Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 63. Gadis bersuara lembut.


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Selama itu hari-hari dilalui dengan indah dan penuh kemesraan oleh Zelea dan Zeon. Rumah tangga yang begitu harmonis, saling mengerti tidak pernah ada pertengkaran besar.


Dan mereka berdua selalu mengusahakan agar selalu damai, mesra, dan semakin jatuh cinta terhadap pasangan.


Dalam hal sekecil apa pun selalu bicara, tidak ada yang namanya rahasia, keduanya saling membiasakan untuk jujur ingin membawa rumah tangganya menuju selalu bahagia.


Dan ternyata rasa bahagia juga dialami oleh Nofal, meski pria itu belum punya kekasih lagi, ternyata sampai sejauh ini masih betah menjomblo.


Entah apa alasannya, seolah jiwa Playboy nya yang dulu kini sudah melebur berubah menjadi pria singel sejati.


Hingga suatu siang terjadi, Nofal mengunakan baju kaos hitam, kemudian meminta nampan dari tangan pelayan restorannya.


"Biar aku yang antar, katakan ini untuk meja nomor berapa?"


Pelayan wanita itu terbengong sampai tidak menyadari kini nampan sudah berpindah ke tangan Nofal sang bos.


"Cika."


Suara Nofal kembali terdengar lagi, pelayan bernama Cika langsung gelagapan sadar baru saja melamun, karena begitu terkejut mendapati sang bos mau mengantar makanan ke meja konsumen, karena itu tugas pelayan.


"No-nomor 15, Bos." Cika langsung menunduk merasa sudah melakukan kesalahan karena seperti menyuruh bos nya sendiri padahal itu adalah tugasnya.


Dan Nofal dengan senang hati berjalan menuju nomor lima belas, Nofal merasa bosan hanya duduk-duduk saja, dan mengantar makanan ke meja konsumen adalah pilihannya.


Meski ia sadar adalah sang bos, tapi tidak masalah baginya, dan dengan senang hati Nofal akan melakukan.


"Meja nomor lima belas," sapaan Nofal, kemudian mulai meletakkan makanan dari atas nampan ke meja tersebut.


Di meja nomor lima belas ada tiga gadis yang sedang duduk di sana, masih anak kuliahan, karena saat ini siang hari mungkin untuk makan siang.


Karena tidak jauh dari restoran memang ada kampus, dan nama kampus di almamater yang mereka gunakan jelas menunjukan kampus sebelah itu.


"Terimakasih, kak," ucap tiga gadis itu serempak.


Namun hanya satu suara yang menghipnotis pendengaran Nofal hingga membuatnya menoleh ke arah suara lembut bagai angin segar di siang hari.


Deg!

__ADS_1


Jantungnya langsung berdegup kencang saat matanya kini menatap bola mata jernih dan kulit wajah seputih kapas.


Bibir gadis itu yang melengkung manis, menggetarkan sesuatu yang selama ini sudah mati, tak pernah lagi merasakan yang namanya debaran aneh.


Dan suara dering ponsel dari hp gadis yang lain yang juga duduk di sana, membuyarkan lamunan Nofal.


Nofal menggelengkan kepala kemudian pergi dari sana, menuju dapur untuk mengembalikan nampan.


"Buatkan aku kopi dan antarkan ke ruang kerjaku," pinta Nofal pada Cika.


"Baik, Bos." Cika langsung membuatkan kopi kesukaan sang bos.


Nofal berjalan menuju ruangannya masih sesekali menggelengkan kepala, tidak habis pikir sama dirinya sendiri, yang tiba-tiba merasa jantungnya berdebar-debar.


"Ini hanya kebetulan ya hanya kebetulan," kilahnya sembari membuka pintu ruang kerjanya dan duduk di sofa.


Namun aneh nya keesokan harinya kejadian lagi, Nofal kembali berdebar-debar saat melihat wajah gadis itu yang kembali makan siang di restorannya bersama dua temannya lagi.


Padahal Nofal saat itu hanya berjalan mau keluar dari restoran yang kebetulan melewati meja tempat gadis itu duduk.


