Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 64. Zelea pingsan.


__ADS_3

Zelea.


Setelah menikah selama dua bulan ini, kegiatan Zelea hanya berada di dalam mansion, perasaan bosan tentu ada, tapi untuk bekerja lagi seperti dahulu di kantor, sudah tidak mungkin karena Zeon tidak mengijinkan.


Zeon mau istrinya di mansion saja, tidak usah bekerja cukup duduk manis.


"Aku mau istriku tidak merasa capek, tidak usah melakukan pekerjaan apa pun, kalau mau belanja ngabisin uang aku boleh, tapi bekerja jangan."


Ucapan kalimat Zeon kala itu, suaminya itu memang selalu bisa membuat Zelea bahagia. Bukankah impian semua wanita ingin punya suami yang bisa memperlakukan bak ratu.


Dan saat ini Zelea merasakan di posisi itu, namun ternyata rasanya cukup membosankan apa bila hanya bersantai saja.


Jalan-jalan ke mall setiap hari rasanya juga bosan, dan alhasil Zelea mencari kesibukan dengan mengurus tanaman di halaman belakang mansion.


Awalnya Zeon tidak setuju, tetap menggunakan alasan tidak mau Zelea kecapean, namun karena perlahan Zelea menjelaskan untuk mengalihkan rasa bosan, ahirnya Zeon memberi izin dan mau mengerti.


Dan pagi tadi setelah Zeon berangkat kerja, Zelea langsung menuju halaman belakang, dimana banyak tanaman jenis sayuran buah, seperti tomat, dan cabai.


Biasanya ada seorang ahli tani dari kelulusan sarjana pertanian, yang datang ke mansion untuk mengajari Zelea cara merawat tanaman.


Namun untuk hari ini orang tersebut tidak datang, Zelea menyiram tanaman sendirian.


Tidak jauh dari tempat Zelea berdiri ada pelayan tukang kebun, juga Rere pelayan pribadi Zelea.


Saat sedang asyik menyiram tanaman tomat, Zelea merasakan mual, namun sebentar kemudian rasa mual itu hilang, Zelea lanjut menyiram tanaman tomat lagi.


Ternyata selama Zelea menyelesaikan menyiram tanaman tomat, rasa mual terus melandanya, namun ia tahan.


Rere yang melihat wajah Zelea seperti menahan sesuatu jadi khawatir dan cemas.


"Nyonya apa Anda sakit?" Rere mendekat, mengambil alih kran yang Zelea pegang.


"Tidak apa-apa, aku kembali ke kamar, tolong selesaikan," pinta Zelea dan segera berjalan menuju pintu masuk.


Rere sempat melihat dahi Zelea bercucuran banyak keringat, namun karena Zelea berkata baik-baik saja, maka Rere tidak khawatir lagi, dan lebih milih melanjutkan menyiram yang tinggal sedikit itu.


Dan baru saja Rere melanjutkan penyiraman, tiba-tiba mendengar suara teriakan dari dalam mansion.


"TOLONG ...."


Rere seketika berlari cepat masuk ke dalam mansion, dan langsung terkejut saat melihat para pelayan mengerubungi Zelea.


"Ada apa dengan Nyonya?" tanya Rere panik.


"Nyonya tiba-tiba pingsan di dekat tangga," jawab salah satu pelayan di sana.

__ADS_1


"Minyak angin mana minyak angin!" teriak Rere, kini ia yang paling merasa ketakutan, karena Zelea adalah tanggung jawabnya, memastikan Zelea baik-baik saja adalah tugas besarnya.


Tidak tahu apa yang akan terjadi padanya andai Zeon mengetahui keteledorannya sampai Zelea pingsan.


Salah satu pelayan datang memberikan minyak angin ke tangan Rere, dan Rere dengan tangan gemetar mengolesi minyak angin di hidung Zelea.


Dan hal seperti ini tidak bisa jika hanya didiamkan saja, Rere ahirnya menghubungi Zeon, meski takut menghadapi amarah pria itu, tapi sudah tugasnya apa pun yang terjadi pada Zelea harus wajib melapor ke Zeon.


*


*


*


"Tolong lebih cepat, Pak!" perintah Zeon ke sopirnya, entah sudah berapa kali Zeon memerintah sang sopir untuk lebih cepat mengendarai mobilnya.


Karena saat ini Zeon seperti sedang mengejar waktu ingin segera tiba di mansion, setelah mendapat kabar Zelea pingsan.


