Terjerat Cinta Sang Mafia

Terjerat Cinta Sang Mafia
Hukuman


__ADS_3

Papa Kevin, Mama Nessa dan Alexa tiba di Mansion Keluarga George. Papa Kevin menyeret Alexa kemudian mendudukkannya di ruang tamu. Mama Nessa duduk disamping Papa Kevin. Terlihat gurat kemarahan dan kekecewaan di wajah Papa Kevin dan Mama Nessa. Alexa hanya menunduk karena ia memang bersalah atas apa yang ia lakukan bersama Sean.


"Alexa.. kamu itu anak perempuan Papa dan Mama satu-satunya. Kamu adalah putri yang kami banggakan. Tapi kenapa kamu dengan mudahnya membuat kami kecewa nak??!" kata Mama Nessa dengan lembut. Alexa hanya menunduk tanpa menjawab perkataan Mama Nessa.


"Alexa !!! kenapa kamu melakukan itu !!! Dimana harga diri kamu sebagai perempuan !! Kenapa kamu mau disentuh Sean begitu saja !!!!" bentak Papa Kevin yang mulai meluapkan amarahnya. Alexa hanya diam, menunduk dan menangis tanpa menjawab perkataan Papa Kevin.


"Apakah Mama sama Papa pernah mengajarimu untuk melakukan hal rendah seperti itu ??!!! Apakah kamu tidak pernah memikirkan perasaan kami sebagai orang tua kamu Alexa!!!" kata Papa Kevin dengan tatapan tajam penuh amarah kepada Alexa.


"Kamu mengecewakan kami Alexa !!!!" bentak Papa Kevin. Alexa menangis histeris kemudian bersimpuh di pangkuan Papa Kevin. Melihat Alexa yang menangis, Mama Nessa menjadi tidak tega. Sedangkan Papa Kevin turut menangis karena ia merasa sudah keterlaluan saat memarahi Alexa.


"Maafkan aku Pa..Ma.. hiks.. hiks.. aku memang bersalah. Aku tidak akan mengulanginya lagi Pa.. tolong maafkan aku.. hiks..hiks.." kata Alexa dengan tangisan tersedu-sedu dipangkuan Papa Kevin.


Papa Kevin dan Mama Nessa pun ikut menangis karena tidak tega saat melihat putri kesayangannya menangis. Mama Nessa memegang lengan Papa Kevin agar berhenti memarahi Alexa.


"Mulai besok kamu tidak boleh bertemu Sean. Jangan pernah berbicara kepadanya !!!!" kata Papa Kevin dingin sembari menahan tangisnya kemudian berlalu meninggalkan Mama Nessa dan Alexa di ruang tamu. Setelah Papa Kevin pergi, Mama Nessa memeluk Alexa yang masih menangis.


"Ma.. hiks..hiks.. maafkan aku Ma.. aku salah Ma.. hiks..hiks.. Maaf aku sudah mengecewakan Mama sama Papa.. hiks..hiks.." kata Alexa yang menangis dipelukan Mama Nessa. Sambil menangis, Mama Nessa mengangguk.


"Tidak apa-apa sayang. Tapi ingat kamu jangan mengulanginya lagi ya.." kata Mama Nessa dengan lembut sembari mengelus rambut Alexa. Mama Nessa meminta Alexa segera tidur karena besok ia masuk sekolah.


//////////////////


Pagi yang cerah menyapa seorang Sean Astin yang terlihat suram. Semalaman Sean tidak bisa tidur karena memikirkan Alexa. Lingkaran hitam terlihat jelas di sekitar kedua matanya. Setelah selesai bersiap, Sean bergegas pergi ke sekolah untuk menemui Alexa. Saat melewati ruang makan, Mama Ivanka meminta Sean sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah.


Sean hanya diam dan berlalu tanpa mempedulikan Mama Ivanka. Sikap dingin Sean yang sempat menghangat semenjak kedatangan Alexa kini muncul kembali. Bahkan terasa aura menakutkan saat melihat wajah Sean. Wajah Sean seakan menggambarkan bahwa Sean siap membunuh orang yang berani berbicara dengannya.


"Ingat pesan Papa, perjodohan kalian akan Papa batalkan jika kamu tidak mematuhi hukuman Papa." kata Papa Robbert dingin. Sean berlalu begitu saja tanpa mempedulikan omongan Papa Robbert. Ia pun berangkat ke sekolah dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


///////////////


Alexa selesai bersiap untuk pergi ke sekolah. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin besar yang terpasang di kamarnya. Mata Alexa tampak sembab, ia terus memikirkan nasibnya bersama Sean. Ia tidak ingin jauh dari Sean setelah sekian lama ia dan Sean terpisah. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya jika Sean tidak ada disampingnya.


"Aku tidak bisa jauh darimu Sean.. hiks..hiks.. aku tidak sanggup Sean... hiks..hiks.." batin Alexa. Air mata kembali keluar dari mata sembabnya.


