Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB. 82. Kekhawatiran Nofal


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan dengan warna cat putih tulang, terdapat selang infus juga bau obat-obatan, seorang pria tampan kini sudah bangun dari tidur panjangnya.


Baru saja seorang dokter dan suster memeriksa keadaan Nofal, dan hari ini jauh lebih baik.


Setelah dokter dan suster keluar dari ruangan itu, kini tinggallah Nofal sendirian, yang terdiam memikirkan masalahnya.


Bukan rasa sakit dan luka yang ia pikirkan, tapi bagaimana caranya bisa mendapat restu dari ayah Milli.


Bahkan Milli yang ketakutan saat itu terekam jelas di ingatannya, sebelum dirinya berakhir di rumah sakit.


Klek!


Suara pintu terbuka, di susul seorang pria masuk ke dalam.


"Hei! Pria tangguh sudah bangun," seloroh Zeon.


"Bagaimana? Enak rasanya?" tanya Zeon bermakna menyindir, yang kini sudah duduk di kursi tepat samping ranjang pasien.


Nofal hanya terkekeh.


"Mau menyerah aja atau mau masih berjuang nih?" Zeon menaikan satu alisnya.


"Berjuanglah, sudah nanggung babak belur masak menyerah." Nofal tersenyum masam.


"Aku suka gayamu." Zeon mengangkat dua ibu jarinya.


Nofal mulai menceritakan dari awal kejadian itu, ia yang datang berniat ingin bicara baik-baik, awalnya memang respon ayah Milli baik, tapi karena ia melakukan kesalahan dan cepat atau lambat kenyataan itu pasti terbongkar.


Begitu tahu Nofal yang menghamili Milli, Ayah Milli marah dan kemudian langsung menghajarnya. Di bantu juga anak buah ayah Milli yang jumlahnya banyak.


"Jalanmu bersama dia sangat susah," respon Zeon ketika telah mendengar cerita yang sebenarnya dari Nofal.


"Apa kamu bisa membantuku?" tanya Nofal penuh harap.


"Aku coba dulu ... Jangan khawatir." Zeon menenangkan Nofal.


"Aku sangat berharap kamu bisa membantuku." Nofal menatap serius ke Zeon.


"Besok aku akan datang kemari lagi, dan aku akan memberi kabar langsung padamu, sekarang aku harus pulang."


"Karena Dewi-ku sudah menunggu di dalam kamar," lanjut ucapnya dengan tertawa.


Sialan! Umpat Nofal.

__ADS_1


Zeon hanya tertawa mendengar umpatan Nofal.


Setelah Zeon pergi, Nofal kembali merenung. Ada perasaan takut campur khawatir andai Zeon tidak berhasil membantunya untuk dapat bersatu dengan Milli.


Jadi takut andai ayah Milli akan membawa Milli dan anaknya pergi jauh, hingga ia tidak bisa bertemu lagi.


Nofal menggelengkan kepalanya ia tidak mau sampai hal itu terjadi, Nofal ingin bersama Milli apa pun caranya.


Tapi mengingat dirinya yang saat ini berada di rumah sakit, bahkan sampai harus dirawat, membuat Nofal berpikir bahwa ayah Milli bukan sembarang orang.


Dan ia tidak bisa melawan sendirian lagi nantinya, jika tidak mau kembali di rawat di rumah sakit.


"Aku akan tetap perjuangkan kamu Milli, meski harus nyawaku sebagai taruhannya," gumam Nofal penuh yakin.


Nofal bertekad untuk terus memperjuangkan Milli sampai mendapat restu ayah Milli, karena Nofal tidak mau kehilangan wanita yang dicintai.


Meski belum terlihat seperti apa jalan yang akan ia lalui nanti, tapi Nofal sudah yakin akan terus perjuangkan Milli.


*


*


*


Saat ini waktu menunjukan pukul sembilan malam, biasanya jam segini Zelea belum tidur. Zeon semakin semangat saat melangkah mau masuk ke dalam.


"Eh, Sayang kamu baru pulang?" tanya Zelea begitu Zeon membuka pintu utama.


Ternyata Zelea sedang berdiri di ruang tamu, tidak tahu mau kemana, atau memang mau menunggu Zeon pulang.


Zeon tidak menjawab kalimat pertanyaan Zelea, baginya pertanyaan itu tidak butuh jawaban.


