
Sean, Alexa dan Darren tiba di restoran untuk meeting bersama klien. Alexa berkata kepada Sean bahwa ia akan menunggunya meeting di dalam mobil. Ia tahu bahwa meeting adalah pekerjaan paling membosankan. Oleh karenanya Alexa memilih menunggu Sean di dalam mobil. Sean pun menuruti permintaan Alexa. Sean dan Darren masuk ke dalam restoran tanpa Alexa.
Ternyata klien yang dimaksud oleh Darren sudah datang terlebih dahulu. Klien Sean adalah Tuan Leon William, ayah dari teman SMP Sean. Tuan Leon dan Papa Robbert sudah saling mengenal, bahkan mereka pernah menjalin kerjasama.
"Maaf Tuan William, kami terlambat" kata Darren sembari menjabat tangan Tuan Leon.
"Oh.. tidak apa-apa Tuan Darren." jawab Tuan Leon. Sean juga menjabat tangan Tuan Leon untuk menghormatinya. Seperti biasa, Sean hanya diam dengan wajah dinginnya.
Tanpa membuang waktu, mereka segera memulai kegiatan meeting agar waktu tidak terbuang sia-sia. Tuan Leon berniat ingin bekerja sama dengan S.A Company. Dalam meeting tersebut, Sean tengah fokus mempelajari proposal PT. Leam, perusahaan Tuan Leon. Tiba-tiba seorang gadis muncul dan duduk di sebelah Tuan Leon.
"Hai.. Sean.. Loe ingat gue kan ??" kata Rachel yang mencoba menyapa Sean. Sean melihat Rachel dan mengangguk.
"Loe baru pulang ?" tanya Sean dengan nada datarnya
Rachel adalah teman Sean saat duduk di bangku SMP. Disaat Sean merasa kesepian karena Alexa meninggalkannya, Rachel-lah yang mencoba masuk ke dalam hatinya. Akan tetapi, saat Rachel mencoba menyatakan perasaannya, Sean menolaknya dengan tegas. Sean tidak bisa membalas cinta Rachel karena di hatinya sudah terisi oleh Alexa. Meskipun merasa sakit hati karena cintanya ditolak oleh Sean, ia masih menganggap Sean sebagai temannya. Sean pun tidak keberatan jika Rachel menjadi temannya. Oleh karenanya Sean dan Rachel sedikit dekat. Bahkan hanya Rachel satu-satunya teman wanita yang Sean miliki.
"Kalian sudah saling kenal ?" tanya Darren yang baru tahu jika Sean juga memiliki teman wanita.
"Gue dan Sean berteman sejak SMP, setelah itu gue pindah ke luar negeri setelah Sean menolak cinta gue. Tapi kita masih tetap berteman kok.. iya kan Sean ???" kata Rachel sambil melihat ke arah Sean. Sean hanya mengangguk karena ia tidak ingin Rachel mengharapkan lebih darinya seperti saat SMP.
Setelah saling memperkenalkan diri, Meeting kembali dilanjutkan. Rachel mencuri kesempatan untuk memandangi Sean yang sedang fokus mempelajari proposal. Meskipun tahu jika Rachel melihat ke arahnya, Sean memilih cuek karena ia ingin menjaga hatinya untuk Alexa.
"Sean terlihat jauh lebih tampan daripada saat SMP dulu" batin Rachel. Tuan Leon pun faham dengan tindakan Rachel.
"Rachel terlihat masih menyukainya. Aku harus menghubungi Tuan Robbert agar bisa menjodohkan Rachel dengan Sean. Dengan begitu Rachel akan bahagia." batin Tuan Leon.
Beberapa saat kemudian meeting pun selesai. Tuan Leon, Rachel, Darren dan Sean masih asyik mengobrol dan bercanda. Rachel banyak bercerita tentang Sean saat masih duduk di bangku SMP. Sean pun sesekali tersenyum mendengar cerita Rachel.
Dua jam sudah Alexa menunggu Sean meeting di dalam mobil. Alexa mulai merasa bosan menunggu Sean. Ia memutuskan untuk menyusul Sean ke dalam restoran. Alexa terkejut saat menyaksikan Sean tersenyum dengan seorang gadis. Hatinya terasa sakit saat melihat gadis itu bersandar di lengan Sean dengan mesra. Bahkan Sean pun tidak menolak saat gadis itu menempel padanya.
"Rasanya sakit sekali Sean. Kamu bilang kamu sedang meeting. Jadi ini yang namanya meeting ??" batin Alexa.
Tidak terasa air mata menetes dari mata indah Alexa. Di sisi lain, Darren tidak sengaja melihat Alexa sedang mengusap air matanya di pintu masuk restoran. Darren hendak memanggil Alexa, akan tetapi Alexa sudah pergi terlebih dahulu. Darren tahu jika Alexa sedang salah faham, oleh karenanya ia segera memberitahu Sean.
"King, Gue tadi melihat Queen menangis dan pergi. Dia pasti melihat Rachel bergelayut manja di lengan loe." bisik Darren.