Mama Nessa memanggil Alexa dari ruang makan untuk sarapan bersama. Alexa bergegas turun kemudian makan bersama Mama Nessa dan Papa Kevin. Mama Nessa tidak tega melihat Alexa yang murung dengan mata sembabnya. Papa Kevin pun menatap Alexa dengan tatapan penuh kesedihan saat Alexa terlihat tidak nafsu makan. Akan tetapi ia harus menguatkan tekadnya untuk memberi pelajaran kepada Alexa agar Alexa tidak mengulangi kesalahannya.


Waktu menunjukkan pukul 07.30. Mama Nessa meminta Papa Kevin segera mengantarkan Alexa ke sekolah. Alexa mengangguk dan bergegas naik ke mobil yang disiapkan oleh sopir perusahaan Papa Kevin. Saat dalam perjalanan, biasanya Papa Kevin dan Alexa selalu bercanda kini hanya saling diam. Beberapa saat kemudian, mobil telah sampai di depan gerbang sekolah Alexa.

__ADS_1


"Berikan ponsel kamu kepada Papa. Kamu tidak boleh menggunakan ponsel sampai masa hukuman kamu selesai." kata Papa Kevin dingin.


Alexa pun memberikan ponselnya kepada Papa Kevin kemudian turun dari mobil. Melihat kepergian Alexa tanpa berpamitan kepadanya membuat Papa Kevin semakin tidak tega. Ia pun turun dari mobil dan memanggil Alexa. Alexa pun berbalik menghadap Papa Kevin. Papa Kevin bergegas menghampiri Alexa kemudian memeluknya.


"Papa melakukan semua ini agar kamu menjadi anak yang baik sayang. Tolong jangan benci Papa" kata Papa Kevin lembut. Alexa kembali menangis dipelukan Papa Kevin. Ia tidak tahu apakah ia sanggup menjalani hukumannya atau tidak. Baginya, hukuman yang diberikan Papa Kevin terlalu berat.


"Papa bisa mengambil apapun dari aku. hiks..hiks.. Papa boleh melarang aku untuk melakukan apapun. Tapi aku tidak bisa jauh dari Sean Pa. hiks..hiks..Aku tidak bisa Pa.. hiks..hiks.." tangis Alexa pecah dalam pelukan Papa Kevin. Ia mencurahkan semua yang ada dihatinya kepada Papa Kevin. Papa Kevin mengelus punggung Alexa agar Alexa tenang.


"Kamu jangan menangis lagi sayang. Papa terpaksa melakukan ini sayang. Kamu harus bisa menjalani hukuman kamu. Lambat laun kamu akan terbiasa menjalaninya." kata Papa Kevin sembari mengelus pipi Alexa. Papa Kevin melepaskan pelukannya kemudian berangkat ke kantor.


Dibalik gerbang sekolah, Sean mendengar percakapan Papa Kevin dengan Alexa. Hatinya turut sakit merasakan kesedihan Alexa. Tanpa ia sadari, air matanya menetes melihat Alexa menangis di pelukan Papa Kevin. Ia tidak tega melihat wajah sedih Alexa. Ingin sekali ia memeluknya, akan tetapi ia takut jika mata-mata Papa Robbert mengetahuinya, perjodohan antara dirinya dan Alexa akan dibatalkan.


Alexa berjalan menuju kelasnya. Sean mengikuti Alexa dari belakang. Ia takut jika anak buah Steve melakukan hal buruk kepada Alexa. Ia berniat akan berbicara dengan Alexa menggunakan ponsel.


Dari arah berlawanan, Vallerie, Angel, Anna dan Yunna hendak pergi ke ruang kepala sekolah untuk memberikan bukti bahwa mereka tidak bersalah. Vallerie melihat Sean dan Alexa berjalan secara terpisah.


"Mata Alexa sembab. Apa mungkin Sean yang membuatnya menangis ??" kata Anna.


"Sean juga terlihat kacau. Apa mungkin mereka sedang bertengkar ??" kata Yunna.


"Yessss... akhirnya kesempatan terbuka lebar buat gue.. hehehehe.." kata Vallerie yang sangat senang.


"waaa... selamat yaaa Vall..." kata Yunna, Angel dan Anna bersamaan.


Sean dan Alexa memasuki kelas mereka. Jean, Martin, Rose, Jonathan, Kenzo dan Sally melihat Sean dan Alexa dengan tatapan aneh. Mereka berdua terlihat tidak baik-baik saja.


"mereka berdua aneh sekali.." bisik Sally kepada Jean.


"nanti biar gue tanya Alexa apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka." bisik Jean.


Pak Danang masuk kedalam kelas. Ia kembali mengingatkan kepada para siswa bahwa hari senin ujian kenaikan kelas. Kelas menjadi gaduh setelah Pak Danang mengumumkan akan diadakan ujian. Pak Danang melihat Sean dan Alexa secara bergantian. Ia merasa iba melihat Sean dan Alexa yang tampak bersedih. Akan tetapi ia telah diberikan tugas langsung oleh Papa Robbert untuk mengawasi Sean dan Alexa yang sedang berada dalam masa hukuman sehingga ia harus bekerja secara profesional.


