
Keesokan harinya.
Di dalam sebuah rumah yang sedang mempunyai sebuah acara sakral di dalamnya. Hari ini putri satu-satunya telah menikah, ibunya tidak henti-henti menangis haru sembari menciumi putrinya.
"Semoga bahagia selalu, Nak?"
Setelah ibunya yang memeluk, bergantian ayahnya yang kini memeluk pengantin wanita itu.
Ayahnya juga menangis, terharu karena sekarang putrinya sudah menyandang status istri orang, bukan putri kecilnya lagi.
"Maafkan Papa, kalau Papa ada salah, semoga kamu bahagia."
Milli juga ikutan menangis seperti halnya kedua orang tuanya.
Pernikahan ini hanya dihadiri keluarga inti, tidak banyak orang di ruangan ini.
Zelea juga Zeon mengucapkan selamat pada Nofal juga Milli.
Bagas juga ikut hadir, ikut mengucapkan selamat pada Nofal dan Milli.
Sekarang acara gantian untuk makan-makan, ya sesederhana ini acara pernikahan mereka berdua.
Milli masuk ke dalam kamar, untuk mengganti bajunya, barusan ia menggunakan gaun pengantin yang Nofal belikan.
Karena mau acara makan-makan jadi Milli mau ganti baju, apa lagi setelah ini tidak ada acara lagi, jadi merasa tidak perlu memakai gaun pengantin terus-menerus.
Begitu acara makan-makan selesai, ibu Milli mengajak Zelea untuk bicara berdua.
Setelah mendapat ijin dari Zeon, Zelea mengiyakan ajakan ibu Milli.
Kini mereka berdua sedang duduk di gazebo taman belakang, sekarang masih pagi menjelang siang, baru pukul Sembilang pagi. suasana duduk di gazebo sangat nyaman. hembusan angin terasa semilir.
"Kamu istrinya, Tuan Zeon?" tanya Ibu Milli membuka pembicaraan.
"Iya, Nyonya."
"Panggil saya Ibu," ucap Ibu Milli, "Saya tidak terbiasa dipanggil Nyonya."
"Baik, Bu." Zelea patuh.
Ibu Milli tidak kembali bicara, nampak sedang berpikir, berulang kali membuang nafas panjang, dengan tatapan lurus ke depan.
Zelea yang memandang Ibu Milli, seolah ada sesuatu yang sedang dikhawatirkan, dan hal itu benar adanya, setelah Zelea kembali mendengar Ibu Milli kembali bicara.
"Saya belum mengenal seperti apa suami Milli, tapi saya berharap dia bisa membahagiakan, Milli."
Suara ibu Milli terdengar begitu sedih dan khawatir, Zelea tersenyum.
"Ibu, tenanglah ... Semua pasti akan baik-baik saja, saya cukup mengenal baik Nofal suami Milli," ucap Zelea menenangkan.
Ibu Milli menoleh ke arah Zelea. "Kamu benar, Nak? Tapi perasaan seorang ibu tetap merasa khawatir," imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Zelea beringsut mendekat hingga kini memeluk ibu Milli, Zelea bermaksud menenangkan ibu Milli yang begitu khawatir terhadap keadaan putrinya yang baru menikah.
Zelea jadi iri sama Milli yang begitu dicintai oleh Ibunya, karena saat Zelea menikah kedua orang tuanya tidak hadir, karena sudah meninggal. Membuatnya tidak seberuntung Milli.
Zelea melerai pelukannya, mengusap bahu Ibu Milli supaya tenang.
"Maaf ya? Malah jadi nangis seperti ini," ucap ibu Milli sembari menghapus air matanya.
"Tidak apa-apa, Bu? Saya mengerti keadaan, Ibu." Zelea tersenyum.
"Terimakasih ya, Nak. sudah mau mendengar curhatan, Ibu."
Zelea mengangguk. "Iya, Bu."
Ibu Milli menghapus air matanya, mengatur nafas supaya lebih tenang. Dan setelah merasa lebih baik, kini pandangan mata ibu Milli ke arah perut buncit Zelea.
Tangan Ibu Milli terulur mengelus perut Zelea. "Sudah berapa bulan, Nak?"
"Tujuh, Bu."
"Wah ... sebentar lagi sudah mau bertemu papa dan mama nih," seloroh ibu Milli.
Zelea tertawa kecil mendengarnya.
