
Sean dan Alexa telah selesai mandi. Mereka menunggu datangnya pelayan yang membawa seragam sekolah mereka. Sambil menunggu, Alexa menyisir rambutnya di depan cermin hanya dengan mengenakan handuk kimono. Sedangkan Sean hanya mengenakan handuk yang menutup pinggang hingga lututnya.
Sambil menunggu pelayan, Sean membuka ponselnya untuk menghubungi anak buahnya. Alangkah terkejutnya dia saat melihat wallpaper di ponselnya. Ia menelan ludahnya dengan kasar saat menatap foto Alexa yang hanya mengenakan handuk dan memperlihatkan belahan dadanya.
"Sayaaaaaaang.. apa yang kamu lakukan ??!!! Kamu mau menggodaku ha ???" teriak Sean.
Alexa bingung dengan perkataan Sean. Ia lupa bahwa ia telah mengotak atik ponsel Sean dan menjadikan foto seksinya sebagai Wallpaper di ponsel Sean.
"Menggoda bagaimana ?? kamu kan tahu sendiri aku sedang menyisir rambutku sayang !!!!" elak Alexa yang tidak terima dituduh menggoda Sean.
"Kamu lihat nih di ponselku.. Pasti kamu sengaja kan ??" tuduh Sean. Alexa tersenyum saat Sean menunjukkan fotonya.
"Ja..jadi kamu tergoda ya sayang ??" tanya Alexa sembari memeluk pinggang Sean dan meraba dada bidang Sean.
"Sayang... kamu yang memulainya kan.. ?? jangan salahkan aku jika kita terlambat ke sekolah.." kata Sean sambil mengelus rambut Alexa.
Alexa tersenyum kepada Sean kemudian mencium leher Sean dan membuat tanda kepemilikan disana. Saat Sean dan Alexa asyik dengan dunia mereka, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar mereka. Sean memberi isyarat kepada Alexa untuk tidak mempedulikan orang yang mengganggu aktivitas mereka. Akan tetapi Alexa merasa tidak enak jika tidak membukanya. Akhirnya dengan terpaksa Alexa membuka pintu meninggalkan Sean.
"Brengsekkkkkkk !!!! Selalu saja begini !!!! Gue pecat baru tahu rasa loe.. brengsekkkk !!!" umpat Sean kemudian berlalu ke kamar mandi untuk menidurkan sang junior.
Setelah membuka pintu, nampaklah seorang pelayan yang membawa seragam sekolah mereka. Alexa menerima seragam sekolah yang dibawa pelayan kemudian meminta pelayan segera pergi sebelum mendapat semburan amarah dari Sean. Alexa segera masuk kedalam kamar dan memakai seragam sekolahnya karena hari sudah mulai siang. Alexa segera memberikan seragam sekolah kepada Sean yang baru keluar dari kamar mandi.
Tanpa berkata apapun, Sean menerima seragam sekolah yang diberikan Alexa. Alexa sadar jika saat ini Sean sedang marah. Ia berencana akan berbicara dengan Sean saat amarah Sean sedikit mereda. Sean dan Alexa telah selesai bersiap. Sean menggandeng Alexa menuju ke parkiran hotel. Meskipun menggandeng tangan Alexa, Sean tetap diam tanpa berkata sepatah katapun kepadanya.
Saat perjalanan menuju ke sekolah ponsel Sean berbunyi. Sambil menyetir, Sean pun menjawab panggilan Mama Ivanka.
"Sayang, nanti malam kamu sama Alexa menginap di Mansion kita yaa.." pinta Mama Ivanka.
"Ya Ma.." jawab Sean singkat kemudian mengakhiri panggilan Mama Ivanka.
Beberapa saat kemudian Sean dan Alexa tiba di sekolah. Cincin pernikahan, telah mereka jadikan sebagai liontin menggantikan liontin masa kecil mereka. Martin, Jonathan dan Kenzo menghampiri Sean yang baru saja turun dari mobil.
"Sayang.. aku ke kelas duluan yaa.." kata Alexa. Sean hanya mengangguk dengan wajah dinginnya.