Zeon merengkuh pinggang Zelea, dan mengajaknya berjalan bersama, mereka menaiki tangga menuju lantai tiga, tempat kamarnya berada.


Sampai di dalam kamar, Zeon melepas rengkuhannya di pinggang Zelea.


Zeon mandi lebih dulu, sementara itu Zelea menyiapkan pakaian ganti yang bersih untuk Zeon.


Zelea menunggu Zeon di atas ranjang, sembari membaca majalah, lima belas menit kemudian, Zeon sudah selesai mandi. begitu selesai memakai baju, Zeon ikut duduk di atas ranjang tepat sebelah duduk Zelea.


"Aku sudah tahu penyebab Nofal sampai dia bisa masuk ke dalam rumah sakit," ucap Zeon memulai awal pembicaraan.


Zelea menghentikan membaca majalahnya, meletakkan di atas pahanya. "Apa? Apa benar dia berkelahi?"

__ADS_1


Zeon menggeleng. "Bukan berkelahi, tapi dia memang harus dipukuli kare-,"


"Bagaimana bisa dia harus dipukuli! Apa dia punya musuh?" tanya Zelea memotong ucapan Zeon.


Zeon yang gemas karena Zelea memotong ucapannya langsung mencium bibir Zelea, ciuman yang semakin lama semakin dalam hingga lidah mereka saling berbelit dan menyesap, baru usai setelah keduanya merasa kehabisan oksigen.


"Kenapa malah menciumku." Zelea merengut sembari mengusap bibirnya yang basah.


Zeon tertawa tidak menjawab pertanyaan Zelea.


"Karena yang menghajar Nofal adalah ayah dari wanita yang Nofal hamili."


"Apa!" Zelea terkejut sungguh tidak percaya. "Kamu serius!"


Zeon mengangguk. "Dua rius, Nofal cerita sendiri padaku."


"Dia benar-benar belum berubah," gumam Zelea lirih sembari menoleh ke arah samping.


"Dan aku mau membantu supaya Nofal mendapat restu dari ayah gadis itu."


"Nanti kamu yang dipukuli gimana?" Zelea panik sembari menangkup wajah Zeon.


Zeon tersenyum, tangannya menyentuh tangan Zelea yang menangkup wajahnya. "Ada do'a mu aku pasti baik-baik saja."


"Ish!" Zelea mendengus sembari membuang muka, saat mau menarik tangannya yang menangkup wajah Zeon, tapi pria itu tahan.


"Dia mau bertanggung jawab pada anaknya, kan kasihan anaknya nanti kalau tidak punya bapak," terang Zeon, ia tahu saat ini Zelea sedang marah, tapi Zeon harus menjelaskan, supaya Zelea memberi ijin.


Zelea menghela nafas panjang. "Baiklah kamu boleh datang ke sana ke rumah ayah gadis itu, tapi kamu harus membawa pasukan yang banyak."


"Memang aku mau perang." Zeon mencubit pipi chubby bumil.


"Ish, sakit tauk!" keluh Zelea dengan tatapan tajam ke Zeon.


Tapi Zeon malah mendekatkan wajahnya, Zelea langsung menggelitik Zeon, mereka berdua saling menggelitik sampai ahirnya berubah posisi Zelea di bawah Zeon.


Deru nafas mereka berdua saling bersahutan, kini mereka saling memandangi wajah satu sama lain, perlahan wajah Zeon bergerak menunduk hingga bibir mereka kembali menempel.


Saling merasakan manis dan menyesap, ciuman lembut penuh menuntut. Sembari tangan Zeon melepas kancing baju Zelea, hingga tangannya bergerak meremas daging yang lembut dan kenyal.


Zelea mendesah saat Zeon berganti membuat tanda merah di leher jenjangnya, sentuhan lembut yang melenakan, mengajak pasangan mengarungi lautan cinta menuju nirwana.


Saat permainan di bawah sana sudah di mulai, sebuah rasa yang tidak bisa dijabarkan seperti apa? Terlalu indah untuk dirasakan, keduanya saling memberi dan menerima, bersama-sama menuju nirwana.

__ADS_1


Ketika hal yang dicari kini diraihnya, dua insan yang baru saja menyebrangi lautan cinta itu saling memeluk dan berkata cinta.


__ADS_2