"Sudah di USG? Laki-laki atau perempuan?" Tangan ibu Milli masih mengusap perut Zelea.
"Sudah di USG, tapi belum mau melihat jenis kelaminnya," jawab Zelea.
Ibu Milli manggut-manggut. "Em ... Gitu?"
Sebuah suara menghampiri mereka berdua, Ibu Milli langsung menyambut orang itu.
"Papa, kenapa malah menyusul Mama disini? Mama lagi ngobrol nih sama istrinya, Tuan Zeon."
"Ma ... Nona Zelea mau diajak pulang makannya Papa kemari," jelas ayah Milli.
"Ah, jika seperti itu saya permisi duluan, Buk. Pak." Zelea menunduk hormat sebelum dirinya bangkit dari duduknya.
"Kita sama-sama, Nak Zelea." Ibu Milli juga ikutan bangkit dari duduknya.
Mereka bertiga kembali masuk ke dalam rumah.
Setibanya di ruang tengah, Zeon langsung menyambut Zelea, berdiri di depan wanitanya.
"Kita pulang sekarang ya?" ajak Zeon, yang langsung mendapat anggukan kepala Zelea.
"Bu, Pak. Kita pamit," ucapnya pada kedua orang tua Milli.
Berpamitan juga dengan Nofal dan Milli.
Mereka semua ikut mengantar Zelea dan Zeon pulang sampai di depan teras rumah.
__ADS_1
Keluarga dari orang tua Milli juga sudah pada pulang, kini tinggallah Milli bersama kedua orang tuanya dan juga Nofal.
"Kalian istirahat, mungkin ada yang mau kalian bicarakan supaya lebih kenal satu sama lain," ucap Ibu Milli sembari menepuk bahu Nofal.
Ibu dan ayah Milli masuk ke dalam rumah, Nofal dan Milli ikut menyusul masuk ke dalam.
Milli mengajak Nofal masuk ke dalam kamarnya, ini adalah menjadi kali pertamanya ada seorang pria yang bukan keluarga sebelumnya, masuk ke dalam kamarnya. Pria itu adalah suaminya sekarang.
Mengingat hal ini Milli hanya bisa menghela nafas panjang.
Nofal tersenyum kecil setelah masuk ke dalam kamar Milli, benar-benar desain kamar cewe.
"Beginilah kamar aku, tidak masalah kan?"
Suara Milli memecah keheningan.
Nofal menggeleng. "Tidak masalah."
"Maaf," ucap Milli selanjutnya.
"Aku yang harusnya minta maaf sama kamu," ucap Nofal.
Milli dan Nofal yang masih saling berdiri kini saling berpandangan.
Namun setelah sadar, Milli memalingkan wajahnya.
"Karena aku kamu jadi banyak mengorbankan masa depan." Tiba-tiba Nofal bertekuk lutut di hadapan Milli.
"Eh, jangan seperti ini." Milli menggeleng, tidak mau Nofal berlaku berlebihan, lagian semua sudah terjadi.
Nofal menggeleng, bertanda tidak mau menghentikan yang sudah dilakukannya saat ini.
"Tolong jangan marah sama dia." Nofal mengusap perut Milli. "Jangan sampai kehadiran aku dan dia menjadi penghalang kamu meraih cita-cita."
"Aku selalu mendukung apa pun rencana kamu," lanjut ucap Nofal.
Tanpa sadar Milli malah meneteskan air mata, dan Nofal langsung berdiri menghapus air mata yang membasahi pipi mulus Milli.
Malam hari.
Ini adalah kali pertama Nofal makan malam bersama keluarga Milli.
Ibu Milli ramah mau mengajaknya ngobrol, berbeda dengan ayah Milli yang cuek terhadapnya.
Namun Nofal tidak akan membuat pusing, semua pelan-pelan saja.
Setelah makan malam selesai, Nofal dan Milli masuk ke dalam kamar.
Mereka malam ini tidur bersama, tidak ada saling memeluk, Milli tudur memunggungi Nofal.
Nofal memandangi punggung wanita yang dicintainya itu, yang kini sudah mendengar nafas teratur Milli, bertanda wanita itu sudah tidur saat ini.
__ADS_1
Terimakasih sudah mau menikah dengan aku, batin Nofal.
Saat ini Nofal benar-benar merasa bagia, ahirnya keinginannya untuk bisa bersama Milli telah tercapai.