
Begitu mobil yang Galang kendarai sampai di rumah sakit tempat Zelea dilarikan, Zeon segera masuk ke dalam rumah sakit, berjalan cepat menuju bagian receptionist.
"Sus, nomor kamar untuk istri saya," ucap Zeon tergesa-gesa sampai tidak menyebutkan nama istrinya, membuat suster bingung.
"Maaf, Tuan. Jika boleh tahu siapa nama istrinya? Supaya memudahkan mencari," ucap suster tersebut.
Hah! Zeon membuang nafas berat, sadar tidak mengucapkan nama Zelea. "Zelea Anggraini."
"Baik, mohon tunggu sebentar ya, Tuan."
Suster tersebut mulai mencari nama pasien atas nama Zelea Anggraini yang masuk di rumah sakitnya beberapa jam lalu.
"Baik, Tuan. Untuk pasien atas nama Zelea Anggraini sekarang berada di ruang persalinan, nomor 3."
"Persalinan!" Zeon terkejut, matanya sampai membola lebar.
"Benar, Tuan. Pasien saat ini sedang proses melahirkan."
Zeon sudah tidak mendengarkan lagi ucapan suster, ia langsung berlari menuju ruang persalinan berada.
Sampai di sana, Zeon melihat ada sopir yang ditugaskan untuk mengantar Zelea kemana pun, yang saat ini duduk tepat di depan pintu kamar nomor tiga.
"Tuan," ucap sopir itu sembari berdiri begitu melihat Zeon datang.
"Bagaimana dengan istriku? Dia baik-baik kan? Dia tidak kesakitan kan?"
Sopir tersebut hanya bisa menelan ludah kasar diberondong pertanyaan oleh tuannya. Terlihat jelas saat ini di mata Zeon terpancar penuh kekhawatiran.
Sopir itu tidak tahu apa yang akan terjadi, jika Zeon tahu yang sebenarnya, bahwa Zelea pasti merasakan kesakitan karena melahirkan pasti ya sakit.
"Nyonya ... Em anu-,"
Ucapan sopir terhenti saat mendengar suara tangis bayi yang melengking dari dalam tempat kamar persalinan Zelea.
Zeon tidak pedulikan lagi sopir yang mau bicara, Zeon langsung membuka pintu kamar persalinan tersebut.
"Eh, Daddy datang," suara dokter yang menangani Zelea menyapa Zeon saat kepalanya mendongak melihat ke dalam.
Dari tempatnya saat ini berdiri, Zeon bisa melihat bayi yang baru dilahirkan oleh istrinya itu kini tengah berada di dada Zelea.
Zeon perlahan melangkah masuk, namun tatapannya terkunci hanya menatap sosok kecil berkulit merah yang saat ini berada di dekapan sang ibu, yang sedang berusaha mencari ****** untuk menyusu.
Zeon tertegun saat melihat bayi itu bentar-bentar menangis, bentar-bentar berhenti karena yang dicari belum ditemukan.
__ADS_1
"Dok, kasihan," ucap Zelea saat bayinya belum menemukan ******.
"Tidak apa-apa, biar adek menemukan sendiri," ucap Dokter.
Dan benar saja, tidak lama kemudian bayi itu bisa menemukan ****** susu sang ibu, dan mulai belajar minum asi dini, atau asi yang pertama kali keluar.
Zeon tidak bisa lagi membendung air matanya, kini langsung berjatuhan ia menangis haru, melihat sesuatu yang luar biasa ada di depan matanya.
Zeon menciumi Zelea, tidak peduli di sana masih ada dokter dan suster, terutama juga ada Cika.
Semua orang hanya senyum-senyum malu melihat adegan manis pasangan suami istri itu.
"Terimakasih ... Terimakasih sudah berjuang, memperjuangkan anak kita, dan maaf aku baru sampai," bisik Zeon di telinga Zelea.
"Aku mencintaimu," balas Zelea dari ucapan Zeon barusan. Zelea tersenyum menatap teduh ke arah Zeon yang saat ini juga sedang menatapnya.
Zeon kembali mencium dalam-dalam kening Zelea. Zelea memejamkan matanya merasakan kehangatan perlakuan manis Zeon.
"Ok, baik. Cukup segini saja minum asinya, adek harus mandi dulu ya?"
