
Entah sudah pukul berapa yang pasti saat Nofal mendengar suara deru mobil masuk ke halaman Mansion, pria itu langsung berdiri dan membuka pintu, lengkap dengan tatapan menusuk.
Ya, saat ini Nofal berada di ruang tamu, tidak sanggup di gigit nyamuk terus di balkon ahirnya membuat Nofal milih menunggu di ruang tamu.
Sebenarnya tidak ada alasan penting mengapa pria itu harus menunggu, apa lagi dengan tatapan menusuk yang diberikan pada dua orang yang saat ini yang sedang sama-sama berjalan menuju mansion.
Dan benar saja, apa yang Nofal lakukan malah mendapat pertanyaan dari ayahnya yang membuat pria itu sulit menjawab.
"Nofal, kamu belum tidur? Ini sudah malam, apa yang kamu lakukan di sini?"
Deg!
Nofal baru tersadar bahwa apa yang dilakukannya saat ini sudah salah.
Hah sialan aku harus menjawab dengan alasan apa? Batin Nofal.
Sampai Radit dan Zelea kini sudah berdiri tepat di depan pria itu, Nofal masih diam belum menjawab, otaknya masih berusaha merangkai kata-kata.
"Mencari udara segar, di dalam aku belum bisa tidur, Dad."
Ahirnya kalimat tersebut yang terucap di bibir Nofal. Sebuah kalimat yang menurut Radit tidak masuk akal, karena tidak biasanya Nofal mencari udara segar sampai membuka pintu utama, kan di balkon bisa? Pikir Radit.
"Ya, sudahlah. Jika sudah baikan segera masuk ke dalam, tidak baik terlalu lama di luar." Radit menepuk pundak Nofal yang seketika mendapat anggukan kepala Nofal.
Radit dan Zelea masuk ke dalam, Nofal hanya bisa menatap punggung Zelea yang terus berjalan menjauh.
Wanita cantik itu benar-benar acuh dengan keberadaannya, dan bagian hati Nofal merasa ada yang tergores.
Ze? Apa aku salah menginginkan kamu lagi, memulai lagi cerita kita yang dulu pernah selesai, batin Nofal dengan tatapan sendu.
Nofal berjalan lebih keluar, kepalanya mendongak ke atas langit menatap bintang-bintang bertebaran di langit.
Langit yang tampak cerah malam ini, dan suasana yang terasa hening ini membuat Nofal semakin merasa menyesal sudah menyakiti Zelea di masa lalu.
Ahirnya setelah setengah jam merenung di luar mansion, Nofal kembali masuk ke dalam kamar dan untuk istirahat malam ini.
*
*
Aktifitas pagi dimulai, semua pelayan kembali bekerja seperti biasanya. Dan saat ini Zelea bersama Radit sedang sarapan pagi. Namun saat sarapan sudah mau selesai, putra pertamanya itu belum nongol juga, Radit jadi khawatir ada apa dengan Nofal?
__ADS_1
"Bi Jum, bisa panggilkan Nofal." Radit bicara sama Bi Jum yang saat ini sedang lewat ruang makan.
"Baik Tuan, saya panggilkan sebentar," ucapnya seraya menunduk hormat dan segera berlalu.
Tidak lama kemudian Bi Jum sudah kembali lagi, tapi wajahnya menggambarkan kecemasan.
"Tuan anu, em Tuan Muda saat ini sedang sakit."
Radit langsung berdiri meninggalkan ruang makan, berjalan menuju kamar Nofal.
"Sakit apa dia Bi?" tanya Zelea, wanita itu masih melanjutkan makannya.
"Demam, Nyonya," jawab Bi Jum.
Zelea hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Bi Jum.
Bi Jum pamit ijin ke dapur untuk mengambil air mau mengompres Nofal.
Di dalam kamar Nofal, saat ini Radit duduk di pinggiran ranjang. Baru saja mengecek suhu badan Nofal yang terasa panas.
"Daddy panggilkan dokter ya?"
Nofal sengaja mengucap kata Mom untuk Zelea, semua itu dilakukannya untuk melengkapi aktingnya, kapan lagi bisa minta ijin pada Ayhnya kalau tidak sedang sakit seperti ini.
