
Hari menjelang siang ini Nofal sudah berdiri di dekat jendela kaca, apa lagi yang ia lakukan kalau bukan untuk melihat gadis pencuri hatinya.
Geli sih rasanya saat mengingat hal tersebut, tapi itu kenyataannya, Nofal terus mencari gadis itu ingin melihat wajahnya, dan tentu rasanya tidak enak jika belum melihat wajah yang dirindukan.
Tapi? Sudah satu Minggu ini gadis itu bersama dua temannya yang biasanya suka makan siang di restoran ini, tidak pernah lagi terlihat berkunjung.
Dan hal ini benar-benar mengusik hatinya, pasalnya Nofal sudah sangat menahan rindu ingin sekali bertemu, cukup melihat dari kejauhan, karena belum punya nyali untuk mengajak berkenalan.
Bahkan sampai saat ini meski sudah menempati bagian spesial di hatinya, Nofal juga belum tahu nama gadis itu. Miris sekali bukan?
"Kemana dia, Gas?"
Bagas yang duduk di kursi sofa menghadap ke laptop, masih mampu mendengar gumanan Nofal.
Hah si bosnya itu memang sudah jatuh cinta, tapi masih melakukan gaya kuno yang hanya peta umpet, harusnya kan langsung nyatakan cinta langsung jadiin pacar. Bagas memandang Nofal dengan malas.
"Pindah restoran kali, Bos. Bosan makan di sini," jawabnya masih menatap fokus grafis kenaikan keuangan bulan ini.
Mendengar ucapan Bagas barusan, Nofal seperti memiliki ide, ada lampu berpijar yang menyala di otaknya, ting.
Dengan antusias Nofal berjalan mendekati Bagas. "Jika begitu kamu umumkan ke sef untuk membuat menu baru di restoran ini," ucapnya menggebu.
Bagas hanya bisa menghela nafas panjang, tidak menyangka ucapannya malah berubah menjadi pekerjaan baru. Hah membuat menu baru bukan suatu yang mudah, harus mengetahui pasar kesukaan konsumen, dan terpaksa Bagas mengiyakan.
"Nanti saya konfirmasikan ke bagian sef, Bos."
Nofal menepuk pundak Bagas. "Bagus, kerja yang bagus." Nofal tersenyum.
Tidak tahukah kau Bos, perintah ini akan membuat saya dan para sef pusing, bagaimana jika hasilnya tetap tidak bisa membuat gadis pujaan hatimu datang kemari lagi? Bos pasti akan memarahi kami atau malah memecat kami, batin Bagas di balik senyum kecutnya.
Nofal berjalan kembali menuju jendela, menatap keseluruhan tempat yang diduduki para konsumen, jam makan siang saat ini cukup ramai, namun sayang diantara para pengunjung yang hari ini makan siang, tidak ada gadis pujaan hatinya.
"Aku menunggumu datang," gumam Nofal.
*
*
*
Di sebuah mansion besar, dua pasang suami istri sedang bersantai di ruang tengah, jika sang pria tiduran dan menggunakan paha sang wanita sebagai bantal. Sang wanita duduk dengan bibir cemberut.
Sedari tadi hanya menggonta-ganti channel televisi, tidak ada tayangan yang Zelea sukai.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa tidak kerja?"
Entah sudah berapa kali Zelea bertanya seperti itu, karena ia saat ini seperti tahanan yang terus diawasi, Zeon tidak mengijinkan ia melakukan apa pun.
"Malas, mau di mansion aja."
Hah, Zelea merasa malas mendengar jawaban Zeon.
Semenjak Zeon tahu bahwa dirinya saat ini hamil, pria itu jarang sekali ke kantor, pekerjaan Zeon kerjakan melalui di rumah, setiap hari Galang datang membawakan seabrek berkas yang harus Zeon cek.
"Memang kamu gak kasihan sama, Asisten Galang?" Zelea masih berusaha membujuk supaya Zeon mau ke kantor.
Zeon menyibak baju yang Zelea pakai, hingga kini bisa melihat perut Zelea yang masih rata, Zeon mencium perut Zelea.
"Aku sudah menggaji dia tiga kali lipat."
Jawaban Zeon benar-benar membuat Zelea makin tidak suka.
"Tapi aku jangan hanya duduk saja lah, aku juga mau gerak." Zelea masih mengajukan protes.
