Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 33. Belum tahu apa salahnya.


__ADS_3

Setelah pulang kerja, malam harinya Zelea dan Radit mau menghadiri pesta undangan dari kolega bisnis yang kemarin sudah mau berinvestasi di perusahaannya.


Namun sepertinya rencana mau berangkat berdua tidak akan terwujud, karena setelah mandi sore, Radit malah muntah-muntah.


"Mas tidak apa-apa?" tanya Zelea penuh khawatir, saat ini sedang memijit tengkuk Radit yang sedang muntah di wastafel kamar mandi.


"Mas tadi salah makan ya? Makanya jadi seperti ini," ucap Zelea lagi, masih terdengar suaranya yang khawatir.


Namun Radit menggeleng, tanda tidak tahu, karena seingat pria itu tidak makan yang aneh-aneh, tapi entah mengapa perutnya terasa tidak enak, dan ingin muntah.


Setelah sedikit baikan, Radit membasuh wajahnya, Zelea masih setia berdiri di sampingnya, kemudian keluar dari dalam kamar mandi bersama.


Zelea membantu Radit berbaring di atas ranjang, menyelimuti tubuh pria itu, dan mengecilkan suhu AC kamar.


"Aku panggil Bi Jum, ya Mas?" Zelea berjalan keluar kamar, mencari Bi Jum yang biasanya di lantai satu.


Dan beruntungnya tanpa harus mencari lebih lama, kini setibanya di lantai satu Zelea melihat sosok yang dicarinya sedang membereskan gelas kotor di atas meja ruang tengah.


"Bi Jum."


Suara majikan yang Bi Jum dengar seketika membuat wanita itu mendongak untuk melihat yang baru saja memangilnya.


Bi Jum sudah mau berucap untuk menanyakan ada apa? Tapi ia urungkan saat Zelea bicara lebih dulu.


"Tuan Radit sedang sakit, tolong ya Bi."


"Tuan sedang sakit Nyonya?" Nada pertanyaan Bi Jum terdengar terkejut.


Zelea mengangguk. "Bibi lebih tahu kan, tentang Mas Radit, tolong bawakan obatnya, nanti biar saya saja yang membantu Mas Radit."


"Baik Nyonya," jawab Bi Jum patuh, kemudian segera berjalan menyiapkan obat dan air putih hangat yang biasa Radit gunakan apa bila sedang sakit.


Zelea sudah kembali lagi di dalam kamar, kini duduk di pinggiran ranjang tepat sebelah Radit berbaring.


"Apa aku tidak usah menghadiri acara pesta itu, Mas?" tanya Zelea seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. menunjukan pukul setengah tuju malam.


"Kamu harus berangkat, tidak apa-apa kan? Sendiri. Tidak enak apa bila tidak ada yang hadir perwakilan dari keluarga kita, karena sudah di undang, apa lagi Tuan Roy sudah baik sama kita, kemarin mau membantu perusahaan kita saat dalam masalah. Kamu harus datang sebagai tanda terimakasih." Radit menatap Zelea dengan memohon.


Zelea tidak enak hati saat melihat tatapan penuh permohonan itu, tapi ia merasa tidak tega jika harus pergi dalam keadaan meninggalkan Radit yang sedang sakit.


Meski di Mansion banyak orang, tapi juga tidak mau mengecewakan Radit. Ahirnya dengan sangat terpaksa Zelea mengangguk setuju.

__ADS_1


"Jika begitu aku akan bersiap, Mas." Zelea bangkit dari duduknya, bersamaan itu Bi Jum masuk ke dalam kamar.


Zelea menoleh dan langsung bertatap dengan Bi Jum. "Bi, tolong bantu Tuan minum obat ya? Saya mau bersiap."


"Baik Nyonya."


Samar-samar jawaban Bi Jum masih terdengar saat Zelea masuk ke ruang ganti, tadi tidak sempat menunggu jawaban Bi Jum Zelea langsung berlalu ke ruang ganti.


Gaun cantik sudah ia siapkan, Zelea mengunakannya, dan setelah selesai langsung berjalan keluar dari ruang ganti, menuju meja rias.


"Wah, Nyonya cantik sekali," celetuk Bi Jum memuji, saat melihat Zelea begitu cantik memakai gaun itu.


Zelea menoleh ke arah Bi Jum yang sedang mengemasi obat dan gelas mau dipindahkan ke nampan akan dibawa turun ke bawah lagi.


"Bi Jum juga cantik." Zelea tersenyum seraya mengangkat kuas mau ber-make up.


Bi Jum tertawa. "Bi Jum sudah tua Nyonya."


"Permisi Nyonya," imbuh Bi Jum yang langsung berjalan keluar kamar.