//////////////


Di ruang kepala sekolah, Vallerie dan teman-temannya memberikan bukti kepada Kepala sekolah dan Guru BK bahwa mereka tidak bersalah. Tuan Benedict telah menggunakan jasa pakar informatika untuk memperoleh bukti bahwa Vallerie dan teman-temannya tidak bersalah.


Pakar informatika berhasil membuktikan bahwa foto dan video vulgar Vallerie dan teman-temannya adalah hasil editan. Tuan Bennedict merasa lega karena putri kesayangannya memang tidak bersalah dan hanya dijebak oleh orang lain yang membencinya.

__ADS_1


Setelah memeriksa keabsahan bukti yang diberikan, Tuan Bennedict dan Guru BK menyatakan bahwa Vallerie dan teman-temannya tidak bersalah dan di bebaskan dari hukuman.


Valerie, Yunna, Angel dan Anna sangat bahagia karena mereka tidak jadi dihukum. Tuan Bennedict meminta Vallerie dan teman-temannya kembali ke kelas. Vallerie meminta teman-temannya kembali ke kelas terlebih dahulu karena ia ingin berbicara dengan Tuan Bennedict.


"Ayah.. apakah ayah dan Papanya Sean dekat ??" tanya Vallerie.


"Kami cukup dekat. Memangnya kenapa sayang ?" tanya Tuan Bennedict. Vallerie tersenyum malu sambil menunduk. Tuan Bennedict pun tersenyum melihat putrinya malu-malu.


"Ayah.. aku sangat menyukai Sean. Katanya ayah mau menjodohkanku dengan Sean ??" tanya Vallerie menagih janji ayahnya.


"Oke.. baiklah.. nanti malam kita ke Mansion keluarga Astin yaa.." kata Tuan Bennedict sembari mengelus rambut Vallerie. Vallerie mengangguk dan tersenyum senang.


//////////////


Rose mengajak sahabatnya termasuk Alexa untuk makan di kantin. Ia hendak mengajak Jonathan, akan tetapi Jonathan menggeleng karena Sean tidak ingin ke kantin. Semua siswa di kelas telah berhamburan keluar. Tinggallah Sean, Martin, Jonathan dan Kenzo.


"Informasi apa yang kalian dapat ?!" tanya Sean dingin.


"Vallerie dan teman-temannya terbukti tidak bersalah setelah Bennedict membayar Roy untuk menyelidiki foto dan video yang gue edit king!!!" kata Kenzo menyampaikan informasi yang ia dapatkan.


Sean terlihat menahan emosi mendengar informasi dari kenzo. Kini tiba giliran Martin menyampaikan informasi yang anak buahnya kirim kepadanya.


"Anak buah Steve diam-diam merekam Alexa saat Alexa bertengkar dengan Vallerie dan teman-temannya. Sepertinya mereka mengirimkan video itu kepada adik Steve. Untuk tujuan mereka, gue masih belum mendapatkan informasi King." kata Martin dengan serius.


"Brengsek !!!!! Sadap semua sudut ruangan yang terdapat di Markas Dragons. Gue beri waktu sampai besok !!! Kalau kalian tidak berhasil menyadapnya, kalian akan tahu akibatnya !!!" kata Sean dengan aura membunuh yang kuat kemudian berlalu meninggalkan kelas dengan membawa tas ranselnya.


Martin, Jonathan dan Kenzo sedikit takut saat aura membunuh Sean sudah mulai muncul. Mereka yakin jika saat ini Sean ada masalah sehingga mereka terkena imbas dan sasaran dari amarah Sean.


Sean berjalan menuju ke parkiran. Ia melihat Alexa bersama teman-temannya. Semua teman-teman Alexa tampak tersenyum seperti biasa, sedangkan Alexa terlihat murung dan sedih. Sean ingin sekali menghibur dan memeluk Alexa. Ia bergegas menuju ke mobilnya kemudian menghubungi nomor Alexa.


"Sayang.. kamu tidak apa-apa kan ?? kamu baik-baik saja kan ??" tanya Sean khawatir.


"Ponsel Alexa saya sita. Saya kecewa sama kamu Sean. Saya salah telah mempercayakan Alexa kepadamu." kata Papa Kevin. Sean terkejut saat mendengar suara Papa Kevin yang menjawab panggilan untuk Alexa.


"Pa.. maafkan aku Pa, Alexa tidak bersalah, akulah yang bersalah jangan hukum Alexa ataupun memarahinya. Marahilah aku Pa.. semua ini sepenuhnya salahku Pa.." kata Sean. Papa Kevin mengakhiri panggilan Sean tanpa menjawab perkataan Sean.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2