
Namanya Nadin Jakson.
Aku yakin kamu akan tertarik sama dia.
Selain dia cantik dan seksi, dia juga wanita yang sudah sukses, memimpin perusahaan desainer yang terkenal.
Kamu pasti tahulah Jakson Grup?
Yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan banyak orang dikalangan pebisnis.
Nadin menyetujui undangan makan siang yang aku buat untuk kamu.
Good luck Zeon.
Zeon menghela nafas panjang setelah membaca pesan demi pesan yang masuk dari Robby.
Ternyata Zeon masih berusaha menyangkal perasaan yang ada di dalam hatinya, bahwa bukan cinta atau hal tertarik lain pada Zelea.
Dan Zeon yakin saat bertemu dengan Nadin akan memiliki perasaan yang sama, begitu pikirnya.
Saat pintu ruang kerjanya di buka oleh seseorang, di waktu itu lah lamunan Zeon terbuyarkan.
"Maaf Tuan, rapat sudah mau dimulai." Galang memberitahu.
Zeon hanya mampu memejamkan matanya untuk mengusir perasaan yang tiba-tiba aneh muncul.
Rapat dimulai dan pasti akan bertemu Zelea di sana, begitu pikirnya. Entah mengapa saat ini menjadi sesuatu yang ingin Zeon hindari.
Namun tidak dapat Zeon lakukan, ia harus tetap profesional dalam pekerjaan, dan ahirnya dengan sangat berat hati Zeon mengikuti rapat pagi ini.
Untung selama rapat berjalan Zeon mampu menguasai diri fokus dengan pekerjaan, hingga waktu dua jam di dalam ruang rapat tidak begitu terasa lama.
Dan setelah tiba jam makan siang, Zeon menepati acara yang dibuat semalam, atas bantuan Robby tentunya.
Saat masih dalam perjalanan di dalam mobil Zeon merasa sudah tidak sabaran untuk segera mengetahui jawabannya.
Dan hatinya begitu sangat yakin pasti akan terpana dan berdebar-debar jantungnya saat bertemu Nadin. Karena Nadin cantik dan seksi, begitu pikiran Zeon terus meyakinkan.
Namun saat Zeon sudah sampai di restoran dan masuk ke ruang VVIP, langkahnya langsung terhenti begitu juga saat matanya benar-benar melihat gadis cantik yang duduk di sana.
Rasa penasarannya hilang seketika berganti pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya.
__ADS_1
Kemana debaran-debaran itu? Kemana perasaan terpana itu? Kemana rasa yang dikatakan tertarik dengan wanita?
Aku merasa biasa saja.
Senyum yang manis itu memang sangat menawan, tapi Zeon hanya menghela nafas panjang seraya berjalan mendekat ke meja.
"Tuan Zeon ya? Saya Nadin," ucapnya memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan.
Suara yang lembut, senyum yang manis, pembawaannya tenang, benar yang dikatakan oleh Robby dia wanita sosok pemimpin, begitu hati Zeon mempercayai seraya menjabat tangan Nadin.
Mereka mutuskan makan siang lebih dulu, setelah makan selesai masih diam belum ada yang mau buka suara.
Jelas Nadin malu sebagai wanita dan tentu lebih menunggu Zeon yang harus bicara lebih dulu walau sekedar basa-basi.
Sampai sepuluh menit kemudian ahirnya Nadin mutusin bicara lebih dulu, karena menunggu Zeon yang malah setia dengan diamnya.
Zeon ... Zeon, kamu yang mengajak ingin ketemu tapi kamu juga yang malah diam, begitulah mungkin cibir Robby andai melihat situasi saat ini.
"Aku sudah mengenalmu jauh sebelum Tuan Robby menghubungi aku." Begitu Nadin memulai buka suara.
Zeon keningnya langsung berkerut, kok bisa? Pikirnya seraya terus menatap Nadin yang sejak tadi tersenyum manis kearahnya.
"Karena aku kakak kelas dua angkatan dari kamu, ya usia kita sedikit beda." Nadin sedang mengingat sesuatu. "Aku masih ingat bahwa kita satu kampus di luar negeri, mungkin kamu tidak kenal sama aku."
"Oh, ya?" Zeon sedikit tertarik dengan cerita Nadin.