Tubuh Sean terasa panas, jantungnya berdetak cepat karena ia takut Alexa salah faham dengannya. Sean segera melepaskan dirinya dari tangan Rachel. Ia berlari menghampiri Alexa tanpa mempedulikan Tuan Leon dan Rachel yang masih ada di Restoran. Tuan Leon dan Rachel bingung karena Sean pergi secara tiba-tiba tanpa berkata apapun kepada mereka.
"Apa yang terjadi dengan Tuan Sean, Tuan Darren ?" tanya Tuan Leon.
"Mungkin ada masalah pribadi Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu" kata Darren berpamitan kepada Tuan Leon dan Rachel sambil membungkukkan badannya.
///////////////
__ADS_1
Sean berlari ke parkiran berharap Alexa masih menunggunya di mobil. Sean melihat kedalam mobil, ternyata Alexa sudah tidak ada di dalam. Sean mulai panik, ia yakin bahwa Alexa telah salah faham kepadanya. Sean mencoba menghubungi Alexa, akan tetapi Alexa sudah terlebih dahulu menonaktifkan ponselnya.
"Brengsekkkk !!! Alexa pasti sudah salah faham !!! Dia pasti marah ke gue !!!" umpat Sean. Ia segera masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya menuju ke Mansion Keluarga George untuk menemui Alexa dan menjelaskan yang sebenarnya.
///////////////////
Bel pulang sekolah berbunyi. Jean, Rose dan Sally berangkat ke cafe langganan mereka untuk sekedar nongkrong. Sedangkan Martin, Jonathan dan Kenzo bergegas ke Markas karena kini pekerjaan mereka bertambah banyak semenjak kedatangan Felix dan Gangster yang menyerang Markas mereka.
Jean, Rose dan Sally tidak tahu jika mereka diikuti oleh Briant. Briant berniat mendekati sahabat Alexa untuk mendapatkan informasi tentang Alexa. Sejak dulu, Briant sangat menyukai Alexa bahkan rasa sukanya semakin meningkat semenjak ia bertemu Alexa yang kini semakin terlihat sangat cantik.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, Jean, Rose dan Sally tiba di Cheese Cafe. Mereka memesan makanan dan minuman sambil mengobrol dan saling curhat tentang hubungan mereka dan pasangannya masing-masing. Saat asyik mengobrol, Briant menghampiri meja mereka dan meminta bergabung dengan mereka. Oleh karena merasa tidak enak, mereka terpaksa mengizinkan Briant bergabung.
Briant banyak bertanya tentang Jean, Rose, Sally dan Alexa. Obrolan mereka terasa sangat mengasyikan karena Briant memiliki selera humor yang tinggi. Saat asyik bercanda, tiba-tiba ponsel Sally berbunyi. Ia mengecek ponselnya. Ternyata Alexa lah yang menghubunginya.
"Halo sayang..." kata Sally yang berniat menggoda Alexa.
"Sal.. loe dimana ?? hiks..hiks.." tanya Alexa sambil menangis.
"Kita di cafe biasa Lex. Loe nangis Lex, loe dimana ?? Apa yang terjadi sama loe ???" tanya Sally yang mulai khawatir dengan Alexa. Mengetahui Alexa sedang menangis, Briant dan yang lain juga ikut khawatir.
"Gue di jalan Mangga Sall.. tolong jemput gue yaa..hiks..hiks.." pinta Alexa dengan di iringi isak tangis.
"Oke.. loe jangan kemana-mana ya.. tunggu gue !!! gue akan kesana sekarang !!" kata Sally kemudian mengakhiri panggilan Alexa.
"Loe kenapa Lex ??" tanya Sally sembari mengelus rambut Alexa untuk menenangkannya. Briant memberikan isyarat kepada Sally agar tidak bertanya terlebih dahulu.
"Mending kita susul dulu teman-teman kita di Cafe Sall." Sally dan Alexa pun setuju dengan perkataan Briant.
Di cafe, Alexa menceritakan semua yang ia alami kepada Briant, Jean, Rose dan Sally. Sedangkan Briant, Sally memintanya menunggu di meja lain karena cerita Alexa tidak ingin Briant mendengar ceritanya. Mendengar cerita Alexa, Jean, Rose dan Sally menjadi emosi. Mereka memberi saran kepada Alexa agar mendiamkan Sean untuk sementara waktu.
/////////////
Sean tiba di Mansion keluarga George. Ia bertanya kepada Mama Nessa tentang keberadaan Alexa.
"Bukannya tadi pagi kalian berangkat bersama? Alexa belum pulang loh Sean.. Apa kalian sedang marahan ???" tanya Mama Nessa.
"Tadi Alexa salah faham kepadaku Ma.. Aku ingin menjelaskan yang sebenarnya kepada Alexa. Tapi dia pergi sebelum aku menjelaskannya Ma. Kalau begitu aku cari Alexa dulu ya Ma..", kata Sean kemudian berpamitan kepada Mama Nessa.
Sean semakin panik karena Alexa tidak ada di Mansion Keluarga George. Ia mencoba menghubungi Jean. Akan tetapi Jean berkata kepada Sean bahwa ia tidak bersama Alexa.
