Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB. 94. Bentar-bentar hilang


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Pagi yang cerah, seorang wanita cantik berdiri di depan jendela kamar, tangannya sedang menyibak gorden, seketika sinar hangat mentari masuk ke dalam ruang kamar, melalui celah jendela.


Wanita cantik berkulit putih bersih, kulitnya tampak merah merona terkena sinar hangat mentari pagi.


Wanita cantik itu kemudian melangkah keluar dari pintu kaca yang di geser, kini berdiri di balkon kamar, berjemur diri di sana.


Rambut panjangnya yang hitam, tampak berkilau terkena sinar hangat mentari pagi. Serta angin pagi yang berhembus, menambah suasana segar pagi hari ini.


Zelea berdiri tepat menghadapi sinar hangat mentari pagi, sembari mengusap perutnya yang kini sudah berusia sembilan bulan.


Hasil pemeriksaan beberapa hari lalu, kehamilan Zelea diperkirakan akan lahiran dua hari lagi.


Tentu saat ini hari bahagianya, karena detik-detik akan bertemu dengan baby nya.


Zelea terus mengusap lembut perutnya, bibirnya terus melukis senyum.


Biasanya Zelea akan berjemur seperti ini ditemani oleh Zeon, namun kali ini Zelea hanya sendiri, karena Zeon sedang keluar kota.


"Nyonya, sarapannya sudah matang, saatnya Nyonya sarapan pagi."


Suara Bi Jum yang datang, membuat Zelea menoleh menatap Bi Jum yang kini berdiri di ambang pintu kaca.


"Baik, Bi. Sebentar, Bibi duluan saja," ucap Zelea yang masih ingin beberapa saat lagi berjemur.


BI Jum pergi dari sana, kembali lagi ke dapur.


Seperti ucapnya, setelah beberapa saat kemudian, Zelea menyudahi berjemurnya, dan masuk ke dalam kamar lagi.


Zelea tadi pagi sudah mandi, karena tadi masih mengunakan handuk kimono, kini Zelea berganti memakai baju dulu.


Setelah berpakaian, Zelea turun ke lantai satu menuju ruang makan.


Di meja makan, sudah tersaji makanan untuk sarapan, pagi ini menu makannya berupa bubur ayam kuah kuning.


Hemmm, aromanya wangi mengiurkan.


Zelea ambil posisi duduk, Bi Jum menggeser mangkuk berisi bubur ayam kuah kuning lebih ke hadapan sang Nyonya.


"Silahkan dinikmati, Nyonya."


"Terimakasih, Bi Jum," jawab Zelea.


Zelea begitu menikmati hari-harinya menjelang akan menjadi seorang ibu, menata pikiran supaya tidak stres, makan juga teratur, minum susu juga buah.

__ADS_1


Setelah sarapan pagi selesai, Zelea membawa mangkuk kotor ke wastafel dapur.


"Nyonya, tidak usah dicuci biar saya saja."


Suara Cika terdengar menghampiri, Zelea mengangguk, hanya mencuci tangan dan setelah selesai, langsung pergi.


Zeon sudah pergi sejak kemarin pagi, jadi sudah satu hari ini, Zeon yang bisanya menghibur Zelea, bisa membuat bumil tertawa, kini lagi sibuk di luar kota.


Zelea membuang nafas berat, kini duduk di ruang tengah, satu hari tidak bertemu sang Suami rasanya sudah rindu berat.


Apa lagi sejak Zeon berangkat ke luar kota, belum Vidio call sama sekali, karena Zeon sangat sibuk.


Semalam saat Zeon telepon, Zelea sudah tidur karena nungguin Zeon tidak telpon-telponan, dan pagi hari saat Zelea lihat, pukul dua belas malam Zeon telepon.


Pagi tadi juga Zeon tidak bisa telponan, intinya Zeon di luar kota sibuk sekali.


Zelea jadi merasa sendiri, seperti tidak ada teman, apa lagi sekarang Cika lagi sibuk nyelesein kerjaannya.


Gabut, tidak ngapa-ngapain, Zelea memainkan ponselnya, melihat-lihat acara masak-memasak.


Tiba-tiba Zelea ingin pipis, Zelea masuk ke kamar mandi yang ada di ruang tengah.