Dokter mengambil bayi berkulit merah itu dari dekapan Zelea, untuk dibersihkan badannya. Dibawa ke ruangan lain.
Cika juga ikutan keluar dari dalam ruang tersebut, tidak mau melihat kemesraan Nyonya dan Tuannya lagi.
Zelea yang mendengar ucapan terimakasih terus-menerus dari bibir Zeon, merasa dicintai.
*
*
*
Nofal yang sudah mendengar kabar Zelea melahirkan, langsung pulang ke rumah.
Ya, sekarang Nofal sudah menempati sebuah rumah, rumah yang dibeli untuk Milli, dan apartemennya menjadi aset salah satu kekayaannya.
Setibanya mobil yang Nofal kendarai di depan gerbang mewah seperti kerajaan, tidak lama kemudian gerbang dibuka oleh satpam.
Mobil seketika masuk dan terparkir di halam luas itu.
Nofal akan memakai mobilnya lagi untuk ke rumah sakit, jadi mobil tidak perlu dimasukkan ke dalam parkiran mobil, yang di sana juga ada beberapa deretan mobil mewah milik Nofal yang jarang Nofal pakai.
"Dimana Nyonya?" tanya Nofal begitu masuk ke dalam rumah, dan bertemu salah satu pelayannya.
__ADS_1
"Nyonya ada di ruang kerjanya, Tuan."
Ruang kerja yang di maksud adalah, ruang kerja Milli yang Milli gunakan untuk merangkai bunga kertas.
Dengan begitu Milli tidak akan mudah bosan, karena ada kesibukan dari pada diam tidak melakukan apa pun.
Sebelum masuk ke ruang kerja Milli, tidak lupa Nofal mengambil topeng Spongebob yang tersimpan di dalam almari yang ada di ruang tengah.
Ada banyak topeng Spongebob di mana pun tempat, guna memudahkan Nofal dalam suatu waktu mau memakai.
Kali ini topeng Spongebob yang Nofal gunakan bukan terbuat dari kertas, bahannya bagus tidak mudah robek juga awet.
Karena Nofal melakukan pemesanan ke sebuah pabrik untuk membuatkan topeng yang awet tidak gampang rusak.
Klek!
Mendengar suara pintu dibuka, Milli menoleh, bibirnya langsung tersenyum melihat siapa yang datang, pria yang selalu memakai topeng Spongebob. Hihihi Milli tertawa dalam hati.
Nofal langsung duduk di sebelah Milli. "Adik ipar aku hari ini sudah melahirkan."
Milli menatap Nofal. "Berarti kita harus menjenguknya dan mengucapkan selamat atas kelahiran anak pertama mereka," ucap Milli menggebu, bahkan tanpa sadar sampai menggenggam tangan Nofal.
Di balik topeng, Nofal tersenyum. "Iya, karena ini lah aku pulang cepat untuk mengajak kamu ke sana."
"Ya, sudah kita pergi sekarang." Milli dengan semangat berdiri dari duduknya. Namun saat mau berjalan begitu saja, lengannya di tahan oleh Nofal.
"Masa iya aku kesana harus menggunakan topeng seperti ini," suara Nofal dibuat memelas.
Milli menatap Nofal yang memakai topeng Spongebob itu, Milli membuang nafas berat.
"Ya sudah lepas aja."
Nada bicara Milli terdengar ketus, meski begitu Nofal tetap terus tersenyum, mau ketus, mau galak, mau marah ucapan Milli, Nofal tidak pernah mengambil hati.
Setelah mereka berdua di dalam mobil, yang kini melaju di jalan raya menuju rumah sakit.
Milli yang duduk di kursi depan tepat di samping Nofal, wajahnya cemberut, jelas itu karena kesal melihat wajah Nofal.
Sampai kapan, sampai kapan harus menggunakan topeng terus, dan kapan bebas tanpa harus memakai topeng, batin Nofal.
Meski matanya menatap ke depan fokus mengemudi, tapi pikirannya berkelana.
Sementara Milli benar-benar merasa kesal melihat wajah Nofal, juga tidak tahu sampai kapan, hal yang dialaminya ini sudah lama tapi juga belum hilang-hilang juga.
__ADS_1