Mikirin Zelea sampai jatuh sakit.
"Baiklah, Daddy akan bicara dengannya," ucap Radit pada ahirnya.
Tidak merasa curiga sama sekali, malah hatinya merasa senang apa bila putranya mulai menerima kehadiran ibu tirinya.
Setelah Radit keluar dari dalam kamar, Nofal tersenyum.
*
*
"Kamu mau kan Ze?" tanya Radit lembut, tangannya memegang bahu Zelea, saat ini mereka berdiri di dekat mobil. Tadinya mau berangkat bersama, tapi Radit menjelaskan bahwa Zelea harus mengurus Nofal yang sedang sakit.
Mengapa harus mengurusnya? Ada rencana apa dia? Sepertinya aku harus mengikuti rencana pria itu, batin Zelea.
"Baik Mas, tidak masalah," jawab Zelea tersenyum, mencium tangan Radit sebelum ahirnya pria itu masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.
__ADS_1
Setelah mobil Radit menghilang dari pandangan mata Zelea, wanita itu masuk ke dalam Mansion. Tujuannya saat ini ke kamar Nofal.
Sebelum menaiki tangga, Zelea mengambil obat yang sudah pelayan siapkan, Zelea akan membawa obat tersebut ke dalam kamar Nofal.
Zelea menghela nafas panjang sebelum kakinya melangkah menaiki tangga, sampainya di depan kamar Nofal, wanita itu membuka pintu dengan jantung berdegup kencang.
Ayo Ze kamu pasti bisa, batinnya.
Ahirnya Zelea benar-benar masuk ke dalam kamar Nofal, dan pria itu langsung duduk bersandar di ranjang, bibirnya tersenyum kecil. Tapi Zelea tidak melihatnya.
"Ayo sarapan dulu." Zelea menyuapi Nofal, dan pria itu patuh.
Selama makan tidak ada yang saling bicara, sampai sarapan selesai dan Nofal harus minum obat, keduanya tetap diam.
"Sudah selesai kan tugas aku, sekarang aku mau pergi." Zelea bangkit, namun belum sempat kakinya melangkah, pergelangan tangannya di genggam Nofal.
"Duduklah, aku ingin bicara."
Lembut sekali bicaranya, sampai membuat Zelea memaki Nofal dalam hati. Sebuah suara yang pernah Zelea dengar saat Nofal merayunya sampai mengambil kesuciannya.
Zelea menoleh lengkap dengan tatapan tajam, menepis tangannya yang di pegang Nofal.
"Mau bicara apa!" Zelea tetap berdiri, tangannya melipat di depan dada. Memasang wajah sombong.
Nofal tersenyum, pria itu turun dari ranjang, berdiri di depan Zelea.
"Ze, aku masih mencintaimu, aku minta beri aku kesempatan. Ya mungkin ini terdengar gila karena saat ini kamu adalah ibu tiriku, tapi aku tidak peduli apa bila aku harus sampai melawan Daddy." Nofal meraih tangan Zelea dan menggenggamnya. "Aku mencintaimu."
Zelea tersenyum miring.
Ahirnya masuk dalam perangkap, baiklah aku akan menerima cintamu kembali, karena aku ingin segera membalas dendam ku padamu Nofal, dan biarlah semua ini segera selesai, batin Zelea.
Mendapati Zelea yang hanya diam saja, Nofal langsung menarik Zelea masuk dalam pelukannya.
Pelukan hangat yang dahulu pernah Zelea rasakan. Di bawah sana tangan Zelea terkepal, ingin rasanya menunju Nofal, tapi ia tahan demi kelancaran balas dendamnya.
"Beri aku kesempatan, Ze?" bisiknya di telinga Zelea.
Zelea tidak menjawab dengan kata-kata, wanita itu hanya mengangguk. Dan respon Zelea itu langsung membuat hati Nofal bahagia.
Demi kamu, aku janji akan meninggalkan para wanita-wanitaku di luar sana, aku mencintaimu Zelea, batin Nofal yang semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1