Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB. 60. Penuh bahagia.


__ADS_3

Dua hari setelah hari kesibukan itu, tadi pagi Zeon dan Zelea sudah resmi menikah menjadi pasangan suami istri.


Dan sore nanti hingga malam acara di langsungkan di sebuah hotel mewah, untuk menjamu para sahabat, teman, dan kolega bisnis dari Zeon.


Sejak pagi tadi Retno sudah menemani Zelea, hingga saat ini Zelea yang sedang di rias serta menggunakan gaun pengantin untuk acara sore nanti.


Lantai satu tempat acara pernikahan, sudah di sulap menjadi pesta yang megah, bunga-bunga ada di setiap tempat, di susun dengan rapi, serta lampu besar yang terlihat cantik, cahayanya begitu terang.


Sore hari para tamu undangan sudah mulai berdatangan, untuk menyaksikan pesta pernikahan.


Retno mendekati Zelea, membawa tangan Zelea untuk melingkar di lengannya, Retno meminta Zelea untuk tenang, kemudian mereka berjalan bersama keluar dari ruang tersebut dan menuju lantai satu.


Setelah berada di dalam lift, Retno bisa merasakan bahwa saat ini Zelea begitu gugup, tangan gadis itu terasa dingin padahal sudah menggunakan selaput tangan. Seolah mampu menembus kulitnya.


Retno terus mengatakan bahwa Zelea harus tenang, karena jika gugup tidak akan terlihat cantik, dan hal itu membuat Zelea kesal dengan Retno, di saat ia lagi merasa gugup-gugupnya, tapi Retno mencandai.


Bersamaan pintu lift terbuka, Zelea berbisik di telinga Retno, "Anterin aku sampai bertemu Zeon."


Retno menjawab dengan anggukan kepala, kini mereka berjalan di atas karpet merah yang apa bila diinjak begitu terasa empuk dan lembut.


Semua mata yang ada di ruangan tersebut menatap ke arah mereka berdua, pengantin wanita yang terlihat cantik dan memikat, serta wanita cantik yang bersama pengantin juga tidak kalah memikat.


Zeon yang berdiri di pelaminan memandang Zelea tanpa kedip, seolah di ruangan ini tidak ada siapa pun, bahkan Zelea terlihat hanya berjalan sendiri menuju ke arahnya tanpa ditemani Retno.


Pandangan matanya hanya tertuju pada satu wanita yang bernama Zelea Anggraini. Wanita yang ia harus dapatkan dengan penuh perjuangan, hingga ahirnya hari ini bisa menjadi miliknya.


Zeon langsung menggapai tangan Zelea saat wanita itu telah sampai di hadapannya, dan tanpa aba-aba Zeon langsung memeluk Zelea membawa tubuh Zelea berputar-putar.


Seketika para orang-orang di dalam ruangan menjadi riuh melihat adegan romantis Zeon memperlakukan Zelea.


Retno sempat terdiam terpaku melihat tingkah pengantin, kemudian berbalik harus duduk seperti tamu undangan yang lain.


Setelah kedua pengantin sudah berada di pelaminan, tamu undangan semua berbaris hingga memanjang untuk memberikan selamat dan doa pada pengantin.


Retno yang menyukai mengabdikan momen, ia langsung mengambil sebuah kamera, dan mulai mengarahkan kamera untuk mengambil gambar.

__ADS_1


Bagian tempat duduk di dekat bunga anggrek, ada segerombolan wanita-wanita kelas atas, Retno mengabdikan foto mereka.


Kemudian beralih ke meja tidak jauh dari sana, segerombolan para pria, yang wajahnya jangan ditanyakan pasti tampan semua dan kaya semua. Retno tersenyum kecil saat mengarahkan kamera ke arah mereka lalu mengabdikannya.


Retno berjalan lagi dan mengambil gambar bagian dekorasi yang menurutnya bagus untuk ambil gambarnya.


Saat kamera mengarah ke pintu masuk ballroom hotel, tanpa sengaja jepritan foto yang Retno menangkap pria berparas tampan yang baru ia lihat, aura tegasnya sampai membuat Retno melongo.


Retno melihat hasil gambar foto tanpa sengaja yang diambilnya tadi, bibirnya tersenyum mengagumi pria tampan yang baru dilihatnya tadi.


