Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB. 71. Cara makan bumil.


__ADS_3

Pukul sepuluh pagi ini, Zeon mendatangi restoran sang kakak, yaitu restoran milik Nofal.


"Wah, brother tumben jam segini sudah tiba di sini," seloroh Nofal ketika melihat Zeon datang ke restorannya. Dan langsung berdiri mengajak Zeon duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya.


Zeon hanya tersenyum simpul menanggapi selorohan Nofal.


"Ada apa ini kira-kira tumben datang kemari?" tanya Nofal masih disertai tawa kecil, tidak percaya aja Zeon datang kemari.


Zeon lagi-lagi hanya tersenyum simpul. "Menu makanan, aku mau pesan makanan."


Zeon melihat Nofal seperti tidak percaya seolah ucapannya itu mengada-ada. "Istriku ngidam sepuluh makanan yang ada di restoran ini."


Hahahah! Tawa Nofal sekali pecah, mendengar penjelasan Zeon.


"Sudah menjadi suami dan calon Daddy yang siaga ini," seloroh Nofal mencandai, masih tertawa kecil.


Zeon menepuk dadanya bangga. "Pastinya dong," ucapnya penuh bangga.


Nofal mengangkat tangan. "Ok-ok, aku ke dapur sebentar untuk menyiapkan sepuluh aneka makanan untuk adik ipar dan calon ponakan."


Zeon memberikan dua ibu jarinya.


Nofal hanya terkekeh melihat tanggapan Zeon, kemudian bangkit dari duduknya keluar dari sana.


Setelah hanya sendirian di ruangan ini, Zeon kembali teringat kejadian di mansion bersama Zelea, sebelum ia ahirnya menuruti untuk datang ke restoran Nofal.


Zelea yang tiba-tiba ngambek tidak mau sarapan, padahal menu makanan yang dimasak pelayan adalah menu makanan yang Zelea minta.


Dengan alasan yang tidak masuk akal, Zelea mengatakan mendadak tidak suka dengan menu sarapan pagi ini.


Zeon masih berusaha mengerti dan memahami mood Zelea yang berubah tidak mau sarapan, tapi yang membuat Zeon terkejut keinginan Zelea setelah itu.


"Aku mau makan sepuluh macam menu makanan yang ada di restoran!" tegas Zelea tidak mau di bantah.


Zeon seketika terkejut. "Sa-sayang, sepuluh makanan itu banyak loh, kamu yakin bisa menghabiskan." Zeon mau meraih bahu Zelea supaya wanita itu tenang, tapi di tepis langsung oleh Zelea.


Ok Zeon mundur tidak jadi memegang bahu Zelea. Wanita itu saat ini melengos menatap ke arah lain, dengan pipi yang sudah basah akan air mata.


Astaga, Zeon geleng-geleng kepala melihat tingkah Zelea yang tiba-tiba dengan mudahnya menangis. Zeon jadi merasa bersalah dan mau memegang bahu Zelea lagi, tapi wanita itu menepis lagi.


"Sayang ... Ok jangan menangis, ya? Aku akan belikan sepuluh macam makanan dari restoran," ucap Zeon penuh kehati-hatian, berharap Zelea berhenti pengajuan protesnya.


"Aku maunya restoran di tempat kakakmu itu!" Zelea bicara ketus lagi. Wajahnya masih setia melengos ke arah lain.

__ADS_1


"Iya, tidak masalah aku akan kesana mengambilnya." Zeon menghela nafas panjang, harus ekstra sabar menghadapi bumil.


Dan jurus mengalah yang Zeon lakukan berhasil, kini Zelea mau menatapnya dan terlihat bibir wanita itu menarik garis lengkung.


Lega? Itulah rasanya yang Zeon rasakan. "Aku pergi sekarang, jangan marah lagi ok."


Zelea mengangguk, dan tanpa Zeon duga Zelea menubruknya memeluk erat Zeon.


Hah, sungguh mood bumil susah sekali Zeon tebak, beberapa saat lalu mau di pegang bahunya menolak-nolak, tapi sekarang malah menubruknya dan memeluk erat.


"Hati-hati di jalan, dan segera pulang karena aku dan adek sudah lapar," bisik Zelea di telinga Zeon, saat ini mereka masih saling berpelukan.