Benar-benar hal aneh menurut Nofal, tapi lagi-lagi Nofal menepisnya hanya menganggap ini kebetulan ia rasakan.


Nofal saat ini berdiri di ruang kerjanya, namun dari kaca jendela Nofal bisa melihat gadis itu.


Gadis itu baru masuk bersamaan hujan turun yang sangat deras, meski bajunya tidak semua basah tapi saat keluar dari dalam mobil, sebagian air hujan sempat membasahi bajunya.


Gadis itu duduk sendiri dan memilih di meja paling pojokan, jauh dari lalu-lalang orang-orang, biasanya di meja pojokan pantas buat pasangan yang tidak ingin diganggu.


Dan entah dorongan dari mana, Nofal keluar dari ruang kerjanya, berjalan ke dapur, Nofal mengambil alih pesanan yang mau diantar untuk ke tempat gadis itu.


Pelayan hanya terbengong-bengong lagi melihat tingkah sang bos.


Tapi Nofal malah senyum bahagia entah kenapa, dirinya sendiri juga merasa aneh.


"Pesanannya, Nona."


Gadis itu tersenyum saat Nofal meletakkan pesanan gadis itu di atas meja.


"Terimakasih, kak." Ucap gadis itu.

__ADS_1


Hah demi apa, Nofal merasa bahagia mendengar suara gadis itu, yang begitu lembut nadanya, malah tanpa sadar saat ini Nofal menatap lekat-lekat wajah gadis itu.


"Kak, ada apa ya?" tanya gadis itu seraya menggerakkan tangannya, karena tahu Nofal sedang melamun.


"Ha! tidak apa-apa." Nofal terperanjat kaget ketahuan malah melamun.


"Silahkan dinikmati, Nona." Nofal tersenyum sebelum ahirnya berbalik dan meninggalkan gadis itu.


"Bagas aku merasa ada yang aneh!" teriak Nofal seraya mengacak rambutnya, saat ini sudah duduk di sofa tempat ruang kerjanya.


"Aneh apa sih, Bos?" Bagas meletakkan majalah yang tadi ia baca ke atas meja.


Nofal bersandar di sandaran sofa, matanya menatap langit-langit ruangan. "Pokoknya aneh."


Terdengar helaan nafas panjang dari bibir Nofal, Bagas hanya menggelengkan kepala. "Apa sih, Bos. Katakan yang jelas supaya saya mengerti."


Nofal menggelengkan kepala. "Susah di jelaskan pokoknya." Nofal membuang nafas panjang.


Bagas ahirnya menghela nafas berat, dan kembali lanjut membaca majalah, sang bos bilang aneh dan makin terlihat aneh saat tidak jelas cerita apa an.


Nofal masih setia diam saja, dengan mata yang terus menatap langit-langit ruangan, masih memikirkan dirinya yang merasa aneh saat bertemu gadis itu.


Tiba-tiba Nofal bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menuju jendela kaca, mengintip tempat gadis itu duduk.


Bibirnya tanpa sadar tersenyum lebar, hanya melihat wajah gadis itu, padahal dari kejauhan, dan Bagas ternyata ikut memperhatikan Nofal, yang kini sudah berdiri di belakang Nofal.


Jadi Bos lihatin gadis itu, apa Bos menyukai gadis itu? batin Bagas.


Tapi senyum lebar itu mendadak sirna saat tiba-tiba ada seorang pria muda mendekati gadis itu dan mengajaknya pergi dari sana.


Hah! Seperti ada yang hilang dari bagian jiwanya, mendadak terasa sakit tapi entah itu apa? Nofal mendadak jadi lesu.


Berbalik mau kembali duduk di sofa, namun terkejut saat melihat Bagas yang kini berdiri di belakangnya.


"Maaf, Bos. Ikut mengintip," ucap Bagas seraya cengengesan.


Nofal mengibaskan tangan tanda tidak peduli, dan terus melanjutkan langkahnya menuju sofa, tiduran di sana.


Bagas mendekati duduk di tempat yang tadi. "Ceweknya cantik, Bos." Celetuk Bagas.

__ADS_1


__ADS_2