Namun Zelea melihat putihan di celana da-lam, Zelea tidak berpikir yang bukan-bukan, tetap tenang dengan apa yang baru dilihatnya barusan.


Ssss, desis Zelea, sembari mengusap perutnya.


Tidak lama rasa sakit itu datang, sebentar kemudian hilang.


Kali ini Zelea merasa sembelit, ahirnya mutuskan ke kamar mandi lagi, untung di ruang tengah ada kamar mandi, jadi tidak perlu naik ke lantai tiga tempat kamarnya.


Namun sampainya di dalam kamar mandi, Zelea tidak jadi buang hajatnya, rasa mulas tiba-tiba hilang.


Ahirnya Zelea hanya membasuh wajahnya di wastafel, Zelea melihat wajahnya yang kini nampak pucat.


Jangan panik jangan takut, uacpnya dalam hati.


Setelah mengelap kering wajahnya dengan tisu, Zelea keluar dan kembali duduk di kursi ruang tengah.


Zelea memperhatikan keadaannya, beberapa saat perut kembali sakit, bentar-bentar hilang bentar-bentar sakit lagi.


Zelea mengatur nafas, berusaha supaya tidak panik.


"Nyonya," suara Cika.


Hah, Zelea membuang nafas.

__ADS_1


"Nyonya mau makan salad?" tawar Cika, karena di jam segini biasanya sang Nyonya selalu makan salad.


Apa aku mau melahirkan, tanda-tanda ini seperti tidak asing aku dengar, tapi kan belum waktunya, masih dua hari lagi jadwal aku lahiran, aku harus tenang, batin Zelea. Kini tidak pedulikan Cika yang lagi bertanya.


"Nyonya," suara Cika memanggil lagi sembari menggerakkan tangan di depan wajah Zelea.


"ah, Cika!" Zelea kaget, baru sadar ada Cika.


"Nyonya kenapa? kenapa Nyonya terlihat gugup?" Cika khawatir, karena tidak biasanya melihat Zelea seperti ini.


Plis, Nyonya jangan sampai kenapa-napa, karena Tuan Zeon lagi di luar kota, batin Cika.


Zelea tidak bisa seperti ini terus, ia harus mencari kesibukan untuk mengalihkan rasa sakit yang bentar-bentar datang bentar-bentar hilang.


"Cika, bahan untuk membuat kue karamel masih ada tidak?"


"A-ada, Nyonya." Gantian Cika yang melamun.


Zelea langsung berdiri menuju dapur. "Bantuin aku membuat kue karamel, Cika."


Dengan mencari kesibukan membuat kue karamel, Zelea harap bisa mengalihkannya dari rasa sakit.


Zelea tidak berani mengartikan dari rasa sakit di perutnya itu, karena terpaku ucapan dokter yang mengatakan jadwal melahirkannya dua hari lagi.


Jadi Zelea hanya menganggap ini adalah kontraksi awal.


Cika menyiapkan semua bahan untuk membuat kue karamel.


Zelea mulai panaskan gula di atas panci sampai meleleh, menggunakan api kecil. Kalau api besar nanti gula bisa gosong dan kue menjadi pahit. tidak perlu diaduk-aduk biarkan meleleh sendiri.


Setelah meleleh sempurna tambahkan air panas pelan-pelan dan hati-hati agar tidak kecipratan.matikan api lalu biarkan dingin.


Ssss, Zelea mendesis lagi begitu selesai mematikan kompor.


Cika yang melihat hal itu, langsung mendekati Zelea. "Nyonya!"


"Cika, antarkan aku ke dokter?" pinta Zelea, kini tubuhnya di bantu di tahan Cika, bila tidak Zelea sudah dapat dipastikan ambruk ke lantai.


"Baik, Nyonya. Kita ke rumah sakit sekarang." Cika langsung membantu Zelea pergi dari dapur.


Begitu tiba di halaman mansion, Cika langsung minta tolong ke supir pribadi Zelea untuk mengantar ke rumah sakit.


Siang itu dengan di temani Cika dan diantar supirnya, Zelea pergi ke rumah sakit.


Untungnya jalanan tidak macet, jadi Zelea tiba di rumah sakit kurang dari tiga puluh menit.

__ADS_1


__ADS_2