"Ok, aku akan hati-hati dan akan segera pulang," jawab Zeon.


"Halo ... Halo! Zeon ..." Teriak Nofal seraya menggerakkan tangan di depan wajah Zeon, karena pria itu malah melamun.


Nofal duduk di sofa, masih menatap heran ke arah Zeon. "Apa sih kenapa kamu malah melamun?"


Zeon cengengesan. "Gak ada kok, seriusan," jawabnya tapi terdengar tidak meyakinkan.


Nofal mengibaskan tangannya. "Hah, terserahlah."


"Tuh minum susu hangat," ucap Nofal lagi, tapi setelah selesai bicara konsentrasinya pecah malah teringat susu malam itu.


Nofal memang tidak tinggal diam aja, sebisa mungkin ia akan mencari Milli, mencari tahu rumah Milli, tapi orang suruhannya belum memberi kabar, seolah Milli adalah putri dari keluarga hebat yang susah sekali identitasnya dicari.


"Bengong aja apa yang dipikirkan?" Kini gantian Zeon yang memergoki Nofal melamun.


Mereka berdua seolah sekarang ini memiliki hobi yang sama, yaitu suka melamun.


"Capek," jawab asal Nofal.


Zeon hanya mencibir.


"Tuan, ini sepuluh pesanan makanan sudah siap, mau langsung diantar ke mobil atau bagaimana?" Pelayan datang memberitahu.


"Ke mobil," jawab Zeon cepat seraya bangkit dari duduknya. "Kak, aku pulang," imbuhnya.


Hem.


Jawab singkat Nofal.


Beberapa pelayan mengikuti langkah Zeon sampai di mobil, meletakkan sepuluh pesanan makanan di bagasi mobil, setelah semua masuk tanpa ada yang tertinggal, Zeon tutup kembali.

__ADS_1


"Terimakasih, ya?" Zeon mengucapkan terimakasih pada para pelayan yang membantunya barusan.


"Sama-sama, Tuan." Para pelayan menjawab kompak kemudian kembali masuk ke restoran.


Zeon segera menjalankan mobilnya menuju mansion.


*


*


*


"Ah, suamiku ahirnya datang juga," ucap riang Zelea saat menyambut Zeon pulang membawa seabrek makanan dari restoran.


Zeon membawa masuk makanan dibantu tiga pelayannya yang lain.


Zelea langsung mencium pipi Zeon, hah hati Zeon langsung meleleh mendapat kecupan di pipi dari Zelea, rasa lelahnya langsung hilang.


Dengan semangat Zeon mengangkat dua buah kantung berisi makanan ke arah Zelea. "Ayok makan aku temani."


Zelea mengangguk setuju, dan mengikuti langkah Zeon menuju ruang makan. Disusul tiga pelayan yang lain meletakkan makanan di atas meja makan.


Semua bungkusnya di buka dan di pindah ke piring, wah mata Zelea menatap takjub, melihat makanan yang enak-enak di depan matanya ingin langsung Zelea santap semua, seolah perutnya muat.


"Mau makan yang mana dulu?" tanya Zeon, yang siapa melayani.


"Sup iga," jawab Zelea cepat.


Zeon menggeser mangkuk berisi sup iga ke arah Zelea, dan sup iga itu hanya beberapa menit sudah habis, Zelea mau lagi kini makan ayam goreng, hanya beberapa menit sudah habis, kini Zelea mau lagi mulai makan spaghetti.


Tiga macam menu makanan sudah Zelea habiskan, kini berganti minum sup buah.


Zeon tidak ikut makan hanya melihatnya saja sudah merasa ikut kenyang. Merasa heran juga dengan cara bumil makan, bisa sebanyak itu.


Tapi Zeon mengerti, karena bayi dalam kandungan Zelea juga butuh makan, mungkin itu alasannya bumil makan banyak, karena gizi yang diperoleh akan diserap dua orang.


"Udah kenyang," keluh Zelea, sembari mendorong piring supaya menjauh.


"Itu belum habis lobsternya," ucap Zeon.


Zelea menggeleng. "Kenyang." Mengusap perutnya.


Zeon terkekeh melihat tingkah Zelea. "Aku habisin, boleh?" Zeon menarik piring berisikan sisa lobster yang Zelea makan.

__ADS_1


__ADS_2