Zelea hanya berdandan seperlunya, tanpa harus mencolok tebal, namun begitu? sudah terlihat sangat cantik, karena sudah cantik dari Sononya, rambutnya dibiarkan tergerai indah, ada dua buah jepit kupu-kupu yang terpasang merapihkan rambutnya.


Cantik, Radit memuji dalam hatinya, persis seperti anak gadisnya andai miliki anak gadis.


"Hati-hati, jika ada apa-apa kamu hubungi Zeon ya? Biar dia membantu kamu."


Zelea mengangguk, berjalan mundur dua langkah dan langsung melenggang pergi.


*


*


*


Setelah tiga puluh menit, Zelea sampai di tempat tujuan, saat keluar dari dalam mobil, kakinya sedikit merasa gemetar, saat melihat pemandangan di depannya sebuah hotel yang megah dan sudah banyak pengunjungnya, mengunakan pakaian sama seperti dirinya.


Tanpa perlu diartikan lagi, sudah jelas mereka juga tamu undangan. Zelea menghela nafas panjang dan mulai berjalan menuju pintu masuk ballroom hotel.


Lagi-lagi Zelea merasa gemetar setelah kakinya menginjak masuk, ini memang bukan kali pertama dirinya datang ke tempat mewah seperti ini, tapi kan biasanya selalu bersama Radit, tidak sendirian.


Setelah menyerahkan undangan pada panitia, dan mengisi nama dari keluarga Alexa, Zelea kemudian masuk untuk mencari kursi supaya ia bisa duduk.

__ADS_1


Zelea memilih duduk di dekat makanan dan minuman, di tempat tersebut juga banyak orang, yang sambil duduk juga nyemil-nyemil kue.


Karena tidak kenal sama mereka satu pun, Zelea hanya fokus ambil minuman, untuk menenangkan diri.


Lampu di ruangan ini sangat menyala terang, semua orang terlihat wajahnya, beberapa pria yang datang ambil minum sempat terkejut saat tanpa sengaja mengarah ke arah Zelea.


Rata-rata para pria bergumam cantik memuji Zelea, tapi tidak ada yang berani mendekati lalu duduk di sampingnya.


Waktu terus berjalan, acara pesta sudah dimulai, Zelea mulai jenuh dengan keadaan dan ingin segera pulang.


Dan setelah acara inti selesai berganti acara dansa bagi siapa saja yang mau, karena merasa acara pentingnya sudah selesai, Zelea mau pulang sekarang saja.


Namun saat baru saja Zelea berdiri, tiba-tiba merasa ada yang memegang pergelangan tangannya.


Zelea menoleh untuk melihat siapa yang sudah berani memegang tangannya, dan begitu terkejut setelah tahu siapa orang itu.


Tidak menyangka akan bertemu di sini, ada yang lebih membuat Zelea terkejut, yaitu pria yang bersama wanita itu.


Tuan Roy, mengapa bisa bersama Maharani, batin Zelea.


"Maharani, Om pergi dulu ya?" Roy pergi meninggalkan mereka berdua, yang saat ini makin terlihat memanas.


"Elo pasti kaget kan? Dengan pria tadi. Ya dia adalah Om gue, adik dari Ayah Gue, yang sudah menyelematkan perusahaan suami tua Elo yang mau bangkrut itu." Tunjuk Maharani di wajah Zelea, disertai senyum mengejek.


Sesaat Zelea memang terkejut karena melihat Maharani tiba-tiba tahu masalah besar keluarganya, tapi Zelea segera bersikap normal dan melawan Maharani.


"Lalu urusannya sama elo apa? Tuan Roy mau membantu."


"Kalau aku tahu dari awal tidak akan aku ijinkan!" bentak Maharani penuh emosi. Dan dalam sekejap tangannya meraih gerah berisi minuman warna warni, tanpa menunggu lama menyiramkan ke wajah Zelea.


Byurrr!


"Aku benci sama elo!" teriak Maharani lagi.


Zelea gelagapan tiba-tiba mendapat serangan siraman air di wajahnya. Zelea mengusap wajahnya dengan kasar, matanya berubah tajam ke arah Maharani.


Sampai di sini saja Zelea belum tahu masalah apa yang membuat Maharani benci dengannya.


"Masalah gue sama elo apa sih!" bentak Zelea tidak mau kalah.


Namun Maharani tidak menjawab, dan amarahnya semakin menjadi, Maharani langsung mendorong tubuh Zelea sampai jatuh ke lantai, dan perkelahian antara mereka dimulai dengan saling jambak-menjambak rambut, yang kadang gantian berguling Maharani di bawah dan Zelea di atas, Zelea di bawah dan Maharani di atas, persis anak kecil yang Langi berantem.

__ADS_1


Orang yang berdiri di sana tidak ada yang bisa melerai perkelahian mereka.


Sampai-sampai Roy datang dan begitu terkejut melihat dua wanita berkelahi dengan saling menjambak rambut berguling di lantai.


__ADS_2