
Nofal.
"Sem, kepala aku pusing," gumam Milli, kepalanya terasa berat, kini bersandar di pundak Sem sembari berjalan.
"Iya, Milli kita pergi pulang sekarang," ucap Sem, merengkuh pinggang Milli untuk diajak berjalan bersama.
"Damned!" maki Nofal, pandangan itu jelas mengoyak hati Nofal, membuatnya tidak terima, dan langsung bangkit mengikuti mereka berdua.
Begitu melihat mobil yang di tumpangi Milli berjalan, Nofal juga segera menjalankan mobilnya untuk mengejar mereka berdua.
Nofal jelas paham gerak-gerik pria muda itu, meski belum tahu apa hubungan mereka berdua, tapi yang jelas Nofal saat ini ingin menyelamatkan Milli.
Apa lagi saat sempat menangkap wajah Milli yang kemerahan, jelas saat ini Milli terpengaruh obat perangsang.
Sebagai pria yang berpengalaman, tentu Nofal tahu semua, bukan hal sulit bagi Nofal untuk mengetahui.
"Aku pastikan kamu tidak akan selamat sampai berani menyentuh Milli," gumam Nofal penuh amarah.
Sementara itu di dalam mobil lain, Milli merasakan tubuhnya semakin terasa panas, Milli jadi gelisah tak karuan.
"Sem, apa yang terjadi dengan ku? Kenapa tubuhku terasa panas dan gerah, bukankah aku hanya minum jus." Milli semakin tidak nyaman, gelisah meski sudah merubah duduk tetap aja tidak menemukan kenyamanan.
Di kursi kemudi Sem tersenyum miring. "Tenang, Milli. Nanti juga sembuh," sahut Sem.
Tentu saat ini Milli sedang tidak baik-baik saja, karena ini adalah cara terakhir Sem untuk mendapatkan Milli.
Selama ini Sem udah lakukan apa pun, tapi Milli tetap menolak cintanya, selalu beralasan bahwa berteman lebih baik.
Dan sekarang Sem tidak terima dengan penolakan Milli, membuat cintanya menutup kebaikan dan menghalalkan cara apa pun.
Dan saat melihat kegelisahan Milli di kursi belakang, Sem senyum penuh kemenangan.
Mobil yang Sem kendarai membelah pekatnya malam menuju sebuah hotel.
Sem segera keluar dari dalam mobilnya, kemudian membukakan pintu mobil untuk Milli.
Sem tersenyum miring saat melihat Milli kini terlihat berantakan, Sem mengulurkan tangannya untuk mengajak Milli keluar dari dalam mobil.
"Sem ... Tolong aku." Milli menatap mengiba ke arah Sem, wajahnya tampak terlihat memerah, Milli sudah tidak bisa menahan gejolak aneh dalam dirinya. Tanpa pikir panjang Milli menerima uluran tangan Sem.
"Sem, tolong aku." Lagi-lagi suara Milli terdengar mengiba, kini mereka sudah berjalan bersama menuju pintu masuk hotel.
"Aku pasti akan menolongmu," ucap Sem dengan senyum menyeringai.
Tapi Milli masih sedikit sadar, bahwa saat ini ia tidak pulang ke rumah, tapi sebuah hotel, hati Milli bingung dengan semua ini.
__ADS_1
"Sem, kenapa kita tidak pulang ke rumah aku, kenapa harus ke sini? Ini tempat siapa?" Milli bertanya dengan suara parau, sesekali memejamkan matanya untuk menahan sesuatu dalam dirinya.
"Kita mampir kesini dulu," ucap Sem, bersamaan pintu lift tertutup dan membawa mereka berdua naik ke atas.
"Sem, aku tidak mau kesini, nanti ayah cariin aku." Milli berusaha menolak, tapi sentuhan tangan Sem yang mengusap pipinya, mengalirkan desiran aneh dalam tubuhnya. Sungguh saat ini Milli menginginkan lebih dari ini.
"Tenang, ayah tidak akan nyariin kamu." Sem terus mengusap lembut pipi Milli, pipi wanita yang sangat Sem cintai.
Bagaimana mungkin Om Arman akan mencari kamu Milli, jika dia aja saat ini sangat percaya sama aku, batin Sem.
Ya, Sem sudah minta ijin ke ayah Milli bahwa saat ini akan mengajak Milli berpesta, ayah Milli yang sudah percaya dengan Sem, tentu memberi ijin, karena mereka berdua sudah bersahabat sejak kecil.
Dan ayah Milli tentu sudah mengenal Sem dan kedua orang tua Sem.
Pintu lift terbuka, Sem segera membimbing Milli keluar dari sana dan berjalan menuju kamar hotel yang sudah Sem sewa.
Semua sudah Sem persiapkan sedemikian rupa.
Saat ini kesadaran Milli semakin hilang, tubuhnya bagaikan melayang seolah kakinya tidak menginjak lantai, saat ini yang ia rasakan ingin mendapatkan sentuhan lebih.
Bahkan genggaman tangan Sem, terasa membuat darahnya mengalir deras, Milli semakin tidak bisa mengendalikan diri.
