Terjerat Cinta Sang Mafia

Terjerat Cinta Sang Mafia
King Devils vs King Wolfs


__ADS_3

Sean masih bertarung dengan Ferro. Berkali-kali Ferro mencoba menusuk Sean dengan pisau, akan tetapi Sean terus menerus menghindarinya hingga Ferro menjadi marah.


"Loe bisanya cuma menghindar ya ?? Pengecut loe !!!!!! mending loe ikut les ballet aja .. Hahahaha..." ejek Ferro sambil mengarahkan pisaunya ke arah Sean.


Sean tidak menjawab ocehan Ferro akan tetapi tetap menghindari serangan Ferro. Ferro terus memancing emosi Sean agar Sean menunjukkan kemampuannya. Terlintas di fikirannya saat ia mendorong Alexa dengan keras hingga tertimpa meja. Ia melihat reaksi Sean sangat berbeda saat mengetahui Alexa tersakiti dan saat menghadapinya. Ia pun mencoba menggunakan Alexa untuk memancing emosi Sean.


Ferro menghentikan penyerangannya terhadap Sean. Ia berlari ke tempat persembunyian Alexa. Mengetahui Ferro sedang mengincar Alexa, Sean bergegas mengejar Ferro yang mencoba menyakiti Alexa. Ia tarik rambut Ferro dengan kuat.


"Arrrrrgghhh... Sakit brengsek !!!!!!" rintih Ferro sambil mencoba melepaskan tangan Sean dari rambutnya. Dengan cengkeraman yang kuat, Sean membenturkan kepala Ferro ke tembok di dekat tempat persembunyian Alexa.


"Gue sudah memperingatkan loe, jangan sentuh Alexa !!!" bentak Sean. Berkali-berkali Sean membenturkan kepala Ferro ke tembok hingga darah bercucuran dari bagian kepala Ferro.


Martin, Jonathan, Darren dan Zayn menyaksikan Sean yang meluapkan emosinya kepada Ferro. Martin memeluk Jean agar tidak melihat Sean dan Ferro. Jonathan pun memeluk Rose dengan erat.


"Kenapa Sean seperti itu ?? Apakah Ferro menyinggung keluarganya ?" tanya Darren.


"Bukan keluarganya, tapi calon queen kita" jawab Martin dengan yakin.


Alexa melihat semua yang dilakukan Sean kepada Ferro. Alexa sangat ketakutan hingga ia menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya. Ia menangis karena kembali teringat dengan masa lalunya. Zayn mencoba menghentikan Sean.


"King.. Stop !!! loe bisa membunuhnya King !!!!" kata Zayn.


"Dia pantas mati Zayn !!!!" bentak Sean yang masih membenturkan kepala Ferro ke tembok.


"Loe lihat King !!!! Alexa jadi takut dengan apa yang loe lakukan sekarang !!!" teriak Martin.


Martin sangat memahami jika Sean berbuat demikian karena Ferro mencoba menyakiti Alexa. Sean menengok ke arah Alexa. Ia segera melepaskan tangannya dari rambut Ferro. Ia meminta Zayn dan Darren mengurus Ferro yang kini tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Sean menghampiri Alexa yang sedang ketakutan.


"Alexa.. loe akan aman. Dia tidak akan berani menyakiti loe lagi " kata Sean sembari mengelus kepala Alexa.


"Jangan sakiti aku hiks...hiks.. Papa..tolong Aku Pa.. hiks..hiks..Aku takut Pa.. hiks..hiks.." kata Alexa sambil menangis.


Sean hendak memeluk Alexa, akan tetapi ia melihat tangannya penuh dengan darah. Ia pun mengelap darah Ferro yang tertinggal di tangannya menggunakan jaket yang ia pakai. Setelah mengelap, ia membuang jaketnya ke sembarang tempar kemudian memeluk Alexa.


"Alexa.. kita pulang sekarang ya.." kata Sean sembari membantu Alexa berdiri dari tempatnya. Alexa menangis histeris. Ia menumpahkan rasa takut dan terkejutnya di dalam dekapan Sean.


Sean mengisyaratkan agar Martin dan Jonathan pulang terlebih dahulu. Martin dan Jonathan mengajak Jean dan Rose pulang terlebih dahulu sesuai dengan perintah Sean. Sedangkan Sean menenangkan Alexa yang masih menangis.


"Loe sudah aman Lex, jangan menangis lagi yaa.." kata Sean lembut sembari mengelus rambut Alexa. Alexa hanya mengangguk. Beberapa saat kemudian Alexa mulai tenang. Sean pun mengajak Alexa pulang.


