
Brakk!
"Zelea!"
Radit membuka pintu gudang dengan kasar, karena khawatir dengan keadaan Zelea di dalam sana.
Setelah Zeon mengatakan mengurung Zelea di dalam gudang, Radit langsung pergi meninggalkan Zeon dan mendatangi gudang.
Radit melangkah masuk mendekati Zelea, berjongkok di depan wanita itu yang saat ini duduk bersandar di dinding.
"Ze ... kamu tidak apa-apa? Maafkan putraku," ucap Radit penuh rasa bersalah, tangan Radit mengusap air mata Zelea, pria itu tidak tahu bahwa saat ini Zelea sedang berakting menyedihkan.
"Hiks, putra Mas jahat sekali sama aku hiks hiks."
Semoga Mas Radit percaya dengan sandiwaraku, aku ingin anak nakal itu dimarahi Mas Radit, batin Zelea, ekor matanya melirik Radit melihat ekspresi pria itu.
"Nanti aku akan bicara dengan putraku, sekarang kita ke kamar," ajak Radit.
Zelea menurut, dan mereka keluar dari gudang dengan saling menggenggam tangan, Radit merangkul pundak Zelea, wanita itu masih berakting sedih.
Di ujung tangga lantai tiga, Zeon mengepalkan tangannya saat melihat pemandangan mesra itu, dan langsung kembali masuk ke dalam kamar, karena Radit dan Zelea akan menuju lantai tiga.
Setelah sampai kamar, Radit mendudukkan Zelea di pinggir ranjang, mengusap rambut Zelea yang lurus. Dengan usapan lembut dan sayang.
"Dia namanya Zeon. Putra kedua aku. Sebenarnya dia anak yang baik, hanya saja dia belum mengenal kamu, dan saat tadi berada dalam salah paham. Tapi aku sudah menjelaskan tadi padanya tentang status pernikahan kita yang tidak selamanya."
"Maafkan aku ... Tidak ada maksud membuat kamu tidak diterima oleh anak-anakku, tolong mengerti," lanjut ucapnya.
Zelea masih sesenggukan. "Aku mengerti Mas, maafkan aku juga."
Radit tersenyum, tangannya mengusap puncak kepala Zelea.
"Istirahatlah, aku mau mandi." Radit bangkit dari duduknya, saat berjalan ke arah ranjang baju kotor, matanya melihat koper milik Zelea.
Radit menoleh ke belakang menatap Zelea kembali. "Ze ... Ini koper milikmu?"
Mendapati pertanyaan seperti itu dari Radit, Zelea seketika gelagapan, bingung mau menjawab apa? Pasti tadi Bi Jum yang membawa masuk koper itu pikirnya.
Radit masih berdiri menunggu jawaban Zelea.
"Em itu em ... Tadi aku sengaja keluarkan karena lemarinya penuh, dan setelah aku rapihkan kembali, tapi aku lupa menyimpan kopernya lagi. Hehe, ya begitu. Mas?"
Radit manggut-manggut, dan tidak melanjutkan pertanyaan lagi, setelah melepas pakaian kerja, Radit masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Zelea menghela nafas lega seraya memegangi dada, Zelea berjalan mendekati kopernya dan segera mengeluarkan pakaiannya dan menyusun kembali pakaiannya ke dalam lemari, sebelum Radit keluar.
Malam ini disambut dengan suasana yang beda, bahkan saat makan malam juga terasa beda, Zelea terus merasa di tatap tajam oleh Zeon sepanjang makan malam dan sampai makan malam selesai.
Bahkan saat Zelea sudah berbaring di atas ranjang, pikirannya masih teringat Zeon. Pria dingin yang menurut Zelea lebih menakutkan dari pada Nofal.
Zelea merinding, bagian hatinya membenci Zeon, karena pria itu dirinya gagal kabur.
Setelah malam semakin larut, ahirnya Zelea tertidur.
*
*
*
Zeon melangkahkan kakinya masuk ke kantor polisi, dengan langkah tegap tanpa melepas kaca mata hitamnya, Zeon berjalan masuk ke dalam untuk menemui sang Kakak.
Semalam Radit sudah menjelaskan pada Zeon, tentang Nofal yang harus bertanggung jawab karena ulahnya, dan pagi ini Zeon segera menemuinya.