Zeon tersenyum menyeringai. "Gerak di atas ranjang sama aku."
Zelea refleks langsung memukul lengan Zeon. Pria itu mengaduh kesakitan campur tertawa.
"Tuan, permadani nya sudah datang, sama meja bundar yang kemarin, Tuan pesan."
Suara pelayan menghentikan perdebatan kecil mereka.
Zeon bangkit dari tidurnya kemudian berjalan menuju ke luar. Di halaman sana sudah ada mobil bok yang membawa permadani dan meja.
Semua di dalam mobil mulai diturunkan, dan Zeon menginstruksi untuk membawa masuk ke dalaman mansion.
"Semua meja baik di meja ruang tamu, ruang tengah, juga meja makan silahkan di ganti yang tidak memiliki sisi tajam," instruksi Zeon pada orang yang membawa meja, juga pelayan yang mau memindahkan meja.
"Semua lantai di kasih permadani, juga seluruh tangga sampai lantai tiga, dan yang terakhir kamar saya di lantai tiga," instruksi Zeon ke pada orang yang memegang permadani, dan pelayan yang membantunya.
Keadaan di dalam mansion langsung berubah sibuk semua, saling membantu satu sama lain.
"Maaf, Tuan. Ini permadani untuk bagian kamar Tuan, apa bisa langsung di pasang sekarang." Seseorang mendekati Zeon seraya menunjuk permadani.
"Boleh-boleh, sekalian mejanya langsung di pasang saja," perintah Zeon.
Ahirnya sebelum bagian tangga di pasang permadani, beberapa pelayan dan orang tersebut menaiki lantai tiga membawa permadani juga meja bulat.
__ADS_1
Melihat kesibukan yang tiba-tiba ini, Zelea mendekati Zeon. "Sejak kapan kamu melakukan pemesanan seperti ini?"
Zeon merengkuh pinggang Zelea hingga tubuh mereka menempel. "Setelah kamu keluar dari rumah sakit satu Minggu yang lalu." Zeon mencium kening Zelea. "Dan baru sekarang bisa diantar," imbuhnya.
Zelea benar-benar tidak tahu semua ini, jadi waktu tadi pelayan menyampaikan, ia sedikit terkejut.
"Kenapa tidak jujur padaku sebelumnya," protes Zelea merasa Zeon tidak menganggap ia ada.
"Kalau aku bicara sama kamu pasti kamu menolak."
"Ish." Zelea mencubit pinggang Zeon.
Hahah. Zeon tertawa. "Benarkan ... Benarkan? pasti kamu nanti akan bilang seperti ini." Zeon mengubah wajahnya tampak sebal. "Gax usah aku gak apa-apa kok," suara Zeon menirukan suara wanita.
Zelea tidak bisa bila tidak tertawa, melihat Zeon bicara seperti wanita malah terlihat seperti banci.
Zeon memeluk Zelea gemas. "Kita ke minimarket, beli susu." Mencium pipi Zelea sekilas.
Para pelayan yang melihat kemesraan mereka hanya senyum-senyum sendiri.
"Kan susunya masih ada," jawab Zelea seraya menunduk menyembunyikan semburat merah di pipi.
"Gak apa-apa, kita belanja lagi." Zeon langsung menggenggam tangan Zelea ia ajak jalan keluar menuju mobil.
Tidak jauh dari komplek mansion mereka, ada minimarket, sehingga mobil tidak perlu jalan jauh mereka sudah sampai.
"Selamat datang di minimarket dan selamat berbelanja ..."
Sebuah suara yang langsung menyambut kedatangan mereka, Zelea dan Zeon berjalan menuju tempat bagian susu.
Saat ini mereka berdua sudah berdiri di depan etalase yang berisi berbagai macam merek susu hamil.
"Susunya mau ganti merek apa tetap yang kemarin?" tanya Zeon, sembari membaca merek-merek susu hamil. "Ada banyak ini," imbuhnya.
Zelea masih tampak berpikir seraya memperhatikan merek aneka susu hamil di depannya itu.
"Kemarin merek apa? Aku lupa?"
"Lovamil," jawab Zelea terdengar seperti gumanan kecil.
"Emmm." Zeon berpikir. "Ganti yang ini mau ... Anmum materna." Zeon menatap Zelea meminta pendapat.
"Boleh." Zelea mengangguk.
__ADS_1