Retno buru-buru berjalan dan mengarahkan kamera lagi saat pria tampan itu mengucapkan selamat untuk Zeon dan Zelea.


Ah, aku harus bertanya sama Zelea siapa nama pria itu, aku kan sudah punya fotonya tinggal aku tunjukan ke Zelea, gampang. batin Retno.


Retno memandangi punggung tegap itu yang saat ini masih terlihat bersakap-cakap dengan Zelea dan Zeon belum turun dari pelaminan.


"Rendi terimakasih sudah datang jauh-jauh ke sini hanya demi menghadiri pernikahan kami," ucap Zelea dengan mata berkaca-kaca, sangat senang sampai Rendi datang.


"Selamat Zelea dan Zeon semoga bahagia," ucap Rendi sebelum ahirnya turun dari pelaminan.


"Jangan melamun!" suara keras orang itu.


"Eh!" Retno terserak kaget, namun sesaat kemudian ia tersenyum malu-malu.


Orang itu melihat tangan Retno yang membawa kamera. "Bawa kamera kamu?"


Retno mengangguk masih tersenyum malu.


Orang itu memukul lengan Retno lagi. "Fotoin aku yang banyak." Kemudian langsung berjalan menuju pelaminan.


Dan sesuai permintaan orang itu, Retno mengarahkan kamera dan mengambil gambar foto sebanyak-banyaknya.


"Zeon, selamat."


"Terimakasih, Kak." Zeon memeluk Nofal.

__ADS_1


Kemudian beralih mengucapkan selamat untuk Zelea.


Setelah Nofal turun dari pelaminan, Retno berjalan mencari pria tampan tadi, tapi susah untuk mau menemukan, diantara banyaknya orang.


Saat Retno mau istirahat karena lelah, kakinya urung melangkah karena melihat Maharani datang.


Retno bukan tidak kenal siapa Maharani, dia adalah wanita musuhnya Zelea, tapi kenapa harus datang, apa kah diundang sama Zelea? Banyak pertanyaan di benak Retno.


Maharani berjalan anggun menuju pelaminan, menebar aura penuh arti, sesekali menyibak rambut hitam panjangnya ke belakang dengan gerakan elegan.


Begitu tiba di pelaminan, Maharani langsung menjabat tangan Zeon dan mengucapkan selamat, kemudian beralih ke tangan Zelea.


Tanpa Zelea sangka ternyata Maharani menarinya hingga mereka berpelukan, tapi bisikan Maharani membuat mata Zelea berkilat marah.


"Jangan bilang cantik kalau tidak bisa merebut pria beristri."


Setelah membisikkan kalimat itu, Maharani turun dari pelaminan, meninggalkan Zelea penuh rasa marah.


Kalau tidak ingat saat ini adalah acara pernikahannya, Zelea sudah ingin menampar pipi Maharani sampai mulut wanita itu robek.


Zeon mungkin tidak tahu apa yang Maharani bisikkan di telinga Zelea, tapi saat melihat aura Zelea yang berubah marah, Zeon yakin pasti sesuatu baru terjadi.


Zeon menarik Zelea ke dalam pelukannya. "Tenang, aku disini selalu bersamamu." Zeon mengecup puncak kepala Zelea.


"Apa sudah lelah, jika iya kamu boleh istirahat," ucap Zeon lagi.


Zelea menggeleng. "Tidak, acara baru mulai, masih banyak tamu undangan yang belum aku temui, dan mereka banyak yang baru berdatangan."


"Baiklah." Zeon kembali melabuhkan ciuman kali ini di bibir Zelea. Membuat Zelea terkejut tapi ia tidak bisa menolak, karena Zeon menahan lehernya. Dan baru disudahi saat mendengar godaan orang-orang.


"Hei pengantin sabar dulu sabar ...."


Hahahah! Tawa semua orang serempak.


Sungguh, demi apa? Zelea saat ini sangat malu atas tindakan Zeon yang di depan banyak orang. jangan tanyakan pipi Zelea yang sudah merah merona.

__ADS_1


Zelea mencubit pinggang Zeon, dan pria itu hanya tertawa, benar-benar menyebalkan.


__ADS_2