"Zeon?" ucap Nofal setelah melihat Zeon, sang adik yang sudah lama tidak bertemu.
Zeon tersenyum kecil, bangkit dari duduknya. Berjalan mendekati Nofal.
"Aku tidak baik, aku juga tidak bahagia," ucap Nofal. Keduanya kemudian tertawa.
Harusnya tanpa ditanya kabar, Zeon udah tahu, mana mungkin di penjara akan baik-baik saja, begitulah arti tawa Nofal.
Mereka kemudian duduk dengan saling berhadapan.
"Kamu jangan meniru jejakku, jadilah putra kebanggaan Daddy," ucap Nofal memecah keheningan.
Zeon terkekeh.
Aku saja ilfil dekat dengan wanita, bagaimana bisa aku meniru jejakmu. Hah jangan sampai terjadi, batin Zeon.
"Entahlah, aku sudah kecewa sama Daddy." Zeon menghela nafas berat.
Nofal tersenyum miring.
Pasti Zeon kecewa karena Daddy menikah lagi, sepertinya aku bisa manfaatkan situasi ini, untuk bisa balas dendam pada Zelea. Zelea! Aku tidak terima dengan perbuatanmu!
Lihat saja aku akan balas! Batin Nofal.
__ADS_1
"Karena Daddy menikah lagi." Nofal mencoba tebak, dan Zeon mengangguk.
"Jangan kan kamu, aku saja kecewa. Apa lagi setelah Daddy menikahi wanita itu, tidak peduli lagi sama aku." Nofal berhenti berkata, melihat ekspresi wajah Zeon, dan tersenyum bahagia saat mendapati wajah Zeon yang semakin nampak kesal.
"Aku tidak bisa membuat Daddy pisah dengan wanita itu, karena kau tahu kan aku saat ini berada di penjara. Dan ini tugas kamu untuk memisahkan mereka."
"Tapi tidak seru andai kau tidak memberi perhitungan pada wanita licik itu, siksa dia jangan sampai dia bisa mengambil harta Daddy," lanjut ucapnya, memprovokasi hal licik pada Zeon.
Benar-benar wanita jahat! Sudah merebut posisi Mommy, tapi juga mau menguasai harta Daddy, tidak akan aku biarkan hal itu terjadi! Batin Zeon.
Waktu berkunjung sudah selesai, sebelum pergi Zeon dan Nofal saling berpelukan, Zeon pergi dengan perasaan makin kesal pada Zelea, sedangkan Nofal kembali ke sel dengan perasaan bahagia karena baru saja memprovokasi Zeon.
Tidak perlu mengotori tangannya, tapi dendam terbalaskan melalui Zeon, begitulah pikirnya.
*
*
*
Zeon mengendarai mobil dengan mengebut, hanya butuh waktu dua puluh menit sudah sampai di Alexa Group.
Zeon melangkahkan keluar salah satu kaki jenjangnya dari pintu mobil, sebelum ahirnya disusul kaki satunya hingga berdiri tegak di samping mobil seraya menatap gedung tinggi pencakar langit milik ayahnya.
Saat masuk ke dalam perusahaan, kehadiran Zeon sontak jadi pusat perhatian para karyawan terutama karyawan wanita. Wajah tampan yang baru dilihatnya itu.
Zeon terus berjalan masuk ke dalam lift, tanpa bertanya receptionist, Zeon sudah tahu ruang kerja ayahnya.
Setelah sampai di depan pintu ruang Presdir, Zeon langsung membuka pintu tanpa mengetuk lebih dulu, dan untungnya pintu tidak kunci.
Dan kedatangan Zeon itu disambut beda oleh dua orang di dalam sana.
Apa bila Radit senang melihat Zeon datang, tidak dengan Zelea, wanita itu cemberut. entah kenapa melihat wajah Zeon membuatnya benar-benar benci.
Huh! Zelea membuang nafas kasar seraya terus melanjutkan pekerjaannya.
"Zeon, duduklah." Radit mengajak Zeon untuk duduk di sofa.
Sebelum masuk ke topik pembicaraan, Zeon melirik Zelea dengan tajam. Dan pada saat itu juga Zelea menoleh, mereka sama-sama melirik tajam.
"Aku mau kerja di perusahaan Daddy," ucap Zeon setelah menatap ayahnya.
Deg!
__ADS_1