Sambil menyetir mobil, sesekali Sean melihat Alexa. Ia sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan Alexa.

__ADS_1


"Sean.. mungkin loe menganggap gue berlebihan. Tapi gue pernah melihat kejadian yang sama saat gue diculik" kata Alexa membuka percakapan. Sean hanya diam dan mendengarkan cerita Alexa.


"Saat gue di sekolah menengah, ada cowok, lebih tepatnya sahabat gue yang menyukai gue. Tapi setelah gue tolak cintanya, dia menjadi semakin terobsesi sama gue, bahkan ia dan anak buahnya nekat menculik gue" cerita Alexa.


"Gue dengar dia salah satu anggota salah satu kelompok Mafia yang terkuat di negara L." kata Alexa.


"Kelompok mana yang menculik Loe ?" tanya Sean dingin.


"Gue juga tidak tahu Sean, saat itu Papa yang menyelamatkan gue. Papa dan anak buahnya bertarung dengan kelompok mafia itu. Sejak saat itu gue trauma dengan kejadian sadis seperti tadi." kata Alexa.


Beberapa saat kemudian Sean dan Alexa tiba di Mansion keluarga George. Alexa meminta Sean masuk ke dalam Mansion untuk sekedar minum. Akan tetapi Sean menolaknya karena hari sudah mulai sore. Alexa baru teringat bahwa orang yang kini berada di depannya bukanlah orang biasa.


"Sean.. hari ini loe sudah melibatkan gue dalam masalah loe. Jadi syarat yang loe berikan sebagai budak loe dalam 3 hari dibatalkan. Semuanya sudah impas" kata Alexa yang merasa lega. Sean tersenyum karena Alexa benar-benar mengingat tanggungjawabnya.


"Oke.. tapi sebagai wujud terimakasih loe ke gue, Loe harus mau makan malam bersama gue besok" kata Sean dingin.


"Ap..apa ?? terimakasih untuk apa ?" tanya Alexa.


"Gue sudah menyelamatkan loe dari King Mafia yang mencoba menyakiti loe" jawab Sean dingin kemudian melajukan mobilnya tanpa menunggu jawaban dari Alexa. Alexa heran dengan Sean yang selalu memaksakan kehendaknya. Alexa segera masuk kedalam Mansion untuk membersihkan dirinya yang terkena noda darah.


/////////////////


Sally dan Kenzo sudah berada di rumah sakit. Kenzo berada di ruang perawatan, sedangkan Sally menunggui Kenzo di depan ruang perawatan Kenzo. Sally sangat khawatir karena ia merasa bahwa ialah yang menyebabkan Kenzo terluka.


"Anda tidak perlu khawatir nona. Tuan Kenzo baik-baik saja. Kami telah menjahit luka di lengannya. Kondisinya sudah stabil dan anda boleh menjenguknya sekarang" kata dokter.


Setelah berterimakasih kepada dokter yang telah merawat Kenzo, Sally bergegas masuk ke dalam ruang rawat Kenzo. Ia merasa bersalah dengan Kenzo saat melihat lengan Kenzo diperban.


"Ken.. maafin gue yaa.. gara-gara gue loe jadi luka seperti ini" kata Sally sembari menggenggam tangan Kenzo. Kenzo menatap wajah Sally yang sedang menangis karena menyesal dan merasa bersalah.


"Gue gapapa Sall.. tapi kalau loe mau balas budi gue siap menerimanya." kata Kenzo sembari menyembunyikan senyumnya.


"balas budi apa ?" tanya Sally sambil menghapus air matanya.


"besok makan malamlah dengan gue." ajak Kenzo. Sally berfikir sejenak kemudian menyetujui ajakan Kenzo.


/////////////////


Jonathan mengantar Rose pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, Rose terus tersenyum memandang Jonathan. Jonathan pun tersenyum kepada Rose. Tidak terasa Jonathan dan Rose tiba di rumah Rose.


"Jojo.. makasih yaa tadi udah membantu gue melawan orang jahat di cafe." kata Rose sambil tersenyum malu.

__ADS_1


"jadii cuma terimakasih aja nih ??" tanya Jonathan. Rose bingung dengan maksud ucapan Jonathan. Ia terlihat berfikir.


"Gue suka sama loe Rose. Maukah loe jadi pacar gue ??" tanya Jonathan sembari menggenggam tangan Rose.