////////////////
Hari sudah mulai malam. Jean mengantar Alexa pulang ke Mansion Keluarga George. Mama Nessa bertanya kepada Alexa mengapa Sean mencarinya. Akan tetapi Alexa hanya diam dan berlalu ke kamarnya tanpa menjawab pertanyaan Mama Nessa. Mama Nessa yakin jika Alexa tidak baik-baik saja. Ia pun menghampiri Alexa di kamarnya.
__ADS_1
"Kamu sama Sean kenapa sih sayang ? kalian marahan ??" tanya Mama Nessa.
Sambil menangis, Alexa menceritakan semuanya kepada Mama Nessa, mulai dari Sean mengobrol dengan wanita lain hingga wanita lain yang bersandar mesra di lengan Sean.
"Saat wanita itu menyentuhnya, dia hanya diam Ma.. gimana hati aku tidak sakit Ma ??? hiks..hiks.." kata Alexa mengadu kepada Mama Nessa.
"Apakah kamu sudah meminta penjelasan kepada Sean sayang ?" tanya Mama Nessa. Alexa menggeleng dengan pasti.
"Semua sudah jelas Ma.." kata Alexa dengan nada kesalnya.
"itu yang jadi masalahnya. Seharusnya kamu mendengarkan penjelasannya dulu sayang, jadi kalian tidak akan salah faham seperti ini" kata Mama Nessa.
"Tapi semua sudah jelas Ma..Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri Ma..hiks..hiks.." kata Alexa dengan yakin.
Mama Nessa pun terdiam. Ia memilih membiarkan putrinya dan Sean menyelesaikan masalah mereka sendiri. Di sisi lain, Sean terus menerus mencoba menghubungi Alexa. Akan tetapi Alexa masih menonaktifkan ponselnya.
//////////////////
Malam telah berganti pagi. Waktu menunjukkan pukul 07.00. Seperti biasa, Sean menjemput Alexa untuk berangkat ke sekolah bersama. Saat ia tiba di Mansion Keluarga George, ia masih tidak bisa bertemu dengan Alexa. Mama Nessa mengatakan bahwa Alexa sudah berangkat bersama Jean. Mama Nessa tidak tega saat melihat wajah pucat Sean seperti orang yang tidak tidur.
"Sean... selesaikan masalah kalian secara baik-baik. Kalian sudah dewasa kan.." pesan Mama Nessa. Sean mengangguk kemudian berpamitan kepada Mama Nessa untuk pergi ke sekolah.
Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia bisa secepatnya tiba di sekolah. Beberapa saat kemudian ia tiba sekolah. Ia berlari menuju ke kelasnya untuk bertemu dengan Alexa. Alexa sedang asyik mengobrol dengan Briant, Jean, Rose dan Sally. Tiba-tiba Sean menarik tangan Alexa.
"Alexa, ada yang ingin aku jelaskan ke kamu. Sebenarnya aku..." belum sempat Sean menyelesaikan bicaranya, Alexa sudah terlebih dahulu menyela perkataan Sean.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Semua sudah jelas !!!!" kata Alexa dengan nada dinginnya.
"Sayang.." Sean hendak menjelaskan semuanya akan tetapi Alexa tetap mengabaikannya. Alexa menepis tangan Sean yang memegang tangannya. Sean memaksa Alexa agar ikut dengannya. Oleh karena tidak tahan melihat Sean memaksa Alexa, Briant pun ikut turun tangan. Ia memegang tangan Sean dan meminta Sean melepaskan tangan Alexa.
"Lepaskan Alexa brengsek !!!! kalau dia tidak mau, jangan paksa dia !!!" bentak Briant sembari berusaha melepas tangan Sean dari Alexa.
"Loe jangan ikut campur bangsat !!!!" bentak Sean dengan sorot mata tajam kearah Briant.
"Loe sudah menyakiti Alexa. Jadi sekarang gue berhak ikut campur karena gue akan merebut Alexa dari loe" kata Briant dengan tegas.
"Bugh...bugh..bugh.." Tiba-tiba Sean memukul wajah Briant dengan keras. Darahnya seakan mendidih mendengar perkataan Briant. Briant pun tak tinggal diam. Ia mencoba membalas pukulan Sean, akan tetapi Sean berhasil menghindar.
"bugh...bugh..." Briant berhasil memukul perut Sean hingga Sean terdorong ke belakang. Alexa sempat khawatir dengan Sean saat Briant berhasil memukul Sean dengan keras. Kini amarah Sean mulai memuncak. Ia membalas pukulan Brian. Ia memukul wajah dan perut Briant secara bertubi-tubi hingga Briant babak belur.
"Sekali lagi loe bilang akan merebut Alexa, gue pastikan lidah loe akan terpotong !!!!" ancam Sean sambil mengangkat kerah seragam Briant kemudian berlalu dan memaksa Alexa ikut dengannya. Semua siswa di kelas Sean terbengong saat menyaksikan perkelahian Sean dan Briant. Mereka baru tahu jika kemarahan Sean sangat menyeramkan.
~bersambung~
__ADS_1