Dan semua ini karena dosis obat perangsang yang Sem berikan begitu tinggi.
Sem tersenyum puas melihat keadaan Milli saat ini.
Saat ini Milli benar-benar sudah hilang kesadarannya.
Sem mendorong tubuh Milli untuk memberi jeda ciuman mereka, Sem terkejut saat Milli si gadis polos ternyata mampu melakukan dengan brutal, meski begitu Sem sangat senang.
"Sem, aku ... Aku." Milli mau mencium bibir Sem lagi, tapi Sem tahan.
"Sabar, baby. Aku pasti akan membuat kamu terpuaskan, sekarang kamu harus minum dulu."
Sem mengambil air minum dalam gelas, Sem mencampurkan obat perangsang lagi, padahal yang tadi reaksinya sudah tinggi, tapi Sem ingin melewati malam ini penuh dengan kebahagian.
"Minumlah." Sem menyodorkan gelas ke arah Milli, yang langsung Milli terima, karena saat ini ia benar-benar merasa haus, tenggorokannya terasa kering.
Setelah air minum di dalam gelas tengah tandas, Milli memberikannya kembali ke tangan Sem.
Ahh! Milli menjerit, rasanya tubuhnya semakin panas, dinginnya suhu AC di dalam ruangan ini tak berpengaruh sedikit pun.
Milli melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya, yang kini hanya menyisakan bra dan celana da-lam.
Sem langsung menatap penuh minat saat melihat tubuh Milli yang polosan.
__ADS_1
"Kau adalah wanitaku," gumamnya penuh percaya diri, kemudian mendekati Milli dan mau memulai malam indahnya.
Namun belum sempat Sem menyentuh tubuh Milli, ada tangan seseorang yang lebih dulu menariknya menjauh dari Milli.
"Brengsek! Apa yang mau kamu lakukan, hah!" teriak Nofal dengan suaranya yang menggelegar.
Bugh. Bugh.
Dua pukulan mendarat langsung di pipi Sem, pria itu sampai tersungkur ke lantai, nyeri di pipi yang saat ini ia rasakan.
Nofal menarik kerah baju Sem, ia tarik hingga Sem berdiri lagi, dan mendaratkan pukulan lagi, hingga kini wajah Sem babak belur.
Nofal mendorong tubuh Sem ke arah pintu hingga kepala Sem menabrak pinggiran pintu, seketika Sem merasa pusing.
"Pergi dari sini! Pergi ..." teriak Nofal dengan suaranya yang menggelegar dan tatapan tajam.
Dengan tubuh yang rasanya remuk redam, Sem ahirnya milih pergi, meski dalam hatinya menaruh dendam ke Nofal, pria yang tidak Sem kenal.
Nofal segera berbalik dan kini melihat tubuh Milli yang polosan berjongkok dekat pinggiran ranjang sembari memegang remot AC.
Jujur saja saat ini Nofal merasa kedinginan, tapi gadis malang itu tidak merasa kedinginan sama sekali.
Nofal mengambil baju dan celana Milli yang tercecer di atas lantai, kemudian mendekati Milli. Dan membntu Milli untuk berdiri.
"Ayo, gunakan bajumu dan aku antar kamu pulang," ucap Nofal.
Namun reaksi Milli yang berbeda malah mengejutkan Nofal, tiba-tiba Milli mencium bibirnya dengan rakus.
Nofal segera mendorong tubuh Milli, Nofal tidak akan melakukan semua ini, Nofal menarik tubuh Milli ke kamar mandi, mengguyur tubuh Milli di bawah air shower.
Setelah basah kuyup, Milli sedikit bisa mengendalikan diri, Nofal mengajak Milli keluar dari kamar mandi, karena tubuh Milli saat ini kedinginan.
Jangan ditanya, sebenarnya Nofal juga ingin menyentuh Milli, apa lagi melihat tubuh Milli yang polosan, siapa pun pria pasti akan minat. Tapi Nofal masih berpikir waras. Tidak mau melukai Milli.
Nofal berusaha memakaikan baju untuk Milli, tapi sepertinya pertahanan Nofal mulai goyah, saat Milli kembali memaksa mencium bibir Nofal dan Nofal mulai membalasnya.
"Maafkan aku Milli," gumam Nofal dalam ciuman bibirnya dengan Milli.
Nofal mulai menggiring Milli ke atas ranjang, menciumi seluruh tubuh Milli yang polosan, hingga meninggalkan jejak kemerahan di kulit putih Milli.
Milli melenguh dan mengerang saat dua gundukan daging miliknya di mainkan oleh Nofal.
Membuat tubuhnya seperti terbang ke nirwana, sentuhan lebih yang sedari tadi ia inginkan, kini telah menjadi kenyataan.
Milli semakin menenggelamkan kepala Nofal saat mengulum puncak salah satu buah da-da-nya, dan Milli membusungkan dadanya.
__ADS_1
Malam ini mereka mencari kepuasan satu sama lain, saling memberi dan menerima.