Martin, Jonathan dan Kenzo ingin melihat perubahan pada Sean. Mereka memindai Sean dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mata mereka terhenti saat melihat bekas kemerahan di leher Sean. Sean yang merasa risih karena dilihat pun berlalu tanpa bicara sepatah katapun. Martin, Jonathan dan Kenzo mengejar Sean.
"King... gimana rasanya ?? sepertinya Alexa buas sekali... hehehehe..." tanya Martin penasaran.
__ADS_1
"Kira-kira di leher Alexa juga ada bekas kemerahan nggak ya ???" tanya Jonathan.
Mendengar kata bekas kemerahan, Sean segera memegang lehernya. Ia ingat bahwa bekas merah di lehernya adalah hasil karya Alexa. Sean tersenyum kemudian pergi meninggalkan teman-temannya.
Alexa berjalan menuju ke kelasnya. Ia ingin segera menemui Jean, Rose dan Sally. Saat melewati lapangan olahraga, langkah Alexa terhenti karena dihadang oleh Vallerie, Anna, Yunna dan Angel.
"Kenapa loe baru masuk sekolah ?? loe patah hati ya ?? hahahahaha.." ejek Vallerie.
"Apa maksud loe ??" tanya Alexa dengan nada dinginnya.
"Gue dengar Sean sudah menikah. Gue yakin loe pasti patah hati kan ??" ejek Vallerie.
Langkah Sean terhenti saat melihat Alexa mengobrol dengan Vallerie dan teman-temannya. Sean pun mendekati mereka kemudian di ikuti oleh Martin, Jonathan dan Kenzo. Sean hanya diam di belakang Alexa.
"patah hati ???!!!" kata Alexa bingung. Tanpa sengaja Yunna melihat bekas merah di leher Sean. Ia terkejut bukan main, ia tidak menyangka jika Sean benar-benar sudah menikah.
"Nah.. loe lihat.. leher Sean ada bekas kemerahan. Pasti semalam dia sudah melakukan itu dengan istrinya..hahahaha.." kata Yunna.
Mendengar kata Yunna, Vallerie pun melihat ke arah leher Sean. Dan benar saja terdapat bekas kemerahan seperti yang dibilang Yunna. Hati Vallerie menjadi sakit saat melihatnya langsung di leher Sean. Tanpa mempedulikan Alexa, Vallerie bergegas pergi kemudian diikuti oleh teman-temannya.
"Hah ?? apakah kehadiran kita diabaikan ??!!" kata Kenzo tidak percaya.
"Dunia hanya milik mereka berdua Ken.. hahahaha.." kata Jonathan.
Sean mendorong Alexa masuk ke dalam toilet. Ia pun ikut masuk dan mengunci pintu toilet dari dalam. Sean menghimpit Alexa ke tembok dan mulai mencium leher Alexa dengan lembut. Sean pun membuat tanda kepemilikan di leher Alexa untuk membalas perbuatan Alexa yang menandai lehernya dengan bekas kemerahan.
Satu ******* lolos dari mulut Alexa. Sean semakin bersemangat untuk melakukan lebih kepada Alexa. Perlahan Sean melepaskan penutup yang menghalangi tubuh Alexa. Nampaklah hamparan dua gunung yang dihiasi dengan batuan indah di puncaknya. Ia biarkan lidahnya menari dengan lincah diatas bebatuan yang menjulang indah hingga membuat deru nafas Alexa semakin tidak beraturan.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu toilet yang mereka tempati. Sean dan Alexa secara spontan menghentikan aktivitas mereka. Terdengarlah suara Pak Danang yang menggedor pintu toilet.
"Sean !!!! Alexa !!!! Keluar !!!" bentak Pak Danang. Alexa segera berdiri dari posisinya kemudian membenahi seragam sekolahnya yang berantakan kemudian menutup kembali resleting celana Sean. Sean menendang pintu toilet dengan keras hingga mengenai wajah Pak Danang.
"Brengsek !!!!!! beraninya loe menganggu gue !!!!!" bentak Sean sambil mengangkat kerah baju Pak Danang. Wajah Sean berubah menjadi dingin dengan aura mematikan yang tajam.
"Saya tahu kalian sudah menikah, tapi tolong jangan lakukan itu di sekolah. Lakukanlah di rumah kalian sendiri. Untung cuma saya yang mendengar ******* kalian. Bagaimana jika teman-teman kalian yang mendengarnya ?? Apa kalian tidak merasa malu ??!!" bentak Pak Danang.