Padahal mobilnya saat ini tengah melaju cepat, tapi bagi Zeon seolah laju ini masih lambat, apa bila makin cepat lagi sang sopir takut akan membahayakan nyawa.


"Damned!" Zeon memaki rasanya begitu kesal tidak segera sampai-sampai, apa lagi saat mendapat telepon dari Rere lagi, makin membuat Zeon takut campur frustasi.


"Nyonya belum sadarkan diri, Tuan."


"Tambah kecepatan lagi, Pak!" seru Zeon yang sudah tidak bisa sabar lagi.


Setibanya di mansion, Zeon langsung keluar dari dalam mobil dan berlari cepat menuju pintu masuk.


Semua pelayan menunduk saat melihat Zeon datang.


Zeon langsung menghampiri wanita tercintanya yang saat ini sedang berbaring di kursi sofa.


"Ze ..." Zeon tidak bisa melanjutkan ucapannya, mendadak takut mendadak begitu khawatir, tiba-tiba teringat ayah dan ibunya yang pergi secara dadakan.


Zeon langsung membopong tubuh Zelea, ia bawa masuk ke dalam mobil.


Zeon duduk di kursi belakang dengan memangku kepala Zelea, dan mobil melaju menuju rumah sakit.


*


*


*


"Dokter ... Suster, tolong istri saya," pinta Zeon, ia sangat memohon bahwa dokter dan suster tersebut bisa menyelamatkan Zelea.

__ADS_1


Kini Zeon duduk di kursi tunggu depan ruang UGD, dan Zelea berada di dalam sana.


Zeon menunggu dengan perasaan cemas, hal seperti ini baru terjadi, selama ini Zelea baik-baik saja.


Tidak pernah melihat Zelea sakit, tapi apa hari ini? Zelea tiba-tiba pingsan dan lama tidak sadarkan diri.


Namun di dalam ruang UGD, dokter sedang memeriksa Zelea, semua keadaan Zelea baik-baik saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Dokter itu tersenyum ke arah Suster, seolah sedang berbicara dengan bahasa mata. Kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya.


Zeon langsung berdiri saat Dokter membuka pintu. "Dok, bagaimana istri saya?" tanya Zeon, suaranya terdengar begitu panik.


Namun dokter tersebut tersenyum. "Tenang, Tuan. Istri Tuan baik-baik saja."


Terdengar helaan nafas kelegaan dari bibir Zeon, sebelum ahirnya Dokter melanjutkan ucapannya.


"Sepertinya istri, Tuan. Sedang hamil, silahkan periksakan ke dokter kandungan untuk mengetahui hasil yang sebenarnya."


"Ya nanti saya ke dokter kandungan," ucap Zeon, ia belum menyadari saat bicara itu, dan setelah beberapa saat baru sadar arti yang dokter itu ucapkan.


"Hamil ke dokter kandungan," ulang Zeon lagi.


"Zelea hamil!" kini berteriak dengan perasaan begitu bahagia, dan ingin mempertanyakan ke dokter tadi, tapi sudah tidak ada di hadapannya.


Zeon masuk ke ruang UGD, bibirnya tersenyum saat melihat Zelea, meski saat ini Zelea masih tidur.


Zeon meraih tangan Zelea lalu digenggamnya. "Terimakasih sudah mau mengandung anakku," ucapnya tulus sangat bahagia.


Zeon menunduk mencium kening Zelea dalam-dalam. Kemudian duduk di kursi sebelah ranjang.


Masih memandang lekat-lekat wajah Zelea, yang tidur pulas meski dengan wajah pucat.


"Maaf, Tuan. Pasien harus kami pindahkan ke ruang rawat."


Sebuah suara dari suster tiba-tiba Zeon dengar, Zeon mempersilahkan Suter tersebut membawa Zelea ke ruang rawat.


Zeon berjalan mengikuti di belakangnya, Zeon berencana akan segera mengajak Zelea periksa kandungan setelah Zelea siuman.


Kini Zelea sudah masuk ke ruang rawat, setelah para suster pergi, Zeon masuk untuk menemani Zelea.


Malam harinya setelah Zelea sadar, ia terkejut mendapati dirinya sudah di rumah sakit.


Dan Zeon menjelaskan ke Zelea bahwa tadi Zelea pingsan. Kemudian Zelea mengingat kronologinya, setelah menyiram tanaman kemudian masuk ke dalam mansion, dan ingin naik tangga, tapi setelah itu sudah tidak ingat lagi kejadiannya.


"Kata dokter kamu hamil."

__ADS_1


__ADS_2