuah tantangan yang harus Nofal hadapi, meski tidak tahu sampai kapan.
Tadi sebelum ia masuk ke kamar tamu, Nofal meminta tolong pada pelayan untuk menghangatkan makanan.
Dan kini makanan sudah tersaji di atas meja makan, Nofal mulai menyantap makanan seorang diri.
Setelah selesai makan, Nofal mau kembali ke kamar tamu, namun urung masuk saat sudah di depan pintu, Nofal melihat kamar yang ada Milli di dalam sana.
Ingin sekali Nofal menyapa Milli, tapi khawatir akan membuat Milli kesal lagi terhadapnya.
Ahirnya Nofal memutuskan untuk tidak menyapa Milli, dan milih membuka pintu kamar tamu dan masuk ke dalam sana.
Nofal tidak langsung menuju ranjang, ia lebih milih berjalan ke arah balkon, bersantai di sana.
Dinginnya udara malam, membuat pikirannya lebih fresh.
Nofal duduk di kursi yang memang sudah di sediakan di sana.
Dering ponselnya bunyi, Nofal melihat layar ponselnya, yang ternyata Bagas yang menelpon.
__ADS_1
"Bos, saya sudah menemukan rumah yang nyaman," suara Bagas di sambungan telepon.
"Ok, besok aku mau melihatnya, kita datang bersama-sama."
"Ok, Bos." Bagas menjawab, sebelum ahirnya panggilan telepon diakhiri.
Di dalam kamar utama.
Milli sedari tadi tidak bisa tidur, padahal udah merasa ngantuk sekali, tapi mata tidak mau terpejam.
Milli merasakan gelisah, tidak nyaman sama sekali. Ahirnya ia bangun. Milli keluar kamar.
Lampu di ruang tengah sudah padam, bertanda semua orang sudah pada istirahat.
Milli sembari membawa bungkus martabak sisa ia makan, berjalan ke dapur. Sampai di sana, Milli menuju lemari pendingin, dan memasukkan sisa martabak yang ia makan ke dalam lemari pendingin.
Saat menaruh martabak di dalam sana, Milli melihat buah strawberry, tiba-tiba ingin makan buah strawberry yang rasanya asam-asam gitu.
Milli mengambil satu mika kecil berisi buah strawberry yang sudah dibersihkan.
Milli membawanya ke ruang makan, dan makan di sana.
Cukup lama Milli duduk di sana sampai tidak terasa sudah tiga puluh menit. Sekarang sudah menunjuk pukul sebelas malam. Tapi Milli sama sekali belum merasa ngantuk.
Milli tiba-tiba penasaran dengan Nofal yang saat ini tidur di kamar tamu.
Milli bangkit dari duduknya berjalan menuju kamar tamu, sampai di sana, Milli menimbang keinginannya, apakah membuka pintu dan melihat Nofal, atau milih pergi saja.
Tapi pada akhirnya Milli membuka pintu kamar tamu itu, seketika kegelapan yang Milli lihat, bertanda penghuni kamar ini sudah tidur.
Tidak hanya melenggok saja kepala Milli, tapi juga melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana.
Dan entah mendapat dorongan dari mana, Milli ikut membaringkan tubuhnya di ranjang, tudur di sebelah Nofal.
"hihihi, aku tudur disini lah, yang penting besok pagi aku harus bangun lebih dulu sebelum ketahuan, Nofal." Milli bergumam kecil.
Dan seperti sebuah keajaiban, Milli yang sebelumnya tidak bisa tidur, kini langsung tidur pulas.
Jelas Milli akan bangun lebih dulu, karena tidak mau melihat wajah Nofal, Milli juga bingung akan perubahan ini, ia mau dekat dengan Nofal tapi tidak mau melihat wajahnya. Sungguh perasaan yang membingungkan.
Ternyata Nofal tahu saat Milli ikut tidur di sebelahnya, tadi Nofal belum tidur, Nofal tersenyum melihat Milli.
__ADS_1
Ia tetap diam, meski ingin rasanya tidur sembari memeluk Milli tapi tidak Nofal lakukan, karena tidak mau membangunkan Milli, yang terdengar suara deru nafas teratur, bertanda Milli sudah tidur pulas.
Nofal ahirnya ikut tudur juga.