Sean hendak memukul Pak Danang, akan tetapi Alexa mencegahnya. Ia tidak ingin Sean membuat kesalahan dengan memukul seorang guru yang menegurnya ketika berbuat salah.
__ADS_1
"sayang.. jangan pukul !!! kita yang salah.. sekarang kita pulang ya.." kata Alexa sembari memegang tangan Sean. Sean pun menggandeng Alexa dan membawanya menuju parkiran. Sean hendak mengajak Alexa ke Mansion Keluarga Astin.
Di perjalanan Sean hanya diam. Alexa sangat faham jika Sean diam, berarti ia sedang tidak baik-baik saja. Tiba-tiba ia teringat dengan Felix. Saat di sekolah tadi ia tidak melihat Felix.
"Sayang.. Kamu tadi lihat Felix di sekolah nggak ?? kok aku tidak melihatnya sama sekali ?" tanya Alexa.
"Kenapa kamu mencari Felix ?? Apa kamu mencintainya ??" kata Sean dengan nada dinginnya.
"Plltthhkkk !!!!" Alexa menyentil kening Sean.
"Alexa !!!! Sakit !!!!!!!" teriak Sean dengan kesal karena Alexa menanyakan tentang Felix.
"Aku cuma mencintai kamu Sean !!! Felix sudah merelakanku buat kamu. Dia bilang dia ingin melupakan perasaanya kepadaku. Dia benar-benar ingin move on dari ku Sean. Bahkan dia sempat menangis saat aku beritahu bahwa kita akan segera menikah.." jelas Alexa.
"Apa mungkin mata sembab Felix saat gue temui kemarin gara-gara itu ??" batin Sean.
Sean segera memutar balik mobilnya. Ia akan mengajak Alexa menjenguk Felix di Rumah Sakit. Walau bagaimanapun Sean merasa bersalah karena telah menuduh Felix menculik Alexa. Maka ia wajib meminta maaf kepada Felix.
Beberapa saat kemudian Sean dan Alexa tiba di rumah sakit. Alexa terus bertanya alasan Sean mengajaknya ke Rumah Sakit akan tetapi Sean tetap diam. Ia mengajak Alexa masuk ke salah satu ruangan di ruang VIP. Alexa pun menuruti permintaan Sean. Betapa terkejutnya ia setelah tahu pasien di ruang itu.
"Felix... loe kenapa ?? Siapa yang berbuat ini ke loe ??" tanya Alexa khawatir.
"Suami loe tuh.. main pukul sembarangan. Gue dituduh menculik loe Lex.." kata Felix mengadu kepada Alexa. Sean hanya diam dengan wajah dinginnya. Sean merangkul pinggang Alexa dengan posesif.
"Gue harap loe jaga Alexa dengan baik. Bahagiakan dia. Cintai dan sayangilah dia. Sekali saja loe membuat Alexa bersedih, gue pastikan gue akan merebut Alexa dari loe bagaimanapun caranya Sean." kata Felix sembari menggenggam tangan Alexa.
"Gue akan membunuh loe jika loe berani merebut istri gue" kata Sean sambil melepaskan tangan Felix dengan kasar dari tangan Alexa.
"Alexa.. loe dengar sendiri kan.. suami loe ini sangat kejam. Kenapa loe mau bersamanya ?? Mending loe sama gue.. gue juga tampan kan.." tanya Felix.
"Meskipun kejam, dia adalah suamiku yang paling tampan. Dan dialah orang yang paling aku cintai" kata Alexa sambil menoel pipi Sean yang sukses membuat Sean tersenyum manis.
Setelah menjenguk Felix, Sean dan Alexa pulang ke Mansion Keluarga Astin. Di perjalanan, Sean teringat dengan perkataan Pak Danang.
"Benar juga kata Pak Danang. Gue harus tinggal di Penthouse gue sendiri. Gue nggak mau terus-terusan di ganggu saat ingin bercinta dengan Alexa. Bahkan malam pertama pun gue belum melakukannya. Siaaaallll..!!!!" batin Sean.
~bersambung~
__ADS_1