Rose sangat syok karena orang yang selama ini ia sukai sedang menyatakan cinta kepadanya. Tanpa membuang waktu Rose menerima pernyataan cinta dari Jonathan.


"Jadi sekarang kita pacaran ??" tanya Rose dengan polosnya. Jonathan hanya mengangguk dan tersenyum. Jonathan memegang kedua pipi Rose dan hendak menciumnya. Akan tetapi ia terkejut saat tiba-tiba pintu rumah Rose terbuka.


"Rose.. ayo masuk, jangan pacaran mulu.. malu dilihatin tetangga" teriak Jasmine di balik pintu utama rumah Rose. Jasmine adalah kakak Rose. Rose memperkenalkan kakaknya kepada Jonathan. Setelah berkenalan, Jonathan pamit undur diri karena ia harus segera kembali ke markas 666. Sebelumnya, Jonathan mengajak Rose makan malam untuk merayakan hari jadian mereka.


//////////////////


Martin mengantar Jean pulang ke rumahnya. Rumah Jean terlihat sepi karena orang tua Jean sedang mengelola bisnis mereka di luar negeri. Ia tinggal di rumah bersama dengan Asisten Rumah Tangga yang dipekerjakan orang tuanya sejak Jean kecil.


Martin melihat tangan Jean penuh dengan luka. Bahkan beberapa kuku Jean ada yang patah akibat bertarung dengan anak buah Ferro. Martin mengobati luka di tangan Jean. Jean hanya diam karena masih ada tanda tanya besar di fikirannya.


"Martin.. sebenarnya loe siapa ? kenapa kalian semua punya senjata ? Kenapa kalian dengan mudahnya bisa membunuh orang ???" tanya Jean.


Martin menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia tidak bisa membohongi Jean dengan berpura-pura sebagai orang lain setelah Jean melihat semua dengan mata kepalanya sendiri.


"Gue akan jawab besok saat kita makan malam berdua" kata Martin sambil membalut luka Jean dengan plester. Setelah mengobati luka Jean, Martin pamit undur diri karena ia harus kembali ke markas 666.


/////////////////


Setelah mengantar Alexa, Sean bergegas pergi ke Markas 666. Ia ingin menyelesaikan urusan yang belum selesai dengan King Wolfs. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sambil mengemudi, ia mengingat apa yang ia katakan kepada Alexa.


"Sial !!! kenapa gue mengajaknya makan malam ?? Ini sama saja gue menghianati Gia." batin Sean.


Sean terus berfikir tentang tindakannya kepada Alexa. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada hatinya hingga ia melakukan penghianatan terhadap Gia sang kekasih masa kecilnya. Setelah berfikir, akhirnya besok ia akan membatalkan ajakan makan malamnya dengan Alexa. Ia pun mengurungkan niatnya pergi ke Markas 666 karena hari sudah semakin gelap dan memilih kembali ke Mansion sebelum Mama Ivanka mencarinya.


////////////////////


Alexa memanggil Mama Nessa, akan tetapi tidak ada jawaban. Ia mencoba mencari Mama Nessa di kamarnya. Ternyata Mama Nessa dan Papa Kevin sedang bersiap-siap untuk pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis. Papa Kevin meminta Alexa segera bersiap.


Semenjak tragedi penculikan Alexa, Papa Kevin menjadi semakin protektif kepada Alexa. Ia akan mengajak Alexa kemanapun ia dan Mama Nessa pergi. Bahkan hingga saat ini Alexa selalu dipaksa untuk ikut serta dalam kegiatan bisnis. Kali ini Alexa menolak untuk ikut bersama Papa Kevin dan Mama Nessa. Papa Kevin tetap memaksa Alexa untuk ikut dengan mereka. Papa Kevin takut terjadi sesuatu jika ia berpisah dengan Alexa.


Alexa meyakinkan Papa Kevin bahwa ia bisa menjaga dirinya sendiri karena saat ini ia bukan anak kecil lagi. Atas dukungan Mama Nessa, Alexa berhasil membujuk Papa Kevin agar tidak ikut ke luar negeri. Setelah persiapan selesai, Papa Kevin dan Mama Nessa segera berangkat ke bandara.


Ke Esokan Harinya


Alexa berangkat ke sekolah dengan menaiki mobil sport hadiah dari Papa Kevin saat ulang tahunnya yang ke 15. Saat Alexa tiba disekolah, semua mata tertuju pada mobilnya termasuk Vallerie, Angel, Yuna dan Anna. Mereka penasaran dengan pemilik mobil sport warna putih yang memasuki area sekolah.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2