Nadin mengangkat kepala dan menatap Zeon lagi. "Ya, siapa sih yang tidak mengenal Zeon Alexa yang terkenal geniusnya." Nadin tertawa.
"Aku biasa saja, masih banyak yang lebih hebat dari aku." Zeon ikutan tertawa.
Nadin berpikir sejenak sebelum ahirnya bicara lagi, "Dan ... Saat tuan Robby mengundang makan siang bersama kamu tentu langsung aku setujui." Nadin menghentikan ucapannya. Menatap penuh dalam ke arah Zeon. "Apa kita bisa sahabatan?"
Nadin langsung menundukkan kepalanya, merasa malu dengan pertanyaannya.
Zeon menghela nafas panjang, kini tujuannya untuk bertemu Nadin jadi berubah. Sahabat ya sahabat, itu lebih baik. Zeon tersenyum kecil. "Baiklah kita sahabatan."
Dan jawaban Zeon itu langsung membuat Nadin bahagia.
Pertemuan mereka berdua tidak berjalan lama karena harus kembali ke kantor masing-masing.
Zeon yang sudah sampai di perusahaan, langsung merasa pening lagi kepalanya, kerja jadi tidak konsen.
__ADS_1
Ahirnya dari jam siang hari sampai tiba sore hari jam kerja pulang, Zeon tidak melanjutkan pekerjaannya hanya duduk bersantai.
Dan setelah keluar dari perusahaan, Zeon tidak langsung pulang, tapi melajukan mobilnya menuju klub malam.
Hari memang masih sore, tempat hiburan tersebut juga baru saja buka pukul empat sore tadi.
Setelah duduk rumayan lama ahirnya Robby datang tepat pukul enam sore, hari sudah mulai mau petang.
"Wah ... Sekarang mainnya sampai ke klub-klub juga," seloroh Robby disertai tawa sebelum ahirnya duduk di kursi sofa yang sama dengannya.
Setelah mendudukkan diri, Robby memesan beberapa minuman, ia juga menyalakan rokok.
Setelah minuman datang, Robby menuangkan ke dalam gelas. "Kamu gak mau mencoba ini."
Ini yang dimaksud Robby adalah minuman alkohol, Zeon hanya melirik sekilas saja tanpa minat mau mencicipi.
"Hahah," Robby tertawa lagi. "Kamu datang ke klub tanpa minum minuman kayak gini sia-sia deh, percuma!"
Zeon memandangi Robby yang sudah meneguk minuman beralkohol itu sebanyak empat gelas ukuran kecil.
Kini Robby menjeda minumnya dan mulai serius untuk mengobrol sama Zeon.
Waktu sudah pukul setengah tujuh malam. Pesan masuk dari Daday menanyakan dirinya kemana?
Bersamaan pesan yang ia kirim sukses, Robby angkat bicara.
"Benarkan kata aku, kamu jatuh cinta. Apa kamu tertarik sama wanita yang ada di tempat ini sekarang?" Robby menggelengkan kepala. "Kamu cukup mengakui dan katakan sama dia sebelum dia dimiliki orang lain."
Dia memang sudah dimiliki orang lain, dia ibu tiri gue! Hah bahkan cukup dilihat saja sudah sangat rumit. batin Zeon.
Zeon menggelengkan kepala. "Aku tidak akan ungkapkan perasaan ke dia."
Hahah. Robby tertawa lagi. "Kenapa kamu menyerah begitu, asli kamu gak akan bisa jalani hari andai tidak bersama dia."
Zeon langsung melempar bantal sofa ke Robby. "Sok tahu kamu!"
Robby menangkap bantal dan meletakkannya di sebelah. "Aku bisa jamin." Tidak mau menanggapi cibiran Zeon lagi, Robby milih melanjutkan minum.
Ahirnya tepat pukul sembilan malam Zeon pergi dari klub malam.
Saat mobil sudah sampai di mansion, disambut dengan senyum ramah sekuriti.
__ADS_1
Zeon langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion. Karena merasa haus Zeon membawa langkahnya menuju dapur.
Namun saat mau tiba di dapur, di pintu antara ruang makan dan dapur langkahnya terhenti saat bersitatap dengan Zelea yang habis keluar dari dapur.